Suami Idaman

Suami Idaman
Yang Pertama


__ADS_3

"Pak'De itu apa?" Tanya Ayuni pada pemandangan Yudis membawa kotak pandora besar. Yudis meletakkannya di pendopo belakang tempat dulu-- Gantari sering menumbuk ramuan kecantikan.


"Ini sesuatu yang diminta Juragan."


"Iya...Ay tahu kalau itu. Maksudnya, sesuatunya itu apa? Apa yang ada di dalam kotak ini?"


"Bibit unggul sawit."


"Kok Pak'De tahu kalau Ayah meminta ini? Padahal jelas-jelas Ay dengar tadi kalau Ayah cuma bilang ke Pak'De gini: Yudis.. Bawakan yang saya mau. Terus Pak'De jawab baik Juragan. Lha kenapa bisa Pak'De tahu apa yang Ayah mau tanpa bilang yang jelas?"


Yudis tersenyum.


"Pak'De jangan cuma senyum seuprit aja. Jawab pertanyaan Ay Pak'De..."


Rengekan Ayuni menghentikan aktifitas Yudis yang sedang berbenah. Oh salah. Ternyata Yudis berhenti memang karena sudah selesai memindahkan kotak. Bukan karena rengekan Ayuni. Sebelum berbalik arah meninggalkan Ayuni dengan bingung tiada tara, Yudis berkata.


"Sebaiknya Nona siap-siap. Lima menit lagi Gusti akan datang kesini."


Hah apa katanya?


Belum mendapat jawaban dari pertanyaan pertama, Ayuni sudah di kejutkan dengan pernyataan kedua. Gusti mau datang kesini. Kenapa bisa Yudis mengetahuinya sedangkan Ayuni tidak? Jangan-jangan ada konspirasi antara Gusti dengan keluarganya. Merebut hati Ayuni dengan pendekatan diam-diam. Menyebalkan sekali!.


"Pak'De jangan sok tahu. Lebih baik Pak'De jawab saja pertanyaan Ay " sungut Ayuni yang tidak terima Yudis berbalik arah hendak berlalu.


"Pak'De... Ya ampun. Bener-bener deh Paman yang satu ini."


"Apa?"


Hei Dia nengok. Ayuni setengah berlari menyamai irama Yudis. Kalau tidak ada jawaban, Ayuni tidak pantang menyerah. Kedekatan Yudis dan sang Ayah yang cukup menyita atensi lebih, membuat Ayuni antusias menemukan jawabannya.


"Pertanyaan Ay yang tadi belum di jawab?!"

__ADS_1


"Jawabannya sama seperti pertanyaan: kenapa Nona Ayuni kemarin bisa tahu apa penyebab saat pertemuan Gusti di awal hening? Bukankah Non yang sudah membereskannya?"


"Lha Iyo yo.. Ay juga bingung kenapa? Pokonya kaya udah tau aja gitu."


"Itu artinya Non Ayuni sudah sepaham dengan Juragan. Mungkin saya juga sama seperti itu." Tutur Yudis sambil terus bolak-balik kesana kemari mengambil apa yang diminta Arya. Sedangkan Ayuni terus saja menguntit Pak'De nya seperti anak itik.


"Apa ada yang mau di tanyakan lagi?" Kata Yudis. Ia berhenti mendadak hingga Ayuni terjengkang demi menghindari tubruk-menubruk.


.......................


Gusti mengatakan pada Ayuni tentang arti persahabatan. Dan setelahnya dia bertanya apakah laki-laki dan perempuan bisa bersahabat dengan baik? Kalau saja Ayuni menjawab iya bisa, rasa-rasanya Gusti akan mematahkan dengan tegas kalau jawaban Ayuni harus di kaji ulang. Menurut Gusti, pertemanan beda gender seperti mereka hanya kedok belaka jika di bilang cuma sahabat. Nyatanya perasaan suka bahkan cinta akan timbul meski dari satu pihak atau bisa keduanya.


Suka, kagum, cinta.


Sayang, benci, rindu.


Yang dulu suka bisa berawal dari kekaguman dalam diam. Yang benci bisa dari rasa tidak suka akibat kecewa melihat dia dekat dengan yang lain. Jadi Gusti menyimpulkan sendiri. Alih-alih situasi yang mereka jalani layaknya pertemanan, laki-laki itu justru merasa mereka ada di fase mencintai dalam keheningan. Dengan catatan: sampai hari ini hanya Gusti yang memiliki rasa itu. Sedangkan pada Ayuni tidak tahu, apakah rasa yang bergejolak sama dengan Gusti.


"Hemm"


"Aku perhatikan kamu bahagia sekali hari ini Ay. Bajumu warna merah jambu, sama kaya warna yang sedang aku rasakan." Gusti malu. Habis mengatakan itu dia menyembunyikan wajahnya yang hangat di balik tiang. Pura-pura melihat hamparan ilalang menari-nari.


Gusti, kamu pasti bisa. Gumamnya sembari memeluk seruling. Ya, dia habis mempersembahkan alunan tembang lagu untuk Ayuni. Lagunya manis sekali. Sama manisnya seperti senyuman Ayuni sekarang. Dia akan menjawab pertanyaan pemuda yang sedang malu-malu tai kucing.


"Iya aku senang. Mungkin karena ada kamu disini." Dia bilang begitu. Sontak membuat Gusti terbang ke atas genteng. Tidak usah sampai terbang ke langit, terlalu ketinggian. Sebab jatuhnya akan lebih menyakitkan.


Bapake.... Ay bilang senang karena aku katanya. Gusti menjerit dalam hati. Semena-mena ia memegang dadanya guna menetralkan gejolak grogi yang menyebalkan. Lalu Ayuni terdengar berbicara lagi.


"Kalau apa yang kamu rasakan sama kaya warna bajuku, berarti kamu lagi tresno karo seseorang yo? Iyo Ndak? Ngaku kamu Gusti."


Gusti mesem-mesem.

__ADS_1


"Oh iya aku lali. Aku mau kasih tau kamu kalau kamar mandi di rumahku sudah dihilangkan dari muka bumi. Biar kamu Ndak bisa alasan kesana lagi." Lanjutnya. Terdengar kekehan Ayuni yang sengak. Namun merdu-merdu saja kalau Gusti yang mendengar.


Gusti menoleh dengan wajah yang super lucu di mata Ayuni. Merah padamnya belum sepenuhnya hilang dari sana. Masih menyisakan tanda bahwa Gusti menahan sesuatu yang berbunga-bunga.


"Iya Ay. Aku lagi tresno karo seseorang"


"Siapa Gus orangnya? Aku mau tahu" Ayuni bertanya namun terlihat seperti sudah tahu jawaban. Di sela kekehannya untuk Gusti yang sedang grogi parah, tiba-tiba tangan Ayuni di raih Gusti. Mereka terlibat obrolan lebih serius tanpa disadari. Lebih mendalam dan lebih bermakna.


"Ay, tadi aku sudah panjang lebar kalau temenan antara lelaki dan perempuan itu ndak betulan lurus-lurus saja. Jadi, orang yang bikin aku jatuh cinta ya kamu Ay. Maafkan aku ya Ay. Aku ndak bisa menyembunyikan perasaan ini."


Butuh sepuluh detik penuh untuk Ayuni meresapi apa yang orang bilang jatuh cinta itu menyenangkan. Aromanya, debarannya, semuanya Ayuni amati dengan baik. Kalau boleh jujur, Ayuni sebetulnya juga suka sama Gusti. Jadi tidak banyak bertele-tele, Ayuni menanggapi dengan lugas pernyataan Gusti yang sebenarnya sudah ia tunggu dari kemarin.


"Ndak usah minta maaf Gus. Ndak ada yang salah sama perasaan. Wong aku juga suka sama kamu hehe. Kalau sudah begini, kita bisa apa?"


Gusti nyaris lupa bagaimana caranya menelan air ludah. Ajaibnya, dia masih bisa berbicara. "Kita bisa nikah Ay." Sungut Gusti.


Sementara dari sudut lain di kejauhan pandang. Arya Sena menggelengkan kepalanya sembari tergelak kecil. Yudis di belakangnya mengikuti. Sama dengan sang juragan, ia tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


.


.


.


Bersambung...


Apa iya, mereka terhalang restu Bapak kece Arya Sena?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2