Suami Idaman

Suami Idaman
Sudah Gila


__ADS_3

Ayuni yakin, suatu saat Yudis akan berbalik arah padanya. Cepat atau lambat.


.


.


.


Gerimis. Yudis juga memiliki masalah dengan rintik-rintik air yang turun dari langit. Keduanya sama-sama menurunkan air tapi kesulitan untuk membedakan antara gerimis dan hujan. Semua berawal dari suatu pagi menangis. Dimana awan hitam berarak mengepung pagi tersebut. Pada halaman belakang rumah utama, Yudis menangkap pemandangan indah tapi dia tidak mau mengakui kalau yang dia lihat itu bagus.


Sampai akhirnya....


"NONA AYUNI JANGAN MAIN HUJAN-HUJANAN." Teriak Yudis.


Ayuni menoleh, ia berhenti menengadahkan tangan di bawah rintik-rintik gerimis. Senyumnya lebar, matanya berbinar seperti cahaya bintang yang sering Yudis lihat di tengah malam. Ayuni ceria sekali. Seakan hamparan kebun bunga sekalipun kalah aura indahnya dengan gadis yang sedang menari-nari di bawah hujan. Dan tanpa disadari, Ayuni telah menciptakan lengkungan senyum di bibir Yudis. Lalu Ayuni membuyarkan senyum itu dengan memanggil laki-laki tersebut.


"MAMAS SINI...MAIN SAMA AY." Ayuni melambaikan tangan dengan penuh semangat. Yudis lekas datang menghampirinya, sebab dia tidak bisa berlama-lama lagi membiarkan Ayuni tergerus dinginnya angin berhembus, dan terjamah oleh air-air yang akan tumpah ruah.


"Ayo kita kedalam." Yudis menarik tangan Ayuni.


"Tunggu sebentar Mas, kita main sebentar. Mau ya?"


"Jangan main hujan-hujanan. Tidak bagus."


"Ini belum hujan Mas, masih gerimis. Ndak akan apa-apa, sebentar saja. Ay mohon.... " Ayuni mengatupkan kedua tangan seraya menunjukkan puppy eyes.


"Hanya sebentar saja." Seru Yudis.


Ayuni mengangguk semangat, "Iya Mas, sebentar saja. Cuma tiga menit. Aturan mainnya Ay natap mata Mas, dan Mas natap mata Ay. Untuk ekspresi wajah terserah ya, mau senyum opo ndak. Yang pasti mata harus tetap fokus menatap mata. Dan mulut jangan sampai berbicara. Yang kalah harus menuruti kemauan yang menang. Dan yang kalah itu sebelum waktu yang di tentukan habis, dia melengos gitu aja."


"Memangnya harus di bawah hujan seperti ini?"


"Iya Mamas ku.. harus tenan Iki. Soalnya, gerimis koyo nghene bikin suasananya jadi kaya drama picisan."


Yudis mendengus,"Baiklah, tidak masalah. Saya pasti menang."


"Jangan sombong Mas hehehe"


Hei jangan sombong kamu, wahai laki-laki yang sedang aku perjuangkan. Ayuni


Jangan pikir saya jatuh cinta. Saya pasti menang, meskipun durasi waktu di tambah satu jam sekalipun. Yudistira


Jangan percaya diri begitu wahai calon menantu hahaha. Arya Sena.


"Ayo cepat mulai" tantang Yudis.

__ADS_1


"Sebentar Mas, Ay mau teriak dulu. PAKDE BASIR, PAKDE ONO...LIHAT WAKTUNYA. KALAU SUDAH SELESAI TOLONG KASIH TAHU"


"SIAP CAH AYUN"


Permainan dimulai.


Satu detik


Dua detik


Masih dalam batas kewajaran. Tidak ada sesuatu signifikan terjadi diantara mereka. Ayuni tersenyum, Yudis teramat lurus. Gestur badan Yudis masih tegap seperti biasanya, sedangkan Ayuni sudah bermetamorfosis. Mereka bergeming di bawah guyuran rintik-rintik hujan.


Tiga detik


Empat detik


Lima detik


Yudis melihat air hujan yang turun berhenti, berganti dengan cahaya teramat terang di penuhi kupu-kupu bercahaya. Seluruhnya menghilang, hanya menyisakan dirinya dan Ayuni berdiri saling baku tatap. Yang tadinya si gadis bergerak ceria sambil menatapnya, berubah jadi sosok asing yang mendebarkan hati. Yudis tidak tahu kenapa ini bisa terjadi.


Enam detik


Tujuh detik


Delapan detik


Yudis gusar. Semakin jauh laki-laki itu menyelami dalamnya manik sebening embun milik Ayuni, dia semakin tersesat dalam ruang. Dan Yudis sama sekali tidak bisa menemukan jalan keluar.


Tiga puluh detik


Lima puluh detik


Satu menit penuh


Matanya, hidungnya, bibirnya, senyumnya, cerianya. Semua yang dimiliki Ayuni menyengat hati Yudis yang telah lama mati. Mati untuk sebuah cinta pada wanita. Hati yang selalu ia dedikasikan pada kesetiaan, pengabdian, perjuangan, kini telah berubah haluan. Hatinya ingin menemukan kebahagiaan lain.


Dua menit penuh


Yudis tidak bisa menyangkal bahwa hatinya berdebar untuk Ayuni. Gadis yang ia tatap dalam telah menyapu usang dalam hatinya yang kosong. Wajah Ayuni mengingatkan Yudis akan satu kata yang belum pernah ia ucap seumur hidupnya.


Cantik.


Yudis ingin mengatakannya, tapi mati-matian ia ingin menelan kata itu. Dan Ayuni yang ingin ia sebut cantik seraya samar-samar berkata.


Ayuni tresno karo Mas Yudis.

__ADS_1


Yudis mencelos, menyembunyikan wajahnya yang malu. Yudis terlalu malu untuk mendapatkan cinta Ayuni. Gadis ceria milik Arya Sena pujaan para lelaki. Yudis tidak punya cukup keberanian untuk menegakkan kepalanya. Untuk kembali menatap embun itu.


HORE... CAH AYUN MENANG.


AY MENAAANG....


Semuanya lenyap tanpa sisa. Hujan kembali terasa, dan Yudis baru tersadar bahwa dirinya telah kalah dari permainan. Apa yang terjadi hanya delusi. Dan kenyataan telah dipertontonkan kembali. Ayuni yang basah kuyup mendeklarasikan kemenangannya tepat di wajah Yudis. "Ay menang Mas".


"Kamu curang Nona Ayuni. Kenapa harus berbicara?"


"Bicara? Emangnya Ay bicara opo to Mas? Ay diam aja lhoo dari tadi. Kalau Ndak percaya tanya saja sama wasit kita."


Aku bicara apa? Perasaan aku cuma cengengesan.


.


.


.


Yudis merutuki keromantisan yang sempat menyerang dalam kehaluan. Rasanya nyata sekali, nyaris tidak ada celah untuk Yudis tersadar dari sebuah delusi. Yudis menyugar rambutnya, mengikatkan kain kepala bermotif batik di dahi. Rambutnya tidak panjang. Selalu terpangkas dengan rapi. Seperti biasanya, Yudis akan terlihat tampan nan gagah.


Mengingat kejadian yang dilaluinya bersama Ayuni beberapa hari yang lalu, Yudis sedikit terlambat pagi ini untuk menunaikan tugasnya sebagai kaki tangan. Antara hujan dan gerimis akan selalu menetap dalam ingatan. Membentuk catatan terindah dalam sejarah hidupnya--yang suatu saat akan ia buka kembali untuk di perlihatkan kepada yang harus diperlihatkan.


"Apalagi ya kira-kira yang akan dilakukan Nona Ayuni hari ini?"


Lalu Yudis tersenyum lagi. Dan Lagi-lagi tersenyum untuk kesekian kalinya.


Sepertinya saya sudah gila.


.


.


.


.


Bersambung...


Segini dulu padahal masih panjang. Gak apa-apa dah, daripada terlaknat mutusin bab yang menggantung di dahan pohon randu. Ehehehe


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2