
Pernikahan.
Adalah tema yang sedang asyik diperbincangkan oleh Nala dan Arya. Kenapa demikian? Karena keantusiasan mereka pada pernikahan Ayuni Yudis yang diadakan dua hari lagi. Perbedaan usia dua puluh lima tahun tidak serta merta merusak suatu kebahagiaan. Karena pernikahan sebuah penyatuan cinta. Bukan soal mencocokkan usia.
"Mas"
"Hemm"
"Kalau mereka sudah menikah, aku ingin mereka jangan pergi dari rumah ini Mas."
"Siapa memang yang akan pergi?" Arya menyuap kembali suapan potongan buah dari tangan Nala.
"Ya kan biasanya gitu Mas. Seorang anak jika sudah menikah mereka menginginkan kemandirian. Sebaik apapun seorang mertua, mereka akan lebih memilih hidup berdua. Mas bisa tidak bicarakan ini kepada mereka kalau kita kumpul saja meskipun ada dua kepala keluarga di rumah ini. Mas, rumah ini terlalu besar kalau cuma di tinggali oleh kita saja."
Nala tetaplah Nala. Seseorang yang tidak biasa saja menghadapi yang akan datang. Bahkan jauh sebelum takdir terjadi, Nala sudah berpikir yang berlebihan. Nala menyuap satu potong buah melon di sela-sela menyuapi Arya.
Arya meraih dagu Nala. Kemudian bibirnya yang dingin menyentuh bibir Nala yang menggembung. Perempuan itu tahu Arya akan mengambil alih melon yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Tidak rela itu terjadi lagi, Nala menggigit bibir Arya dan cepat-cepat mengunyah serta menelan buah tersebut.
Arya tertawa.
"Pelan-pelan saja makannya sayang. Kalau kamu sampai tersedak Mas tidak akan bisa memaafkan buahnya dan akan Mas hancurkan mereka sehancur-hancurnya."
Nala memang tidak tersedak karena makan terburu-buru, tapi dia hampir saja kelolodan karena pernyataan Arya yang menggelitik perut. Menghancurkan buah? Ada-ada saja. Blender kali ah.
"Mas..."
"Apa dek?"
"Aku Ndak mau jauh dari Ayuni."
"Nah kan. Kamu bicara panjang lebar, pada intinya kamu cuma tidak bisa jauh dari anak kita. Nala sayangnya Mas Arya, kamu jangan memikirkan yang belum terjadi. Lagian kalau memang mereka mau mandiri, ya silahkan. Yudis sebagai kepala keluarga memiliki caranya sendiri untuk membina rumah tangga. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendo'akan."
"Iya ya Mas. Tapi bagaimana kalau..."
"Wis lah, jangan kebanyakan mikir bagaimana. Mending kita bikin adik buat Ayuni sebelum dia bikin cucu buat kita."
"Iya ya, ide bagus tuh"
..........
Yang perempuan sibuk perawatan kulit dan serangkaian kecantikan menjelang pernikahan tiba, yang laki-laki sibuk bekerja hingga larut malam. Menjadi kaki tangan tak lantas membuat Yudis berleha-leha menjelang hari pentingnya. Dia masih mengamati miniatur berbagai ladang uang seperti mengamati peta dalam peperangan. Arya tidak memintanya seperti itu, namun Yudis memiliki rasa yang besar pada rasa tanggung jawab. Kalau hasil tidak sesuai dengan harapan maka Yudis akan berusaha lebih keras. Meskipun hasilnya bukan untuk dirinya sendiri.
"Yudis, kenapa kamu belum tidur? Sudah larut begini masih saja bekerja. Jangan sampai membuat saya di cap sebagai Juragan yang kejam ya?!" Seru Arya Sena yang datangnya dari arah mana saja. Padahal kita baru saja menyaksikan perbincangannya, bahwa Arya akan melakukan ritual membuat adik untuk Ayuni.
"Nggih Juragan. Saya lagi berfikir tentang ladang yang ada di pulau kalimantan."
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Jangan bilang kamu berfikiran untuk pergi kesana membawa Ayuni." Ujar Arya penuh dengan tatapan selidik.
"Jika juragan mengijinkan. Kalau tidak, saya tidak berani melakukannya." Seperti biasa, Yudis tidak akan melakukan keputusannya sendiri jika Arya tidak berkenan. Yudis akan melakukan hal yang di perintah Arya maupun yang disukai juragannya itu. Tidak pernah sedikitpun Yudis berbaik hati pada dirinya sendiri, meski hanya sebuah keputusan hidupnya sekalipun. Ia akan selalu memprioritaskan Arya dan Arya. Dia pikir, dia bukanlah manusia yang harus menjalani hidupnya dengan apa yang dia mau.
"Jika kamu sudah menjadi menantu saya nanti, kamu saya bebaskan Yudis. Kamu harus menjalani kebahagiaanmu sendiri. Sudah saatnya kamu memikirkan apa yang kamu mau."
"Saya hanya mau setia pada Juragan."
"Jangan!. Saya hanya manusia. Dan manusia bukan menjadi tempat untuk bersandar dan memberikan segala yang kamu punya. Kamu juga berhak bahagia."
"Saya selalu bahagia di samping Juragan."
"Keras kepala sekali dirimu Yudistira." Arya melayangkan sorot mata tajam. Tangannya sudah mengeluarkan cahaya kemerahan yang sedikit saja meleset terkena Yudis, maka calon suami Ayuni tersebut akan terluka. Namun dengan sorot mata Yudis yang melemah, teduh seperti musim di bulan ini, Arya mampu meredam segala amarah. Bisa-bisanya dia hampir melukai orang yang sangat dia sayangi hanya karena kebatuan tidak mau di bebaskan dari kaki tangan.
Arya ikutan melemah. Cahaya kemerahan meredup tergantikan dengan cahaya kemuning. Dan diantara mereka yang sempat di sergap keheningan, suara Yudis menjadi yang pertama memecahkan kesunyian.
"Maafkan saya Juragan. Saya mengerti, Juragan begitu mengkhawatirkan saya. Berulang kali Juragan menyuruh saya untuk bahagia dan memikirkan diri sendiri. Jujur saya bingung mendengar Juragan Arya jika mengatakan hal itu."
"Bingung?"
"Iya. Maaf sebelumnya juragan jika saya terlalu berani mengatakan. Sejak kecil kita tumbuh bersama dalam suka maupun duka. Kalau saat itu juragan berfikir saya menderita karena Juragan telah mengambil kasih sayang orang tua saya pada juragan, maka saya merasakan sebaliknya. Saya senang saat juragan bisa mendapat kasih sayang yang sama dengan apa yang saya terima."
"Begitu banyak cobaan yang juragan alami sewaktu masih kecil. Dan saya berusaha semampunya untuk selalu berada di sisi juragan hanya untuk membuat Juragan merasa dicintai. Membuat kesempatan hidup yang juragan punya tidak bisa di sia-siakan begitu saja. Tapi juragan menganggap kalau saya terenggut kebebasannya demi menjaga juragan. Saya tidak merasa demikian."
"Kita pernah hampir mati dalam sebuah perjuangan melawan musuh. Kenapa? Karena kita terpisah juragan. Sebab kita bersatu musuh pun tidak akan berani melawan. Kesatuan ini sudah saya anggap sebagai tali persaudaraan. Maaf jika saya lancang menganggap seperti itu. Tapi jujur, saya menganggap hubungan ini seperti kakak beradik yang saling menyayangi. Meskipun cara menyayangi kita berbeda."
"Saya berharap tidak ada yang berubah dari semua ini juragan. Kita akan menjalani sisa hidup bersama dalam artian tidak ada kata bebas dan harus bahagia dengan caranya sendiri. Tidak seperti itu Juragan. Kita seperti ini untuk saling menjaga. Dan saya mau yang seperti ini untuk selamanya."
Penuturan Yudis seperti sebuah tamparan keras yang Arya terima. Dengan mata yang ikut berair, Arya membangunkan Yudis dalam keterpurukannya. Mereka sebenarnya saling mengasihi tapi dengan pemahaman yang tidak sama. Hingga keputusan dari mereka telah menyakiti perasaan satu sama lain.
"Yudis, maafkan saya. Bangunlah."
Dan tepat Yudis sudah menjejakkan badan sejajar dengan Arya. Laki-laki yang di panggil juragan itu merentangkan tangan menyambut pelukan hangat dari seorang Yudistira. Pelukan pun tidak dapat dihindarkan.
"Yudis, tidak ada yang bebas dari tali persaudaraan ini. Maafkan saya. Tapi saya boleh minta satu hal padamu?"
"Apa itu juragan? saya pasti akan melakukannya."
"Mulai sekarang, kamu panggil saya Ayah."
Ayah?
"Kamu tidak suka ya? panggil Papa juga boleh. Asalkan jangan Bapak, soalnya panggilan itu mengingatkan saya dengan Gusti."
"Suka juragan. Saya panggil Ayah saja."
__ADS_1
"Baiklah. Coba panggil, saya ingin dengar."
"Ayah" seru Yudis. Praktis membuat mereka tergelak bersama. Ini yang dinamakan habis menangis tertawa kemudian. Hehehe
....................
Di suatu pagi, dimana paginya berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Tok...tok..tok... ini bunyi ketukan pintu kamar Yudis. Bukan bunyi kentungan hansip.
"MAS.. MAS YUDIS SUDAH BANGUN BELUM? KALAU BELUM KOK TUMBEN JAM SEGINI BELUM BANGUN."
Bocah itu
"SAYA BELUM BANGUN"
"LHAAA KOK BELUM BANGUN BISA NYAHUT?"
"KAMU MEMANG ADA PERLU APA?" Tanya Yudis alih-alih menanggapi pertanyaan Ayuni.
"AY CUMA MAU MEMASTIKAN, MAS YUDIS SUDAH HAFAL IJAB KABULNYA BELUM BUAT PERNIKAHAN KITA BESOK?"
Yudis terkejut.
"SUDAH"
"COBA MAS, AY PENGEN DENGAR"
Coba panggil, saya ingin dengar? Yudis baru paham sifat Ayuni ternyata menurun dari Arya Sena. Kalau sebelumnya Yudis menghela nafas frustasi lalu mengatakan ya ampun dalam hatinya, kini Yudis bersenyam-senyum ria. Kemudian dia membuka pintu kamarnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya.....
.
.
.
.
Bersambung....
.
.
__ADS_1
Jangan lupa cengar-cengir.