Suami Idaman

Suami Idaman
Suami Idaman


__ADS_3

Part 16


"Maaf pak, bercanda ya?" Mendengar aku berbicara seperti itu, pak Rangga langsung menjitak kecil kepalaku "bercanda.. seriusan ini! memang wajah saya ini mirip pelawak apa? Gimana put?" Sambil mengerlingkan satu matanya. "Pak, kenapa bapak tiba-tiba ngomong seperti itu sama saya?" Aku pun menyelidikinya. "Gak mau nih sama saya? Nanti nyesel loh!" Dalam hati ku, Halah paling guyonan saja ni orang.


"Ya udah, kalau ga mau Ama saya, kalau ini jangan ditolak ya?! kamu pesenin makanan buat saya! Kamu pasti belum makan? Bawa kesini makanannya, kita makan bersama!"


"Ya, sebentar pak.. saya telpon customer service nya dulu."


Tak berapa lama makanan pun tersaji di balkon kamar aku. Kami pun menikmati makan pagi yang kesiangan bersama, sambil pak Rangga menceritakan tentang dirinya yang ternyata mempunyai hobi melukis.


"Tyas.. kapan-kapan mau aku lukis ga?"


"Kalau hasilnya bagus.. saya mau pak."


"Eh.. mau dijitak lagi kepalanya, biar jadi pitak? Nyepelein nii cewe.. untung cantik, kalau ga udah saya pecat nih."


"Ih, kok jahat sih!"


"Bercanda, ini anak.. susah banget diajak bercandanya!"


Akhirnya pak Rangga keluar dari kamar ku ini, dengan perut yang terus dipeganginya. "Kenyang put, saya ga kuat.. habisin deh, saya nyerah. Balik dulu ya ke kamar saya." Begitulah cara dia mencoba melawak. "Pak.. apanya yang tersisa? Saya bukan pemain debus loh, ga mungkin kan.. saya makan piring? Gerutu ku.


"Put.. sudah mau balik ke Jakarta? Take care ya, maaf aku ga bisa mengantar kamu sampai bandara, Clara masuk ruang ICU Put." Notifikasi pesan masuk ke ponsel ku. "Iya mas, nanti 3 jam lagi. Jaga kesehatan, yang tabah dan ikhlas menjalaninya mas, semoga Bu Clara diberikan kekuatan" ku balas pesan dari mas Erick. "Terima kasih Put. Kamu alasan aku untuk ikhlas menjalani ini semua." Kemudian tidak aku balas lagi pesan dari mas Erick tersebut.


Persiapan barang-barang sudah aku bereskan semua, sebelum sampai ke pintu kamar ku. Ada suara ketukan terdengar. "Tyas, Tyas gembul.. " aku buka kan pintu nya, ternyata suara itu adalah milik pak Rangga. "Lama banget sih buka pintunya,maka nya.. kalau makan jangan kebanyakan. Gerakan mu kan jadi lambat.. hehehe" ih ini orang, kalau bukan atasan aku. Sudah aku sulam deh bibirnya. (Menggerutu sendiri)


"Bawaan mu banyak juga ya? Barang hotel jangan dibawa juga lah.."


"Sembarangan deh bapak, pak maaf.. bisa diam ga? Berisik tauu!"


"Begini Put, kata mamah ku dan Mima nya Erick. Kalau saya diam mulutnya.. nanti tangan saya yang ga bisa diam. Mau tangan saya ngelitikin kamu?"


"Oo begitu pak! Ya sudah, mulutnya diam, tangannya ini.. tolong bantu saya bawain koper ya?hehehe.."


"Ngelunjak.. sama bos. Ini saya bos kamu loh.. untung kamu cantik, sayangnya ga mau jadi pacar! Kalau jadi istri saya mau put?" Sambil pak Rangga tertawa riang.


"Apa sih pak Rangga, aneh deh."


Selama menuju perjalanan, ada saja yang dibahas oleh pak Rangga ini, dan kami pun tertawa terbahak-bahak karena bahasan beliau yang memang lucu.


"Pak Rangga, nanti Sesil duduk di sebelah bapak ya? Tanya Bu Sesil. "Memangnya kenapa Sil?, ga mau duduk di tempat kamu sendiri? Pak Rangga heran dengan permintaan sekretarisnya yang selalu berpakaian mini dan berdandan menor tersebut. "Sesil mau duduk sebelah bapak, karena ada yang mau Sesil omongin pak, sekalian mau merasakan duduk di samping jendela.." alasannya dengan gaya yang dimanja manjakan. "Oke" balas pak Rangga, singkat!


Pesawat pun telah menembus awan singapura menuju dataran Cengkareng, selama perjalanan, Bu Sesil nampak bergelendotan dengan pak Rangga. Karena memang saya duduknya tepat di belakang kursinya. Bu Sesil pun seperti di atas awan, dengan sikapnya dia ke pak Rangga, pak Rangga pun hanya diam dan memasang headset saja.


🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


"Tyas.. saya lapar nih, kelihatan saya tadi, kamu bawa bekal ya? Buat saya boleh?" Sebelum saya iya kan, pak Rangga langsung mengambil kotak bekal saya dan memakannya.


"Pak.. kan belum saya iya kan.. " ini orang, memang benar-benar kacau deh. Ga ada lagi apa stock saudaranya mas Erick yang lebih cocok pengganti sementara?


"Tyas.. makan siang bareng ya, saya laper lagi nih.. udah tinggalin dulu kerjaan kamu." Dan langsung pak Rangga menggandeng tangan aku ke luar ruangan kerja. "Pak.. mau kemana? Sesil ikut ya?" Sebelum diperbolehkan, Bu Sesil langsung jalan menuju arah kami.


Di dalam restoran Jepang


"Pak.. Sesil mau makan sushi saja"


"Kenyang Sil? makan segitu aja?"


"Kenyang pak.. hehe"


"Yas.. kamu mau makan apa?"


"Apa ya pak? Samain saja sama bapak.. tapi yang matang saja ya pak!"


"Bener ni.. samain Ama saya? Banyak loh.."


"Ga gitu juga pak..hadeuh"


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Pak Rangga memang sosok yang humoris, kerja bersama dia memang membuat ku selalu tertawa, sampai sakit perutku ini.

__ADS_1


🌷🥀🥀🥀🥀🥀🌷🥀🥀🥀🥀🥀🌷


"Assalamualaikum Puti.. bagaimana tentang rencana kita yang akan rujuk?" Pesan terlihat di layar ponselku. "Loh mas.. rencana apa? Jawabku mengirimi pesan ke mas Andri. "Kamu sudah ada jawaban tentang niatan rujuk kan Put? Demi anak-anak Put, kasihan mereka tidak bisa menikmati hari-harinya bersama aku dan kamu" aku hanya membaca, dan menertawakan isi pesannya tersebut.


Tak lama kemudian, panggilan masuk dari ponselku terdengar, dan ada nama mas Andri pada layar handphone ku, daripada aku selalu ditanyakan oleh mas Andri, lebih baik aku berikan jawabannya sekarang!


"Assalamualaikum mas, kenapa ya?"


"Waalaikumsalam Put, bagaimana.. bisa kita bicarakan ini. Di sebuah restoran hotel?"


"Maaf mas, ga perlu di sana, aku boleh langsung jawab saja ya sekarang?!"


"Loh, jangan Put.. sekalian kita candle light dinner, setelah kamu berikan jawabanmu"


"Tidak perlu mas.. jawaban ku, maaf mas.. aku tidak bisa rujuk dengan mu."


"Put.. kamu kan sekarang ditinggal nikah sama Erick sialan itu, ngapain kamu masih menjanda.. sementara ada aku yang masih mau menerima mu! Sadar Put!"


"Maaf mas.. aku bertiga juga bisa bahagia, meski aku hanyalah seorang janda. Aku siap dan masih mampu membiayai dan membahagiakan anak-anak mas"


"Sombong kamu Put, kamu kira.. aku duda yang tidak laku apa? Akan aku buktikan, aku masih bisa dapat yang jauh lebih cantik dan pastinya masih gadis Put, lihat saja!"


Seketika aku matikan panggilan tersebut.. dan menangis sesegukan.


"Loh.. first love nya bude kok nangis? Ga dikasih permen ya sama bude?"


"Eh pak.. maaf(sambil ku hapus air mataku) bude siapa pak?


"Bude alias bule Depok, sudahlah Put, jangan mikirin Erick aja, nanti Nicholas Saputra nya ini nulis puisi loh.


"Maksudnya pak? Bapak aneh!"


"Saya! Yang di depan kamu? Rangga? Kamu ngerti kan? Ayo dong Put, kurang piknik ni anak!"


"Hah (menghempaskan nafas dengan kasar) bukan pak, saya lagi ga mikirin mas Erick, mantan suami saya tadi yang menelpon dan meminta rujuk, tapi.. saya ga mau"


"Cakep, gitu dong.. buang mantan pada tempatnya. Good girl HAHAHAHAHA"


"Ga ada pak, ada besok pagi jam 9"


"Ke workshop lukisan saya aja yuk, mau ga? Tapi.. saya duluan ya keluarnya, kamu nyusul."


"Memangnya kenapa pak?"


"Ada Miss Betty boop!"


Siapa lagi itu Betty boop? Ada yang tahu Mak?


Sampai di dalam mobil.. pak Rangga dan aku menuju workshop beliau di bilangan pondok indah.


Sesampainya, aku melihat karya-karya beliau yang sangat artistik, ada salah satu karya nya pak Rangga yaitu lukisan seorang wanita yang sedang menggendong anak kecil. Kupandangi lukisan tersebut.


"Itu.. istri dan anak ku, entah masih, atau status ku dan dia telah bercerai, dia pergi ga tahu kemana"


"Cantik mas, seperti artis Nia Ramodhoni"


"Haha.. sekarang tahu kan, tipe ku seperti apa?


"Tyas.. aku lukis kamu ya?"


"Boleh pak. Tapi lama ga ya kira-kira?"


"Sebentar, ga lama.. kalau untuk wajah seperti kamu yang biasa saja! Ga perlu lama lah.. hehe"


"Iya pak, ngerti saya... Huh!"


Setelah 3 jam.. cat air yang telah di sapu kan ke kanvas telah menjadikan kesatuan terlukis wajahku ini. "Bapak memang berbakat!"


Tak lama, pak Rangga berusaha menelpon seseorang.


"Mas bro.. lihat, lukisan siapa ini?"

__ADS_1


"Puti.. Puti ada sama kamu Rang?"


"Iya bro, cantik kan? Soalnya lagi aman kondisi kantor, gue ajak aja dia ke tempat workshop gue. Gimana kabar Lo?


"Baik bro, kayanya Lo akrab banget sama Puti?"


"Namanya satu ruangan bro. Lama kelamaan ya.. begitulah Bro!"


"Oo.. enjoy lah kalian.. udah ya, gue mau makan.tiba-tiba gue laper !" Tuttt..


"Hahaha.. mas mu cemburu tuh Tyas, pasti nanti saya diberondong pertanyaan habis-habisan sama mas mu!"


"Bapak, lagian ngapain sih pakai di telepon?" Sambil aku cubit lengannya.


Hari yang aku nantikan pun telah tiba, dimana aku bisa bertemu dengan anak-anak ku, sesampainya aku di sana, ternyata mobilnya mas Andri terparkir di bahu jalan depan rumah ayah ku. Semoga dia tidak membahas lagi tentang keinginannya untuk rujuk.


"Assalamualaikum.. peluk ibu dulu ya nak, baru main lagi sama bapak" setelah aku ciumi kedua anakku, aku pun langsung masuk ke dalam rumah, tanpa memperdulikan kehadiran mas Andri.


Tak lama kemudian, Lia dan Fano masuk ke dalam rumah. Dan memberitahu bahwa bapaknya ada urusan penting, sehingga tidak bisa mengajak jalan-jalan mereka.


"Lia dan Fano mau ke tempat permainan? Sama ibu saja ya?"


"Mau Bu.. horeee"


Semoga memang benar kamu lagi ada urusan penting mas..


Sesampainya kami di sana, Fano dan Lia pun langsung menaiki wahana yang ingin dituju nya, ketika mereka merasa puas bermain, mereka pun kelaparan dan pergilah kami ke sebuah restoran.


"Bapak? Bu.. itukan bapak? Sama cewek Bu."


"Sudah nak, kita makan dulu. Mungkin rekan kerja bapak, jangan diganggu dulu ya nak.. lebih baik kita makan dulu" sambil aku mengelus pucuk pucuk kepala mereka berdua.


Setelah kami selesai makan, sebenarnya aku mau langsung keluar dari restoran tersebut, tapi.. Lia langsung menuju meja dimana mas Andri berada.


Tak berapa lama, Lia menangis ke pelukanku.


"Huhuhu.. ibu, kenapa bapak tidak mengenali aku Bu?"


"Memangnya bapak ngomong seperti apa nak?"


"Kamu siapa? Jangan ngaku-ngaku anak aku! Aku masih sendiri, terus.. Lia diusir Bu."


"Ya sudah, nanti ibu akan bicara sama bapak ya nak." Ku usap-usap punggungnya supaya tangisannya mereda.


Tak lama kemudian, giliran Fano menuju meja bapak nya, dari kejauhan samar-samar ku dengar Fano mengatakan "bapak jahat, ga usah ketemu aku sama kakak lagi ya! Awas!" Aku pun tersenyum, Fano kecil ku sudah mampu membela kakak nya.


Besok tak terasa sudah hari kerja lagi, sebenarnya aku ingin resign, fokus dengan anak-anak ku dan memulai bisnis kecil-kecilan. Untuk urusan beli rumah, tabunganku pun dirasa belum terlalu cukup. Ku kira-kira butuh waktu 3-4 tahun untuk aku memulainya.


"Fano, kak Lia, ibu berangkat kerja dulu ya nak. Nurut perkataanya nenek dan kakek. Bun aku berangkat dulu ya.. ayah.. Puti berangkat ya.. " aku pun peluk anak-anakku dan Salim kepada orang tua ku.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Bro, gue turut berduka cita , yang sabar bro. Nanti gue aja yang ngabarin Tyas.. iya, Puti." Ponselnya pak Rangga pun langsung dimasukan ke dalam saku celananya.


"Tyas, Clara meninggal hari ini. Kamu ikut saya ya nanti ke rumah duka."


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Baik pak" air mata ku pun jatuh. Mendengar itu semua, semoga sakit beliau selama ini sebagai penggugur dosa-dosa nya di dunia.


Aku pun mengirimi pesan ucapan belasungkawa ke mas Erick. "Aku turut berdukacita atas meninggalnya Bu Clara. Semoga almarhumah diterima di sisi-NYA dan yang tabah yang mas."


Setelah ada kabar, bahwa jenazah beliau sudah tiba di rumah duka. Aku, Bu Sesil, dan sejumlah kepala direksi melayat ke rumah dukanya.


Tampak di sana, aku lihat mamah nya Bu Clara sangat terpukul sekali, nampak keluarga besar beliau tengah menguatkannya. Mas Erick yang ku lihat tegar, selalu memeluk erat mima nya. Yang juga terpukul karena kepergian menantunya.


Setelah pelepasan jenazah ke rumah terakhirnya, kami pun silih berganti berpamitan ke mas Erick dan keluarga besarnya. Tampak sendu di wajah mas Erick, ku Salami dan berpamitan, tanpa ada kata-kata apapun yang keluar dari bibir ini.


Selama 15 hari, mas Erick belum menampakkan dirinya di kantor. Dan selama itu pula, mas Erick hanya sekali mengirimi pesan, isinya pun membahas kepiluan dia dan kenangan selama merawat Bu Clara.


Apakah benih-benih cinta telah bersemi di hatinya mas Erick?


Apakah aku wanita egois?


"Tyas.. nikah saja sama saya? Rangga Satya Brahmana"

__ADS_1


__ADS_2