
Pada sungai tidak jauh dari rumah utama, dua muda-mudi saling bercengkrama mengadu apa yang mereka rasakan. Batalnya lamaran memang terasa menyebalkan. Alih-alih cemberut lalu mengudarakan protes yang menggebu pada Gusti, Ayuni kedapatan seperti orang nan lapang dada. Di saat Gusti panjang lebar menjelaskan kronologi kenapa lamaran tidak jadi hari itu, Ayuni berulang kali bilang "Yo wis Ndak pa-pa." Yang membuat Gusti semakin gusar.
"Ay, aku harap ini bukan pertanda buruk buat hubungan kita." Lirih Gusti. Apakah Ayuni masih jawab Yo wis Ndak pa-pa? Jika iya Gusti akan ambruk tak bertulang.
"Ya semoga aja bukan Gus. Tadinya pas tahu kamu sama keluarga tidak jadi kesini, aku mau ke rumah kamu Gus."
"Kamu mau ngapain memangnya ay? Kangen sama aku atau khawatir?"
Ayuni tertawa kecil seraya tangannya memukul pelan bahu Gusti. "Kangen? Kangen itu opo to Gus?" Kemudian ia tergelak lagi. Lebih sumbang dari sebelumnya.
"Aku khawatir sama kamu." Lanjut Ayuni dengan sendu. Tidak sampai menunggu reaksi Gusti, Ayuni bilang dia mau ke rumah Gusti sekarang. Dan permintaannya tidak bisa di bantah oleh apapun.
"Tapi Ay, kamu sudah ijin sama Ayah kamu? Atau minimal Pak'De Yudis tahu." Gusti memperingatkan Ayuni untuk tidak bertindak di luar batas.
"Aku sudah ijin sama Ayah. Ayo cepat kita pergi Gus." Ayuni menarik lengan Gustiranda agar cepat-cepat mengikuti langkahnya. Tanpa pengawalan Yudis, Ayuni berlari sekencang-kencangnya dari rumah. Ayuni ingin menyelesaikan persoalan-persoalan yang kerap menjangkiti malamnya. Tersiksa dengan sebuah rasa yang berhasil dia simpulkan sendirian.
Salah satu alasan kenapa Gusti suka dengan Ayuni adalah berani. Seperti sekarang yang mereka lakukan mungkin terlihat seperti sedang melarikan diri. Gusti baru menyadarinya di pertengahan mereka mendulang perjalanan bersicepat. Tak sampai hati hancur di tangan seorang Arya Sena, Gusti mencekal Ayuni agar tidak melanjutkan jalan.
"Ay berhenti."
"Ada apa? Bentar lagi sampai kan?"
"Kamu lagi kabur ya Ay?"
Di tengah-tengah nafas yang terengah, Ayuni mengajak Gusti duduk sejenak mengatur nafas. Di atas batu berlumut hijau mereka mendarat. Kemudian meminum seteguk air yang memang Ayuni sudah persiapkan.
"Aku beneran udah dapat ijin dari Ayah kok. Cuma karena situasinya kamu terlebih dulu datang, dan sekarang baru kita hendak ke rumah kamu tanpa aku bilang lagi sama Pak'De, aku jadi kelihatan melarikan diri."
__ADS_1
"Tapi Ay, biasanya kan kamu kemana-mana di kawal Pak'De Yudis. Lha ini, kita pergi cuma berduaan aja."
"Kalau berduaan saja memang kenapa Gus? Kamu takut ya hehehe. Becanda Gusti Ndak usah tegang. Memang sejak dulu kita gini kan, kelihatannya pergi berduaan tapi nyatanya selalu ada yang ngikutin kita. Ndak percaya? Yo wis, sini kamu cium aku."
Gusti mendelik, sekonyong-konyong mendekatkan diri mengikis jarak pada Ayuni. "Emang udah boleh aku cium kamu ay?" Begitu katanya alih-alih takut di buat Jontor oleh Arya maupun tangan kanannya, Gusti lebih berani mengambil resiko. Entah karena dia penasaran dengan apa yang ditantang Ayuni, ataupun ada maksud lain ingin memiliki Ayuni seutuhnya.
"Sini kalau berani" Ayuni mencelos sambil melihat situasi di sekitarnya aman atau tidak. Dan bibir tidak sabaran Gusti berada dalam radius kurang dari lima centi. Bergerak sedikit saja menoleh, habislah pipi Ayuni tergerus congoran Gustiranda.
Braasssshhh...
Yang laki-laki terjengkang ke belakang sedangkan yang perempuan tersungkur mencium tanah. Yudis datang tepat waktu di saat para bocah nakal menguji keberadaannya. Sayangnya, hari baik sedang tidak berpihak pada siapapun di antara mereka bertiga. Laki-laki yang di gadang calon suami Ayuni hampir terperosok dalam jurang buntut dari serangan Yudis untuk memisahkan mereka agar tidak melakukan hal di luar batas. Ayuni lekas memberikan pertolongan tanpa pikir panjang. Dan hal serupa terjadi pada Ayuni. Mereka berdua terperosok dalam jurang nan curam.
Wusshh...
Yudis meraih kedua tubuh bocah nakal tersebut lalu mendarat sempurna pada tempat yang banyak di penuhi semak belukar. Mereka selamat dari adegan gulang-guling menyapu terjalnya bidang miring yang mungkin saja terdapat bebatuan disana. Ayuni dan Gusti bernafas lega. Tetapi hanya sebentar saja sampai mereka berdua melihat sorot mata tajam macan kumbang tepat di belakang Yudis.
"Pak'De" lirih Ayuni dengan air muka teramat ngeri. Sedangkan laki-laki pemilik nama Gusti mengambil posisi sembunyi di belakang yang wanita. "Ay, ayo kita lari." Bisiknya dengan tubuh gemetar hebat. Hitamnya macam kumbang seakan meredupkan cahaya matahari. Membuat suasana begitu mencekam. Dan tajamnya tatapan macan kumbang bak sedang mencekik leher Gusti.
"Pak'De kan orang sakti. Ndak pa-pa kita tinggal lari saja. Aku takut tenan Ay. Aku yakin Pak'De juga akan meminta kita buat lari."
"Gusti, saya minta kamu bawa Non Ayuni pergi dari sini." Seru Yudis setelah menengok ke arah belakangnya.
"Tuh kan Ay. AYO KITA PERGI"
"Tapi kan Gus, gimana bisa kita tinggalin orang yang udah nolongin kita? Aku tahu Pak'De kuat, tapi kamu berfikir Ndak kalau kita sebagai manusia ada rasa empati. Kita lari dan selamat misalnya, terus Pak'De Ndak selamat, memang kamu tenang hidup dalam rasa bersalah. Kalau aku sih mending selamat bareng-bareng, mati pun bareng-bareng. Lagian aku penyebab semua kejadian ini Gus."
"Saya harap Non Ayuni ikuti saja Gusti."
__ADS_1
"Ndak Pak'De"
Arrghhh...
Gusti menarik tangan Ayuni kuat-kuat tepat saat macan mulai menerkam Yudis. Pemuda itu berlari sekuat tenaga membawa Ayuni dengan ringkihan tangis. Di sepanjang perjalanan terjal, Gusti terus saja menarik Ayuni tanpa pernah tahu caranya untuk berhenti. Mereka semakin menjauh. Meninggalkan Yudis dengan segala takdirnya.
.
.
.
Bersambung...
Di balik layar
Bersamaan menghilangnya hewan yang disinyalir bisa mencabik-cabik Yudis, Arya lalu datang tiba-tiba.
Arya : Tugasmu sudah selesai. Sekarang kamu boleh kembali ke perkebunan.
Yudis : Baik Juragan. (Yudis balik kanan dengan senyuman tipis)
Arya : Tidak usah senyam-senyum. Anak nakal kaya Ayuni sekali-kali di beri pelajaran sampai nangis. Biar dia tahu apa arti konsekuensi daripada perbuatan.
Yudis : Nggih Juragan.
Zenun : Oh jadi ini lagi ngerjain Ayuni toh. ehehehe.
__ADS_1
Arya : siapa kamu?
Zenun : Haaa.. aku siapa?😱