
Ketemu macan memang menakutkan. Tapi percayalah, di tatap oleh juragan Arya Sena dan Paman Yudis jauh lebih mengerikan. Tidak ada senyum yang nampak disana. Untuk mencairkan suasana, Gusti cengengesan sendiri bagai orang gila.
Tidak. Dia tidak sendirian melakukan itu. Sebab ada Nala yang juga ber haha hihi sumbang. Kentara sekali istri Arya Sena sedang membantu Gusti keluar dari kecanggungan. Nala paham rasanya menjadi Gusti yang terintimidasi oleh tatapan orang-orang sedingin kutub Utara.
Juragan Arya Sena masih terlihat muda ternyata. Beda sekali dengan Bapak, muka Bapak terlihat boros.
"Nggih Pak'de" Gusti menundukkan kepala. Kemudian cengar-cengir lagi pada sorot mata Arya dan Yudis. Apa yang Gusti lakukan barusan membuat Arya menaikan alisnya. Nih bocah kenapa?
Karena situasi semakin genting ketimbang mencair, Nala jadi ikut-ikutan canggung. Ia mengusap pelan punggung suaminya agar Arya mau membuka suara. Kasihan Gusti. Sejak sepuluh menit yang lalu duduk tidak ada pembicaraan apapun.
Mas?
Biarlah Nala memanggil dalam hati. Nala yakin Arya pasti mendengarnya.
Sedangkan dari belahan kursi yang lain, ada Ayuni mengulum senyum. Gadis itu geleng-geleng kepala seraya mengusap wajahnya. Kepalanya tertahan untuk menatap jemari kakinya yang cantik dengan kutek. Tangan kanannya bertugas menopang dahinya seperti ada tugas berat yang harus memang dia selesaikan.
Hanya Ayuni yang mampu mengubah suasana gersang tersebut.
Arya tersenyum tipis, Yudis pun tersenyum pelit, dan Ayuni tersenyum tipis-tipis pelit. Sampai pada akhirnya Ayuni akan menyelesaikan kecanggungan yang tak berkesudahan jika di biarkan. Bisakah begitu? Oh bisa. Wong Ayuni anaknya Arya Sena. Sudah pasti Ayuni tahu gelagat ayahnya apa tanpa adanya suara.
Ayuni berderap menghampiri Nala. Kemudian duduk di sampingnya lalu merapatkan jarak untuk sekedar berbisik. "Bu, ayah murka sebab ibu berinteraksi dengan Gusti pakai ketawa bareng segala. Ayah cemburu. Coba ibu tatapannya datar tapi jumawa. Coba Bu coba..."desis Ayuni.
Nala praktis menegang. Tidak ada sahutan dari Nala untuk Ayuni sebagai tanggapan informasi yang telah dia sampaikan. Nala langsung merealisasikan hipotesa Ayuni dengan mematahkan cemburu Arya. Ibunya Ayuni tersebut berlagak layaknya wanita dingin namun tetap elegan.
"Gustiranda" Arya bersuara.
Tuh kan.
"Iya Pak'De" yang ditanya bernafas lega, seakan ribuan batu yang sempat tumpang tindih di dada lenyap begitu saja.
"Gustiranda putra Bapak Sunyoto saudagar dari kampung seberang. Yang jauh-jauh datang kesini untuk--main ataukah menyatakan perasaan?"
Gusti tercengang. Sama dengan penduduk lain yang ada di dalam ruang tamu. Terkecuali Yudis. Laki-laki itu menunjukkan sebaik-baiknya senyum pada Gusti.
"Emm....untuk.."
"Tidak usah di jawab. Saya hanya bergurau. Selamat datang di rumah saya Gusti. Semoga harimu menyenangkan. Oh ya, ngomong-ngomong soal hari menyenangkan, apa kamu tahu rumor kalau sudah menginjakkan kaki di rumah saya tidak tahu jalan keluar untuk pulang?"
__ADS_1
Apa?
Tenggorokan Gusti kering kerontang tersapu badai pasir di musim kemarau. Ia terbatuk-batuk sampai Ayuni cemas lalu mendekat untuk menanyakan Gusti apakah dia baik-baik aja? Sekalian ia mau mengingatkan soal perkataannya di suatu hari--jangankan cuma itu, kalaupun aku harus melawan macan tutul untuk bisa berkunjung ke rumahmu pasti akan aku sanggupi.
"Saya tidak tahu rumor itu Pak'De. Yang saya tahu Pak'De seorang juragan yang tegas."
Arya mengangguk-angguk kecil. Tegas tak jarang di nilai sebagai orang yang angkuh. Padahal tegas dan angkuh adalah dua sikap yang berbeda. Tegas dilakukan berdasarkan pertimbangan. Seperti halnya yang sering Arya lakukan demi mendisiplinkan orang-orangnya. Arya peduli pada mereka, agar bisa menjalani keseimbangan hidup.
Ngomong-ngomong soal hidup, orang akan menilai Arya arogan dari sudut pandang jauh. Namun untuk yang sedekat nadi, orang akan mencintainya dengan cara masing-masing. Nala dengan cara menggemaskannya, Yudis dengan setianya, belum lagi Mbok Darsih, Basir dan juga Ono. Termasuk Gantari yang pernah singgah untuk mengaguminya.
Gantari? Siapakah dia? Apa ada yang tahu?
..............
Selepas kepergian dua pria dewasa--Arya Sena dan Yudis, Gusti dan Ayuni bisa menghirup udara segar bercampur gerimis yang melanda pemukiman. Aroma pohon-pohon basah yang menyejukkan, sedikit membantu Gusti untuk menetralkan kegugupan yang masih saja menjajah dirinya. Sampai pada akhirnya hirupan dalam-dalam yang ketiga membuat Gusti berani untuk memecah keheningan.
"Ay"
"Iya Gusti, ada apa?"
Hihihi, kayanya Gusti mau menyatakan perasaan. Jadi gini toh, groginya orang kalau mau mengutarakan rasa cinta.
"Oh.. ayo aku antar."
"Tidak usah, kamu tunjukan saja dimana letaknya."
"Serius? Agak jauh lho Gus. Kamu harus jalan lurus kesana. Habis itu kalau kamu sudah ketemu perdapuran kamu belok kanan lalu jalan sejauh dua ratus meter sampai mentok. Ndak sampai situ saja, kamu juga harus belok lagi ke.."
"Ay, jauh tenan tempatnya. Aku harus pakai delman kalau begitu." Teknisnya seseorang yang kebelet akan berjingkat-jingkat menahan hasrat buang air. Paling banter bergerak ringan tidak akan betah diam. Lah Gusti, kebelet tapi sejak tadi yang ia tenangkan dadanya. Apakah dadanya kebelet ingin dipersatukan dengan Ayuni?
"Yo wis. Tapi disini tidak ada delman. Adanya aku. Jadi kamu mau aku antar Ndak?"
"Yo wis, kalau kamu memaksa."
Ayuni nyengir. Begitu juga Gusti yang menghangat dari suhu tubuh panas dingin. Kebersamaan mereka memang bercanda layaknya teman. Kalau di bawa serius, Gusti bahkan tidak punya nyali sebesar upil semut pun untuk berbicara. Laki-laki itu mendecih berkali-kali untuk sebuah perayaan ketidak-berdayaan dirinya.
"Nih, kita sudah sampai" Ayuni menunjuk ke sebuah kamar kecil. Sumpah, jarak mereka berjalan hanya tiga langkah dari tempat mereka berdiri sejak awal.
__ADS_1
.
.
.
.
"Jadi begitu ceritanya Pak"
Pak Kumis, merupakan sebutan sayang dari Gusti kepada Bapaknya. Pak Kumis geleng-geleng kepala menanggapi cerita sang anak. Katanya Gusti itu payah. Tak ayal jika dia menyebutnya seperti itu. Sebab Pak Sunyoto alias kumis, merupakan pujangga cinta pada masanya.
"Terus Gusti harus Bagaimana Pak? apakah ada solusi yang lebih jitu?"
"Kamu harus tetap bicara dari hati ke hati Gus. Bapak kasih waktu dua hari, kalau kamu Ndak bisa-bisa Yo terpaksa...."
"Terpaksa apa? Bapak yang bilang ya?" Gusti menggebu.
"Terpaksa Ayuni jatuh ke pelukan laki-laki lain"
"BAPAK.. Ojo ngomong macem-macem."
"Makanya kamu tuh harus berusaha to le.. Gini aja, Bapak kasih kamu waktu dua hari untuk mengungkapkan perasaanmu. Baru setelah itu Bapak dan Ibu ke rumah untuk melamarnya."
"Jangan segitu Pak, terlalu singkat. Tiga hari Yo?"
Pak Kumis menggeleng. "Lima hari saja. Setuju tanpa debat. Ayo kita salaman." Pak Kumis mengulurkan tangan.
"SETUJU"
Dan Gusti pun menjabat tangan Ayahnya untuk sebuah kesepakatan.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...