Suami Idaman

Suami Idaman
Mengejar Yang Seharusnya Dikejar


__ADS_3

"Yang terakhir, Ay ingin pergi ke rumah Gusti dengan tujuan meluruskan semuanya agar lamaran Gusti ke Ay sebaiknya di batalkan saja. Tidak disangka, ternyata rencana lamaran pada hari itu di urungkan karena alasan yang tidak dapat disebutkan."


"Sebelum tibanya hari ini, Ay memutuskan untuk melanjutkan rencana Ay pergi ke rumah Gusti kembali. Ay punya pikiran untuk tidak melibatkan Pak'De karena takut ketahuan. Jadilah, Ay yang sok tahu dan tidak bisa membela diri ini mendapat musibah bersama Gusti."


"Musibah?" Seru orang tua Gusti berbarengan. Tak ayal jika mereka terkejut macam ketiban tai cicak. Gusti dan Ayuni tidak bercerita sampai detail, sedetail-detailnya.


"Iya. Kami terperosok ke dalam jurang. Habis itu kami bertemu macan kumbang." Kata Ayuni dengan binar ketakutan. Dengan begitu saja membuat orang tua Gusti gusar bukan kepalang, sekaligus terheran-heran. Kok bisa ya mereka selamat?


"Kenapa kalian baru cerita sekarang? Terus bagaimana kalian bisa menghadapinya?" Giliran Pak Sunyoto yang mengambil alih sebagai hakim pengadilan pengakuan cinta Ayuni.


"Pak'De datang menangkap tubuh kami berdua yang mungkin saja akan remuk berdebam dengan bebatuan. Setelahnya Pak'De hampir di serang macan kumbang. Ay dan Gusti tidak tahu persis apa yang terjadi setelah itu. Sebab kami berdua memilih lari meninggalkan orang yang bahkan sudah menyelamatkan kami."


"Kalau gitu, Bapak semakin yakin sama keputusan kamu Nduk." Kata Bapak Sunyoto begitu. Kontan yang lain melirik penuh tanda tanya.


"Maksud saya, kamu telah jatuh hati pada orang yang tepat Nak Ayuni. Sebab kalau Bapak ada di posisi Gusti waktu itu, Bapak tidak akan membiarkan seseorang berjuang sendirian. Apalagi orang itu telah menyelematkan kita. Bukan malah lari bagai pengecut." Yang disindir wajahnya semakin mengenaskan. Gusti dengan segala kemelasannya menyampir pada sandaran kursi. Seperti handuk demek. Tinggal menunggu waktu, perasaan cintanya yang masih basah membuluk dengan sendirinya.


Ayuni tersenyum pada Pak Sunyoto. Kemudian Ayahnya Gusti menjabarkan alasan sesungguhnya kenapa keluarganya datang ke kediaman Arya Sena. Sementara mereka sudah mengetahui jika Ayuni telah mengalami kekeliruan.


"Maaf sebelumnya juragan Arya. Pasti kedatangan keluarga saya sudah membuat pemahaman, bahwa kami akan melamar putri juragan, Nak Ayuni. Awalnya kami senang Ayuni memberi lampu hijau untuk kami meminangnya. Tapi takdir berkata lain. Nak Ayuni secara berani mengakui kekeliruan yang menjerat dirinya alih-alih meneruskan hubungannya dengan Gusti. Memang kami sebenarnya sudah tahu perasaan Ayuni yang sesungguhnya seperti apa jauh sebelum hari ini, tapi kami masih saja bersikeras untuk bertamu ke sini. Kami hanya ingin bersilaturahmi. Anak kita sudah bersahabatan sejak mereka masih kecil. Alangkah baiknya saya sebagai orang tua juga turut memulai jalinan persahabatan dengan Juragan Arya Sena. Dan... Sebenarnya saya juga penggemar berat Juragan."


Yang sempat tegang mengharu biru kini berubah menjadi riuh gelak tawa. Suasana mencair berkat pengakuan Pak Kumis. Kalau dipikir-pikir Pak Kumis lebih cocok menjadi ayah dari gadis bernama Ayuni. Sebab mereka sama-sama suka mengumbar pengakuan yang kadang mengejutkan.


Dari pengakuan Pak Sunyoto, bersambut pembicaran yang terus berderet. Mereka menghabiskan waktu hingga seperempat hari. Kemudian selesai begitu saja dengan Pak Kumis yang mendapat cinderamata. Sebuah emas batangan dipersembahkan Arya untuk keluarga Pak Sunyoto. Jelas, Pak Sunyoto di buat terheran-heran.


...............

__ADS_1


Karena sudah sampai acara berpamitan antara dua keluarga, Ayuni lantas tidak membuang kesempatan begitu saja. Ia melirik sekilas pada orang yang sedang merinding, memikirkan bagaimana hari-harinya esok mendapat gangguan seorang bocil.


Yudis tahu dia sedang di perhatikan, tapi dia enggan untuk melirik meski dengan ekor matanya sekalipun. Setelah semua selesai dan orang satu per satu mulai bubar, Yudis cepat-cepat mengambil langkah seribu untuk menghindar dari sosok Ayuni.


"Yudis, kamu jagain Ayuni. Biar dia tidak ketemu macan kumbang lagi." Perintah Arya.


Ahahaha, Ayah tau aja nih.


"Iya Juragan."


Mau tidak mau Yudis mematuhi perintah tersebut. Sebuah perintah yang terasa menggelikan sekarang ketika Yudis sudah mengetahui perasaan bocah yang ia jaga. Dengan sikap profesional yang tinggi, Yudis mengiyakan lantas berbalik badan menatap Ayuni. Bulu kuduk laki-laki itu serasa rontok ketika melihat bocah yang ia jaga tersenyum penuh kemenangan.


"Hai Pak'De...." Sapa Ayuni dengan cengiran terlewat lebar.


"Pak'De, apa boleh Ay manggil Pak'De pakai Mas? Pak'De Mas Yudis misalnya... atau bisa juga Mas Pak'De Yudis. Mamas Yudis juga cocok kayanya hehe" Ujar Ayuni tanpa berhenti memperhatikan wajah Yudis yang memang sengaja di buang-buang.


"Oh yasudah. Berarti Ay resmi panggil Mas Yudis. Wis dapat ijin soale."


Yudis memusatkan titik pandangnya pada Ayuni. Bola matanya melebar, mengisyaratkan bahwa Yudis cukup terkejut dengan omongan bocah di hadapannya.


"Saya tidak buat persetujuan begitu." Kilah Yudis dengan tatapan yang masih berapi-api. Awas ya Yudis, api itu bisa saja berubah menjadi bara-bara cinta.


"Akhirnya Mas Yudis mau lihat wajah Ay Hehe" Ayuni cengar-cengir. "Lah kan biasanya Ay manggilnya kaya gitu. Mas Yudis. Ndak tau ya? yaiyalah Ndak tau, soalnya setiap malam menjelang tidur hati Ay yang manggil-manggil, Mas Yudis..oh pujaan hatiku. Begitu!"


"Omong kosong macam apa itu Non?"

__ADS_1


"Hahaha, beneran tau. Emang Mas Yudis masih Ndak percaya kalau cintanya Ay itu wis di rebut sama Mas Yudis semua. Sudah habis sampai Ndak ada sisanya sama sekali?"


Ayuni terus saja berbicara tanpa memperhatikan sekitar. Sekiranya Yudis serong kiri dia ikut, Yudis serong kanan dia juga ikutan. Ayuni tidak peduli, dia tetap memakai matanya untuk memandang wajah lelaki yang sudah merebut hatinya. Dia akan melihat sekitar dengan mata kakinya. Tidak apa-apa seperti itu, orang jatuh cinta kan bebas.


BLETUK


Tangan Yudis terpentok karena kesigapannya melindungi Ayuni dari adu tiang dan kepala. Hampir saja pelipis Ayuni benjut akibat kegenitannya memandang terus Yudis tanpa peduli jalan kesana kemari. Habis kepentok, tangan Yudis tidak buru-buru beranjak dari kepala Ayuni. Tangan hangat Yudis masih betah ngetem disana, seperti angkot yang sedang nunggu penumpang. Usut punya usut, angkotnya di tahan oleh sebuah tangan. Dimana yang memiliki tangan berucap begini:


"Jangan di lepas Mas, udah kaya gini aja"


Ya ampun. Yudis menghela nafas frustasi.


.


.


.


.


Bersambung....


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2