
" Pak.. mau kemana lagi kita, saya pusing pak, perut saya kram, auuww pak tolong berhenti dulu, aku benar benar sakit perut ku ini. " Tiba tiba darah mengalir dari organ vital ku dan seketika ambruk badan ku, masih bisa kurasakan pak Erick menggendongku setengah berlari dan memanggil manggil nama ku, put.. Puti..bangun sayang.. sayang ? Setelahnya aku pun tak sadarkan diri.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
" Put.. kamu sudah sadar?, Tenangkan dirimu ya put, relaks. " Aku membuka mata dan pak Erick membelai kepala ku dengan penuh kehangatan.
" Apa yang terjadi dengan saya pak ? Dimana saya? "
" Kamu berada di rumah sakit, nanti akan dijelaskan oleh dokter yang berwenang ya put, sebentar lagi dokternya akan ke ruangan ini. "
Setelah beberapa lama dokter pun datang dan menjelaskan kejadian apa yang telah menimpa ku " selamat sore bu Puti, terpaksa kami memberitahukan dan kami mohon maaf kami selaku tim medis sudah berusaha sebisa mungkin, namun semua kita kembalikan kepada yang kuasa, bahwa... Janin yang ada di perut ibu tidak dapat bertahan. " Kemudian dokter tersebut menyampaikan bela sungkawa kepada ku.
Aku menangis, tak ku kira selama ini aku mengandung anak ketiga ku dengan mas Andri. " Nak, maafkan ibu ya nak, tidak bisa menjaga mu, andai ibu tahu kamu ada di rahim ini pasti akan ibu jaga nak. "
Selama beberapa hari aku di rumah sakit, sering sekali pak Erick menyempatkan dirinya untuk menemaniku bahkan hanya untuk sekedar mengecek perkembangan kesehatanku.
Setelah 3 hari, aku diperbolehkan pulang oleh dokter yang menangani ku, aku pun dijemput oleh pak Erick. " Saya rasa kita salah jalan pak, ini bukan arah jalan menuju kos an ku "
" Memang bukan put, hari ini kamu tidak usah tinggal lagi di sana ya, aku sediakan apartemen dan seorang asisten rumah tangga yang akan membantu mu, sehingga kamu ga perlu capek capek lagi, dan ada juga sopir yang akan bertugas mengantar mu kemana mana. "
" Kenapa bapak baik sekali denganku ? Aku bingung dengan kebaikan bapak "
" mmm.. " belum sempat pak Erick menjawab, tiba tiba terdengar bunyi panggilan masuk ke handphone ku. Ternyata mas Andri yang menelpon ku, aku mohon ijin mengangkat handphone ku ke pak Erick dan dipersilahkan " Puti, anak anak sakit, kalau kamu masih punya nurani, datanglah put, mas mohon " pinta mas Andri.
" Ibu.. ibu... Lia kangen Bu, dek Fano juga kangen sama ibu, ibu kemana aja, kami mau ikut sama ibu saja ga mau sama bapak. " Terdengar suara Lia dan fano ku. " Diam kamu Lia Fano, tidak ada yang boleh ikut ibu, kalian harus sama bapak. "
Entah karena volume handphone ini yang cukup jelas terdengar, pak Erick pun berkata " mau aku antar ke kampung itu Put ? "
" Siapa itu put, suara laki laki siapa put, jawab !dasar memang benar ya kamu melacur ! " terdengar di ujung handphone mas Andri berteriak kepadaku. Langsung aku matikan panggilan dari dia dan ku bisu kan nada masuknya.
" Kamu, mau ceritakan yang sebenarnya masalah mu sama saya put? " Tanya pak Erick dengan sopan sembari memberikan tissue kepadaku.
" Maaf pak, nanti kalau sudah siap hati ini, akan aku ceritakan. " Dan ku lihat pak Erick menaikan bahunya serta menjawab " oke, tapi janji ya, kalau sudah siap ceritakan semua sama aku, kalau aku bisa bantu akan aku bantu put. "
Kemudian kami berdua saling berdiam diri, aku dengan segudang rasa kangen ku kepada anak anak dan entah dengan diamnya pak Erick.
Tak berapa lama aku dan pak Erick sudah berada di sebuah ruangan apartemen, dimana ruangannya cukup luas, dan perabotan pun sudah tertata rapi.
" Ini apartemen ku, kamu boleh tempati semau kamu ingin tinggali, ini mbok Ratmi asisten rumah tangga yang akan mengurusi keperluan mu disini. "
" Oke kamu istirahat dulu ya, jangan sungkan sungkan kalau mau sesuatu telpon saja aku, sweet dream ya put " senyumnya pun merekah, membuat aku salah tingkah dan bingung dengan sikapnya.
" baru kali ini loh den ayu, den Erick begitu perhatian sama wanita. "
" Ah mbok Ratmi bisa aja, aku sama pak Erick hanya sebatas teman saja, lagian mana mungkin lah mbok, pak Erick kan sudah punya mbak Clara secara dia pun cantik banget "
__ADS_1
" Heleh, mbak Clara memang cantik tapi... cantiknya dempulan den, kalah sama den ayu, sudah putih, badan langsing agak berisi, dan cantikkkkk tik,tik,tik alami lah den ayu ini " sambil si mbok ini membawakan tas ku ke dalam kamar.
Aku pun tersenyum sendiri, kebetulan ada cermin kaca yang cukup besar, entah berapa lama diri ini tidak berkaca, menghias diri, kupandangi wajah ku ini, apa mungkin aku seperti yang dibilang mbok Ratmi ? "
Lelah aku merapikan baju baju ku, niat hati ingin tidur tiduran, tak terasa mata ini terpejam dengan sendirinya, sampai subuh menyuarakan adzan nya. Aku pun terbangun dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian melakukan sholat subuh.
Saat nya hari ini aku memulai rutinitas ku ke kantor dimana pak Erick sebagai CEO, aku tidak mau berlama lama dengan paska keguguran ku ini, jam menunjukan pukul 6 pagi, aku segera menuju ke kantor.
Sesampai memasuki lobby kantor, aku keluar dari mobil, lengkap dengan memakai pakaian yang telah dibelikan oleh pak Erick, ku lihat Bu sesil ke arah ku " Ishh gaya sekali kamu sekarang ya put, jangan bawa perasaan dulu ya sama pak Ricky put, mungkin saja dia baik sama kamu karena kasihan saja ga lebih, jangankan dengan Bu Clara, sama saya aja masih cantikan saya kemana mana heh, apa lagi dengan Bu Clara jauh lebih cantik daripada kamu. "
" Sana, lewat tangga, lift nya penuh. " Tambahnya lagi, ku lihat lift tersebut masih bisa untuk 2-3 orang lagi, tapi tak apa lah pikir ku hitung hitung olah raga.
Akhirnya tiba juga di ruangan pak Erick, ku lalui saja Bu sesil itu yang masih sibuk dengan alat alat kosmetiknya.
Aku baca intruksi dari pak Erick melalui handphone ku ini, pak Erick menyuruhku menunggu di ruang kerja nya sampai beliau tiba.
" Put, ngapain kamu disini? Di ruangan pak Ricky, seharusnya kamu tunggu di luar saja, sana di luar, ga sopan " ah..sambil melotot lagi si Bu sesil ini.
Ting, suara pintu lift pun terdengar dan kemudian diikuti langkah suara sepatu pantofel berirama. Tak tok tak tok. " Loh put, kok di luar, kamu ga baca wa dari ku ya ? " Sambil pak Erick melirik ke arah Bu Sesil, dan sekretaris nya terlihat kebingungan dibuatnya.
" Ayo masuk, kamu kan sekarang aspri saya, harus selalu dekat dekat dengan saya put, jangan jauh jauh ya " apalagi ini, ku lihat pak Erick mengedipkan satu matanya kepadaku.
Jujur saat ini, prioritas aku hanya memikirkan anak anak aku saja, bukan aku tak mau bertemu anak anak saat mereka bilang kangen denganku, hati ini pun berkali kali lipat rasa kangennya kepada anak anak, rencana ku, akan aku kumpulkan uang gajian untuk di pakai menyewa pengacara, supaya hak asuh anak jatuh kepadaku. Sebagian lagi aku gunakan untuk menabung untuk keperluan masa depan anak anak.
Tapi.. tetap hati ini seperti kehilangan setengah bagiannya yang hilang, anak anak ku semangat ku yang selalu membuat aku tak sadar meneteskan air mata.
" Puti.. kenapa dengan mu, mengapa menangis lagi, apa Andri yang membuat menangis put, kamu mau ceritakan semua nya kepadaku ? " Tanya pak Erick .
Mungkin ini saat nya aku menceritakan semuanya, secara agama pun aku telah bercerai dengan mas Andri, aku pun menceritakan semua kejadian yang menimpaku, kekerasan rumah tangga, sikap mantan suami dan kakak ipar ku, semua aku ceritakan.
" Put.. kenapa kamu tidak mengurus perceraian mu secara negara juga? Aku pasti akan bantu. " Tanya pak Erick kepada ku sesaat setelah menceritakan semuanya.
Aku pun terdiam, selain belum ada waktu yang tepat, kantor KUA tempat aku menikah dulu dekat dengan tempat tinggal kedua orang tua ku. Tapi, mungkin ini saatnya aku bertemu kedua orang tua ku, aku kangen mereka berdua juga, aku kangen ber manja manja di pelukan ayah dan bunda.
Aku pun menyiapkan semua berkas keperluan gugatan cerai ku ke KUA dan tak lupa aku membawa bingkisan untuk mengunjungi kedua orang tua ku. Setelah selesai berurusan dengan administrasi KUA, aku pun melangkah ingin menuju ke kediaman orang tua ku.
Setelah menelpon pak Erick untuk mendapatkan ijinnya, supir yang bertugas mengantarkan ku pun berkata " sudah sampai Bu ". Aku pun melihat keadaan rumah mereka tampak berbeda dengan dahulu terakhir kami berkunjung kesini, cat yang memudar tapi masih ku lihat bersih. " Ya sudah pak aku ditinggal saja, Bismillah, Assalamualaikum Bun, ayah " panggilku.
Kemudian ada seseorang pria tua ku lihat rambutnya sudah beruban banyak walau dengan kulitnya yang sudah agak mengendor tetapi masih terlihat gagah, dia lah ayah kandung ku.
" Puti.. ini Puti anak ku, Oohh putii ayah kangen, kemana saja kamu nak. " Sambil ayah memeluk aku dan mengusap pucuk kepalaku.
" Ayah, maafkan anakmu ini, yang tidak bisa menjadi anak yang baik, yang gagal mempertahankan rumah tangga nya yah.... Huhuhu... Oo ya yah, bunda mana yah? "
" Sudah lah put, ayah sudah tahu dari teman ayah yang masih satu kampung dengan si Andri. Ayah pun diceritakan semua tentang kehidupanmu dengan Andri, lelaki biadab yang tega membuat anak ayah menjadi buruh cuci, sedangkan dia sebenarnya masih mampu menafkahi kalian dengan layak. " Sorot mata ayah berubah menjadi kebencian dan aku coba menenangkannya.
__ADS_1
" Sudah ga usah dipikirkan yah, lihat diri ku sekarang, aku telah bekerja yah, gaji ku pun besar, Puti pun telah ke KUA untuk mengurus perceraian kami secara negara yah. " ayah ku pun mengangguk kecil.
" ibu kamu masih tidur, ibu mu sempat sakit ketika mendengar semua hal tentang mu, tengoklah ibu mu di kamar. "
Setelah itu kami pun saling berpelukan dan menangis bersama.
" Uti.. bunda mau kamu menginap ya di rumah, kalau bisa kamu tinggal saja ti disini. "
" Uti menginap saja ya Bun, bukannya Puti tidak senang untuk tinggal lagi di rumah kenangan ini Bun, tapi.. dari kantor Puti jauh Bun, memakan waktu 2 jam, tapi pasti Puti akan sering mengunjungi ayah dan bunda. "
Akhirnya aku menginap di rumah masa kecilku ini, ku peluk erat bunda ku. Sementara ayah tidur di kamar lainnya.
Ku dengar panggilan ponsel ku di atas meja rias, tertulis nama pak Erick memanggil, kuangkat dan dari ujung sana.
[" assalamualaikum Puti, kamu masih di rumah orang tua mu? " ]
[ Iya pak, mereka menyuruhku untuk menginap, tapi besok aku bisa masuk kerja pak" ]
[ Tidak apa apa kalau kamu masih kangen mereka put, akan aku kasih ijin 2 hari lagi ke kamu, oo ya kan sudah aku bilang, kalau sudah di luar jam kantor panggil saja aku Erick " ]
[ " I..iya pak, maaf sudah kebiasaan dengan kata bapak. " ]
[ " Besok sore aku boleh tidak berkunjung ke rumah orang tua mu put " ]
[ " Boleh pak, dengan senang hati " ]
Pagi pun telah menyambut kami dengan sinar mentari nya, ku ajak mereka berdua jalan jalan dekat taman rumah, kami pun tertawa bahagia selayaknya aku mengenang masa kecil ku, masa dimana aku diperlakukan bak seorang Puteri oleh ayah ku.
Setelah lelah kami berjalan jalan, membeli jajanan Abang Abang yang mangkal, akhirnya kami pulang ke rumah dengan raut wajah gembira
" Pak Erick.. maaf Erick, silahkan masuk dulu pak " dengan wajah heran, aku pun langsung mempersilahkan beliau masuk.
Ternyata maksud kedatangan pak Erick ini adalah untuk membantu aku dalam mengurusi semua hal tentang perceraian aku dan mas Andri dan memberi bantuan seorang pengacara yang cukup terkenal. Setelah berbincang panjang lebar dan sepertinya ayah ku menyukai dan menyambut baik beliau, ayah pun mengajak pak Erick bermain catur, yang dulu mas Andri pun tidak pernah di ajak seperti itu.
Cukup lama pak Erick dan ayah. Berbincang bincang, sampai setelah kutinggalkan mereka berdua pun masih tertawa tawa penuh kehangatan, " ayah, pak Erick makan siang dulu yuk, makanan sudah aku masak, pak Erick harus mencicipi hidangan saya ya pak. Harus, saya ga mau ada penolakan " hehehe satu sama pak, dalam hatiku.
Setelah selesai menyantap makanan yang tersaji , dengan senangnya pak Erick mengucapkan " terima kasih atas ke ramah tamah an di keluarga ini, dan Puti, masakan mu sangat lezat sekali. " Sebelum meneruskan pembicaraan ini ponsel pak Erick berdering ku lihat nama Clara memanggil, tiba tiba pak Erick meminta ijin untuk kembali bekerja.
Dengan tergesa gesa pak Erick masuk ke mobil dan melajukan mobilnya.
Pak Erick.. mungkin dia memang mencintai Bu clara, seperti Bu Sesil bilang waktu itu kepadaku.
Ada apa dengan ku, apakah aku sekarang berharap lebih ke pak Erick ?
Bersambung...
__ADS_1