
Angin yang berhembus kencang membawa aroma laut yang menenangkan. Desiran ombak yang nampak bergulung, laksana kepelikan hidup. Ia akan datang, tapi pada saatnya ia akan pergi. Pada dermaga yang bertepi, Ayuni dan Gusti tegak berdiri. Memandang jauh hamparan air yang luas.
"Ay, sebenarnya aku mau jadi Nahkoda karena kamu."
"Kenapa begitu Gus?"
"Kamu ingat kan, kamu suka sekali perahu buatanku waktu kita masih kecil. Sejak saat itu aku ingin bercita-cita menjadi Nahkoda. Biar bisa ajak kamu keliling lautan Ay." Keliling lautan katanya. Jelas Ayuni tergelak. Kemudian dengan akrabnya Ayuni menyampirkan tangannya di bahu Gusti. Seperti biasanya.
"Kamu lucu tenan Gus. Terharu aku tuh jadinya. Tapi kalau boleh saran sebaiknya kamu menjalankan cita-cita kamu sesuai apa yang kamu inginkan."
"Aku menginginkan kamu Ay. Jadi, apa yang berkaitan denganmu itu menjadi cita-citaku."
"Termasuk cita-cita menjadi ayah dari anak-anakku kelak ya?"
"Iya Ay, kok tahu?!"
Baik Ayuni maupun Gusti, mereka tenggelam dalam lautan tawa. Rasanya Ayuni tergelitik segerombolan capung yang hinggap di perut. Dia melahirkan anaknya Gusti? Hah apa iya? Lucu sekali. Kalau Ayuni berpikiran seperti itu, lain hal dengan Gusti. Dia berpikir, wah jadi Ndak sabar nih.
Tangan Ayuni yang tersampir di pundak Gusti jatuh meluruh. Kemudian Ayuni duduk di pinggiran dengan senyum yang khas. Gusti turut duduk di sampingnya dengan perasaan bahagia. Bagaimana kalau latarnya di ganti saja dengan kursi pelaminan? Wah, pikiran Gusti sudah ngebet nikah dengan Ayuni. Untung mengkhayalnya cuma soal pelaminan. Coba kalau yang lain, sudah habis dia dikuliti oleh Arya Sena.
Ayuni menatap lamat manik hitam Gusti yang berbinar "Emangnya di laut ada apa sampai kamu mau ajak aku keliling lautan? Apakah ada yang indah-indah?"
"Aku juga Ndak tau Ay. Makanya aku mau kelilingnya sama kamu. Biar kita lihat yang indah-indahnya berdua." Gusti nyengir. Ia tidak menyangka bisa-bisanya mengeluarkan kalimat gombal layaknya orang pacaran. Eh tapi memang sudah pacaran deng.
"Seru juga ya. Tapi aku Ndak tau Gus boleh apa tidak sama Ayah. Soalnya kamu tahu sendiri kan, cuma main di daratan saja aku harus di kawal."
__ADS_1
"Pasti boleh Ay. Soalnya nanti kamu kan wis jadi bojoku. Iya to? Hehehe. Tenang, ada aku yang akan menjagamu selalu Ay." Dengan bangga Gusti membusungkan dada lalu menepuk-nepuknya. Membuat Ayuni semakin berpikir banyak tentangnya. Tentang Gusti yang bisa menjaganya seperti Ayah.
Ayuni tahu Ayahnya bukan orang biasa saja. Masa lalu yang kelam membuatnya harus ekstra dilindungi Arya Sena. Dan semua bentuk perlindungan yang dia terima selama ini, menjadi sesuatu ketergantungan bagi gadis tersebut. Jika dia menikah dengan Gusti, tanggung jawab akan berpindah padanya. Apa Gusti bisa seperti Arya Sena?
Di tengah semilir angin membawa tawa Ayuni dan Gusti yang semakin kental. Bunyi ramai terdengar seakan mendekat. Kawanan para gadis tiba-tiba saja menyerbu kedekatan Gusti dan Ayuni. Hingga Gusti terseret dalam gerumulan gadis-gadis tersebut.
"Wah Mas Gustiranda ada disini"
"Mas Gustiranda iku wong nggantheng Yo"
"Sendirian aja Mas kesininya?"
"Mas Gustiranda, boleh kita berbincang sebentar?"
Gusti tercekat. Ia memandang ke arah Ayuni dimana calon istrinya tersebut masih duduk di posisi yang sama. Ayuni mengangguk pelan, sebagai tanda kalau dia tidak keberatan jika Gusti meladeninya. Tidak apa-apa kalau cuma sekedar menemani obrolan.
"Kenalin, ini Ayuni Naya Sena. Calon istri saya."
"Hai semuanya" sapa Ayuni dengan cengiran lebar. Yang tadinya ia terduduk bagai hal yang tersisihkan, kini sudah dalam posisi berdiri menyamai Gusti dan para Gadis sebagai tokoh utama. Ayuni menyapa secara manis para gadis-gadis pemburu lelaki tampan dihadapannya.
"AYUNI" pekik mereka.
Ayuni terkekeh.
"Kalian bukannya sahabatan ya? Kita juga tau itu. Tapi kok malah mau nikah?" Celetuk salah satunya yang diiringi dengan anggukan tanda sependapat.
__ADS_1
Ayuni malah terkekeh lagi. Lalu Gusti mengambil alih untuk menjawab pertanyaan retoris yang mengandung sindiran tersebut. Ketimbang tersinggung kemudian keki, Ayuni lebih memilih membiarkan Gusti merealisasikan untuk menjaganya.
"Saya rasa tidak ada yang salah menikah dengan sahabat sendiri. Selagi tidak ada pihak yang dirugikan dan kami berdua merasa bahagia, kenapa tidak? Jadi sudah jelas kan kalau nikah sama sahabat sendiri Ndak apa-apa. Yang Ndak boleh itu sama saudara kandung. Apa ada yang perlu di tanyakan lagi? Mumpung saya masih ada waktu buat menjawab hehe" Gusti merangkul Ayuni yang tidak merasa terganggu sama sekali.
Salah satu dari gerombolan gadis tersebut maju ke arah Ayuni. Ia tidak senyum tidak pula memasang air muka sinis. Gerak-geriknya bak kucing mengendus celana Basir yang tidak di cuci seminggu. Ia perhatikan Ayuni lekat dari atas sampai ke bawah.
"Kamu Ndak cocok Ay kalau sampai menikah dengan Mas Gustiranda. Kalau memang harus menikah, salah satu dari kalian akan ada yang celaka. Dan salah satu yang akan celaka itu kamu Ay, bukan Mas Gustiranda." Seru gadis tersebut bagai cenayang.
Deg... Jantung Gusti mendadak berhenti sejenak. Ayuni celaka? Gusti tidak bisa membayangkan jika itu terjadi. Betapa hancurnya dia menjalani hari-hari tanpa Ayuni.
"Kata siapa kamu? Sok tahu!" Kali ini Ayuni yang menjawab. Secara gamblang, santai dan tanpa bergetar sedikit pun. Kontras dengan Gusti yang saat ini terngiang-ngiang perkataan gadis menyebalkan tersebut.
"Kata aku barusan. Hahaha soalnya aku yang bakal Jambak kamu Ay. Mestinya aku kan yang jadi pengantin wanitanya. Huhuhu kecewa tingkat dewa." Ayuni mendecih disusul gelak tawa dari kawanan para gadis. Suasana pun menjadi riuh buntut dari gurauan yang kelewat nyelekit. Niatnya cuma bercanda dalam mode serius. Namun Ada yang menyadarkannya dengan kalimat seperti ini:
"Ndak usah cari masalah sama Ayuni. Kamu lupa dia anaknya siapa?"
Mati aku. Gumamnya.
Bersamaan dengan ketar-ketirnya si pembuat candaan, ada Gusti yang merasa lega karena Ayuni celaka hanya sebatas candaan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Benarkah hanya sebatas candaan?