
#jatah_50_ribu
Part 9
"Den ayu.. pak Erick nanyain Aden loh kemarin, den ayu kemana toh? Maaf ya den, bukannya kepo! Tapi.. mbok cemas loh den" mbok Ratmi ini memang sangat perhatian sama aku, tak berapa lama kemudian dia langsung menyuguhkan teh manis hangat dan cemilan kecil ke kamar ku.
"Mbok, pak Erick kemana ya? Padahal saya sudah tinggal di rumah orang tua lebih dari hari yang beliau ijinkan."
"Mmm.. itu, kalau itu, mbok Ratmi kurang tahu den, sudah ya den, maaf... Mbok masih ada cucian di belakang" langsung mbok Ratmi keluar kamar ini tanpa basa basi.
"Apa aku telpon saja ya? Atau kirim pesan ke pak Erick?"...
"Assalamualaikum pak, maaf mengganggu" ku tulis pesan wa ke nomer handphone nya, kirim, ga, kirim, ga? Haduhh!" kok begini jadinya, sudah lah, biarkan saja.. besok pagi saja saya menyapa beliau!
"Assalamualaikum, Puti, sudah sampai di apartemen ya?" Ting.. notifikasi pesan wa masuk, ku lihat nama pak Erick di layarnya, sengaja aku diamkan sebentar.. tapi, tak tahan diri ini untuk segera membalasnya, " iya pak, darimana bapak tahu?" Balas ku.
"Mbok Ratmi kirim pesan ke saya put."
Tak berapa lama, pak Erick menelpon ponsel ku
"Maaf ya put, untuk 4 hari ke depan, saya sedang ada keperluan, saya sekarang berada di London karena ada undangan dari kolega kerja." Samar samar ku dengar suara wanita, yang tak asing di telinga, bu Clara... "Sayang, nelpon siapa sih? cepat dong!" Ternyata memang benar... perkataan Sekretaris pak Erick tempo hari, aku terlalu bawa perasaan. Bodoh kau put! mana mungkin kamu mengalahkan bu Clara?!
"Sttt.. sebentar cla! Put, Puti.. kamu masih mendengarkan saya put ?!"
"I.. i..iya pak, saya masih disini, baik kalau begitu, saya akan memanfaatkan waktu saya untuk ke kampung menemui anak-anak saya saja pak!"
"Jangan dulu put, ijinkan saya yang akan menemanimu nanti ya?!"
"Terserah bapak, pak maaf saya pusing, assalamualaikum" entah sikap ku dianggap kurang sopan atau tidak, aku tidak perduli. " Huhh... Aku tidak boleh seperti ini, aku harus melupakan perasaan ini ke pak Erick.. yang mungkin bertepuk sebelah tangan dan bagaikan Pindul merindukan bulan!
4 hari pun berlalu.. Ting... notifikasi pesan masuk ke ponsel ku "Assallammualaikum put, nanti pukul 4 sore, tolong jemput aku di bandara Soekarno-Hatta terminal 3 ya." Diiringi emoticon berharap,Ternyata pesan dari pak Erick untuk menjemputnya.
Sebelum pukul 3 sore, aku sudah berada di ruang tunggu terminal tersebut, ternyata pesawat mendarat pukul 4.15 sore, samar samar ku lihat lelaki tinggi, berbodi atletis, berkulit putih, berwajah kebulean, beda dengan penampilannya kala remaja, pak Erick.. huft, dan di sampingnya, bu Clara?
"Sudah lah, untuk apa aku memikirkan mereka, yang penting ngumpulin banyak uang untuk membahagiakan anak-anak ku nanti!" gumam ku dalam hati.
"Put.." sambil kulihat rona wajah pak Erick bersinar menatapku dan tersenyum penuh arti. Sebel! Langsung aku memalingkan muka, tidak aku balas senyumannya.
"Hei.. ini, bawain koper saya ya!" Titah nyonya sok besar, siapa lagi kalau bukan bu Clara.
"Clara.. bawa sendiri lah." Tukas pak Erick.
"Gak apa apa, memang ini kerjaan saya juga, membawakan barang barang calon istrinya bos saya!" Langsung ku dorong saja koper-koper nyonya sok besar sampai ke mobil. Tanpa sedikit pun kata kata keluar dari mulutku.
"Nah, itu tau posisi mu dimana!" sungut perempuan tersebut.
"Clara! sudah ya, kamu ga boleh bersikap seperti anak-anak!"
Di dalam mobil, aku langsung duduk di samping supir, walaupun pak Erick menyuruh aku duduk di sampingnya, aku beralasan lebih enak duduk di depan, sedangkan nyonya dan tuan Erick berada di belakang. Huh! Ya Alloh segera enyah kan rasa ini ke pak Erick! Gumam ku.
" Ku lihat dari kaca spion, masih samar terlihat, pak Erick selalu memandangku dan tersenyum kecil kepada ku, serta sekali kali menggeleng gelengkan kepalanya tanpa memperhatikan Bu Clara, yang berusaha memanas manasi ku dari tadi, membuat heran di dalam hati "apa sih mau mu pak! Kemarin ber senang-senang dengan Clara, kemudian sekarang pura-pura acuh kepadanya." Huh, sebel!
Lama... aku mendiamkan pak Erick, hanya menjawab urusan kantor saja. Sehingga membuat pak Erick agak kesal "Put... Kamu kenapa?" Bertanya masih dengan nada lembutnya.
__ADS_1
"Kamu marah sama saya? Saya salah apa Puti..?!" Kali ini agak menekan nada suaranya.
"Maaf pak, saya hanya kepikiran anak-anak saya saja" salah satu alasanku memang seperti ini, ditambah sikapnya yang terkadang membuat berbunga-bunga terkadang menyebalkan seperti waktu ada Bu Clara.
"Ya sudah, besok Sabtu dan Minggu, saya antar kamu ya ke sana?" Pintanya.
"Apa tidak merepotkan bapak? Apalagi sudah ada Bu Clara disini!" Tanya ku, " tenang saja, untuk kamu, apa sih yang tidak put, tentang Clara! Kamu lupa apa yang saya katakan tempo hari tentangnya?!" sambil dia tersenyum manis, tetap, aku langsung memalingkan saja muka ku ini dan refleks tersenyum kecil.
"Urusan surat permohonan cerai mu bagaimana put?"
"Masih dalam proses pak, nanti kalau sudah mau masuk sidang, akan dikirimkan surat panggilannya pak."jelas ku.
"Oke, dan besok Sabtu, pengacara yang akan membantu mu juga ikut, jadi.. kamu tenang saja ya put! Biarkan mereka yang bekerja mengurusi permasalahan hak asuh anak-anak."
"Terima kasih pak, saya tidak bisa membalas Budi baik bapak ke saya" dan dijawab hanya anggukan kecil saja olehnya.
[Put, temani saya ya?] Pinta pak Erick.
[Kemana pak?]
[Sudah, kamu ikuti saya saja, kamu kan aspri saya! iya kan put?]
[I..iya pak, saya lupa, saya hanya.. maksud saya, saya aspri bapak.] dalam hati ku bergumam "bodoh kali kau put, jangan sampai aku terbawa perasaan yang bertepuk sebelah tangan ini?"
Ternyata kali ini aku dibawa ke butik kenalan temannya yang lain, di plaza Indonesia "Louise Vuittonge" memang tidak asing merk terkenal tersebut, harga yang fantastis, tapi masih banyak penggemarnya.
Setelah beberapa helai kemeja, rok, sepatu, tas sampai gantungan kunci pun dibelikan oleh pak Erick, lanjut aku diajaknya ke sebuah salon kecantikan ternama, di sana wajah ku di treatment sana sini sampai kinclong, rambut di ubah, sampai tak ketinggalan bulu bulu di badan ku pun tak ketinggalan di babat habis. Hasilnya? Kinclong, glowing! Wow...
"Beautifull" itu lah kalimat yang keluar dari mulut pak Erick, padahal hanya make up natural saja yang aku tampilkan.
Hari yang ku tunggu pun tiba, kami berdua pun pergi ke daerah kampung mas Andri, dengan membawa minibus Alphard putih nomor polisi "B 3121 CK" dan dikemudikan oleh supir pribadi pak Erick, aku duduk di tengah, samping pak Erick.
"Apa rencana mu setelah berpisah resmi dengan Andri?"
"Mmm.. saya tidak tahu pak, masih banyak yang harus saya kerjakan, masih banyak yang harus saya tabung untuk mencukupi anak-anak saya dan kedua orang tua saya pak.
"Tuh kan, panggil mas saja ya, jangan bapak, kalau di luar jam kerja" pintanya.
"Maaf, saya belum terbiasa pak, eh.. mas"
"Oke gak apa put, terus.. kalau ada seseorang yang mau menafkahi kamu, lebih dari cukup, kamu mau menerimanya put?"
"Siapa dulu orangnya pak, walaupun kaya tapi... Kelakuan seperti mas Andri, lebih baik saya menjanda sampai mati pak!" Tegas ku. Ku lihat dia menaikan dahinya.
"Memangnya tipe seperti apa lelaki idaman kamu put ?"
"Seperti mas Andri dulu, sebelum termakan fitnah Seruni!"
"Walaupun sederhana, sikap dia dulu yang selalu melindungi saya, sayang, perhatian, lemah lembut, mencukupi sandang, pangan, papan, pekerja keras, romantis... Ahhh, cukup ya pak, ga usah membicarakannya lagi.."
"Ma..maaf ya put, saya tidak bermaksud demikian" sambil beliau mengambil sapu tangannya dan menghapus air mata ku yang mengalir di setiap sudut mata ini.
"Tapi.. saya tidak suka lelaki plin-plan, tidak tegas mengambil sikap pak! Seperti ada teman SMA dulu, katanya ga suka sama si A tapi.. diajak jalan, mau aja.. katanya suka sama si B, tapi.. sikapnya membuat si B heran! Heran, beneran suka atau PHP aja! Sambil ku lirik ke arah mata nya .
__ADS_1
"HAHAHAHAHA, masa ada orang yang seperti itu put? Siapa namanya teman SMA kita dulu itu put?" Sambil pak Erick membenarkan kerah bajunya yang ku lihat masih rapih.
Dibuat aku salah tingkah olehnya, "Pak, maaf ya.. saya tiba tiba ngantuk, saya ijin tidur dulu ya pak?" Daripada capek ngomong sama lelaki model begini, lebih baik aku pura-pura tidur saja. Ngorkkkk..
Tak terasa, makin lama makin aku mengantuk, tiba tiba ada yang memakaikan ku selimut. Siapa lagi kalau bukan pak Erick? Aku tersenyum dan akhirnya terlelap di samping tubuhnya pak Erick.
Karena kebetulan supir pak Erick pernah pengalaman ke daerah mas Andri, maka aku tidak perlu untuk menjelaskannya lagi. Setelah beberapa jam, kami akhirnya hampir mau sampai di daerah tersebut. Karena tadi berangkat pagi, sampai sini sudah mau sore, "maaf pak, seperti nya, daerah kampung tersebut susah untuk dimasuki mobil pak" jelas pak supirnya.
"Kalau begitu, kita naik ojek motor saja pak, di sana tuh pangkalan ojeknya" sambil aku menunjuk tempatnya tersebut.
Ku lihat pak Erick sedang menerima telephone, dengan raut muka serius, pak Erick mendengarkan seseorang di ujung ponselnya.
"Itu tadi pengacara kamu put, sebentar lagi kira- kira 30 menit lagi, beliau akan menemui kita"
Akhirnya dengan mengendarai ojek motor, kami pun menuju alamat dimana mas Andri tinggal.
Sesampainya di depan muka rumahnya, ku lihat tampak rumahnya begitu sepi, masih tidak jauh berbeda dengan terakhir aku tinggali. Aku coba mengetuk pintu rumahnya sambil mengucap salam "Assallammualaikum..Fano, Lia, ini ibu nak!".. lama aku dan pak Erick menantikan jawaban dari dalam rumah, kemudian dibukakan lah pintu rumah oleh.. mbak Weni, kakak ipar yang dulu selalu mencampuri kehidupan rumah tangga ku dengan mas Andri.
"Cari siapa ya? Kamu siapa? Dan ada perlu apa?" Jawabnya.
"Mbak, ada Fano dan Lia? ini Puti mbak, ijinkan aku bertemu anak-anak saya mbak" aku mengiba kepadanya, kemudian dia tak bergeming melihat ku, entahlah apa yang dipikirkan olehnya.
"Tu..tunggu disini du.. dulu" segera dia masuk kembali ke dalam rumah ini, tak lama ku lihat mas Andri, Lia dan Fano pun menghampiriku.
"I..ibu? ini ibu?!" Seru Lia, "iya nak, ini ibu, dekap ibu anak-anak ku, ibu kangennnn kalian berdua" langsung mereka menghampiriku, tapi... sebelum mereka benar benar memeluk ku, mas Andri mencegah anak-anak untuk memeluk ku dengan cara mengambil paksa mereka dan mengunci di kamarnya.
"Diam kalian, Lia.. Fano.. jangan cengeng!" Mulut kasarnya pun tak berubah dari dulu.
"Mas.. tolong, aku hanya ingin memeluk anak anak aku mas, tolong" berurai air mata ini beranak Pinak dibawah mata.
"Ibu macam apa kamu, kemana saja kamu selama ini, pesan tidak kamu balas, anak-anak kangen tidak pula meluluhkan hati mu.. cuih.. jangan ber akting lah, akting kamu jelek.. dasar *******!" entah untuk yang ke berapa kali nya kau ludahi aku mas..
"Hei... Jangan berani nya sama perempuan ya! Sini lawan gue lo.. Banci!" Sambil pak Erick memasukan ponsel ke saku nya yang sedari tadi berada di tangannya.
" Siapa Lo? Oh, jangan-jangan Lo laki laki **** yang ditipu sama ini perempuan sundal ya?
Bugh.. bugh.. bugh..mas Andri pun langsung melayangkan bogem mentah ke pak Erick, entah kenapa pak Erick tidak berusaha menghindarinya.
" Segini aja put, laki laki kere yang berhasil Lo tipu, Lo manfaatin ?!"
"Kesini, minimal bawa motor, buktiin sama gue put, tanpa gue, Lo bisa nyari yang lebih dari gue.. seperti gue, tanpa Lo.. bisa nyari yang lebih kaya put !"
"Pak Erick, pak.. anda tidak apa apa pak? Maafkan saya pak, gara-gara saya, bapak jadi kena imbasnya" sambil aku membangunkan pak Erick yang dari tadi tersungkur tanpa sedikit pun membalas tinjuan mas Andri.
"Sudah put, kita pergi dulu dari sini." Sambil pak Erick menggandeng tangan ku meninggalkan rumah mas Andri. "Tapi mas.. bagaimana dengan Lia dan Fano? Saya ingin mereka dengan saya mas !"
"Kamu percaya saya ya !" Tatapan tajam matanya sedikit menenangkan jiwaku.
"Pergi kamu yang jauh, naik apa kamu kesini? Bus butut, yang sopirnya ugal-ugalan ya? Yang bayarnya cuma kurang dari 100 ribu hah ?!, Masih ada uang buat balik ? Ternyata selama ini, nabung dulu ya supaya bisa ke kampung? Hahahaha.. kere lo!" Umpat mas Andri kepada ku dan pak Erick.
"Sudah ga usah perdulikan kata-kata nya, percaya kan saja semuanya ke saya, nanti pengacara kamu, pasti akan memenangkan hak asuh anak-anak ke kamu put!"
Sepanjang perjalanan menuju parkiran mobilnya pak Erick, aku berpikir.. kira-kira, apa yang akan dilakukan pak Erick? Haruskah aku mengikuti sarannya?
__ADS_1