Suami Idaman

Suami Idaman
Menanti Kedatangan Gustiranda


__ADS_3

"Terimakasih Pak'De. Walaupun Pak'De jahat, tapi Pak'De baik."


Yudis hanya mengangguk mengiyakan. Jahat tapi baik apanya? Daripada meladeni omong kosong Ayuni, Yudis memilih berlalu ke rumah belakang untuk memeriksa perdapuran guna meninjau persiapan makan siang untuk para pekerja. Tugasnya menjaga dan memastikan Ayuni sampai rumah dengan selamat sudah usai. Sekarang dia beralih pada tugas-tugas lain yang setiap harinya Mengantri untuk dia selesaikan.


"Yudis, ada kabar apa?" Arya menghentikan langkah Yudis yang lurus.


"Saat ini, Gusti teman laki-laki nya Non Ayuni akan datang ke rumah."


"Dengan maksud?"


"Menyatakan cinta"


Ya menyatakan cinta. Memangnya apa lagi yang harus Yudis katakan kalau bukan menyatakan cinta? Kaki tangan Arya sekaligus merangkap penjaga Ayuni itu hanya di depan Ayuni saja seolah-olah ia adalah seseorang yang antipati dan penuh kewaspadaan. Aslinya, dia tak ubahnya seorang bapak yang tahu ketika anaknya mau di lamar. Repotnya tidak main-main.


"Kalau begitu, lakukanlah apa yang harus kamu lakukan. Habis itu kamu pergi ke kebun dan urusan ini saya yang akan urus."


"Baik juragan."


Sampai disitu, Ayuni paham bahwa ada keterikatan batin yang kuat antara Ayah dan sang paman. Kata ayahnya, lakukanlah apa yang harus kamu lakukan. Dan Yudis sama sekali tidak ada kesulitan untuk menerjemahkan. Memangnya apa yang harus dilakukan? Ayuni tak habis pikir.


"Putri ibu tumben masih siang sudah balik ke rumah?" Ini suara Nala. Perempuan itu terheran-heran melihat eksistensi Ayuni di rumah pada jam yang tidak semestinya.


"Iya Bu, soalnya Gusti mau main kesini."


"Lho tapi kok temanmu Ndak ada?" Nala celingak-celinguk mencari keberadaan yang katanya mau bertamu. Saking penasarannya, Nala sampai mengintip ke kolong meja. Bahkan tidak segan menilik bagian dalam guci pajangan untuk mencari keberadaan Gusti.


"Belakangan Bu datangnya. Dia Ndak bareng Ay."


"Oh begitu rupanya."


"Iya Bu. Ay mau ke dalam kamar ya, mau ganti baju yang lebih bagus. Apa ibu mau bantu Ay buat pilihkan?"


Nala menelisik Ayuni dengan tatapan. Dia bertanya-tanya, apakah yang terjadi dengan anaknya? Alisnya yang bertaut membuat Ayuni mengerti jika sang ibu sedang menuntut penjelasan. Gadis itu membuang nafas pelan lalu tahu-tahu memeluk ibunya. Ayuni menarik Nala masuk ke dalam kamar untuk sekedar memberondong Nala dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


"Bu, jatuh cinta itu apa?


"Bagaimana rasanya?


"Bahaya ndak?"


Awalnya Nala membulatkan mata karena terkejut. Namun tiga detik penuh setelahnya, ia tergelak seraya mengusap kedua bahu Ayuni dengan penuh kasih sayang. Ketika tawanya mereda perlahan, Nala menatap kedua mata berbinar Ayuni dengan senyum yang masih bersisa disana. Nala menemukan banyak keraguan di mata Ayuni, termasuk soal perasaan yang ia tanggung sendiri.


"Menurut ibu, jatuh cinta itu ketika kita tidak bisa berpikir secara realistis. Segalanya di atur oleh perasaan. Itu menurut Ibu lho ya, karena arti setiap orang berbeda-beda. Memangnya kenapa? Kamu lagi bingung nak?"


"Kenapa Ay harus bingung Bu?"


"Soalnya ibu melihat kamu sendiri tidak yakin sama apa yang kamu rasakan. Nak, kata orang kalau jatuh cinta itu selalu deg-degan. Tapi ada juga deg-degan yang bukan ciri-ciri dari jatuh cinta. Misalnya, kebanyakan minum kopi. Atau panik lagi di situasi genting. Atau bisa juga deg-degan itu menandakan seseorang masih hidup, betul Ndak?"


"Iya ya Bu. Hehehe. Ibuku ini memang uhuuyy. Jawaban ibu selalu bikin aku deg-degan. Pantas saja Ayah suka sama ibu. Terus kalau jatuh cinta itu rasanya kaya gimana Bu?"


"Rasanya menyenangkan."


"Tapi bahaya ndak?"


"Aahhh Ibu.." Ayuni memeluk Nala erat sekali seakan itu adalah hari terakhirnya untuk bisa memeluk. Tidak cukup sampai disana, Ayuni bahkan menggoyangkan tubuh ibunya karena gemas.


"Pemuda itu sudah datang rupanya."


Suara Arya menginterupsi adegan peluk-pelukan antara anak dan ibu. Jelas sekali suara tegas milik Arya tersebut membuat Ayuni membelalakkan matanya. Ayuni tercengang bin kaget. Sama seperti Nala, sang ibu juga terkesiap bin terkejut.


"Wah, teman kamu yang namanya Gusti sudah datang nak. Ayo cepat kita ke depan."


"Ibu duluan aja. Aku kan belum merapikan diri."


"Oh iya benar. Yasudah ibu tunggu di ruang tamu."


"Iya Bu" Jawab Ayuni sekaligus mengakhiri perbincangan yang katanya membuat dirinya deg-degan. Ayuni melangkah semangat sampai langkah kaki yang ketiga terhenti di ambang pintu lemari pakaian.

__ADS_1


"Ayuni"


"Nggih Bu?"


"Jangan lupa bahagia"


Ayuni praktis terkekeh. Cengirannya luas sekali mengalahkan kebun seruni yang kerap Ayuni sambangi bersama Gusti. Keduanya sama-sama indah. Yang membedakan hanya jenisnya. Seruni bunga, sedangkan Ayuni kesayangan Arya Nala.


Ya ampun, ayaaaahhh... aku punya ibu manis tenan kelakuannya. Sumpah! Ndak bohong.


...................


"Mas Arya... lha kok kamu masih sendirian juga Mas? mana tamunya?"


"Siapa bilang tamunya sudah datang?"


"Tadi suara Mas Arya kedengarannya begini: pemuda itu sudah datang rupanya."


"Iya memang sudah datang. Tapi baru sampai di perbatasan. Jadi kesimpulannya, Pemuda itu sudah datang di perbatasan." Begitu katanya, hanya untuk membuat Nala tertawa sumbang. Entahlah, mungkin Nala menertawakan telinganya yang setengah-setengah dalam menangkap suara. Atau mungkin dia memang masuk lagi ke dalam jebakan Arya.


"Mas lagi Ndak ngerjain aku kan? lha wong aku Ndak denger ada kata perbatasannya kok?" agaknya sawang di otak Nala sudah di bersihkan oleh sapu-sapu pengalaman. Riwayat yang tak terhitung dirinya menjadi kudapan Arya membuatnya berfikir sedikit--lebih pintar mungkin.


"Kok tau? tumben kamu mencium aroma kekeliruan dek. Habisnya kamu sibuk sekali berpelukan dengan Ayuni."


Dan benar saja.


Suara interupsi Arya adalah sebagian bentuk usaha memindahkan Nala ke dalam pelukannya. Arya tetaplah Arya. Yang tidak bisa tenang barang sebentar jika kesayangannya di sentuh lama oleh orang lain. Tak terkecuali anaknya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2