
Langit cerah seolah menyetujui apa yang dinginkan Gusti. Angin yang berhembus turut mendistraksi, mendendangkan pepohonan agar ikut merayakan. Disitu, di ruang tengah keluarga. Gusti dan sang orang tua duduk bertiga berbicara soal apa yang telah di risaukan anaknya semalaman, soal apa yang membuatnya tidak bisa tidur belakangan, soal hatinya yang selalu berdebar untuk Ayuni.
"Jadi kamu mau Bapak lamarkan kepada Ayuni anaknya Juragan Arya Sena?" Suara Bapak sampai menginterupsi angin musim kemarau. Dan ibu, memandang anaknya dengan senyum merekah seperti bunga teratai.
"Anak ibu sudah jatuh cinta rupanya?!"
Gusti sampai di buat bingung dengan dua pertanyaan sekaligus. Pertanyaannya sederhana, namun jawabannya luar biasa menggelitik relung hatinya. Perasaan Gusti tak ubahnya kebun bunga yang di dalamnya terdapat jutaan koloni capung. Kalau-kalau hinggap di pusar, gelinya bukan main.
"Iya"
Iya saja sudah cukup untuk menjawab semua pertanyaan. Iya untuk melamar Ayuni, iya untuk jatuh cinta kepadanya. Dan pada bagian bawah meja yang menjadi saksi, Gusti memainkan kukunya dengan bibir yang enggan berhenti tersenyum.
Tawa meriah Bapak dan ibu telah menyambut pengakuan Gusti. Anak itu tidak meminta banyak untuk seukuran anak saudagar. Namun hari ini ia telah menunjukkan, bahwa Ayuni mampu menundukkan kepalanya hingga tersipu. Untuk meminta sebuah keinginan besar dalam hidupnya. Hidup berdampingan dan saling berbagi kasih sayang bersama wanita yang dicintai.
"Bapak mau tanya dulu sama kamu le?"
"Silahkan Pak, tanyakan saja. Kalau soal Ayuni, kayanya Gusti lancar aja buat jawabnya " anak itu terkekeh yang di hadiahi hidung kembang kempis Bapak.
"WUIIHH.." kata Bapak dan Ibu kompak. Harusnya kompak itu bagus. Tapi dalam situasi apa yang terjadi barusan, kompaknya Bapak dan Ibu menjatuhkan kue jenang yang hendak Gusti suap. Ia mengerjap kaget kemudian mengusap-usap dadanya khawatir.
Ibu melarang Gusti untuk membersihkan kue yang telah menempel di lantai. Kemudian istri Solehahnnya Bapak memanggil pelayan untuk membereskan. Dan obrolan yang sempat tertunda menjadi lanjut.
"Jadi gini. Ayuni kan cantik Yo..?"
"Iyo Pak"
"Ayuni itu pintar Yo...?"
"Yo jelas Pak"
"Anak itu juga baik Yo Gus?"
"Iyo Pak"
"Apa dia cinta sama kamu?"
__ADS_1
"I-yo....Yo pak. Gusti Ndak tau."
Bapak mendengus sembari memainkan kumisnya. Tubuh gagahnya bersandar pada kursi yang terlihat pengap di duduki Bapak. "Kamu gimana to le... Mau lamar tapi Ndak tahu gadisnya suka sama kamu opo ndak. Iyo kalau suka dan di terima, kalau Ndak? Kamu cuma bakalan bikin Ayuni tidak nyaman Gus"
Gusti kira Bapak akan bilang malu untuk keluarganya kalau Ayuni tidak menyukainya. Namun tidak di sangka, Bapak lebih baik daripada itu. Bapak sampai memikirkan detail soal bagaimana perasaan Ayuni nanti ketika di lamar tiba-tiba.
"Sekalian Gusti menyatakan perasaan disana Pak. Biar semua orang tahu kalau Gusti benar-benar serius suka sama Ay dan mau menjadikan dia sebagai istri."
"Ndak bisa begitu Gusti sayang." Kali ini Ibu yang berbicara. Belaian lembut pada Surai mampu menghantarkan Gusti pada kenyamanan.
"Jadi.. Gusti harus bagaimana?"
"Kamu harus pastikan dulu. Nyatakan cinta hanya di antara kalian berdua. Baru Bapak sama Ibu datang kesana untuk melamarnya. Bisa?"
Gusti geming. Hanya terdengar suara helaan nafas yang halus darinya. Merasa ada yang belum ia pahami, Gusti mengajukan pertanyaan kembali alih-alih menjawab.
"Caranya gimana Pak?"
Walaah.. menyatakan cinta pun Gusti belum ada bayangan seperti apa. Gusti kira, soal perasaan hanya sesederhana ketika kita bertandang ke rumah lalu membicarakan rencana menikah. Namun setelah Bapak menuturkan panjang lebar bahwa kemauan Gusti murni bukan sebuah perjodohan, harus ada pernyataan perasaan yang mereka harus ketahui. Tidak bisa karena hanya terus menghabiskan waktu bersama, lantas bisa di katakan sebagai acuan bahwa ada perasaan cinta dari kedua belah pihak.
Pandangan Gusti masih terlalu buram untuk memahami apa yang dirasakan Ayuni.
"Betul itu Bu. Sekarang mending kamu kesana temuin Ayuni."
Padahal aku wis persiapan jor-joran Iki. Sampai pakai baju terbaik pilihan Ayuni segala. Terus kalau kemarin aku bilang ada sesuatu penting yang harus di kerjakan, dan sekarang aku malah ke rumahnya untuk menyatakan cinta, apakah dia terkesima?
"Kenapa malah bengong to?"
"Iyo Pak. Gusti mau bersiap-siap untuk kesana." Sendirian.
"Bagus, di tunggu kabar baiknya Yo?"
Gusti mengangguk. Akhirnya, pemuda itu bangkit dari duduknya untuk menunaikan apa yang telah di musyawarahkan. Gusti dan keluarga tidak pernah tahu, bahwa ada seorang gadis tengah berdiri di belakang pintu. Sedikit banyaknya ia telah mendengar pembicaraan. Dan gadis tersebut adalah Ayuni.
...............
__ADS_1
Ayuni berlari cepat, namun kencangnya tidak membuat Ia terjatuh. Pada Yudis, gadis bermata coklat tersebut meminta suatu hal dengan gerakan ugal-ugalan.
"Apa?" Kata Yudis. Ketika netranya menangkap mata coklat itu berbinar penuh harap.
"Pak'De gendong Ay dong. Terus pakai ilmu pindah tempat kaya gini 'wuusshhh'. Kita pulang ke rumah dengan cepat sebelum Gusti sampai ke rumah kita." Ayuni meminta sambil berjingkat-jingkat. Sampai ujung bibir Yudis samar-samar melengkung ke atas.
"Untuk apa Gusti ke rumah? Saya harus memastikan dulu niatan dia baik atau tidak."
"Iiiih Pak'De, Ndak usah di periksa segala. Dia niatannya baik kok. Sumpah!"
"Ini sesuai amanat Juragan Arya. Siapapun yang bertamu ke rumah, saya harus pastikan dengan benar."
"Tapi ini kan Gusti. Nggak mungkin dia berbuat macam-macam sama keluarga kita Pak'De. Jangan terlalu kaku!" tanpa sadar, nada pada kata terakhir begitu tinggi. Hingga membuat Yudis balik kanan dan berlalu meninggalkan Ayuni dengan segala kerusuhannya.
"PAK'DE..... KOK MALAH PERGI"
"PUNYA PAK'DE SATU NGESELIN TENAN.."
Kalau saja Nona tahu dulu seperti apa. Jangankan teman, seorang paman pun bisa tega terhadap keponakannya.
"PAK'DE..." Ayuni masih berusaha. Kali ini cara kekerasan ia tempuh dengan cara melempar kerikil. Ayuni berharap, kerikilnya tidak melukai Yudis, melainkan berharap bisa mengalihkan atensi Pak'Denya untuk memenuhi permintaannya tanpa embel-embel curiga.
Dan sampai Ayuni sudah tak bergerak kehabisan tenaga. Sudah tidak ada yang bisa di lakukannya lagi selain menangis. Bersamaan dengan itu, tangan kokoh sekonyong-konyong meraup tubuhnya.
Wuuuuusshhh....
"Huuuuaaaa."
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
.