Suami Idaman

Suami Idaman
Akhirnya


__ADS_3

Ketika Yudis membuka pintu lebar-lebar, aroma semangat menghadapi hari dengan Ayuni terhirup dengan jelas olehnya. Jadi, jangan salahkan Yudis mengapa dia tidak konsisten pada pendiriannya untuk menjaga jarak dengan gadis tersebut. Karena rasa telah mengubah semuanya.


Pagi itu langit terlihat cerah bersenandung kicauan burung-burung. Kicauannya serupa nada-nada merdu, mengiringi langkah demi langkah Yudis yang berganti menapaki halaman. Pertama kalinya, Yudis tersenyum ketika akan menemui Ayuni untuk menjalankan tugas menjaganya. Apakah langit yang cerah bisa mendadak hujan deras manakala Yudis yang antipati berubah menjadi sumringah?


"Tumben belum ada suara teriakan" gumam Yudis. Laki-laki itu tidak menemukan batang hidung Ayuni dalam radius kejauhan. Tidak seperti biasa. Dimana Yudis membuka pintu kamarnya, disitulah Ayuni teriak dengan ceria sambil berjingkrak. Dan Yudis kaget minta ampun, ketika tahu kamarnya telah di santroni perampok hati.


Namun kali ini, Yudis harus menelan rasa kekecewaan. Lagipula untuk apa dia kecewa? Dia pun tidak tahu mengapa sebabnya. Maka dengan langkah terburu-buru, Yudis mencari keberadaan bocah tengil yang selalu mengganggunya.


"Bu, Yudis mau tanya. Non Ayuni tumben belum kelihatan?" Tanya Yudis pada Mbok Darsih, ibu kandungnya.


"Non Ayuni sakit to le, kamu apakan dia nak?"


"Sakit apa to Bu? Kemarin masih baik-baik aja. Yudis Ndak ngapa-ngapain dia. Yudis jaga dia kaya biasanya." Raut kecemasan sudah kentara menjalar di urat-urat wajah Yudistira.


"Non Ayuni demam. Oh Yo wis kamu jenguk Non Ayuni sana le. Sekalian bawain bubur ini. Ibu mau ke dapur dulu. Ibu belum cicipi buburnya ya le."


"Baik Bu." Yudis mengambil semangkuk bubur yang telah di berikan Mbok Darsih. Seujung sendok bubur Yudis letakan di telapak tangannya. Kemudian ia cicipi disana.


Beberapa detik kemudian ibu dan anak itu terdiam menunggu apakah ada reaksi yang di timbulkan.


"Aman. Tidak ada racunnya." Ujar Yudis.


"Syukurlah"


"Yudis antar bubur dulu ya Bu."


"Yudis" Mbok Darsih memanggilnya, praktis membuat Yudis yang hampir membalikkan badan menatap lekat kembali sang ibu.


"Ada apa Bu?"


"Anakku Yudistira, sejak kecil kamu ndak pernah membantah apa kata orang tua. Masa kecil kamu bukan lagi masa penuh bermain seperti anak-anak kebanyakan. Kamu sudah turut menjaga Juragan Arya kecil dan mendampingi tumbuh kembangnya. Dengan usia kamu di atas Juragan Arya saat itu, kamu mampu menjadi kakak sekaligus teman dan penjaga beliau. Kamu sudah mempunyai jiwa ksatria sejak kecil nak, dan itu tanpa paksaan dari kami para orang tua. Ibu dan Bapak bangga padamu."


"Nak, terimakasih sudah menjadi anak yang baik. Ibu berharap kelak kamu akan terus memegang teguh ketulusan. Umur kamu sudah menginjak kepala empat ya nak? Ndak pa-pa pencapaian dalam hidup tidak harus sama dengan orang lain. Sing penting yang menjalani bahagia. Apa kamu bahagia nak?"


Mata senja Mbok Darsih berair, namun wajahnya berseri-seri saat bertanya demikian. Bagi Mbok Darsih Yudis adalah kebanggan hati yang mampu membuat orang tua bahagia. Yudis seraya menjawab,


"Melihat ibu sehat saja Yudis sudah bahagia. Ibu jangan khawatir, sekarang Yudis sudah bisa tersenyum." Yudis menunjukan senyum terbaiknya kepada sang ibu yang di sambut gelak kecil oleh Mbok Darsih.


"Kamu guuanteng tenan le kalau lagi senyum" kata Mbok Darsih menepuk-nepuknya pipi bujang lapuknya. Hei Sembarangan bilang lapuk, gitu-gitu Yudis calon mantu Arya Sena.


............

__ADS_1


Bunyi ketukan pintu berkumandang. Ayuni yang sedang lemas menjawab dari dalam.


"Masuk Mbok, Ndak di kunci."


Suara pintu terbuka telah di dengar Ayuni. Anak itu bergelung dalam selimut membelakangi eksistensi pintu kamarnya. Ayuni pikir meminta pendapat pada calon ibu mertua adalah ide yang bagus di pagi hari ini. Dia bertanya,


"Mbok, Pakde ganteng lagi apa ya? Kira-kira dia kangen Ndak ya sama Ay? Mbok, menurut Mbok Pakde itu cinta Ndak sama ay yang sedang tenggelam dalam teluk renjana ini?


Yudis tersenyum.


"Saya lagi nganterin sarapan buat Nona Ayuni. Kalau tidak kangen, sepertinya saya tidak ada disini." Begitu katanya, nyaris membuat Ayuni yang memang sudah lemas semakin tak bertulang.


Mati aku, Mas Yudis ngapain segala ada disini? Mana mukaku lagi jelek tenan Iki. Ibuuuu.. tulungin Ay.


"Oh, kirain calon ibu mertua yang kesini. Taruh disitu saja Mas. Pas Mas Yudis keluar Ay pasti makan."


Yudis menaruh sarapan Ayuni diatas meja. Kegiatan berbenah di ruangan yang sedang senyap mampu memperdengarkan dentingan mangkuk dan segala tek-tek bengeknya. Kemudian Yudis menciptakan suara pintu tertutup namun ia masih berdiri disana, di dalam kamar Ayuni.


Perlahan-lahan Ayuni mengendurkan selimut. Rambutnya yang berantakan mengintip di balik gelungan. Yudis sudah bisa menebak, gadis itu sedang tidak percaya diri dengan penampilannya.


"Mas Yudis kenapa masih disini?" Ayuni berbalik tiduran kembali membelakangi Yudis.


"Saya mau menjenguk Nona Ayuni. Bolehkah saya menyuapkan bubur sarapannya?"


"Maaf Mas, Ndak bisa."


"Kenapa?"


"Ay lagi lemas. Lagi Ndak punya cukup tenaga untuk memandang kegantengan Mas Yudis. Ay mohon, jangan bikin jantung hati ini bekerja lebih keras." Dengan nada bicara yang lemah Ayuni menolak tawaran lelaki yang di idam-idamkan. Hatinya menangis, menjerit atas kedunguannya.


"Kalau begitu..


Mas Ay mohon jangan menyerah. Ayo terus mendesak Ay biar mau.. Ayo Mas Ayo jangan pergi. Mas.. Hei.. bisa denger suara hati Ndak?


"Kalau begitu apa?" tanya Ayuni.


Suara perasaan air tiba-tiba menginterupsi percakapan mereka. "Ini ada lap basah sama cermin. Jika berkenan, Non bisa menggunakannya. Tidak apa-apa menghadap kesana. Biar saya yang akan bantu sisirkan rambut " Seru lelaki bernama lengkap Yudistira.


Nyesss.. Ayuni bingung harus bereaksi malu ataukah terenyuh. Sikap perhatian seperti ini kerap kali membuat Ayuni nyaman. Sikap seperti ini yang membuat Ayuni ingin mempuisikan aksara qalbu. Jauh lubuk hati yang paling dasar, degupan hatinya menjerit padanya untuk selalu ikuti kata hati.


Wajahnya sudah basah dan segar. Ayuni mengelapnya sesuai saran Yudis barusan. Dan ketika ia terduduk memunggungi laki-laki itu, Ayuni merasakan surai panjangnya tersentuh.

__ADS_1


Gerakan lembut dari sisir yang dilakukan Yudis mampu membuat Ayuni terpejam. Merasakan setiap belaian kasih sayang yang tercurah melalui sisir tersebut. "Mau di kepang?" tanya Yudis menyadarkan Ayuni dari ruang asmaraloka.


"Boleh Mas."


Dan Yudis mulai mengerjakan dengan serius di setiap helai rambut Ayuni.


"Apa Non sakit karena memikirkan soal pernikahan?"


"Bisa jadi begitu. Tapi mau bagaimana Mas, Ay Ndak maksa jika Mas Yudis tidak berkenan menjalankannya."


"Saya tidak bilang tidak mau." Kata Yudis. Urusan perkepangan sudah selesai, Yudis memutar badan Ayuni agar mereka saling berhadapan.


"Lalu?"


"Saya bukan orang yang ingkar janji. Permainan yang sudah saya sepakati tidak bisa saya ingkari. Non Ayuni yang menang. Dan peraturan menyebutkan jika yang kalah akan mengabulkan keinginan yang menang. Non mau pernikahan, saya akan ikuti. Saya bersedia menikah dengan Non Ayuni. Asal Non terima saya yang bukan apa-apa ini." Yudis mengatupkan kedua tangan lalu menunduk seperti memberi penghormatan. Laki-laki itu biasanya seperti ini hanya pada Arya Sena. Tapi entah kenapa Ayuni juga mendapat perlakuan tersebut.


"Mas.."


"Non Ayuni jangan khawatir. Habis ini saya bersama Ibu akan menemui Juragan Arya untuk melamar Non Ayuni."


Ayuni menitikan air mata.


"Non Ayuni" Panggil Yudis sambil menghapus jejak air mata Ayuni.


"Nggih Mas"


"Jangan sakit lagi ya."


.


.


.


.


.


Bersambung....


Ayuni... jangan sakit lagi ya?! kamu cuma boleh sakit karena bahagia.

__ADS_1


Netizen: Maksud lu ape Thor sakit tapi bahagia?


Temukan jawabannya di next episode hehehehe. Oh iya kebanyakan tawa jadi lupa nih, next episode bisa jadi episode terakhir bisa juga nggak ya. Semua tergantung tingkat kengantukan seorang Zenun.


__ADS_2