
Tepat di penghujung akhir sebuah penantian. Segalanya terasa asing setelah beberapa kali melewati pengalaman yang tentu akan berubah menjadi pelajaran. Di hari ini yang tidak begitu cerah, keluarga Arya Sena dan keluarga Pak Sunyoto sudah berkumpul dalam satu ruang keluarga yang cukup mendebarkan.
Suara ibunya Gusti menyanjung Nala terus-terusan menjadi suara yang paling mengudara. Sisanya hanya desis pelan dari pelayan belakang yang sedang mempersiapkan perjamuan. Sedangkan Arya dengan Ayahnya Gusti alias Pak Sunyoto, mereka hanya berjibaku dengan obrolan perbisnisan. Singkat, padat, dan kadang-kadang tidak jelas. Jangan sibuk cari pelakunya siapa yang bikin tidak jelas, sudah pasti si Bapak Kumis lah yang pembicaraannya ngalor-ngidul. Salah satu kalimatnya pada Arya begini: kalau hati ngurusin soal perasaan, ampela ngurusin soal apa?
Mana Arya tahu soal ampela tugasnya ngapain. Arya menjawab sekenanya. Dia bilang kalau mau tahu jawabannya ia akan memanggil Basir dan Ono. Kemudian tidak sampai disitu saja. Pak Sunyoto juga bertanya kenapa jantung pisang tidak deg-degan?
Dan untuk pertanyaan itu, Arya menjawab lagi. Dia bilang lagi kalau mau tahu jawabannya ia akan memanggil Yudis untuk ikut dalam obrolan mereka. Ketika di tanya kenapa jantung pisang tidak deg-degan, Arya langsung terkoneksi pada Yudis. Sebab Arya merasa Yudis tidak pernah jatuh cinta. Yudis cocok terdefinisikan seperti jantung pisang. Dan semua yang Arya katakan benar-benar terwujud. Basir, Ono, dan Yudis ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
Ramai, hangat, dan penuh kekeluargaan identik dengan acara lamaran. Dengan pembawaan Arya yang tidak terlalu suka basa-basi karena waktu sangat berharga menurutnya, Arya berbicara yang membuat semua orang beralih perhatian padanya. "Tanpa mengurangi rasa hormat, Saya selaku kepala keluarga di rumah ini ingin bertanya, Ada keperluan apa sekiranya membuat keluarga Pak Sunyoto sudi bertandang kesini? Ataukah mungkin ada yang bisa saya bantu?" Seru Arya sebagai pembuka.
Pak Kumis terdiam alih-alih menjawab. Kemudian beliau melemparkan pandangannya pada sang istri seperti sedang melempar tanggung jawab sebagai juru bicara. Mendapat pandangan dari sang suami, ibunya Gusti lantas tak berbicara. Ia melongok wajah putranya. Gustiranda.
Yang di longok juga tidak memberikan respon lain selain terdiam. Detik kemudian Gusti menilik pada Ayuni, dimana gadis itu geming dengan air muka sulit untuk di tebak. Arya pun tidak bisa membaca suara hati siapapun selain Nala dan orang yang sedang terheran-heran.
Situasi semakin merebut perhatian para pemirsa ketika Ayuni melangkah di mana ia berpijak pada tempat titik pusat perhatian. Ia berada di tengah-tengah pertemuan keluarga, kemudian Ayuni bertekuk lutut seraya menunduk lalu mengatupkan kedua tangan bak seseorang yang sedang memohon ampun.
Arya, Nala, dan seluruh keluarga Arya Sena terhenyak. Nala menerka-nerka mungkinkah Ayuni sedang melakukan kesalahan yang membuat malu keluarga? Nala memang telah menyadari keanehan pada Ayuni beberapa waktu belakangan. Anak gadisnya sering termenung. Dan yang lebih membuat Nala gusar lebih banyak adalah ketika melihat ekspresi Gusti sejak kali pertama datang tadi. Gusti nampak terdiam tanpa keceriaan.
Ketika keluarga Arya Sena terheran-heran, Lain hal dengan Keluarga Gustiranda. Mereka kompak merunduk namun sesekali menoleh tersenyum untuk memberi isyarat bahwa mereka akan baik-baik aja.
"Nyuwun pangapunten Ayah, ibu, Gusti, Pak'De Yudis, Pak'De Sunyoto, Bu'dhe. Sebelumnya Ay mau bilang bahwa Kejujuran adalah yang terpenting menuju ketenangan hati. Jadi Ay berada disini untuk mengungkap soal kejujuran yang Ay rasakan. Awalnya memang Ay tidak tahu menahu perasaan suka dan cinta itu apa? Sampai akhirnya di detik ini Ay tahu apa yang benar-benar tengah Ay inginkan."
"Gusti orang yang baik, sangat baik malah. Ay senang bisa berteman dengannya dari kecil sampai sekarang. Dan tanpa kami sadari ternyata pertemanan kami menimbulkan perasaan yang lebih dari sekedar teman. Benar kata orang-orang, pertemanan antara laki-laki dan perempuan tidak murni hanya sekedar teman. Pasti akan ada perasaan yang tumbuh entah dari satu pihak maupun keduanya."
"Ay sudah salah selama ini. Apa yang Ay rasa ke Gusti bukan perasaan suka seperti Gusti kepada Ay. Maafkan Ay yang telah sadar belakangan hingga membuat kekeliruan. Ay dan Gusti bersahabat dengan baik, tapi tidak dengan jenjang hubungan pernikahan."
"Hmm jadi begitu." Arya menghela nafas pelan. Diikuti Nala yang bisa bernafas lega akan pikiran buruknya. Kendati demikian, Arya Sena tetap mengulik lebih dalam sebenarnya apa yang tengah terjadi. Ayuni mulai menjelaskan maksud dan tujuan ia berbicara panjang lebar seperti ini.
"Awal yang sebenarnya terjadi pada hari itu adalah...
.
.
.
"Pak'De itu apa?" Tanya Ayuni pada pemandangan Yudis membawa kotak pandora besar. Yudis meletakkannya di pendopo belakang tempat dulu-- Gantari sering menumbuk ramuan kecantikan.
"Ini sesuatu yang diminta Juragan."
"Iya...Ay tahu kalau itu. Maksudnya, sesuatunya itu apa? Apa yang ada di dalam kotak ini?"
"Bibit unggul sawit."
"Kok Pak'De tahu kalau Ayah meminta ini? Padahal jelas-jelas Ay dengar tadi kalau Ayah cuma bilang ke Pak'De gini: Yudis.. Bawakan yang saya mau. Terus Pak'De jawab baik Juragan. Lha kenapa bisa Pak'De tahu apa yang Ayah mau tanpa bilang yang jelas?"
Yudis tersenyum.
__ADS_1
Pak'De Yudis tersenyum.
Angin-angin segar menerpa senyuman itu. Lantunan lagu paling romantis seakan berputar mengiringinya. Ayuni tercekat dimana netranya melihat keindahan senyuman Yudis untuk pertama kali. Detakan jantungnya berdegup cepat.
Pak'De senyum Ay. Aku baru lihat Pak'De senyum. Kok senyumannya manis tenan sih.
Lanjut lagi ketika Ayuni menguntit Yudis demi menuntut jawaban.
"Pak'De... Ya ampun. Bener-bener deh Paman yang satu ini."
"Apa?"
Hei Dia nengok. Ayuni setengah berlari menyamai irama Yudis. Kalau tidak ada jawaban, Ayuni tidak pantang menyerah. Kedekatan Yudis dan sang Ayah yang cukup menyita atensi lebih, membuat Ayuni antusias menemukan jawabannya.
"Pertanyaan Ay yang tadi belum di jawab?!"
"Jawabannya sama seperti pertanyaan: kenapa Nona Ayuni kemarin bisa tahu apa penyebab saat pertemuan Gusti di awal hening? Bukankah Non yang sudah membereskannya?"
"Lha Iyo yo.. Ay juga bingung kenapa? Pokonya kaya udah tau aja gitu."
"Itu artinya Non Ayuni sudah sepaham dengan Juragan. Mungkin saya juga sama seperti itu." Tutur Yudis sambil terus bolak-balik kesana kemari mengambil apa yang diminta Arya. Sedangkan Ayuni terus saja menguntit Pak'De nya seperti anak itik.
"Apa ada yang mau di tanyakan lagi?" Kata Yudis. Ia berhenti mendadak hingga Ayuni terjengkang demi menghindari tubruk-menubruk.
Yudis tertawa saat itu. Menertawai Ayuni yang jatuh tersungkur mengenaskan. Belum sembuh dari senyuman manis Yudis, Ayuni sudah disuguhkan oleh tawa renyah sosok Yudistira.
Sejak saat itu, Ayuni tidak berhenti tersenyum. Aura ceria terpancar selalu dalam perjalanan menuju taman belakang dimana Gusti sudah menunggunya.
"Ay"
"Hemm"
"Aku perhatikan kamu bahagia sekali hari ini Ay. Bajumu warna merah jambu, sama kaya warna yang sedang aku rasakan." Gusti malu. Habis mengatakan itu dia menyembunyikan wajahnya yang hangat di balik tiang. Pura-pura melihat hamparan ilalang menari-nari.
Ayuni tidak tahu persis apa alasan keceriaannya hari ini. Karena kedatangan Gusti kah? atau senyuman dan tawanya seorang Yudistira. Sang penjaga.
.
.
.
.
Bersambung...
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Ya udah bersambung...
.
.
.
.
.
.
Hei mau nyari apa ke bawah-bawah?
.
.
.
.
.
.
Udah selesai kawan eps yang ini. Lanjut besok ya😄
.
.
.
__ADS_1
.