Suami Idaman

Suami Idaman
Sugeng rawuh


__ADS_3

Tahu tidak apa yang membuat Arya Sena kelimpungan pagi ini?


"MAS ARYA... " Rintih Nala dengan sekujur tubuh berkeringat.


Ya benar. Nala merintih sejak matahari muncul dari balik tirai jendela. Perempuan itu sedang merasakan sakit yang Nala sendiri tidak bisa mendeskripsikan seperti apa sakit yang mendera. Sebab Istri kesayangan Arya tersebut sedang bertaruh nyawa demi melahirkan sang buah hati kedunia untuk pertama kalinya. Buah cinta dirinya dengan Arya Sena dalam penantian yang cukup lama.


"Iya dek, Mas disini" Arya tidak berbuat apapun pada Nala yang merintih kesana kemari. Bohong kalau Arya bisa berpikir tenang dengan apa yang ia lihat di depan mata. Laki-laki itu bahkan beberapa kali mendecih untuk sebuah penantian lama Yudis yang pergi menjemput Mbok Ijem. Si Mbok tabib langganan keluarga Arya Sena.


"Mas, aku udah nggak tahaann.. hu..hu..Mas aku bisa ndak ya?" Nala menitikan air sebening embun di ujung netranya. Dan Arya tidak bisa diam saja kali ini. Ia menyandarkan tubuh Nala pada bahu kokoh miliknya agar Nala bisa merasakan bahwa ia tidak berjuang sendirian. Dengan gerakan yang hanya dimengerti oleh laki-laki itu, Arya Sena melakukan sesuatu dalam diam. Yang mungkin saja bisa untuk membantu persalinan. Mungkin.


Dari segi penglihatan Mbok Darsih, Juragannya tersebut cuma diam tanpa pergerakan berarti. Hanya matanya yang terlihat terpejam dengan kening berkeluk.


.


.


.


"Ayo cepat Mbok"


Mbok Ijem bolak-balik bagaikan setrika laundry. Perempuan paruh baya itu linglung sebab ia panik Yudis menyuruhnya untuk cepat-cepat namun otaknya belum sepenuhnya menangkap. "Bentar ya Mas Yudis, saya lagi cari peralatan dulu Iki" wong lagi gawat gini kemana hilangnya yo.. haduh..haduh.


"Tidak usah bawa apa-apa Mbok. Mari saya antar." Seru Yudis. Kaki tangan Arya tersebut tidak punya banyak waktu untuk di berikan pada Mbok Ijem melakukan kepikunan.


"Lho tapi Mas.."

__ADS_1


"Maaf ya Mbok, saya gendong biar cepat."


"Lha si Mbok Ndak bisa naik ke punggung Mas Yudis to"


Yudis menanggapinya hanya dengan senyuman. Tanpa pemberitahuan apapun, tahu-tahu Yudis menggendong Mbok Ijem ala bridal style. Membuat Mbok Ijem segan bukan main. Kalau bukan ingat umur, Mbok Ijem dengan semena-mena akan merasa cihuy.


Ya Tuhan, kebaikan apa yang telah saya lakukan sampai digendong anak muda seperti Mas Yudis.


Yudis tidak pernah tahu seseorang dalam gendongannya sudah meleleh seperti dodol buluk di goreng. Yang laki-laki itu tahu saat dirinya membawa Mbok Ijem dengan tidak biasa adalah-- Si Mbok bau minyak jelantah.


"Mbok tutup mata"


Si Mbok otomatis melakukan perintah Yudis, dan...


Menit kemudian, Mbok Ijem merasa ada debaman tapak sendal dengan tanah. Karena Yudis belum menyuruhnya untuk membuka mata, Si Mbok lantas memejamkan mata takut-takut kalau dirinya melanggar, maka akan ada bahaya yang mengintai.


"Sudah sampai Mbok. Mari saya antar ke dalam kamar."


Apa?


Di saat pintu kamar utama perlahan terbuka, suara tangis bayi perempuan menyambut kedatangan Yudis dan Mbok Ijem.


"Alhamdulillah.. bayine udah keluar dengan selamat Juragan. Nyuwun pangapunten saya terlambat datang." Mbok Ijem menundukan kepala pada Arya.


"Tidak apa-apa. Segeralah urus putri saya." Arya mempersilahkan Mbok Ijem untuk mendekati bayi perempuan Arya Sena yang telah di beri nama AYUNI NAYA SENA.

__ADS_1


Sementara Ayuni di urus oleh Mbok Ijem, Nala di perhatikan oleh sang suami cekatan. Mbok Darsih dan Yudis seraya menitikan air mata haru dalam hatinya pada pasangan Arya-Nala. Dimana kasih sayang pasangan ini telah mengajarkan, bagaimana selalu ada untuk pasangan di kala butuh perjuangan. Tidak peduli seberantakan apa penampilan Nala, tidak peduli amis darah menguar menyergap hidung, Nala tetaplah Nala yang cantik di hadapan Arya dan akan menjadi kesayangan laki-laki itu sampai kapanpun.


"Terimakasih dek, sudah mau berjuang demi anak kita." Kata Arya sembari mendaratkan cium bermakna dalam.


Nala yang memang sedang mengunyah beras kencur seketika gerakan rahangnya memelan. Hidungnya kembang kempis, memerah dengan matanya yang berkaca-kaca. Berancang-ancang ingin menangis sepertinya.


"Kenapa nangis sayang?"


"Aku senang sekali Mas, akhirnya kamu bisa jadi seorang ayah. Dan aku jadi seorang ibu. Mas, aku bahagia sekali punya kamu dan punya Ayuni."


"Mas pernah bilang tempo hari, Mas yakin kalau kamu bisa bahagia tanpa harus mengorbankan perasaan. Dan hari ini tiba Nala. Asal kamu tahu, di hari-hari sebelumnya Mas selalu berdo'a untuk hari ini. Kamu hanya boleh menangis bahagia. Jadi.. menangislah dek"


Alih-alih tambah menangis Nala justru tergelak kecil. Ia menyandarkan kepalanya lebih dalam di pelukan Arya Sena. Sesederhana itu, ia merasa bahagianya semakin lengkap dan menyatu.


.


.


.


Bersambung...


Selamat datang ke dunia, Ayuni Naya Sena.


Dunia? iya.. dunia fiksi hehe

__ADS_1


__ADS_2