
Cublak cublak suweng Suwenge Ning gelenter Mambu ketudung gudel Pak gempong lirak-lirik Sapa ngguyu, ndelikake Sir, sir, Pong dhele kopong Sir, sir, Pong dhele kopong
Riuh suara anak-anak bermain di pelataran kampung memainkan berbagai jenis permainan tradisional. Diantaranya neker, benthik, dolanan cublak suweng, serta ada beberapa permainan lainnya. Hari sudah mulai merangkak petang sebab terlihat warna langit cenderung jingga. Disana, di kerumunan para bocah. Jika di teliti secara seksama terdapat keberadaan Ayuni anak sang Juragan Arya Sena.
Ia sedang berperan menjadi pak Empong dalam permainan dolanan cublak suweng. Ayuni tak bedanya dengan Nala sewaktu kecil. Anak itu terlihat sedang mengunyah wajik saat dirinya bertelungkup menjadi Pak Empong dengan teman-temannya mengitari membentuk lingkaran. Kontan pemandangan seperti itu tak luput dari atensi bocah laki-laki berjarak tiga meter dari keberadaan Ayuni. GUSTIRANDA namanya.
Gusti merupakan anak saudagar dari kampung tempat mereka bermain saat ini. Iya benar. Ayuni lah bocah yang mainnya terlalu jauh. Ia datang dari kampung seberang demi bisa bergabung dengan anak-anak lain. Kalau di tanya apakah di sekitaran tempat tinggalnya tidak ada anak-anak? Ayuni pasti jawab: Ada, Ay cuma mau berpetualang.
Ay. Begitulah Ayuni memanggil dirinya sendiri. Karena Ay tidak terlalu ribet untuk dilafalkan ketimbang Ayuni. Orang rumah bahkan ada yang memanggilnya cah Ayun. Dan pelakunya adalah Basir dan Ono. Sebab mereka pernah berprofesi menjadi tukang Ayun putri Arya tersebut.
Ayuni tumbuh dengan pembawaan yang ceria. Ceria dalam porsi pas membuat anak itu terlihat kalem-kalem tai kucing. Ayuni tidak masuk kategori pecicilan, namun rasa keingin tahuannya tinggi hingga membuatnya rese bukan main.
Kata Mbok Darsih, lesung pipi Ayuni seperti lembah Sindoro. Indah di pandang hingga enggan untuk berkedip. Kata Nala, Ayuni adalah perempuan paling cantik yang pernah dia punya. Kata Yudis, Ayuni adalah seseorang yang harus dia jaga selanjutnya seperti menjaga Arya. Kata Arya, Ayuni dapat membuatnya tidak kuasa bilang tidak.
Arya menyayanginya. Semua menyayanginya. Kehadiran Ayuni memberikan kebahagiaan untuk semua orang di rumah utama. Tak terkecuali untuk--Gustiranda.
"Ay" Gusti memanggil sembari mengayunkan telapak tangan sebagai ungkapan untuk Ayuni datang menghampirinya.
Ayuni datang. Dengan air muka manja yang di buat-buat, anak itu lantas bertanya yang dia sendiri tahu jawabannya. "Gusti, kamu lagi main Benthik ya?"
"Iya, kamu mau aku ajarin?" Gusti yang sedikit lagi akan melempar janak (stik pendek) seketika menghentikan permainan.
"Aku sudah bisa. Boleh aku ikut gabung?"
"Boleh" Gusti tersenyum lebar.
__ADS_1
...............
"Ah Pakde Ndak seru nih. Padahal tadi sedikit lagi aku bisa ngalahin kelompoknya Gusti. Tapi kenapa... Hu..hu.. kenapa Pakde datang di saat waktu yang genting itu!" Cerca Ayuni pada Yudis.
"Nak, jangan begitu bicaramu. Bagaimanapun Pakde mu itu harus kamu hormati." Seru Arya guna menegur cara bicara Ayuni.
"Maafkan aku Ayah"
Ayuni lesu saat rengekannya di pergoki oleh Arya. Di rumah utama, sang Ayah lah yang paling Ayuni segani. Apa kata Arya Ayuni tidak bisa menolak. Begitupun sebaliknya, kepada Ayuni Arya tidak bisa bilang tidak. Dan saat ini, ketika Ayuni memasang wajah sedih maka secara tiba-tiba Arya bersuara.
"Yudis, mulai hari ini saya memberimu perintah untuk melewati jam main Ayuni KETIKA dia sedang terjadi gencatan senjata untuk mempertahankan harga diri."
Cuma begitu saja, Ayuni seperti sayur soun yang lama menyerap air. Membongkah. Dengan cengiran lebar yang di sembunyikan di balik punggung, Ayuni mengungkapkan rasa aku padamu dalam hatinya untuk sang Ayah.
"Baik juragan"
Mas Arya paling ndak bisa lihat Ayuni sedih. Tapi dia juga tidak mau sampai anaknya melewati batas etika berbicara pada yang lebih tua. Akhirnya dia memilih jalan keluar yang bagus. Oh suamiku tercinta, aku makin tresno karo kamu Mas.
"Sekarang kamu istirahat Nak. Sudah lelah kan seharian ini bermain?" Sekarang giliran Nala yang mengambil peran.
"Iya Bu. Ini Ay mau pamit pergi ke kamar. Ayah terimakasih atas kemurahan hati Ayah untuk memperpanjang waktu bermainku."
"Hmm, ingat ya peraturan itu berlaku jika ada ketika. Kalau tidak ada ketika maka kamu yang akan kena hukuman Ayah." Jelas Arya, agar putrinya tidak menyalah pahami peraturan baru yang telah ia buat.
"Iya Ayah"
__ADS_1
Langkah kecil Ayuni terseok ke dalam kamar. Setelah anak itu menghilang di telan pintu, Yudis merapat pada Arya dan Nala untuk dimintai keterangan. Kemana Ayuni pergi seharian ini, siapa saja temannya, sampai kenapa Ayuni lebih suka main ke luar kampung pun Arya menanyakannya pada Yudis. Dan Yudis, laki-laki itu sama sekali tidak kesulitan untuk menjawab.
"Terimakasih atas kerja keras kamu hari ini Yudis. Selamat beristirahat." Seru Arya.
"Baik Juragan. Memang sudah sepatutnya saya menjaga keluarga Juragan Arya Sena.." Arya mengangkat tangannya guna menghentikan Yudis membicarakan soal sepatutnya. Menurut Arya, sepatutnya Yudis sudah harus memikirkan dirinya sendiri. Tentang mimpinya, tentang cintanya. Arya sudah lelah berbicara dengan Yudis membahas tentang kebahagiaan laki-laki itu. Karena tangan kanannya tersebut hanya akan diam seribu bahasa.
"Istirahat lah Yudis"
Yudis menganggukan kepala lalu pergi dari hadapan Arya dan Nala.
"Dek, kamu tadi dengar suara tidak?"
Nala praktis menegang. Ia menajamkan telinga dengan cemas. Takut kalau-kalau yang di dengarnya bukan suara yang sewajarnya.
"Ndak tuh Mas. Memangnya ada suara apa?" sambil bertanya sambil merengkuh pinggang Arya Sena. Dengan ekspresi takut yang begitu kentara.
"Suaranya begini dek: Oh suamiku tercinta, aku makin tresno karo kamu Mas. Oh.. oh apa lagi ya dek?"
Aaaaaaaa... tidaaak...
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...