
"Jadi.. kamu anaknya Juragan Arya Sena to?"
Ayuni hanya memberikan cengiran juga senyuman yang dapat menyejukkan hati. Anak perempuan Arya memang pandai membuat orang tertarik padanya. Bukan hanya parasnya yang ayu, tingkah lakunya juga ayu tenan kalau soal bertutur kata pada yang lebih tua. Tapi entah karena faktor apa, hanya kepada Yudis Ayuni tidak sepenuhnya manis bersikap. Padahal Yudis termasuk jajaran orang tua yang seharusnya sama di hormatinya dengan yang lain.
Kadang Nala berfikir, apakah Ayuni merupakan sebuah cobaan hidup untuk Yudis di dunia ini? Kasihan Yudis. Laki-laki kepercayaan suaminya itu selalu mendapat perlakuan tidak enak dari sang anak. Nala sudah memberi arahan, apalagi dengan Arya. Ayah idaman tersebut selalu memberi pelajaran bagaimana tata krama dan etika. Pelajarannya juga tidak tanggung-tanggung. Dimana ada kesalahan disitu ada konsekuensi. Semua Arya lakukan guna mendisiplinkan anak agar Ayuni menjadi orang yang baik.
Sebagai orang tua, Arya dan Nala tidak muluk-muluk menuntut anak untuk menjadi kebanggaan. Untuk menjadi penerus usaha keluarga. Dan untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Hanya Ayuni tidak salah melangkah dan menjadi manusia yang dapat membedakan mana yang salah dan benar, sudah cukup untuk Arya dan Nala.
"Pak, Ay boleh main disini ya?" Rengek Gusti pada sang Ayah yang sedang merapikan kumisnya.
"Ya boleh to le, anak manis begini masa ndak boleh main kesini. Bukan begitu Nak Ay?"
"Pak'de bisa saja. Ay tidak semanis itu kok. Yang manis itu kue wajik buatan ibunya Ay, iya kan Pak'de?"
"Betul itu. Ibumu jago sekali masak. Pasti kamu sayang sekali dengan ibumu kan?"
"Iya, Ay sayang sekali dengan Ibu. Ibu Nala namanya."
"Iyo Pak'de tahu. Siapa yang Ndak kenal Juragan Arya beserta istrinya? Dia itu wong terkenal yang yang ada di pulau ini. Hehe." Sementara ayah Gusti tertawa jumawa, Gusti sang anak tertawa pongah. Dan Ayuni, gadis kecil itu masih saja betah menorehkan senyum pada si pemilik kumis tebal. Dan rela-rela saja bekal kue wajik dari Nala tandas di telan Ayahnya Gusti.
"Pak'de mau lagi? Tapi sekarang sudah habis. Nanti kalau Ay kesini lagi Ay bakal bilang sama ibu buat bekalin yang banyak."
"Kalau begitu, sekalian kue geblek ya nduk." Jawab si Bapak. Alih-alih segan, ayahnya Gusti aji mumpung meminta lebih dari penawaran Ayuni.
__ADS_1
"Siap Pak'de.." Jawab Ayuni sambil mengacungkan dua jempolnya.
Hal tersebut membuat Yudis mendecih di kejauhan. Yudis memang belum memutuskan keluarga Gusti adalah orang yang berbahaya, namun yang membuat Yudis tak nyaman adalah kenapa Ayuni bisa bersikap sedemikian manis pada orang yang bahkan baru dia kenal? Pada orang rumah selain dirinya Ayuni bisa patuh. Pada orang sekitar dari yang tua sampai usia sebayanya Ayuni bisa lembut. Pada semua orang seisi dunia ini Ayuni bisa kalem. Tapi hanya pada Yudis, bar-bar nya luar biasa. Lupakah Ayuni saat dirinya masih balita Yudis tak hanya sekali menceboki dirinya di kala Arya dan Nala sibuk?
Yudis geleng-geleng kepala di balik pohon besar dekat rumah Gusti. Detik kemudian, ia melenggang pergi untuk memenuhi panggilan Arya.
"Bapak udah kan urusan sama Ay nya? Sekarang Ay mau Gusti ajak ke belakang lihat perahu yang aku bikin kemarin Pak."
"Begitu? Yo wis lah. Bapak juga mau pamit pergi."
.............
"Gusti, ternyata kamu lebih hebat dari apa yang kukira. Kemarin-kemarin memang benar kemampuan kamu dalam membuat sesuatu terlalu payah. Tapi ini? harus ku akui kamu hebat Gusti. Aku sampai terkagum-kagum." Ayuni tak hentinya berdecak pada hasil karya Gusti. Gadis kecil itu sumringah dengan jempol yang di acungkan sebanyak yang ia bisa. Sebagai bentuk rasa ungkapan bahwa dia bangga pada usaha seseorang yang mau bangkit dari ketidak bisaan.
"Ay"
"Kenapa?"
"Aku senang lihat kamu bisa se-gembira ini lihat hasil karyaku." Saat mengatakan itu, Gusti bergumam dalam hatinya akan terus membuat Ayuni senang. Dengan cara apapun akan Gusti tempuh asalkan ia selalu bisa melihat senyuman Ayuni. Sebab senyum gadis tersebut, bagai suntikan vitamin yang akan membuat hari-hari Gusti bersemangat. Kalau dulu pada hari libur Gusti malas beranjak dari dalam kamar, sekarang kemalasan itu telah minggat jauh dari sosok bocah laki-laki itu.
"Aku memang selalu senang lihat hasil karya seperti ini. Gusti, terimakasih kamu sudah mau berjuang buat menjadikan dirimu lebih baik. Maaf kalau kata-kataku kemarin cukup keras. Karena aku peduli padamu."
Dan hari itu menjadikan hari bersejarah dimana Ayuni dan Gusti semakin dekat. Persahabatan mereka terjalin semakin erat semenjak usia mereka kanak-kanak sampai...
__ADS_1
Sebelas tahun kemudian.
.
.
"Gusti .. ayo cepat kita dayung perahu ini agar sampai pada tepi sana." Ayuni bersungut-sungut sembari menunjuk pada sebuah kebun yang terlihat di kelilingi bunga seruni.
"Siap kapten. Ay, jangan terlalu capek mendayung ya. Biar aku aja yang berusaha."
Ayuni menoleh ke belakang, mendapati wajah tampan Gusti yang telah menginjak usia 17 tahun dengan senyum yang tulus. Waktu memang cepat berlalu meninggalkan banyak cerita. Dari sekian banyak kisah yang mereka lalui, rasanya tertawa bersama adalah hal yang paling banyak mereka arungi. Bagi mereka, membersamai satu sama lain merupakan definisi mengarungi lautan cinta. Tanpa sadar di usia mereka yang sama-sama sudah remaja, perasaan tumbuh bersemi seperti kebun seruni yang hendak mereka tuju.
Lebih rimbun untuk seukuran Gusti.
Lebih luas untuk Ayuni.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1