Suami Idaman

Suami Idaman
Di balik yang kedua dan ketiga


__ADS_3

"Jadi kamu bingung sama perasaan kamu sendiri waktu itu?" Tanya Arya pada Ayuni yang semakin merunduk.


"Iya Ayah. Dan di saat kami berada di dermaga, segerombolan gadis-gadis menghampiri kami lalu....


.


.


.


"Kalian bukannya sahabatan ya? Kita juga tau itu. Tapi kok malah mau nikah?" Celetuk salah satunya yang diiringi dengan anggukan tanda sependapat.


Ayuni malah terkekeh lagi. Lalu Gusti mengambil alih untuk menjawab pertanyaan retoris yang mengandung sindiran tersebut. Ketimbang tersinggung kemudian keki, Ayuni lebih memilih membiarkan Gusti merealisasikan untuk menjaganya.


"Saya rasa tidak ada yang salah menikah dengan sahabat sendiri. Selagi tidak ada pihak yang dirugikan dan kami berdua merasa bahagia, kenapa tidak? Jadi sudah jelas kan kalau nikah sama sahabat sendiri Ndak apa-apa. Yang Ndak boleh itu sama saudara kandung. Apa ada yang perlu di tanyakan lagi? Mumpung saya masih ada waktu buat menjawab hehe" Gusti merangkul Ayuni yang tidak merasa terganggu sama sekali.


Salah satu dari gerombolan gadis tersebut maju ke arah Ayuni. Ia tidak senyum tidak pula memasang air muka sinis. Gerak-geriknya bak kucing mengendus celana Basir yang tidak di cuci seminggu. Ia perhatikan Ayuni lekat dari atas sampai ke bawah.


"Kamu Ndak cocok Ay kalau sampai menikah dengan Mas Gustiranda. Kalau memang harus menikah, salah satu dari kalian akan ada yang celaka. Dan salah satu yang akan celaka itu kamu Ay, bukan Mas Gustiranda." Seru gadis tersebut bagai cenayang.


Deg... Jantung Gusti mendadak berhenti sejenak. Ayuni celaka? Gusti tidak bisa membayangkan jika itu terjadi. Betapa hancurnya dia menjalani hari-hari tanpa Ayuni.


.


.


.


"Kata ibu jika menyukai seseorang sebagaimana sepasang kekasih, maka rasa cemburu akan datang di waktu-waktu tertentu. Ay mencobanya saat itu. Dan Ay merasa tidak ada sesuatu yang berubah ketika melihat Gusti di temani para Gadis. Awalnya Ay berpikir kalau Ay ini adalah kekasih yang paling baik. Yang Ndak apa-apa melihat lelakinya dekat dengan gadis lain. Bisa di bilang wanita super pengertian. Tapi setelah Ay menyelam lebih jauh hari demi hari, Ay telah salah. Ay bukannya perempuan yang paling pengertian, tetapi Ay memang tidak memiliki rasa lebih dari teman."

__ADS_1


"Pada waktu itu juga sempat ada yang bilang jika Ay dan Gusti nekat menikah, maka salah satu dari kami akan celaka. Yang pasti bukanlah Gusti, tapi Ay. Harusnya Ay takut, harusnya Ay ketar-ketir meminta Ayah untuk selalu menjagaku. Tapi... Ay merasa biasa saja. Dan bayangan wajah Pak'De Yudis yang selalu terbayang-bayang. Ay merasa Pak'De selalu di dekat Ay."


Yudis melengos bertepatan dengan Gusti merebahkan kepala dibahu sang ibu. Wajah Yudistira merah padam menahan ketidak nyamanan atas pengakuan Ayuni. Seorang kaki tangan yang di tugaskan menjadi penjaga tidak boleh menerima pengakuan seperti itu. Pengakuan yang terlalu indah untuk Gusti kalau saja pengakuan tersebut di tujukan untuk dirinya.


Yudis tidak tahu apa yang terjadi setelah ini. Apakah Arya akan menghukum seberat-beratnya karena lancang membuat anak gadis satu-satunya terbawa perasaan? Yudis pikir hukuman yang berat untuknya adalah membuang dirinya jauh dari keluarga Sena. Agar tidak menimbulkan kebimbangan. Agar tidak menimbulkan kepelikan huru-hara karena perasaan yang mungkin saja tidak bisa di balas oleh Yudis. Sungguh, Yudis tidak memiliki ketertarikan apapun selain paman dan keponakan. Setidaknya untuk sekarang.


Tapi kalau sampai Ayuni mencintai dalam kesendirian bagaimana? Apakah Arya berbuat sesuatu untuk kebahagiaan putrinya dengan cara memaksanya untuk menerima Ayuni? Yudis dilema bukan kepalang. Kalau saja tidak ada Arya Sena di ruangan ini, Yudis sudah pasti pergi menghilang. Itu yang bisa di jabarkan dari keadaan Yudis.


Lain hal dengan Nala. Awalnya Nala memang sempat khawatir jika anaknya sedang menanggung masalah yang cukup berat. Berungkali Nala bertanya pada Ayuni, jawabannya hanya akan tetap sama. Menggeleng pelan seraya berkata Ndak pa-pa. Lalu Ay tertawa sumbang yang di paksakan. Dan sekarang Ayuni membuat pengakuan kalau dirinya sedang menyukai seseorang. Tidak lagi buram, sudah jelas sejelas-jelasnya. Tapi....kenapa dengan seseorang yang sudah dianggap pamannya Ayuni.


"Jadi kamu menemui Ayah waktu itu untuk membicarakan apakah setelah kamu menikah Ayah masih tetap menjagamu atau tidak, itu hanya kekhawatiranmu saja kalau kamu tidak bisa lagi di jaga Yudis?"


"Nggih Ayah" mendengar jawaban Ayuni, Arya Sena tersenyum samar.


"Terus apalagi Nak yang kamu alami?" Kali ini yang bertanya sang ibu. Nala, si cantik yang kalau berinteraksi dengan beda gender, bikin Arya repotnya minta ampun.


.


.


.


.


"Ayuni, Bapakku besok mau melamarmu secara resmi. Aku kesini mau memberi tahu pada Juragan Arya Sena kalau besok keluarga besar Aku mau datang." Gusti dengan semangat yang berkobar membawa berita mendebarkan. Ayuni berdebar.


"Oh gitu ya Gus"


"Iya Ay. Aku juga tidak bisa lama-lama disini. Soalnya Aku mau mempersiapkan seserahan untuk di bawa besok. Ada satu seserahan yang harus aku selesaikan sendiri. Harus aku Ndak boleh yang lain."

__ADS_1


"Wah, apa itu?"


Ya ampun, kamu sampai segitu mempersiapkan lamaran ini. Kalau aku mengecewakan kamu suatu saat nanti, bagaimana Gus? Batin Ayuni menjerit.


"Nanti kamu juga akan tahu. Oh iya Ay, gelang persahabatan kita kemana?" Ayuni langsung melirik pergelangan tangannya.


Gelang? Oh iya ya, gelangnya kok Ndak ada di tanganku? Perasaan kemarin-kemarin aku pakai deh.


"Oh ini, lagi aku lepas dulu Gus. Soalnya tadi aku cuci biar bersih hehe. Emangnya ada apa? jangan-jangan kamu mau minta gelangku buat seserahanmu besok ya?"


"Ya Ndak lah Ay. Aku cuma bertanya saja soalnya Aku tidak lihat gelang itu di tanganmu."


"Gusti"


"Iyo Ay"


"Kalau Aku bilang Aku sayang kamu, kamu mau jawab apa?"


Gusti meleleh, "Aku jawab aku cinta kamu Ay." Salang tingkah, Gusti pelantar-pelintir ujung bajunya lalu menundukkan pandangannya dari Ayuni. Kalau tidak begitu, rasanya Gusti tidak akan tahan melihat pipi anak Gadis Arya Sena tersebut.


Sementara Gusti sedang salah tingkah di mabuk dengan pengakuan cintanya sendiri, Ayuni merasa hampa. SEHAMPA-HAMPANYA.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2