Suami Idaman

Suami Idaman
Suami Idaman


__ADS_3

Part 12


"Put.. nunduk aja wajahnya.. kenapa?"


"Gak apa-apa mas... Aku ke kamar saja ya? silahkan mas lanjutkan pertemuan dengan seseorang itu!"


"Aku gak bilang seseorang put, tapi.. orang, tepatnya 2 orang, itu, lihat siapa yang dibelakang kamu.."


Aku pun langsung membalikkan badan ku.. " Lia, Fano... Ya Alloh.. ibu kangennnn sekali sama kalian.. mas.. huhuhu.. terima kasih ya" kupandangi mas Erick penuh makna dan ku peluk anak-anakku dengan erat dan kuhujani mereka dengan ciumanku ini.


Setelah sekian lama aku saling berpelukan dengan kedua anakku, aku menyuruh anak-anakku berterima kasih kepada mas Erick


"Lia dan Fano.. ucap terima kasih nak sama om Erick.. Salim ya nak!"


"Mas.. anak-anak akan ikut kita kan.. eh maksudnya akan ikut aku kan ke Jakarta? Terus bagaimana caranya sampai mas Andri mau melepaskan anak-anak untuk aku rawat?


"Iya.. Lia dan Fano akan ikut.. kita put, soal Andri.. aku ancam dia dengan pasal penganiayaan, pencemaran nama baik dan pelanggaran Ham anak, seperti Video yang kamu lihat tempo hari. Jika Andri mau menyerahkan hak asuh anak-anak ke kamu, maka akan aku cabut laporan ku."


"Bu.. boleh tidak, kita balik lagi dulu ke rumah Mbah uti dan Mbah Kakung untuk pamit yang terakhir kalinya Bu... Aku dan Fano belum pamit ke Mbah Bu.." pinta Lia anak sulung ku.


"Bagaimana mas.. boleh ya?" Pinta ku kepada


mas Erick.. dengan memikirkan apa yang aku pinta, sebelum menuruti permintaanku, beliau menyuruh aku untuk memeriksa agenda kegiatannya.. " besok Senin, pukul 13.00 ada jadwal meeting dengan Dirut PT Indo sukses jaya pak."


"Baiklah, kalau begitu, setelah subuh kita pergi ke kampung tersebut, setelah itu, langsung kita menuju bandara." Sambung pak Erick.


Keesokannya.. setelah kami berpamitan dan meminta maaf kepada mantan mertua ku, aku, mas Erick dan anak-anak langsung menuju mobil yang memang kebetulan rumahnya terletak di pinggir jalan besar.


"Maafin anak ibu ya Put, Ibu dan bapak tidak bisa mendidik Andri menjadi suami panutan.." itulah kata kata penyesalan mereka berdua kepadaku, aku pun menyalami keduanya, karena mereka berdua lah yang saat itu masih baik kepada ku dan juga selama ini lah Mbah uti dan Mbah Kakung nya yang merawat anak-anakku selama aku tak ada disini.


"Seruni.." ku lihat dari jarak yang tidak begitu jauh, tapi.. belum sampai mendekatiku, dia berbalik arah dan langsung melajukan motor matic nya dengan cepat. Padahal aku tidak ada dendam kepadamu run..


Tak berapa lama notifikasi pesan masuk ke ponselku, terlihat nama mas Andri di layarnya "Boleh menang kamu sekarang Put, tapi.. aku akan menyulitkan sidang perceraian kita nanti.. aku belum rela kamu campakkan begini saja Put... Terlebih kamu paksa aku berpisah dengan anak-anak. Tunggu, permainan belum selesai!"


Ku tunjukkan pesan ini ke mas Erick, dia pun kemudian menenangkan diri ku ini.. "kamu tenang saja ya put.. tidak usah terlalu dipikirkan apa maunya!" Selama perjalanan, kami pun bergembira bersama, bernyanyi, mas Erick banyak bercerita dan anak-anak mendengarkan.. ku lihat sosok mas Erick sungguh pria yang kebapakan, dia pun terlihat menyayangi kedua anakku seperti anaknya sendiri.


Setelah kami tiba di bandara Soekarno-Hatta, dan sebelum kami menuju kantor mas Erick, karena daerah rumah orang tua ku tak jauh dari bandara, aku memohon kepada beliau untuk singgah sebentar ke rumah bunda dan ayah ku. Dengan senang mereka menyambut kami dan menginginkan sementara anak-anakku bersama mereka.

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖


"Puti.. meeting hari ini, sangat penting untuk menaikan performa perusahaan, jadi maaf.. membuat mu terburu-buru.."


"Tidak apa-apa pak, kalau performa perusahaan naik.. kan otomatis kesejahteraan karyawannya semakin tinggi" sambil ku tersenyum ke arahnya.


"Bismillah Puti.. hari ini semoga kita deal dan perusahaan tersebut mau menanamkan sahamnya di kita."


Akhirnya.. kami berdua sampai di perusahaan tersebut, dimana Bu Sesil sebagai sekretaris mas Erick telah terlebih dahulu tiba dan tampak menunggu di lobby kantor tersebut. "Selamat siang pak, ini pembahasan yang akan tim kita tawarkan ke mereka." Kemudian mas Erick membaca dengan seksama "Oke, Sesil, aku percaya tim kita mampu untuk mendapatkannya, Puti.. kamu tunggu dulu sebentar disini, aku mau merapihkan kemeja ku dulu."


Sembari aku menunggu mas Erick di toilet, tiba-tiba Bu Sesil berdiri di depan ku "pintar juga kamu ya.. merayu pak Ricky, sudah kamu kasih apa pak Ricky?!" Sambil berkacak pinggang dan menunjuk nunjuk ke arahku. "Apa maksud ibu? Aku tidak mengerti?" Ku perjelas intonasi suara ku. "Halah.. pura-pura lugu kamu! Pintar juga permainanmu! eitss.. tapi jangan senang dulu, pengorbanan mu akan sia-sia, karena apa? Asal kamu tahu! perusahaan yang akan menanam saham di perusahaan pak Ricky, adalah perusahaan orang tua nya Bu Clara." Sambungnya lagi.


"HAHAHA... heran kan kamu? Jadi.. kamu tuh tidak ada seujung kuku pun dengan bu Clara!" Sambil dia menjentikan jarinya. "Setelah ini, pak Ricky juga akan menikah dengan Bu Clara.. makanya.. jangan mimpi terlalu tinggi, kalau jatuh.. SAKIT!" Dengan intonasi suara lembut namun menyakitkan hati, Bu Sesil mencoba meyakinkan aku seolah olah aku harus menjauh dari mas Erick. "Kan aku Asprinya Pak Erick eh maksudnya pak Ricky, Mana mungkin menjauh.."


Sekali kali ku buat Bu Sesil ini geram.


"Ehh belagu ya! Ingat.. jauhin pak Ricky dari sekarang.. sana! Dari pada kamu nanti malu!" Serangnya lagi.


"Maaf Bu Sesil yang terhormat, apapun nanti yang akan terjadi.. biarlah pak Ricky yang menentukannya.." sambil aku berlalu dan mendekat ke arah toilet dimana mas Erick berada.


"Ku lihat wajah Bu Sesil bertambah merah, seperti ingin meluapkan amarah.. namun.. sebelum dia meluapkannya kepadaku, dari arah toilet, mas Erick sudah keluar dan langsung mengajak ku ke ruangan meeting.


"Selamat siang semuanya.. tidak terlambat kan ya?" Berusaha mencairkan suasana.. "Hahaha, Ricky.. apa kabar kamu?" disambut jabat tangan seorang lelaki yang sudah berumur yang kukira itu adalah ayah dari ibu Clara.


Meeting dimulai, tim perusahaan kami pun mempresentasikan semua hal tentang produk-produknya. Sampai saat kesepakatan akan diambil.. tiba-tiba Bu Clara memotong pembicaraan "tunggu dulu pah, aku mau ngomong, terutama sama kamu mas Ricky, boleh saja perusahaan mas.. mendapatkan kucuran dana dari perusahaan papah ku, tapi... Dengan satu syarat! Nikahi aku mas.."


Semua yang di dalam ruang meeting pun kaget, papahnya, aku, terlebih mas Erick.. sementara yang aku lihat tersenyum adalah Bu Sesil dan Bu Clara saja!


Apa jawaban mas Erick ya? Apakah dia mau menerima syarat yang diajukan oleh Bu Clara? Sementara ku lihat mas Erick menggaruk-garuk kepalanya.


"Claraa!" Bentak papahnya "kamu jangan merendahkan harga dirimu seperti ini! Papah tidak pernah mengajarkan kamu merendahkan martabat mu sebagai wanita!"


"Tapi pah.. aku gak bisa hidup tanpa mas Erick.. kamu juga kan mas? Sama seperti yang aku rasa?!"


"Maaf pak Joshua.. boleh saya bicara dengan putri bapak, berdua saja?!"


Setelah diijinkan oleh pak Joshua, mereka berdua pun pergi entah kemana.

__ADS_1


Kemudian meeting pun dilanjut tanpa mereka berdua, dan hasilnya pak Joshua mau menanamkan modalnya di perusahaan mas Erick.


"Assalamualaikum Puti, maaf mas belum bisa balik kesana, dan kamu sudah boleh pulang ya Put... Selamat istirahat Puti.. jangan lupa makan, sholat, kalau nanti tidak terlalu malam dan sudah selesai urusanku dengan Clara, aku akan menemuimu di apartemen ya.." pesan ini pun masuk sesaat meeting telah selesai.


"Puti.. gimana? Benarkan apa kata saya?! Jadi... Jangan terlalu berharap sama pak Ricky ya! Udah pulang sana! ke asal mu.. sebagai orang kampung! Minggir!" Sambil berbisik dan Bu Sesil mendorongku ke belakang.


malam pun telah tiba, daripada aku memikirkan mas Erick, lebih baik aku video call an dengan anak-anak ku " Assallammualaikum..yah, apa kabar? Ayah dan bunda sudah makan? Anak-anak ga nakal kan yah?" Setelah aku dan ayah berbincang-bincang, kemudian ayah memanggil Lia dan Fano untuk menerima video call dariku. "Assalamualaikum anak-anak ibu... Gimana hari ini? Nurut apa kata nenek dan kakek kan?" Mereka pun bercerita tentang kegiatannya di rumah nenek dan kakeknya.. aku pun mendengarkan celotehan mereka berdua. Rasanya Senang sekali ya Allah.. aku tak mau dipisahkan lagi dengan kedua anakku!


Tak terasa 1 jam lebih aku video call an dengan Lia dan Fano. Akhirnya kukecup jarak jauh untuk mereka berdua untuk mengakhiri percakapan kami.


Setelah itu, aku pun melihat jam di dinding, telah menunjukan pukul 11 malam, pikiranku, mungkin.. mas Erick langsung pulang ke rumahnya.


Aku pun tidak mengecek notifikasi apapun yang masuk ke ponselku, karena memang sudah sangat capek badanku, akhirnya mata ku pun terpejam sendiri.


Suara adzan subuh pun menyuarakan panggilannya.. aku pun segera bangun dari tidurku dan mengerjakan sholat subuh seperti biasa. Setelah sholat, aku terbiasa mengecek agenda harian untuk jadwal pekerjaan mas Erick. Tak ku kira mas Erick beberapa kali meneleponku tadi malam, saat aku sudah terlelap.


"Pagi pak.. agenda bapak hari ini, ada meeting pukul 10, dengan bapak Al.." belum sempat aku melanjutkan perkataanku, mas Erick langsung memotong kalimatku.


"Put, kamu kecapean semalam ya?"


"Iya pak..maaf ya, aku ketiduran sampai subuh.."


"Tidak apa apa Put.. Put, kamu ga mau tahu? apa yang aku dan Clara sepakati bersama?"


"Memangnya bapak mau cerita ke saya?"


"Mau.." sambil mas Erick memberikan sebuah surat ke aku. "Apa ini mas?" Tanyaku, "coba buka"


"Aku mau menikah" itulah isi surat tersebut, entah karena teringat perkataan kemarin Bu Clara, jadi.. aku mengaitkan bahwa.. keputusan bersama mas Erick dan Bu Clara sepakati semalam adalah pernikahan mereka berdua.


"Se..selamat ya pak." Tak bisa aku memandang wajah rupawan nya, "selamat untuk apa put?" Tanya beliau, "untuk rencana pernikahan bapak dengan Bu Clara!" Ah.. air mata ku sepertinya mau tumpah saja.. kuatkan Tuhan, kuatkan... seperti mengalir kebawah layaknya air terjun Niagara, deras!"


"Kamu simpan dulu selamatnya ya put, karena masih lama juga, nungguin kepastian... Dia nya, ternyata masih ada yang harus diselesaikan, aku takut nanti dia konslet kalau kebanyakan pikiran, hehehe"


Bukannya Bu Clara mau buru-buru menikah dengan mas Erick, kenapa sekarang dia pula yang menunda-nunda.. "bingung aku sama urusan orang kota". Seru ku dalam hati.


"Huhuhu.. Bunda... Kalau begini, aku fokus merawat Lia dan Fano saja bun, menjanda sampai mati!"

__ADS_1


"Puti.. kamu kok lebay sih sekarang..."


__ADS_2