Suami Idaman

Suami Idaman
Penyelamatan Ayuni


__ADS_3

Ayuni tidak akan terima jika dirinya hanya berdiam diri di rumah menjadi anak yang manis. Maka, pagi-pagi sekali ia sudah berada di tempat Gusti memeriksa, apakah anak laki-laki itu sudah memenuhi janjinya pada Ayuni untuk membuatkan perahu dari batang pisang? Dan apa yang Ayuni harapkan sepertinya terancam pupus begitu saja. Sebab ia melihat tempat mereka bermain masih dalam keadaan sunyi senyap. Tidak ada sosok Gusti dengan cengiran khasnya yang terlihat.


Yah... Aku wis jauh-jauh Gusti malah ndak ada.


Saat Ayuni hendak berbalik arah menuju kepulangannya, ada suara memanggil namanya dari arah belakang. "AY" Katanya, suaranya yang lantang memekakkan telinga.


"Gusti"


Gusti berlari semangat dengan payung yang di pegang pengawalnya mengikuti. Sedangkan pada Ayuni, bocah perempuan itu berdiri tegap sendirian dengan pelindung daun kimpul di atasnya. Dia nampak sendirian, namun Ayuni tidak pernah tahu bahwa sang Ayah tidak akan membiarkannya benar-benar sendirian.


"Ay, ayo ke rumahku. Aku sudah buatin apa yang kamu minta. Tapi adanya di rumahku. Soalnya hujan belum berhenti-henti sejak tengah malam tadi. Aku pikir dengan hujan seperti ini kamu tidak akan datang Ay?" Gusti membawakan baju hangat untuk Ayuni kenakan. "Pakailah"


"Terimakasih Gusti, kamu memang teman terbaik"


Setelah itu jalan yang tergenang air, airnya memercik sumringah oleh langkah-langkah kecil Gusti dan Ayuni. Sepasang sahabat yang tidak sengaja bertemu karena sebuah penyelamatan tersebut, bersenandung kecil di bawah rinai hujan yang indah. Penyelamatan? Ya, Gusti menyelamatkan Ayuni dari Yudis. Ia mengira apa yang dilihatnya adalah sebuah penculikan. Sebab Ayuni terlihat memukul-mukul kecil pada Pakde penjaganya saat Yudis membopong paksa Ayuni.


Dalam perjalanan menuju rumah Gusti, Sesekali bocah laki-laki itu menggali Ayuni bagaimana bocah perempuan itu menganggap kehadirannya, sebanyak itu pula Ayuni menepis dengan canda yang membuat Gusti menelan ludah. Salah satunya seperti ini:


"Ay, tadi kata kamu apa? Aku teman terbaik? Buat kamu ya?" Gusti sesungguhnya bertanya betulan, namun nadanya di buat sebercanda mungkin olehnya. Jaga-jaga kalau Ayuni menjawab di luar ekspektasi.

__ADS_1


"Oh itu. Iya Gusti kamu adalah teman terbaik. Tapi bukan cuma buat aku, buat semua teman-teman di kampung sini hehe " Tuh kan. Untung Gusti sudah antisipasi dari awal. Biar tidak mengenaskan sekali.


Tidak menyerah begitu saja, Gusti akhirnya bertanya kembali. Usaha menggali yang kedua seperti ini:


"Ay, kamu pagi-pagi sekali dengan cuaca seperti ini kenapa harus bela-belain datang buat ambil perahu buatanku? Kan masih ada hari esok?"


"Aku kan janjinya datang sekarang. Karena aku bocah yang selalu menepati janji, maka tidak ada yang namanya besok buat datang padamu. Kalau sekarang ya harus sekarang. Memangnya kenapa?" Tegas Ayuni, membuat Gusti semakin terkagum-kagum pada putri Arya Sena tersebut.


"Cuma nanya aja. Aku kira perahu aku terlalu bagus buat kamu bela-belain datang mengambilnya di tengah hujan badai seperti ini." Dibubuhi cengengesan lagi, hanya untuk mendapatkan hukuman kecil dari tangan mungil Ayuni.


"Bisa aja kamu Gus, wong aku iki penasaran. Kamu tuh sudah bisa bikin perahu dengan benar atau belum? Terakhir kamu bikin layarnya mencang-mencong tau ndak?!" Jujur Ayuni sembari berkacak pinggang. Memang benar Ayuni tidak ada maksud apapun selain membenarkan kreasi Gusti dalam membuat miniatur perahu.


"Oh gitu ya?"


"Iyo Gusti.. begitu!"


Gusti manggut-manggut, Namun bukan tanda mengerti. Ia manggut-manggut karena sedang membalas kode dari sang Ayah yang sedang berdiri jumawa di depan rumah. Perawakannya tinggi besar, dengan kumis yang membentang. Tatapannya jauh menerawang seperti hendak menguliti. Kita lihat, apakah yang bisa Ayuni lakukan?


Bersambung...

__ADS_1


Di balik layar cerita Gusti menyelamatkan Ayuni.


"Lepaskan anak perempuan itu wahai penculik." Teriak Gusti sembari tangan kecilnya menggebuk Yudis berkali-kali hingga busana yang di kenakan pria dewasa tersebut hampir tidak semestinya.


Sedangkan Ayuni, yang dari tadi mendumal tidak karuan langsung membisu. Ia terpana dengan aksi bar-bar Gusti yang katanya mau menyelamatkannya. Menyelamatkan apanya haha. Bahkan yang seharusnya menyelamatkan diri adalah Gusti. Menyelamatkan diri dari rasa malu kalau sudah terkuak bahwa Yudis adalah Pakdenya Ay.


Detik kemudian air muka Ayuni berubah antara ingin terbahak-bahak dan juga kasihan, Pada Pakdenya yang saat ini geleng-geleng kepala akibat celananya di tarik-tarik Gusti.


Ya ampun Pakde kasihan sekali.


"Kamu siapa namanya?" Tanya Ayuni.


"Aku Gustiranda. Kamu tenang saja, Aku pasti akan berusaha untuk menyelamatkanmu. Ciat..ciat..ciat .. hei kau penculik! Ayo cepat lepaskan anak perempuan ini. Kalau tidak aku akan..."


"GUSTIRANDA.. INI PAK'DE KU"


Hah?


Yudis praktis tersenyum. Seumpama bocah bernama Gusti memohon maaf padanya, Yudis tergelitik untuk membuat anak itu seperti berada di tepi Dermaga pada siang bolong. Menjerang rasa malunya hingga menguap tak bersisa.

__ADS_1


"Kalau tidak kamu akan apa?" Suara Yudis menggoyahkan dengkul Gustiranda.


Jangan lupa bahagia.


__ADS_2