
Yudis begidik ngeri ketika terbangun di pagi hari. Yang pertama terpikirkan olehnya adalah bagaimana menghadapi kekonyolan anak Arya Sena hari ini. Kebiasaan baru Ayuni membuat tidurnya tidak nyenyak beberapa malam belakangan. Dan menjelang pagi tiba, Yudis mendadak tujuh keliling sebab gombalan-gombalan Ayuni masih saja memenuhi kepala.
Semenjak pengakuan Ayuni tempo hari, Yudis tidak bisa membedakan antara hujan dan gerimis. Karena Ayuni selalu saja punya cara untuk membuat Yudis berfikir apakah Ayuni dilahirkan untuk membersamai hidupnya. Dan tepat pada hujan petir angin di suatu malam, Ayuni dan Yudis bersama-sama memandangi air deras yang turun dari langit.
"Mas"
Yudis menoleh tapi tidak dengan Ayuni. Gadis itu masih sibuk memandang ke arah luar yang gelap dan basah.
"MAS"
"Tidak usah teriak, saya sudah dengar."
"Lha kalau dengar kenapa ndak nyahut?"
"Saya sudah menoleh Nona Ayuni."
"Oh iya kah? Ay senang tenan dengarnya Mas. Itu berarti, Mas Yudis sudah merasa terpanggil dengan sebutan itu."
"Tapi saya tidak menyahut." Terang Yudis. Memang dia tidak menyahut dengan kalimat, laki-laki itu hanya menoleh. Menurut Yudis, menyahut dan menoleh itu sangatlah berbeda.
"Menyahut dan menoleh itu sama Mas Yudis ku..."
"Beda"
"Sama"
"Beda"
"Sama"
"Beda"
"BEDA" kata Ayuni melawan arus.
"Sama" Yudis lupa dengan kata-katanya.
Yudis kaget. Tampang Yudis yang terhenyak membuat Ayuni terbahak-bahak. Tawanya begitu nyaring seukuran hujan deras yang dapat meredam suara. Lelaki idaman Ayuni mendecih, sudah sering menghadapi Ayuni masih saja terjebak silat lidahnya. Yudis merasa... kepandaiannya melawan Ayuni sudah mulai menipis.
Akhirnya, Yudis yang merasa sedikit waras mengalah dari perdebatan. Ia kembali pada mode tampang yang lempeng-lempeng saja.
__ADS_1
"Mas, kenapa hujan turun begitu saja?"
"Karena sudah takdirnya."
"Apa hujan punya alasan kenapa dia turun?" Tanya Ayuni sembari berusaha menyampirkan kepalanya di bahu Yudistira. Otomatis lelaki yang hendak di tumpangi, bergeser sedikit demi sedikit. Namun tidak membuat Ayuni berhenti berulah. Yudis geser Ayuni mepet. Siapapun yang melihatnya, Ayuni bagaikan ulat jengkal.
"Tidak tahu" Yudis menjawab jujur.
"Sama Ay juga ndak tahu." Seru Ayuni tanpa tedeng aling-aling. "Ay Ndak tahu alasannya Ay bisa jatuh cinta pada Mas Yudis. Sama kaya hujan, yang jatuh tanpa atau dengan alasan."
"Tapi saya tidak bertanya." Kata Yudis sebagai tanggapan dari perkataan Ayuni, jika gadis tersebut tidak tahu soal kenapa dia bisa jatuh cinta pada Yudis. Karena sebuah rasa tidak tertebak kemana dia akan berlabuh. Rasa akan terus mengalir. Tidak peduli batu terjal kan ia hantam, tidak peduli kerikil tajam ia arungi. Rasa akan selalu menemukan jalan dengan caranya sendiri.
"Iya ya, Mas kan Ndak bertanya. Kenapa Ay panjang lebar membahas soal perasaan segala ya hehe. Haduuhh...haduuh..." Ayuni memegang dadanya kesakitan. Yudis terperanjat. Ia segera meraih Ayuni yang sedang meringis pilu.
"Bertahan ya Non, saya akan panggilkan tabib." Dengan cekatan Yudis menggendong Ayuni ke dalam kamar. Masih dalam gendongan, Ayuni dengan bibir merintih berusaha untuk berbicara.
"Mas, tidak usah panggil tabib. Bawa Ay ke kamar saja."
"Kenapa?"
"Ay cuma lagi nahan nyeri ulu hati, saat Mas Yudis bilang kalau Mas Ndak nanya perasaan Ay huhu." Habis bilang begitu Ay menangis di buat-buat. Setelahnya Ayuni cengar-cengir.
Kalau saja Ayuni bukan anak Arya Sena, Yudis sudah melepaskan tangannya. Lalu membuat seonggok anak manusia yang nangkring di tangannya berdebam dengan lantai. Bukan Yudis bertega hati, tapi laki-laki itu terhenyak dengan apa yang Ayuni katakan. Jadi saat ini-- dia sedang di lamar seorang bocah?
"Maaf Non, saya turunkan. Silahkan jalan sendiri ke kamar. Saya jaga dari sini."
"Ih Mas tapi kan Ay lemas tahu."
Yudis masih bergeming. Kata dia A maka bukan z yang terlaksana. Ayuni terpaksa berjalan sendiri ke kamar sambil memberengut. Tidak sampai situ, Ayuni juga ngomel-ngomel, katanya kadar kesabarannya sudah habis. Lalu ia menyumpahi Yudis suatu saat nanti lelaki berperawakan jangkung tersebut jatuh cinta padanya. Kutukan yang sangat kejam terdengar di telinga Yudis. Tapi manis di telinga Arya Sena yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.
"HATI-HATI.... Teriak Yudis.
Yudis secepat kilat menangkap tubuh Ayuni lalu jatuh dalam pelukannya. Sementara tangan kanannya menangkap sebuah anak panah yang melesat hendak tertuju pada Ayuni. Anak panah? Panah milik Arya? Yudis tak habis pikir kenapa Arya mau memanah anaknya sendiri.
"Ternyata kamu masih cekatan dan cepat. Kemarikan panah saya." Seru Arya pada Yudis.
Bersamaan dengan panah yang sudah berpindah tangan, Yudis pun melepaskan Ayuni dari genggamannya. Kemudian suasana menjadi kikuk, sampai Ayuni membuka suara.
"Ayah mau memanah Ay?"
__ADS_1
"Iya" kata Arya. Suami Nala yang sulit di tebak itu membereskan anak panah yang hampir saja melukai Ayuni.
Ayuni mendelik. Yang menyelamatkannya pun tak bersuara.
"Ayah lagi latihan tadi. Sekaligus melatih Yudis apa pamanmu ini masih bisa cekatan dan cepat. Konsentrasi orang yang selalu di gangguin bocah sepertimu juga harus di periksa kembali. Khawatir daya penjagaannya menurun." Arya menjelaskan secara lugas.
"Ayah, bagaimana kalau misalnya Mas Yudis tadi Ndak gerak cepat? Ya ampun Ayah, Ay Ndak bisa bayangin, kalau Mas Yudis sampai jadi duda sebelum waktunya." Ayuni histeris, alih-alih memikirkan nyawanya, dia lebih tidak terima kalau Yudis sendirian di tinggal olehnya sebelum laki-laki itu bahagia.
"Iki bocah kalau ngomong sakarepe dewek. Sopo sing dadi duda? Gundulmu!" Arya menyentil kening anak gadisnya. Lalu ia beranjak pergi dengan Ayuni yang masih terus ingin berbicara dengan sang Ayah.
"Ayah tumben ngomongnya medok?"
"Ayah...
"Ayuni, ngapain segala ikut-ikutan Ayah?"
"......"
"....."
Suara mereka seluruhnya menghilang terpisah oleh jarak. Menyisakan Yudis dengan segala kebingungannya lalu perlahan mengatur nafas. Detakan jantung Yudis terlalu cepat dari batas normal. Dan tubuhnya pun tidak tahu karena alasan apa organ tersebut bekerja lebih cepat. Seolah-olah si jantung itu sendiri tidak tahu untuk apa dia merespon. Untuk sebuah penyelamatan tak terduga kah? Untuk ketakutan kalau-kalau dia tidak cepat dan akurat kah? Atau untuk sesuatu yang tidak dia sadari?
Dan Hujan selalu mengingatkan ia tentang malam ini.
Gerimis. Yudis juga memiliki masalah dengan rintik-rintik air yang turun dari langit. Keduanya sama-sama menurunkan air tapi kesulitan untuk membedakan antara gerimis dan hujan. Semua berawal dari suatu pagi menangis. Dimana awan hitam berarak mengepung pagi tersebut. Pada halaman belakang rumah utama, Yudis menangkap pemandangan indah tapi dia tidak mau mengakui kalau yang dia lihat itu bagus.
Sampai akhirnya....
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1