
Hai para reader yang Budiman. Semoga kalian dalam keadaan sehat selalu.
.
.
Happy reading.
.
.
"Ay"
"Iya, ada apa Gusti?" Ayuni yang semula sibuk memilah baju untuk Gusti di tengah-tengah pasar menolehkan atensinya pada laki-laki tersebut. Meskipun begitu, tangan cekatan Ayuni masih saja berkelana, menutur baju mana yang pantas Gusti kenakan untuk esok hari.
"Selama ini...kamu yang selalu bertandang ke kampung halamanku, kamu juga yang selalu datang ke rumahku. Apa aku boleh datang ke rumah kamu Ay?"
Ayuni lantas terdiam sejenak. Pertanyaan Gusti memang sederhana, namun entah kenapa rasanya Ayuni begitu gugup jika Gusti berkeinginan untuk datang ke rumah. Ayuni paham mengapa pemuda di sampingnya melayangkan keinginan seperti itu. Tapi Ayuni masih samar untuk mengiyakan permintaan tersebut, karena....
"Yah tidak boleh ya?" Gusti melenguh kecewa manakala Ayuni hanya diam seribu bahasa.
"Bukannya gitu....boleh saja Gusti. Tapi... Ayahku sedikit kaku sama orang baru. Aku takut kamu nanti sakit hati dengan perkataannya atau sikapnya yang tegas."
"Seseram itukah Ayahmu Ay?"
"Ya Ndak seram juga. Cuma Ayah orangnya jarang senyum. Jarang bicara juga kalau Ndak di tanya duluan. Di tanya yang Ndak penting-penting banget juga jarang di jawab. Palingan cuma jawab hmm, kalau Ndak nyengirnya seuprit. Kaya gini" Ayuni mempraktekkan dengan ujung bibir sedikit tertarik keatas. Gayanya langguk, agak kontras dari aslinya pembawaan Arya yang wibawa.
__ADS_1
"Oh begitu rupanya. Ndak pa-pa Ay, jangankan cuma itu, kalaupun aku harus melawan macan tutul untuk bisa berkunjung ke rumahmu pasti akan aku sanggupi." Gusti menepuk dadanya hebat.
Ayuni tergelak. Tawanya anak gadis Arya Sena bikin Gusti jadi tidak karuan. Tawa renyahnya menyeruak sampai ke rongga perasaan. Menjalar hingga akarnya menguat disana dan semakin tumbuh.
Tawa kamu Ay, yang membuat aku semakin jatuh hati padamu. Teruslah seperti ini untukku. Aku berharap cerita kita tidak akan pernah selesai.
"Gusti, menurutku ini bagus untukmu. Sederhana tapi elegan. Cobain deh."
"Ndak usah dicobain. Pilihan kamu sudah pasti cocok untukku Ay."
"Ah yakin? Nanti kalau ndak muat gimana hayo? Aku ora tanggung jawab ya hehe."
"Pasti muat. Kamu kan tahu segalanya tentang aku Ay. Seleraku, kesukaanku, bahkan ukuranku." Tatapan Ayuni nyaris membulat sempurna dan siap untuk mencabik-cabik perkataan Gusti.
"Iih Gusti .... Apaan sih kamu. Memangnya kamu suamiku sampai aku tahu ukuranmu segala. Huuuh." Dan dari kejauhan, Yudis mengepalkan tangan dengan mata yang memicing.
"Kayaknya kamu beneran di hadang macan tutul deh nanti pas mau main ke rumahku. Tahu Ndak, di rumahku ada manusia yang super Ndak bisa baca situasi bercanda sama sekali Gusti. Kalau kamu kaya gini disana, bisa-bisa nyawamu nyaris celaka!"
"Iya kah? Apa itu Ayahmu?"
"Bukan. Tapi orang kepercayaannya, Pak'de Yudis." Setelah mendengar penuturan Ayuni tentang siapa yang disebut macan tutul adalah Yudis, Gusti perlahan menghembuskan nafas lega. Sebab ia tahu bagaimana situasinya. Gusti kerap beberapa kali berkesempatan bertemu dengan Yudis. Berinteraksi dengannya juga meski hanya beberapa kalimat yang berhasil mereka ciptakan. Lucunya, di kesempatan itu tak jarang Gusti malah membela Yudis sebagai pamannya Ayuni, di bandingkan memenangkan Ayuni yang jelas-jelas ia sangat menyayanginnya.
Kata orang cinta itu buta. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi cintanya Gusti. Pemuda itu memang sangat mencintai Ayuni, namun dia tidak buta untuk hal membela mana yang benar dan salah. Setelah melihat secara langsung, Gusti paham bahwa gadis kesayangannya hanya kesal pada Yudis akibat larangan yang ia terima. Akibat dia selalu di jemput paksa pas lagi enak-enaknya main.
Tak jarang Gusti menegur Ayuni atas kata-kata yang terlewat tinggi pada Yudis yang lebih tua darinya. Karena sebab itu juga, Yudis dan Gusti hubungannya tidak terlalu buruk.
"Ay, kalau menurutku nih ya, kamu jangan terlalu keras sama Pak'de Yudis. Bagaimanapun, Pak'de seperti itu juga karena perintah Ayah kamu. Karena menjalankan tugas intinya. Kasihan kan, Ayahmu yang sebenarnya membuat peraturan tapi kamu bencinya sama Pak'de Yudis hanya lantaran beliau yang berhadapan langsung denganmu."
__ADS_1
Kepalan tangan Yudis mengendur. Benar kata Ayuni, Yudis tidak bisa bercanda sama sekali. Mendengar Gusti berseru bahwa Ayuni tahu ukurannya, Yudis sudah kesal bukan main karena telah kecolongan menjaga putri Arya Sena. Namun setelah mendengarkan penuturan selanjutnya, Yudis paham bahwa ia telah salah kaprah.
"Iya Gusti."
"Nah gitu dong, kan jadi tambah manis."
"Tapi kayanya kamu bener-bener di hadang macan tutul nanti Gusti." Ancam Ayuni. Bukan seriusan pemirsa. Hanya ancaman abal-abal.
"Ndak pa-pa Ay, demi kamu apa si yang tidak berani aku lalui. Oh iya Ay, terimakasih ya kamu sudah mau repot-repot mempersiapkan untuk keperluanku besok. Kamu memang sahabat aku yang paling indah."
"Indah?"
"Emmm maksudku.. itu Ay.. apa ya? Hehe"
"Ndak jelas kamu Gustiii... kalau kata teman kita si Solihin, kamu itu ora danta haha."
"Iya..iya.. haha aku ora danta ya Ay."
Ora danta mengantarkan mereka pada gelak tawa yang semakin ceria. Langit sudah mendung mengiringi percakapan sepasang yang katanya cuma sahabat. Untuk persiapan besok mereka memutuskan mengakhiri pertemuannya hari ini. Besok? ada apakah dengan besok? sesuatu yang belum di ketahui oleh banyak orang. Termasuk Ayuni.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1