
"Ay kelimpungan mencari gelang persahabatan Ay dengan Gusti. Sampai akhirnya....
.
.
.
Flash back
"PAK'DEEE..."
"Iya ada apa?"
"Gelang Ay Ndak ada. Ay minta tolong carikan sebelum Gusti tahu kalau sebenarnya gelangnya hilang. Ay wis cari kemanapun Pak'De, tapi Ndak ketemu." Usut punya usut, Ayuni berbicara sembari memperhatikan wajah Yudis yang sedikit berbeda. Di ujung bibir sebelah kanan ada lebam keunguan.
"Ini" tidak disangka Yudis menyodorkan gelang Ayuni yang di cari-cari.
"Pak'De lihat ini dimana?"
"Tersangkut di baju saya. Saya permisi Non."
Yudis terkesan buru-buru pergi dari hadapan Ayuni. Dia melangkah seperti biasanya. Dengan tenang namun cepat dan tanpa gerak serabutan. Tapi baru tiga langkah yang di ayunkan, tangan Yudis seperti berhenti mengikuti gerak badannya. Ayuni mencekal tangan kokoh tersebut lalu tanpa tedeng aling-aling memegang ujung bibir yang lebam.
Praktis Yudis menepis tangan Ayuni dari sana. Setelahnya Yudis meminta maaf kalau diantara mereka harus ada batasan kontak fisik. Dan meminta maaf atas sikapnya yang telah menyingkirkan tangan Ayuni. "Pak'De kenapa? Siapa yang sudah bikin Pak'De kaya gini?"
Ada gurat kecemasan tersirat dalam air muka Ayuni. Yudis pun cemas, tapi cemasnya mereka berbeda. Yang laki-laki cemas karena Ayuni bersikap lain dari biasanya. Iya beda. Ingat tidak kalian pas kejadian Ayuni bisa menerobos ruang rahasia Arya? Nah, Yudis lah pelakunya yang memasukan Ayuni kesana. Karena Yudis tidak ada pilihan lain daripada harus di cium Ayuni. Gadis itu mengancamnya sambil terus merengek memajukan bibir.
Setidaknya, mendapat hukuman dari Arya terkesan lebih terhormat, ketimbang ternoda oleh bocah kecil yang ia jaga sejak lahir.
Yudis masih belum bersuara. Dan dari arah belakang Arya Sena alias Bapaknya Ayuni datang. "Ayah memukulnya sebagai hukuman atas pengkhianatannya memasukan orang lain selain kami tanpa seijin Ayah." Dengan menggendong tangan, Arya melangkah jumawa. Arya melempari sorot mata yang diartikan sebagai perintah kepada Yudis, untuk pergi meninggalkan Ayah dan anak tersebut. Setelah Yudis berada dalam radius jarak aman untuk di gunjing, Ayuni mulai bersuara.
"Yah, nyuwun pangapunten sebelumnya. Apa tidak berlebihan Ayah melakukan ini? Ayah tahu sendiri kan Pak'De Yudis orang yang seperti apa? Ini semua kesalahan Ay. Ay yang telah memaksa Pak'De untuk bisa masuk ke dalam ruangan rahasia Ayah. Sekali lagi Ay minta maaf. Kalau mau menghukum, hukum saj Ay."
"Peraturan tetap peraturan Ayuni. Siapa yang melanggar akan siap menerima hukuman. Mana bisa Ayah menyalahi peraturan yang Ayah buat sendiri. Orang bisa dipegang hanya pada perkataanya. Ketika orang itu menyalahinya, maka ia tidak akan mendapat kepercayaan dalam bentuk apapun."
"Nggih Ayah. Ayuni mengerti."
"Baguslah jika kamu mengerti. Maka dari sekarang, jangan buat Yudis kesusahan. Karena semakin kamu memaksa dia untuk menuruti kemauanmu, Yudis semakin menerima banyak konsekuensi."
"Hukum saja Ay jika Ay yang salah. Ada yang mau Ay tanyakan pada Ayah. Seberapa pentingnya Pak'De buat Ayah? Apa dirinya hanya Ayah anggap cuma pekerja biasa? Yah, jika saja Pak'De berfikir manusiawi, Pak'De sudah membenci keluarga kita karena harus kehilangan Bapaknya demi menjaga keluarga Sena. Tapi apa yang manusia itu lakukan, hanya soal keselamatan Ayah, ketentraman Ayah, dan keinginan Ayah. Tidak sedikit pun Pak'De memikirkan dirinya sendiri meski untuk sebuah rasa sakit."
Arya membeku sesaat. Detik berikutnya, perasaannya menyublim seiring pikirannya yang kalut tentang Paman Guntur. Ayuni telah membangunkan ingatan pedih yang Arya sengaja kubur dalam-dalam.
Ayuni tidak pernah tahu, semalaman penuh Ayahnya tidak bisa tertidur hanya karena memikirkan masa depan Yudis. Ayuni juga tidak pernah tahu, Arya ribuan kali meminta Yudis untuk berhenti memikirkannya. Dan sebanyak itu juga Yudis menepis. Sudah saatnya Yudis bahagia. Mencintai dan dicintai layaknya Arya dan Nala. Tetapi kekerasan prinsip hidupnya mengantarkan Yudis pada kejombloan level kronis.
__ADS_1
"Ayah mengerti maksudmu, tapi Ayah punya cara sendiri untuk membahagiakannya. Kamu tenang saja."
Kamu tenang saja
.
.
.
Di bagian ini, Ayuni bercerita hingga membuat suasana membiru. Udara yang berseliweran bebas terasa mencekik rongga pernafasan. Mata semua orang yang ada disana memanas, manakala nama paman Guntur di kumandangkan. Dan Yudis adalah orang yang paling lirih menyebut paman Guntur dalam hatinya.
Ayah
Kemudian Ayuni bercerita kembali. Kali ini yang sedih-sedih akan tergeser berubah menjadi seutas senyum kecil. Setidaknya semesta berharap akan seperti itu.
.
.
.
"Mas"
"Mas Yudis!"
Panggilan sudah yang ke tiga kalinya. Dan kali ini lebih parah dari sebelumnya. Yudis memang terpanggil, tapi dia tidak menyahut sama sekali. Orang kepercayaannya Arya tersebut beranjak dari duduknya untuk mencari-cari sumber suara. Yudis melongok ke bawah meja, bawah kursi, bahkan melongok pada poci tanah liat.
"Kaya ada suara manggil-manggil" gumam Yudis dengan raut wajah kebingungan di buat-buat.
Ya ampun, punya Pak'De kaya nghene iki. Apa aku panggil Pak'De aja ya? Jangan Mas. Lagian aku ini dapat wangsit darimana sampai kepikiran manggil pakai Mas.
"PAK'DE...."
"Ada Apa?"
Lha sekarang denger?
"Ayah bukannya sudah kasih perintah kalau Pak'De harus anterin Ay ke rumah Gusti?"
"Iya benar"
"Yo wis, sekarang Pak'De. Pakai cara cepat ya." Ayuni tahu-tahu mendekat pada Yudis tepat di depannya. Tidak ada angin tidak ada hujan Ayuni merentangkan tangan seperti bocah kecil minta di gendong.
Yudis mendelik, praktis tubuhnya terpukul mundur. "Mau apa?"
__ADS_1
"Gendong Pak'De. Kaya biasanya pakai cara cepat. Wuuusshh gitu." Ayuni menjelaskan dengan tangannya yang masih tersampir ke atas.
"Saya tangannya lagi sakit kalau gendong depan. Belakang aja ya Non." Tawar Yudis. Membuat Ayuni nyaris tidak percaya. Pasalnya, Yudistira tidak pernah mengeluh sakit sedikit pun sejak dahulu. Bahkan tertatih pun dia tidak akan menolak menjalankan tugas dari Arya. Tapi ini? Eh tunggu, apakah ini bagian dari perintah Arya? Begitulah analisa Ayuni pada situasi yang sedang dia hadapi.
"Yo wis. Ay gendong belakang. Tapi Pak'De jongkok dulu biar Ay bisa naiknya. Pak'De kan jangkung tenan."
Yudis manut tanpa embel-embel apapun. Namun raut wajahnya sedang nampak berfikir. Laki-laki jangkung tersebut berdiri dari jongkoknya sembari membawa beban Ayuni. Anak gadis Arya sudah nemplok di belakang seperti tas gemblok.
Pengen kaya gini terus sama kamu... Iya kamu. Pak'De ku tersayang. Hehehe
.
.
.
.
Bersambung...
Sedikit kata sambutan nih pemirsa. Part dua ini sesungguhnya emang aku rancang buat Yudis bertemu dengan jodohnya. IYA KAH? Iya lah masa bohong. Cuma setelah aku pikir, di timbang, lalu di kiloin.. hehe gak deng becanda. Setelah aku pikir-pikir selama berhari-hari, kayanya pengalihan isu enak juga. Aku sengaja mendeskripsikan Gustiranda dan Ayuni sebagai tokoh utama sepasang kekasih. Padahal nih ya, yang jadi tokoh utamanya disini tuh Yudis ahahaha.
Sebenarnya aku udah kasih kisi-kisi pas di awal-awal episode. Narasi sering bilang kalau Ayuni sama Yudis aja yang suka berani dan ngereog. Aku pengen yang baca terhanyut dulu dengan figuran Gustiranda. Setelah itu aku obrak-abrik sampai kalian bertanya-tanya kek gini:
Kok bisa?
Atau bisa juga kaya gini,
Jangan bilang kalau Ayuni suka sama Yudis?
Bukannya zenun mau mempermainkan, hanya saja dia ingin pembaca tidak monoton saat berusaha menikmati karyanya.
.
.
Salam hangat
Zenun Smith
.
.
.
__ADS_1