
#Jatah_50_ribu
Part 15
"Put.. aku besok akan terbang ke Singapura, untuk menemani Clara berobat di sana. Semua sudah aku serahkan ke Pak Rangga, kepala direksi marketing yang baru sekaligus kakak sepupu ku. Kalau kamu belum tahu, coba tanya sama Sesil atau staf lainnya. Selama aku menemani Clara, aku mohon bantu pak Rangga, dengan agenda-agenda yang sudah terjadwal di kamu ya put.. I need your support, keep always with me Resputi Ayuningtyas" Notifikasi pesan dari mas Erick masuk ke ponsel ku.
"Iya mas, semoga dilancarkan semuanya, I'll support you"
Pagi hari pun telah tiba, seperti biasa.. aku ke kantor pukul 07.00 WIB, nampak kantor masih lengang. Ku lihat nampak seseorang pria, berperawakan tinggi besar hampir sekilas mirip mas Erick. Bedanya penampilan dia kurang rapih. "Pagi pak.. dengan bapak Rangga?" Kulihat dia menoleh ke arah ku dan meletakkan ponselnya yang dari tadi ditatapnya "iyap, betul.. kamu siapa?" Balasnya, "perkenalkan pak, aku Resputi Ayuningtyas, panggil saja saya Puti, saya asisten pribadi pak Erick" sambil aku menjabat tangannya.
"Puti? Ah.. ga asik nama panggilanmu. Bagaimana kalau aku panggil kamu Tyas? Atau.. ayu?" Kemudian dia berdiri dari duduknya.
"Kamu.. Puti yang selalu dibicarakan Erick kan? Teman SMA nya dan satu kampus dengannya dulu?!"
"Iya, benar pak."
"Hari ini ada meeting? Eh kamu masih suka sama Erick?"
"Hari ini ada 3 jadwal meeting pak"
"Aduh.. yang terakhir jam berapa?"
"Meeting terakhir nanti malam pukul 7 pak!"
"Ya sudah, atur saja. Put.. nanti istirahat aku mau pesan makanan pakai online saja ya, 2 jenis, tentukan saja mau makan apa.. aku ikut saja"
Tak lama kemudian
"Pak, meeting yang pertama sudah mau siap, semua kepala direksi sudah ada di ruang meeting pak."
"Oke tyas, I'm coming.. "
Begitulah aku sekarang, dimana Pak Rangga untuk sementara menggantikan posisi mas Erick. Walaupun pak Rangga ini kelihatan kurang memperdulikan gaya berpakaiannya dan tingkah lakunya kadang konyol, tetapi dalam hal kepemimpinan beliau cukup apik.
Hari berganti hari pun aku lalui, tanpa mas Erick. Walaupun mas Erick masih sempat menelpon atau kirim pesan melalui WA, tapi.. aku rasakan sungguh berbeda saat ada dia dan tanpanya.
Hampir dua bulan, mas Erick menemani dan menyemangati Bu Clara, menurut mas Erick.. perkembangan kesehatan beliau lumayan menampakan hasilnya. Dari yang semula hanya tiduran saja, bisa duduk dan makan sendiri, walaupun masih berjenis bubur.
Mungkin doa ku dan doa seluruh keluarganya terkabul, mengharapkan adanya mukjizat dari Tuhan untuk kesembuhan Bu Clara. Biarlah aku melangkah menurut kehendak-NYA.
"Hei.. bengong aja, temenin saya yuk." Pinta pak Rangga.
"Kemana pak?"
"Itu ke taman safari yang malam hari. Mau kan?"
"Taman safari? Malam-malam? Nggak ah pak, saya takut"
"Eh, kamu kan aspri saya sekarang, ini bagian dari jobdesk kamu loh.. di sana.. mm.. saya ada meeting sama buyer dari Afrika"
"Masa pak? Kok ga ada jadwalnya di saya?"
"Ada.. tapiii barusan, dia baru aja nelpon saya. Ya udah siap-siap ya, saya tunggu 20 menit lagi di lobby"
20 menit telah berlalu, aku menemui pak Rangga di lobby yang nampaknya sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. Lalu entah kenapa, melihat kehadiranku, pak Rangga langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Yuk Tyas.. kita jalan-jalan. "Hei bro, gue jalan dulu ya Ama Tyas. Aspri cantik ku Hahaha .. iya, Resputi Ayuningtyas, bener bro. Nikmatin aja pemandangan alam Singapura ya bro.. bye"
"Itu tadi mas Erick? Eh maksud saya pak Erick?" Aku bertanya dengan pak Rangga.
"Iya, emang kenapa? Masih suka ya?" Sahutnya dengan diiringan gaya meledek. Ku balas dengan senyuman saja.
"Udah, kalau Ama saya, rileks aja. Ga usah tegang saat seperti kamu sama si Erick bule Depok."
__ADS_1
🐎🐆🐅🐿️🐫🦍🐒🐢🐊🦌🦏🐘
"Mana buyer nya pak? Kok hanya keliling saja! Apa ga kemalaman meetingnya?"
"Ehmm.. dia tiba-tiba batalin Put. Jadi kita have fun aja, ga usah dipikirin lagi si bule Depok. Oke put?" Sambil dia tersenyum ke arahku.
Semenjak itu, sikapnya pak Rangga seperti berusaha menyenangkan dan menggembirakan aku, aku tak tahu apa maksudnya ini semua?.
"Pak.. kenapa sih bapak, sepertinya berusaha menghibur saya? Emang muka saya kelihatan banget sedihnya ya pak?" Tanya ku sambil merapihkan tumpukan-tumpukan berkas yang sembarangan di atas meja kerjanya. "Iya yu, muka sedih mu ketara banget, atau saya lukis saja bibirmu dengan lipstik, seperti film Joker, always smile.. mau put? Hahahaha" aku pun langsung pamit ijin keluar ruangan dan memanyunkan bibirku.
"Put.. aku di kantor, kamu dimana? Kenapa tidak ada dirimu disini?" Pesan masuk ini ternyata dari mas Erick, segera aku balas "mas, maaf aku sedang di luar.. makan siang di Restauran seafood dekat apartemen" balasku. "Oke, aku susul ya put?"
"Put.." mas Erick memandangiku dan tersenyum kepadaku. "Mas.." aku pun membalas senyumannya.
"Mas sudah pulang?"
"Belum put, aku hanya mengecek kondisi perusahaan saja, tak ku sangka.. Rangga yang ku sangsi kan bisa memimpin, ternyata mampu menaikkan omset penjualan sebesar 20%."
"Oh.. aku senang mendengarnya mas"
"Put.. keadaan Clara belum stabil, kadang membaik, kadang memburuk. Saat ini membaik, jadi aku tinggal dia satu hari ke Jakarta."
"Aku berharap Bu Clara sembuh dari penyakitnya mas." Mas Erick terlihat agak kurusan dan jambang serta jenggotnya dibiarkan tumbuh.
"Put.. masih sayang kan sama aku?"
Aku hanya membalas senyuman yang ku pikir tidak patut untuk dijawab.
🔥🔥🔥💞💖💞🔥🔥🔥
"Loh.. loh.. kok kalian bisa ke kantor berdua? Selidik pak Rangga. " Sstt, diem bro. Emang kenapa sih? gue sama Puti cuma makan siang aja. Sorry ya ga ngajak-ngajak elo!" Kami bertiga pun kembali ke ruang kerja mas Erick. Dan mengobrol ke sana ke mari tanpa memperhatikan waktu.
Sore hari pun cepat berlalu, aku dan pak Rangga mengantarkan mas Erick ke bandara.
Setelah pesawat yang mas Erick tumpangi meninggalkan bandara, kemudian aku dan pak Rangga, kembali menuju parkiran mobil.
"Tyas ayu.. makan yuk, laper nii, Daritadi kamu enak udah makan sama si bule Depok, nah saya.. kan belum! Temenin ya?" Sambil pak Rangga mengelus perutnya yang agak buncit.
🌻🌻🌻🌻🌻🌷🌷🌻🌻🌻🌻🌻
Ku isi hari-hari ku dengan bekerja untuk menafkahi anak-anakku, liburan sekolah pun tiba. Saat hari Sabtu atau Minggu aku selalu menjenguk mereka berdua. Sesampai aku di rumah ayah ku, ku lihat ada sebuah mobil terparkir di bahu jalan depan rumah ayah. Aku parkir kan mobilku dan masuk ke dalam rumah, ternyata di sana ada mas Andri.
"Assalamualaikum, Lia, Fano.. ibu kangen sekali sama kalian. Kalian berdua kangen ga sama ibu?" Sambil ku peluk mereka berdua "waalaikumsalam, kangen dong Bu.. kangennn sekali" jawab mereka kompak. "Tolong bawakan oleh-oleh nya ke dalam ya nak!"
"Mas.. sudah lama?" Tanya ku.
"Sudah kira-kira 1 jam lah Put! Kamu.. apa kabar?"
"Seperti yang mas lihat, aku tinggal ke dalam dulu ya.."
"Put, maafkan mas!.. atas sikap mas yang dulu kasar sama kamu!"
"Aku sudah memaafkan mas" sambil ku tersenyum ikhlas.
"Put.. kalau kamu sudah memaafkan aku, lebih baik kita rujuk ya? Ga usah dijawab sekarang! Kamu boleh berpikir-pikir put. Aku tidak akan kasar lagi kepadamu, akan aku tanggung semuanya put" sambil dia berusaha meyakinkan aku.
"Mas.. maaf, aku tidak bisa memberikan jawabannya sekarang. Aku tinggal ke dalam dulu ya? Fano, Lia, temani Bapak ya!"
Haruskah aku kembali ke mas Andri yang berjanji akan memperbaiki sifat nya? Hati ini tak bisa bohong, masih ada serpihan-serpihan cinta ku dengan mas Andri, tapi serpihan itu kecil sekali.
Notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak aku kenal "assalamualaikum Put, ini nomor aku, Andri.. besok kamu mau ga jalan-jalan bersama dengan aku dan anak-anak? Ini permintaan mereka put, tolong jangan ditolak ya.. " aku tak segera membalas pesannya, lalu aku temui anak-anak ku yang sedang berada di kamarnya. " Sayang.. tadi ngomong apa saja sama bapak?" Sambil ku cium kedua buah hatiku. "Itu Bu, besok aku dan Fano mau jalan-jalan pakai mobil barunya bapak. Ibu ikut ya?" Pintanya kepadaku sambil menunjukan gigi-gigi nya yang penuh dengan coklat. "Iya nak. Nah besok kan mau jalan-jalan dengan bapak, kalian segera tidur ya, biar tidak kesiangan."
Keesokan harinya, kami pun jalan-jalan dengan kendaraan yang mas Andri punyai, anak-anak tampak riang gembira, melihat mereka bersuka ria adalah kebahagiaanku.
__ADS_1
Mas Andri pun ku lihat berbeda perlakuannya dengan yang dulu, dia memperlakukan Lia dan Fano dengan kasih sayang. Seperti sebelum Seruni menghancurkan rumah tanggaku dan mas Andri.
"Put, kamu mau makan apa?" Tanya mas Andri sambil mengeluarkan kartu debit bank BACA nya. "Tidak usah mas, masih kenyang" balasku.
"Tidak perlu sungkan-sungkan Put, aku sekarang berbeda dengan Aku yang dulu, dulu aku harus bekerja keras untuk kalian, sekarang warung-warung ku dimana-mana Put!"
"Seruni mana mas?" Tanyaku lagi sambil ku benarkan posisi duduk ku.
"Dia.. ga tahu Put, Semenjak dia ketahuan yang jadi biangnya, aku tidak pernah melihatnya lagi. Malu kali, sama aku! Kabur deh. Karena terlalu memikirkan Runi, bapaknya sakit-sakitan Put, dan perkebunannya di jual murah, aku yang beli. Kemudian aku jual lagi dengan berkali-kali lipat. Untung banyak aku Put! Makanya bisa terbeli mobil, memperbanyak warung.." salah satu yang dulu aku suka dari mas Andri adalah bicaranya yang spontan dan ceplas-ceplos. Tapi itu dulu, sebelum aku tahu tabiat aslinya!
"Lia, Fano.. pulang yuk nak, sudah sore.. nanti kalian capek" aku sedikit berteriak memanggil anak-anak ku.
"Put, aku tunggu jawaban mu ya?" Pintanya. Tidak aku jawab dan hanya bisa sedikit ku senyumi mas Andri.
Malam telah menampakan rembulannya, malam ini sepertinya tidak sama dengan malam-malam terdahulu. Aku.. tidak dapat membohongi kata hatiku "mas.. aku kangen" hanya kukirim pesan tersebut ke dasar hatiku saja.
Tak terasa 5 bulan aku lalui tanpamu, disini aku melalui kegiatanku bersama pak Rangga yang agak sedikit 'kurang waras' dalam bertindak. Tapi.. hasilnya membuat profit perusahaan melonjak.
"Pak.. besok bapak ada meeting di Malaysia dan Singapura selama 3 hari. Untuk bekerja sama dengan perusahaan tambang mereka, saya pun sudah menyiapkan segala tumpukan-tumpukan berkas Yang akan dibawa untuk meeting tersebut."
Aku, Bu Sesil, pak Rangga dan tim lainnya berangkat menuju Malaysia, selama 1 hari kami melakukan upaya-upaya agar perusahaan mas Erick bisa mampu menjadi supplier untuk perusahaan di Malaysia. Akhirnya kemenangan pun diraih oleh pihak kami.
Setelah itu, kami pun terbang ke Singapura, dimana selama 2 hari kami akan melakukan upaya-upaya kembali, mengulang kesuksesan tim kami di Malaysia.
Sebelum melakukan meeting, pak Rangga mengajak kami untuk mengunjungi Bu Clara dan mas Erick di Rumah sakit ternama tersebut. Sesampai di teras belakang ruang rawat inap Bu Clara, ku lihat nampak mas Erick sedang menyuapi makanan ke istrinya. Dengan telaten mas Erick merawatnya dan mengelap mulut Bu Clara dengan tisue setelah selesai makan. Hatiku? Jangan ditanya, biar aku saja yang mengetahuinya.
"Bro.. widih.. mesra banget nii Ama non Clara." Mas Erick pun kaget dengan kedatangan kami, "ehh.. bro, datang ga bilang-bilang. Gue ajak Clara dulu ya ke dalam, kasihan, dia ga boleh lama-lama di luar.. tunggu sebentar ya." Jawabannya sambil mendorong Bu Clara dengan kursi roda ke dalam ruangan.
"Apa kabar semuanya? Sehat? Puti, kamu apa kabar?" Mas Erick pun menyalami kami satu persat, karena kemarin bisa meraih kesuksesan di Malaysia.
"Bro, gue perlu bantuan Lo Sekarang! meetingnya sama perusahaan menantunya pak Joshua, lebih baik Lo yang mimpin lah.. sekali-kali gue mau liburan di Singapura. Mumpung Lo kan disini!" Tegas pak Rangga kepada mas Erick.
"Boleh bro, liburan deh, gue lihat tingkat kegantengan Lo menurun 3 poin bro.." sambil jambang pak Rangga ditarik ke bawah oleh mas Erick. " Aaww, di depan anak buah nih, jaga wibawa saya, pak Erick!" Hahahaha, kami pun hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah laku mereka berdua.
Meeting pun akan dimulai kurang lebih satu jam lagi, mas Erick menahan aku, sementara yang lainnya diminta jalan terlebih dahulu. "Puti.. kamu sama saya ya! Dan yang lainnya dipimpin oleh ibu Sesil, langsung ke kantor tersebut.",
"Put.. bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang mas lihat, cukup baik"
"Bagaimana kondisi Bu Clara, mas?"
"Kankernya sudah menjalar ke otaknya dan sekarang Clara bertingkah laku seperti anak kecil, hanya mukjizat dari Tuhan, yang bisa menyembuhkannya."
"Ku harap kamu tabah mas, yang kuat, demi Bu Clara."
"Terima kasih atas support dari mu"
Setelah meeting dan hasilnya, tentu saja kemenangan di pihak kami! kami pun merayakannya, larut dalam kemeriahan pesta, mas Erick meraih tanganku untuk berdansa, bernyanyi.. dan aku terlena oleh suasana. Ketika kami terlena bersama dengan alunan musik, tiba-tiba aku pun tersentak "perempuan macam apa aku ini, disaat Bu Clara membutuhkan mas Erick, aku dengan tega membiarkan mas Erick ikut hanyut di dalam pesta ini."
"Mas.. Bu Clara membutuhkan mu. Kembalilah ke sana." Pintaku kepada mas Erick.
"Baik put. Aku lakukan ini semua demi kamu, jaga hatimu hanya untuk ku ya?!" Sambil dia mengelus kedua pipiku ini.
Mereka masih saja, merayakan pesta kemenangan ini. Sementara aku? balik ke kamar hotel. Teringat permintaan mas Erick yang tadi dia katakan kepadaku. "Ah, sudahlah.. jangan terlalu berharap"
Tring.. notifikasi pesan WA masuk, ku lihat nama mas Andri disana "Assallammualaikum Puti.." ku diamkan saja, tidak ku jawab pesannya, namun aku ucapkan dengan suara untuk menjawab salamnya "waalaikumsalam" bunyi nada pesan masuk silih berganti dan terdengar jelas, akhirnya aku bisukan saja notifikasi pesan dari mas Andri.
Sampai aku terbangun, karena ada suara ketukan dari pintu kamar ini, "Tyas.. Yas.. bangun dong, udah siang nih princess Tyas." Pasti ini bapak Rangga yang terhormat. "Mau apa sih dia?"
Ku buka pintu kamarku dan tanpa permisi, pak Rangga masuk ke dalam kamar ku. "Tyas, bantu aku Yas! Please, mau ya?" Sambil kedua tangannya saling bertemu di depan dada nya dan memelaskan mukanya. "Bantu apa Pak?"
"Bantu aku, jadikan aku pacarmu.."
__ADS_1
"Pak.. kenapa bisa begini?"