
Teknisnya, ruangan rahasia milik Arya seharusnya hanya Arya dan Yudis yang bisa masuk dengan sadar. Dan sekarang, ruang yang sering di gunakan untuk rapat rahasia telah kemasukan orang asing. Orang tersebut sedang meraba sekeliling yang mungkin dia rasa berbeda dari ruangan pada umumnya. Celingak-celinguk mencari keberadaan apapun yang bisa ia mintai keterangan tentang ruangan macam apa yang sedang ia pijak.
"Ayah" pekiknya. Oh ternyata gadis kecilnya yang telah menerobos masuk. Dengan apa dia bisa masuk? Satu nama tersangka sudah Arya kantongi. Nanti saja sanksi akan di berikan jika waktunya telah tiba. Yang pasti menghampiri Ayuni adalah hal yang tak kalah penting.
"Kenapa kamu bisa ada disini?"
"Ayah maafkan Ay, tapi ada hal yang harus Ay sampaikan dan ini bersifat penting." Dahi Arya jelas mengkerut. Putrinya tidak pernah berlaku demikian.
"Ada apa?"
"Sebelumnya, apakah Ay boleh peluk Ayah?" Senyap. Setiap ada masalah Ayuni datang pada Nala. Bercerita panjang lebar apa yang dilakukan seharian, apa yang dia rasa, dan masalah apa yang mendera. Tapi untuk yang satu ini, Ayuni pikir tidak cukup ibu saja yang menanggung curahan hatinya. Ayah juga perlu menanggungnya. Tanpa Ayuni tahu bahwa Arya Sena selalu tahu perkembangan anak semata wayangnya tersebut.
"Yasudah tapi jangan lama-lama." Jawab Arya singkat. Juga tidak ada pertanyaan soal alasan kenapa Ayuni meminta sebuah pelukan. Dengan langkah ragu, Ayuni menggerakkan kakinya untuk mendekat pada Arya. Matanya takut-takut mengintip air muka sang ayah yang lazimnya tidak pernah berubah. Lempeng. Seperti surai Ayuni yang tergerai.
Pelukan tidak dapat dihindarkan. Kehangatan yang Arya salurkan menyergap segala dingin yang sempat hinggap. Rasa tidak pernah keliru untuk menyampuk tuannya. Nyaman akan terasa nyaman, pun bingung akan terasa bingung. Ayuni sedang kebingungan, itulah yang berhasil di tangkap oleh Arya Sena.
"Ayah"
"Hemm"
"Peluk Ayah seperti ini bikin Ay nyaman. Tapi kenapa Ndak boleh lama-lama?"
"Takut kamu terbawa perasaan."
"APA!?" Ayuni geli. Sontak melepaskan peluknya lalu mendongak.
"Nak, suaramu itu.."
Sejenak Ayuni bersimpuh memohon maaf atas nada bicara yang naik satu oktaf. "Maafkan Ay. Tadi Ay terkejut jadi Ndak bisa mengontrol suara."
__ADS_1
"Ayah maafkan. Bangunlah."
Ayuni berdiri lalu merentangkan tangannya dengan wajah yang masih merasa bersalah. Niatnya meneruskan kembali pelukan antara Bapak dan anak tadi. Nahas, gayung tak bersambut. Rentangan tangan Ayuni di tinggal balik kanan oleh Arya menuju kursi yang ada di belakang mereka.
Ayaaaahh
"Tidak usah teriak meskipun dalam hati." Ucap Arya Sena tanpa menoleh pada Ayuni. Ia sibuk memindai buku catatan hasil bisnisnya, juga kertas usang seperti buku ilmu pengetahuan.
Dengan kalimat itu saja, Ayuni teringat dua hal. Yang pertama, dilarang berbicara dalam hati jika sedang bersama Arya. Sebab lelaki itu akan membalikan situasi karena telah mengetahui isi pikiran. Yang kedua, Arya tetaplah Arya. Lelaki yang terkesan menyebalkan dari segi kacamata orang yang bukan di posisi Nala. Jadi Ayuni harus bertindak sepertinya agar imbang. Ayuni jelas bisa mengimbangi. Wong dia anaknya. Gitu-gitu juga Ayuni mewariskan sifat Arya yang pandai baca situasi.
"Maafkan Ay lagi Yah wis teriak luar dan dalam. Nyuwun pangapunten." Ayuni berlagak bak tuan putri kemayu. Dia lalu tersenyum, senyuman yang ia buat semirip mungkin dengan Nala.
"Kamu mau bicara apa sama Ayah? Apa ada yang kamu risaukan nak?" Tuh kan, Arya bisa bersikap normal seperti bapak-bapak pada umumnya. Berkat senyuman sakti mirip Nala. Haha, stop Ay jangan tertawa dalam hati.
"Ay lagi butuh kepastian atas perasaan yang sedang Ay rasakan. Kata orang, Ay bakalan celaka jika nekat menikah dengan Gusti." Tutur Ayuni. Gadis itu menjawab masih sambil berdiri. Teknisnya jika belum dipersilahkan duduk maka ia tidak akan duduk.
"Duduklah di samping Ayah." Maka Ayuni mengayunkan langkah seraya berkata, "nggih Ayah"
Ayuni mengangguk, membenarkan perkataan ayahnya. "Masalahnya, yang jadi pikiran Ay itu jika Ay sudah menikah dengan Gusti, apa Ayah masih sama seperti sekarang? Maksud Ay, apa Ayah sepenuhnya lepas penjagaan karena sudah membebankannya kepada Gusti?"
"Ya jelas. Ayah akan seluruhnya memberi tugas berat itu padanya. Jadi Ayah sudah lepas kamu untuk dia." Arya tidak sedang bercanda. Apa yang dikatakannya memanglah serius. Lihat saja nanti dan ingat itu baik-baik dari sekarang.
"Tapi Yah, bukannya dulu itu--Yah Ay takut kalau Gusti Ndak bisa seperti Ayah. Ay sudah mengenal Gusti sejak kecil jadi tahu kemampuan bela dirinya."
"Percayalah sama suamimu kelak. Hanya itu yang bisa Ayah katakan. Saran Ayah, pastikan dulu dengan benar perasaanmu sebelum mengambil langkah untuk menikah."
.................
"Ayuni, Bapakku besok mau melamarmu secara resmi. Aku kesini mau memberi tahu pada Juragan Arya Sena kalau besok keluarga besar Aku mau datang." Gusti dengan semangat yang berkobar membawa berita mendebarkan. Ayuni berdebar.
__ADS_1
"Oh gitu ya Gus"
"Iya Ay. Aku juga tidak bisa lama-lama disini. Soalnya Aku mau mempersiapkan seserahan untuk di bawa besok. Ada satu seserahan yang harus aku selesaikan sendiri. Harus aku Ndak boleh yang lain."
"Wah, apa itu?"
"Nanti kamu juga akan tahu. Oh iya Ay, gelang persahabatan kita kemana?" Ayuni langsung melirik pergelangan tangannya.
"Oh ini, lagi aku lepas dulu Gus. Soalnya tadi aku cuci biar bersih hehe. Emangnya ada apa? jangan-jangan kamu mau minta gelangku buat seserahanmu besok ya?"
"Ya Ndak lah Ay. Aku cuma bertanya saja soalnya Aku tidak lihat gelang itu di tanganmu."
"Gusti"
"Iyo Ay"
"Kalau Aku bilang Aku sayang kamu, kamu mau jawab apa?"
Gusti meleleh, "Aku jawab aku cinta kamu Ay." Salang tingkah, Gusti pelantar-pelintir ujung bajunya lalu menundukkan pandangannya dari Ayuni. Kalau tidak begitu, rasanya Gusti tidak akan tahan melihat pipi anak Gadis Arya Sena tersebut.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa bahagia.