
Deg-degan Zenun nulis eps yang ini hehehe.
"SAH"
Suara orang-orang kompak bergema setelah menyaksikan Arya Sena berjabat tangan dengan Yudis yang telah melafalkan ijab kabul dengan lancar. Ayuni sudah sah menjadi istrinya, yang itu berarti....iya tau. Nanti malam kamar mereka akan menyatu. Tenang saja. Dan persoalan kamar telah menciptakan drama yang cukup menggelikan bagi Yudis. Tanpa Ayuni, Yudis tidak bisa tertawa lepas.
Serangkaian do'a telah berkumandang menutup kata sah yang baru saja terlontar. Semua mengikuti, mengamini, dan mendo'akan dalam hatinya masing-masing untuk kebahagian pasangan Yudis Ayuni. Arya, Nala, Mbok Darsih, Basir dan juga Ono tak satupun dari mereka yang tidak berbinar bahagia. Semuanya larut dalam sebuah rasa. Ketika sebuah kesabaran berbuah hasil, makan nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Begitulah yang kerap di gaungkan orang-orang.
Tunggu. Jangan lupakan Gustiranda. Dia datang kemari bersama keluarganya. Anak itu menjadi lebih pendiam namun tidak ada dendam berarti yang menggerogoti hatinya. Kenyataan telah mengajarkan padanya, bahwa apa yang dia mau belum tentu menjadi apa yang ia dapat. Semua tergantung takdir tuhan. Sekeras apapun dia mengejar, kalau tuhan belum berkehendak, maka dia harus banyak menelan sabar.
"Ay, selamat ya." Gusti memberikan senyum terbaiknya. Senyum yang tercipta dari usahanya menyembunyikan lara. Jauh dalam lubuk hati yang paling dalam lelaki itu menginginkan bahwa dia lah yang seharusnya bersanding dengan Ayuni. Tapi tidak apa-apa, Ayuni bahagia Gusti juga ikut bahagia. Setidaknya mereka masih bisa berteman baik.
"Iya Gusti, terimakasih ya kamu sudah berbesar hati mau ikut berpartisipasi dalam pernikahan Ay. Sampai kamu mau menjadi pager ayu segala."
Kalian tidak salah mendengar kalau Gusti merangkap pagar Ayu sekaligus lelaki paling patah hati hari itu. Gusti yang menginginkannya untuk bisa menjadi pagar ayu. Bukan Ayuni yang meminta. Alasannya? Tanyakan saja pada laki-laki bernama Gustiranda. Karena dia yang lebih tahu.
"Sama-sama Ay. Cuma itu yang bisa aku lakukan buat sahabatku ini. Oh iya ini kado pernikahan dari aku Ay. Jujur, tadinya ini tuh buat seserahan lamaran yang gagal, yang akan aku buka saat aku melamarmu. Tapi ternyata, ini menjadi kotak yang tidak pernah terbuka. Makanya Ay daripada mubazir aku persembahkan padamu saja sebagai hadiah pernikahan mu."
Ayuni mengambilnya, "terimakasih Gusti, kamu memang sahabat terbaik. Aku do'akan semoga kamu bisa menemukan tambatan hati lain yang sama baiknya kaya kamu."
"Terimakasih Ay. Oh iya aku mau bilang kalau kamu cantik pakai baju pengantin ini."
"Hehehe bisa aja Gusti. Lha wong aku Ndak pake baju pengantin ini juga wis cantik kan Gus. Iya Ndak?"
"Iya ya hehe, kok aku lupa."
"Ehemmm, Gusti kamu nginjek kaki saya." Yudis bersuara. Dimana bapak-bapak itu sebenarnya ada di antara obrolan pengantin perempuan dengan pagar ayunya.
"Walaaah Pak'De.. maaf ya. Gusti Ndak sengaja." Anak itu lalu membungkuk memeriksa kaki Yudis yang baru saja di injak olehnya. Namun Yudis tidak sampai membiarkan itu terjadi, ia menahan bahu Gusti untuk berada di posisi semula.
"Sudah tidak apa-apa. Kamu kasih hadiah apa buat istri saya?"
Nah loh, Gusti kikuk. Mana bisa dia jabarkan apa isinya. Terlalu malu untuk Gusti kalau dirinya mengaku jika di dalam kado tersebut isinya buku harian Gustiranda. Dimana isinya cuma kegiatan masa kecilnya sampai dewasa yang menyenangkan. Iya cuma buku catatan harian, yang di bagian tengahnya ada cincin manis bertahta berlian. Dan di balik kalimat Yudis yang menyatakan 'istri saya', ada hati yang sedang cenut-cenut.
"Hehe apa ya PakDe? Gusti juga lupa."
"Bagaimana kalau Ay buka saja Mas?"
"Yasudah" jawab Yudis. Tanpa mengendurkan pandangannya yang lekat.
Melihat Ayuni kesusahan membuka hadiahnya, Yudis meraihnya dari tangan Ayuni. Katanya, dia akan bantu membuka. Tapi..
Brusshh...
Kotaknya terbakar tapi tidak dengan isinya. Yudis membakarnya dengan api cemburu. Asap dan debu yang di hasilkan lenyap begitu saja tanpa meninggalkan perhatian bagi banyak orang. Hanya Gusti dan Ayuni yang masih ternganga dengan apa yang mereka lihat.
Ay lihatlah, apa kamu Ndak ngeri punya suami sakti begini?
"Buku?"
Alis sepasang suami istri itu bertaut manakala yang di temukan adalah sebuah buku. Tanpa aba-aba, Yudis menaruhnya di tempat yang aman. Dimana Gusti dan Ayuni tidak bisa melihat dengan pasti sebab gerakan Yudis yang terlampau cepat.
Sementara itu, susana resepsi masih di banjiri para tamu hadirin. Berbagai kalangan turut memeriahkan acara pernikahan ini. Petinggi kota, para saudagar, serta kolega dari semua lini perbisnisan Arya. Ada juga kaum rakyat biasa turut merasakan keberkahan perhelatan pesta yang di gelar. Semua terkumpul dalam kebersamaan yang kental.
Pada akhirnya,
Acara di penghujung cerita. Dan malam hari pun telah tiba.
"Mas, Ay tidurnya dimana?" Tanya Ayuni setelah beres membersihkan riasan wajah dan mengganti bajunya. Kamar yang dipilih untuk melebur menjadi satu adalah kamar milik Yudistira.
"Di tempat tidur ini." Yudis menunjuk sebuah ranjang pengantin yang besar dan cantik di penuhi bunga hidup yang masih menguar aromanya. Masih segar seperti baru saja di petik.
"Tapi sama Pak'De kan? Ndak pake guling sebagai pembatas?"
"Kamu sudah biasa panggil Mas kenapa panggilnya Pak'De lagi?" Kata Yudis, terdengar seperti sebuah protes tidak terima.
Ayuni terkekeh, "Hehehe, kenapa emang? Sudah nyaman di panggil Mas ya? Ecieee...cie... Mamas..." Ayuni bukan hanya menggoda Yudis lewat perkataannya, tangannya juga ikut-ikutan mencoel dagu milik sang suami. Dan tanpa di sadari pemirsa sekalian, Ayuni sudah duduk di pangkuan Yudistira.
"Nona Ay...
"Jangan panggil Nona, Ay bukan orang asing lagi untuk Mas Yudis. Minimal panggil nama aja."
__ADS_1
"Ayuni"
"Nggih Mamasku"
"Tolong jangan duduk disini."
"Emangnya kenapa Mas?" Ayuni tidak menggubris sama sekali larangan Yudis. Dia semakin berjingkrak disana seolah-olah penasaran memangnya kenapa jika dia duduk di pangkuan Yudis? Apa ada yang salah?
"Jangan duduk disini, saya jadi kepengen pipis." Kata Yudis begitu, layaknya manusia polos yang sangat menggemaskan.
"Oooh iya kah? Masa sih Mas? Ay baru tau." Sepertinya Ayuni sengaja menguji kenormalan seorang Yudistira. Kenormalan dalam arti...apakah dia tertarik dengan hal yang dilakukan antara suami dan istri? hingga menyebabkan laki-laki tersebut betah melajang berpuluh-puluh tahun lamanya.
Lagi sibuk-sibuknya uji coba soal kenormalan, tahu-tahu Yudis membalikkan situasi dimana Ayuni berada di bawahnya dengan tampang muka yang terkejut. "Mas"
Bahkan tidak sampai disitu saja keterkejutan Ayuni terhempas. Gadis itu terhenyak saat jari telunjuk Yudis menempel di dahinya seakan sedang menuding akan suatu hal yang telah membangunkan sisi gelap.
Lama-lama sentuhan jari itu turun ke hidung dan terus berjalan hingga melewati bibir. Ayuni menelan ludah ketika sentuhannya kembali turun melewati leher dan... Oh tidak, sejak kapan kain cantik penutup keindahannya sudah tersibak. Memperlihatkan kecemasan yang begitu kentara.
Yudis menyentuh puncak kecemasan Ayuni, membuat malam semakin lebih dingin dari sepuluh menit yang lalu.
"Saya pengen pipis. Boleh saya pipisin kamu?" Suara serak Yudis berhembus di belakang telinga Ayuni. Dengan terbata Ayuni kemudian menanyakan alasan kenapa Yudis ingin berbuat demikian.
"Kenapa Mas mau pipisin Ay? Kan ada kamar mandi?"
"Soalnya saya mau mengasah pedang yang sudah berkarat." Di bubuhi senyuman jahat sudah mampu membuat Ayuni ketar-ketir. Gadis itu meringis seraya menejerit dalam hati.
Ayaaah, ibuuuu.. Tulung. Pak'De mau ngasah pedangnya yang berkarat katanya... Ay takut tertebas pedangnya PakDe huhuhuhu..
HAHAHA
"Mas Arya kenapa?" Tanya Nala terheran-heran dengan suaminya yang mendadak tertawa.
"Tidak apa-apa, lagi kepengen ketawa aja." Jawabnya dengan santai. Jawabannya bisa saja membuat Nala berpikir bahwa Arya tidak baik-baik aja.
Kerjain terus Yudis sampai anakku tahu apa arti laki-laki sesungguhnya.
Kembali pada kondisi kamar pengantin baru. Yudis tak kalah hebohnya tergelak atas ketakutan Ayuni. Ayah dan suami sama saja. Hobinya bikin Ayuni ketar-ketir sampai menjerit dalam hati. Lalu Ayuni membenarkan pakaian dan mencak-mencak pada Yudis yang sedang asyik menertawakannya. Setelahnya, dia...
"Jadi begini ya rasanya Ndak di cintai oleh suami sendiri. Wis lah Ndak pa-pa, Ayuni Naya Sena kan kuat." Wajah Ayuni nelangsa. Ia memberikan bobot tubuhnya untuk di topang pada dipan yang kokoh dan berukir. Kemudian tubuhnya melorot tanpa harus membelakangi Yudis. Ngambek boleh, tapi jangan sampai tidak sopan. Gadis itu meraih guling dan memeluknya erat berharap gulingnya bisa menyerap kesedihan yang sedang menyerangnya.
Bersambung....
Jangan lupa bahagia
Eh tunggu
Nggak jadi bersambung.. zenun terusin lagi ceritanya.
Yudis langsung terdiam. Ada rasa bersalah menyeruak hingga membuat perasaan Ayuni sakit. Laki-laki itu mendekat lalu memeluk tubuh kecil istrinya.
"Maafkan saya. Saya begitu bodoh tidak bisa membedakan antara waktu bergurau dengan serius. Hukum saya, jika itu membuat perasaan kamu membaik."
Ayuni masih memandangi guling dan tak mampu memandang manik teduh Yudistira. Tatapan Yudis serupa cuaca malam itu. Teduh, dan sebentar lagi hujan akan turun.
"Ay Ndak pa-pa kok Mas. Emang akunya aja yang terlalu berharap."
"Tidak begitu."
"Tapi kenyataannya begitu."
Yudis meletakan tangan Ayuni pada dada bidang miliknya. Tujuannya hanya satu, laki-laki itu ingin Ayuni merasakan bagaimana sebuah organ di baliknya berdebar untuknya. Dan bagaimana caranya mencintai Ayuni tanpa banyak berkata. Dengan begitu saja Ayuni mau menatap lekat kedua mata memabukkan itu. Setidaknya untuk sebentar saja.
"Nyatane ora kaya ngono. Mas tresno Karo Ayuni. Luwih saka apa sing kamu pikir." Tutur Yudis, setelahnya ia mencium punggung tangan Ayuni.
"Benarkah?" Ayuni berbinar.
"Benar sayang, maafkan Mas Yudis ya?"
Gelegar petir membuat Ayuni menjerit ketakutan. Lalu Ayuni refleks mengalungkan tangannya hingga menyebabkan bencana mengikis jarak. Nafas keduanya saling menyapu satu sama lain. Dan bersamaan dengan itu, Yudis meraup bibir mungil Ayuni untuk memberikan sentuhan lembut.
"Jangan takut, ada Mas disini." Di sela-selanya mengambil nafas yang tidak beraturan, Yudis mencoba menenangkan bahwa tidak perlu ada yang dikhawatirkan oleh Ayuni.
__ADS_1
"Iya Mas." Kali ini dengan inisiatifnya sendiri, Ayuni menempelkan kembali bibirnya. Samar-samar Yudis masih sempat bertanya di tengah pagutan mereka.
"Boleh?"
Ayuni mengangguk.
Ayuni merasakan sentuhan tangan Yudis menyapu seluruh permukaan kulit. Pergerakannya lembut dan teratur, sekaligus menghanyutkan. Dan sekarang tangan itu terlalu bebas memberikan sentuhan kepada Ayuni yang lebih memabukkan. Menerjang gunung dan segala puncak kecemasan.
Jarinya menyentuh lembah yang curam. Memberikan sentuhan disana dengan gerakan yang pasti hingga Ayuni mengerjap. Yudis telah mengajarkan pada Ayuni, bagaimana caranya terbang tanpa sayap. Ayuni semakin mabuk dalam ruang jeratan Yudistira. Tanpa tahu caranya untuk tersadar.
Heummp..
Yudis mengehentikan pergerakan tiba-tiba saat ia tahu ada air mata yang jatuh dari ujung mata Ayuni. "Kenapa berhenti?"
Yudis menghapus air mata yang jatuh, seraya menjawab "kamu nangis."
"Ini tangisan bahagia Mas. Teruskan saja." Kata Ayuni.
"Tapi ini akan menyakitkan?"
"Ndak pa-pa, sakitnya akan Ay tahan. Ay harus kuat karena telah menikah dengan seorang ksatria."
Kalau sudah begitu, Yudis semakin yakin untuk menghunuskan pedangnya yang separuh menancap. Sekali dorongan tenaga dalam, pedang berhasil menerobos lalu menumpahkan darah disana. Kendati demikian, apa yang telah dilakukan Yudis justru melambungkan Ayuni menjejaki awang-awang.
Pergerakan mereka seirama dengan nada-nada cinta. Tubuhnya yang meliuk-liuk seolah sedang menemani rinai hujan yang turun. Tidak terasa, kaki malam telah menapaki larut.
"Mas"
"Iya sayang"
"Pegang perut Ay, disini ada anak kita" entah kenapa Yudis merinding dengan apa yang Ayuni katakan.
"Bisa begitu ya? Kan baru tadi Mas tanam benihnya?" Harusnya Yudis tahu ini hanya sebuah kekonyolan Ayuni. Tapi tidak apa-apa, sebab Yudis telah mencintainya.
"Hehe, maksud Ay calon anak kita sedang berjuang buat jadi anak kita."
Ya ampun. Yudis bergumam.
"Mas"
"Iya sayang"
"Kalau Ay mau sesuatu apapun, Mas akan turuti?"
"Apapun Mas akan turuti, asal jangan minta buat Mas pergi dari kamu."
"Ohhh manisnya... Ay cuma mau cintanya Mas Yudis aja. Ndak ada yang lain."
"Yang itu juga jangan"
"LHA KOK GITU?"
"Biarkan Mas yang mengemis cinta kamu Ay. Biarkan Mas yang berbalik mengejarmu. Memang seharusnya begitu. Karena kamu begitu berharga untuk Mas Yudis."
Aaaaahhh Mas Yudis.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️Sekian☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Akhirnya kelar juga nih tulisan. Udah saatnya zenun beres-beres kertas dan juga pensil. Terus angkat kaki dari buku ini kemudian beralih menulis buku yang baru. Singkat cerita, Ayuni dan Yudis di karuniai seorang putra bernama Sadewa. Namanya panjangnya zenun masih belum kepikiran.
Jadi nanti ada part tiganya Thor?
Kagak. Cuma sampai disini aja ya pemirsa. Itu mah cuma singkat cerita aja biar tahu kedepannya kaya gimana.
Terimakasih kepada akun Dewi payang dan juga Nowitsrain. Kalian luar biasa dalam berkomentar😄. Kadang-kadang komentar kalian bisa menjadi inspirasi buat zenun semakin menggila. Anjaaay menggila hehe. Maksudnya zenun jadi bisa merangkai cerita yang bikin mesem, cengar-cengir, geraaah dan lain-lain. Emang begitu ya?
Author note untuk pesan amanatnya kali ini nggak ada. Soalnya zenun bikin ini emang buat hiburan semata. Lagian cerita ini ringan nggak kaya part satu yang berat dan banyak pertumpahan darah. Part dua ada si pertumpahan darah cuma sedikit ya ehehehe. Iiih apaan sih zenun😄
Dah ya, zenun pamit dari sini dan akan datang di novel berikutnya. Zenun mau Hiatus sebentar mau belajar nulis sama author kece Nowitsrain dan juga Dewi payang.
Salam hangat
__ADS_1
Zenun Smith