Suami Idaman

Suami Idaman
Yang Ke Empat


__ADS_3

Matahari terbit seperti biasanya. Menyinari untuk siapa saja yang membutuhkan cahaya. Di pagi hari yang ceria ini, warna biru telah membentang di langit. Menandakan hari ini merupakan hari yang cerah untuk melamar seorang gadis.


Warna biru di langit umpama kehadiran Ayuni dalam hidup Gusti. Andai kata biru tidak hadir dalam langit tersebut, hidup Gusti kelabu lalu hujan terus-menerus. Gusti bukan berasal dari masa lalu dengan patah hati berkepanjangan. Tapi dia sadar diri, setelah mengenal Ayuni dia jadi tahu apa itu berani. Dia juga tahu apa itu menghargai diri sendiri. Dan buanyak lagi yang bisa Gusti dapat dari sosok Ayuni.


Usut punya usut, melamar Ayuni tepat di hari ini hanya tinggal kenangan. Sepucuk surat dari keluarga Gusti telah memberitahukan bahwa mereka tidak bisa datang ke rumah Arya Sena untuk saat ini. Ayuni tidak tahu kenapa keluarga Gusti mendadak mengubah hari yang di anggapnya penting. Yang pasti Ayuni beserta keluarga menerima dengan baik niatan berubah haluan tersebut.


"Jangan sedih"


"Tidak Ayah. Ay hanya menghela nafas saja."


"Bagus. Karena acara kamu melamar gagal hari ini, Ayah sama Ibu mau pergi ke suatu tempat. Jangan tanyakan tempatnya dimana, ayah tidak mau menjawab."


"Iya Ayah. Hati-hati di jalan. Oh ya, Ay mau ralat perkataan Ayah. Bukan Ay yang mau melamar, tapi Ay yang mau di lamar."


"Oh"


Oh aja?


"Memang kenapa kalau oh aja?" Tanya Arya. Ayuni terbelalak bukan kepalang. Ia lagi-lagi lupa untuk tidak berbicara dalam hatinya yang akan memperparah keadaan.


"Ndak pa-pa Ayah. Hanya saja Ay terpukau dengan jawaban Ayah." Setelahnya Ayuni tercengar-cengir.


"Ayah juga terpukau sama pembenaran kamu. Ayah kira kamu yang melamar. Soalnya kamu yang sering samperin laki-laki." Arya mendengus. Apa yang dikatakannya memang benar. Ayuni terlampau sering mendatangi Gusti alih-alih Gusti yang mendatanginya.


"Hehehe" Hanya itu saja yang mampu Ayuni persembahkan. Tidak apa-apa. Tawanya Ayuni adalah sumber lain kebahagiaan Arya setelah Nala.


..............


Mendapat restu dari Arya soal rencananya yang akan mendatangi Gusti membuat Ayuni bersorak kegirangan. Perijinan sudah selesai. Dan sekarang dia menunggu Yudis kembali dari kebun untuk menemaninya sebagai penjaga.


Yang Ayuni lakukan mondar-mandir kamar, ruang tamu, rumah belakang lalu ke halaman paling ujung. Begitu terus sampai Ayuni menemukan eksistensi Mbok Darsih yang lewat bagai titik pencerahan.


"Mbok" panggilnya.


"Nggih Non. Ada yang bisa Mbok bantu?"


"Pak'De Yudis dimana ya Mbok? Tumben sekali Pak'De lama datangnya. Biasanya kalau Ayah beri tugas langsung triing.. terus nongol kaya jin."

__ADS_1


"Ada Non. Lagi minum teh di dekat tempat penjemuran baju. Di sana ada tempat berteduh kecil, nah Pak'De Yudis lagi duduk disana."


Apa!


"Mbok panggilkan ya Non."


"Ndak usah Mbok. Saya yang akan kesana. Terimakasih Mbok atas informasinya. Jangan terlalu capek ya Mbok, istirahat saja. Biarkan mereka yang bekerja." Ayuni menunjuk para pelayan yang berlalu lalang. Ia begitu kasihan melihat Mbok Darsih yang masih saja ikut rewang pekerjaan di kala kondisinya sudah tidak lagi prima. Arya sudah melarangnya bekerja. Bahkan memerintahkannya untuk bersantai ria menikmati masa tua. Namun Mbok bersikukuh bahwa dirinya masih sehat bugar berstamina.


"Nggih Non. Terimakasih atas perhatiannya."


"Sama-sama Mbok."


Sampai pada tempat yang di sebutkan Mbok Darsih tadi, Ayuni memanggil-manggil Yudis dengan tidak biasa. Kehebohan dan suara lantangnya dia sembunyikan. Yang ada hanya Ayuni kemayu lemah lembut cah gemblung tralala. Setidaknya menurut Yudis seperti itu.


Satu panggilan Ayuni mengudara namun Yudis masih tidak menengok. Yudis seperti haji Bolot pelawak kondang. Panggilan kedua Yudis menunjukan gelagat seperti terpanggil, terhenyak sebentar beralih dari secangkir tehnya lalu menajamkan pendengaran. Kemudian meminum lagi tehnya dengan santai seperti tidak terjadi apapun. Ayuni sudah merasa jika dirinya dedemit yang tidak bisa terlihat. Ayuni tak menyerah begitu saja.


Panggilan sudah yang ke tiga kalinya. Dan kali ini lebih parah dari sebelumnya. Yudis memang terpanggil, tapi dia tidak menyahut sama sekali. Orang kepercayaannya Arya tersebut beranjak dari duduknya untuk mencari-cari sumber suara. Yudis melongok ke bawah meja, bawah kursi, bahkan melongok pada poci tanah liat.


"Kaya ada suara manggil-manggil" gumam Yudis dengan raut wajah kebingungan di buat-buat.


"PAK'DE...."


"Ada Apa?"


Lha sekarang denger?


"Ayah bukannya sudah kasih perintah kalau Pak'De harus anterin Ay ke rumah Gusti?"


"Iya benar"


"Yo wis, sekarang Pak'De. Pakai cara cepat ya." Ayuni tahu-tahu mendekat pada Yudis tepat di depannya. Tidak ada angin tidak ada hujan Ayuni merentangkan tangan seperti bocah kecil minta di gendong.


Yudis mendelik, praktis tubuhnya terpukul mundur. "Mau apa?"


"Gendong Pak'De. Kaya biasanya pakai cara cepat. Wuuusshh gitu." Ayuni menjelaskan dengan tangannya yang masih tersampir ke atas.


"Saya tangannya lagi sakit kalau gendong depan. Belakang aja ya Non." Tawar Yudis. Membuat Ayuni nyaris tidak percaya. Pasalnya, Yudistira tidak pernah mengeluh sakit sedikit pun sejak dahulu. Bahkan tertatih pun dia tidak akan menolak menjalankan tugas dari Arya. Tapi ini? Eh tunggu, apakah ini bagian dari perintah Arya? Begitulah analisa Ayuni pada situasi yang sedang dia hadapi.

__ADS_1


"Yo wis. Ay gendong belakang. Tapi Pak'De jongkok dulu biar Ay bisa naiknya. Pak'De kan jangkung tenan."


Yudis manut tanpa embel-embel apapun. Namun raut wajahnya sedang nampak berfikir. Laki-laki jangkung tersebut berdiri dari jongkoknya sembari membawa beban Ayuni. Anak gadis Arya sudah nemplok di belakang seperti tas gemblok.


Alih-alih menggunakan kecepatan super seperti yang diminta Ayuni, Yudis lebih memilih berjalan pelan menuju pelataran rumah. Tidak berselang lama saat Yudis menginjakkan kaki di depan, seseorang datang setengah berlari menghampiri mereka.


"AY..."


Seutas senyum tipis muncul dari belah bibir Yudis melihat Gusti datang. Iya Yudis bukan Ayuni. Sebab Ayuni tengah tertidur dalam gendongan. Ayuni membuka mata ketika Yudis membangunkannya dengan cara--melepaskan ajian sirep.


"Gusti" Seru Ayuni.


"Gusti sudah ada disini, jadi tugas saya mengantar Non Ayuni sudah selesai. Permisi." Pamit Yudis yang telah sempurna menjalankan perintah Arya.


.


.


.


.


Bersambung...


Di balik layar


"Yudis, Ayuni meminta untuk di antar ke rumah Gusti. Lakukanlah, tapi jangan sampai di laksanakan. Tunggu sampai Gusti sendiri yang datang "


"Baik juragan"


.


.


.


Jangan lupa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2