
Part 14
"Mas.. jawaban apa yang ingin kamu beri kepadaku? Sehingga aku harus bersabar menunggu, seperti yang kamu bilang tadi?" Masih terasa pipiku hangat karena dihujani air mata.
"Put, maaf.. aku sudah berjanji dengan Clara, saat aku memberimu surat berisi aku mau menikah. Yang ingin aku nikahi ya.. kamu!, tapi sekarang, semua itu berubah dan.. aku punya janji untuk membahagiakan Clara, walaupun nanti aku tak tahu jalan pernikahan ku dan Clara. Bukan, bukan karena perusahaan papahnya menanam saham di perusahaanku ini, tapi.. " belum sempat mas Erick meneruskan perkataannya, langsung ku potong " tapi.. karena memang mas mencintai Bu Clara! Ditambah ayah mas menginginkannya. Mas Erick memang pantas untuknya, sampai-sampai liburan tahun baru pun liburan bareng, dan handphone mas Erick pun dipegang sama Bu Clara."
"Hah (menghembus napas dengan kasar.) Put.. saat aku bilang apakah kamu ingin tahu apa yang aku sepakati bersama dengannya, dan kenapa aku sampai larut malam bersamanya? Di malam itu, aku mencoba menjelaskan dimana hatiku berlabuh, aku jujur, aku ceritakan padanya bahwa hanya kamu yang aku cintai Put! Tiba-tiba Clara jatuh pingsan.. dan aku langsung larikan dia ke rumah sakit. Setelah dia siuman, dia masih histeris apa yang baru saja dia dengar dari ku. Namun, lama-kelamaan dia mulai menyadari, bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Saat itu, Clara mengatakan dia mulai bisa mengikhlaskan aku untuk mu Put.
Ketika aku ingin menemui kamu dan keluargamu saat Liburan kemarin, Clara menelpon aku, katanya.. ada hal yang penting yang ingin dia katakan padaku. Dan.. aku pun terpaksa menemuinya, dia membawa surat dari rumah sakit, isinya Clara divonis menderita leukemia stadium 3 Put. Dia pun memohon aku untuk menemaninya berobat ke luar negeri, Ya aku bersama Clara, menguatkannya dan menemaninya di rumah sakit, Clara tidak mau papah mamahnya tahu, dan Clara meminta untuk yang terakhir kalinya, supaya mas menikahinya dan mengabulkannya." Mas Erick pun sempat aku lihat menyekat sudut-sudut matanya yang mengembun.
"Mas.. menikahlah dengan Clara, aku akan datang sebagai seorang sahabat. Biarlah kuikuti arah garis takdirku, Kalau nanti kita berjodoh.. pasti Tuhan pun mendekatkan kita mas." Sama-sama kami menguatkan hati, untuk menjalani dan menikmati rasa yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Kemudian ponsel mas Erick berdering, ternyata panggilan masuk itu dari Bu Clara. Ku dengar.. mas Erick akan menemuinya.
"Puti.. tabahkan hati mu ya, apa yang dilakukan mas Erick adalah pengorbanan hatinya. Kau pun harus menerima keputusannya. Mungkin.. kalau aku yang berada di posisi mas Erick, akan melakukan seperti yang mas Erick lakukan saat ini. Dimiliki oleh wanita lain, walau tanpa cinta.. dan untuk ku, cinta tak perlu syarat, akan ku nikmati cintanya mas Erick di dalam hati saja!" Suara hati ku pun berusaha untuk menguatkan apa yang aku rasakan saat ini.
"Put.. mas, pergi dulu ya, Clara meminta aku menemaninya, Put.. yakinlah, hati mas hanya untuk kamu seorang.." kemudian mas Erick bergegas keluar ruangannya dan ketika ingin membuka pintunya, dia berbalik lagi ke arahku dan.. mengecup pucuk kepalaku, serta mengelusnya.
Aku pun sesaat ditinggal oleh mas Erick, langsung terduduk lemas di sofa empuknya. "Mas, jalanilah.. aku siap bersabar."
"Put.. pak Ricky mau kemana? Loh matamu merah put? Kamu diapain sama pak Ricky?" Bu Sesil pun langsung masuk ke ruang kerja mas Erick dan mencecar sejumlah pertanyaan kepadaku.
"Mau ketemu Bu Clara.. emm mataku memangnya merah ya Bu? Loh ini karena saya lagi sakit mata Bu!" Ku beri dia alasan, agar tidak banyak tanya lagi. "Saya lihat juga matanya pak Ricky memerah tadi Put?" Sambungnya kembali. "Yah.. kami berdua kan satu ruangan Bu, jadi.. mungkin bapak tertular oleh ku".
Hari berganti hari, mas Erick pun jarang menampakkan dirinya di kantor, sampai hari yang ditentukan pun tiba. Ku mantapkan hati ini, untuk melihat mas Erick melakukan ijab kabul kepada Bu Clara.
__ADS_1
Aku pun menghadiri acara akad nikahnya, ku lihat mas Erick dengan setelan jas lengkap beserta kopiah hitamnya sedang duduk mempersiapkan ijab kabulnya nanti. Nampaknya mas Erick sedang mencari seseorang dan matanya mengelilingi sekitar dan.. berhenti saat melihatku. Dia pun tersenyum sambil ku baca gerak bibirnya mengucap kata "terima kasih" aku pun membalas senyumannya.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Put.." kudengar mas Erick salah dalam pengucapannya dan mengelap keningnya yang bercucuran keringat, dan sekilas melihat ke arah ku. aku anggukan kepalaku dan tersenyum, supaya mas Erick tahu, aku telah mengikhlaskan dirinya untuk Bu Clara, walau berat. Kemudian pak penghulu menyuruhnya untuk mengulang kembali. "Bismillah.. saya terima nikahnya dan kawinnya Clarissa Clara binti Joshua Abigail Ramadhan dengan mas kawin tersebut secara tunai" diikuti dengan kata "Sah" oleh para saksi, akhirnya ijab kabul yang kedua berjalan dengan lancar.
Banyak kolega kerja mas Erick datang, mereka menyalami kedua mempelai. Giliran ku untuk menyalami mereka berdua, "mas..selamat ya atas pernikahannya" sambil ku jabat tangan mas Erick dan.. mas Erick pun membalas jabat tangan ku cuma erat dan lama. Aku paksakan untuk melepaskan jabatannya dan ku ucapkan juga kepada Bu Clara. "Selamat ya Bu, semoga ibu Clara berbahagia dengan pak Ricky." Sambil aku tersenyum dan menjabat tangannya. "Terima kasih Put. Puti.. aku yang menang!" dia berbisik kepadaku. Hanya ku balas dengan senyuman.
Sebelum aku meninggalkan acara akad nikah mas Erick dan Bu Clara, dari arah belakang, tanganku ada yang menarik, kemudian ku lihat mas Erick di belakangku dan mengatakan "temani aku sampai selesai acara, aku mohon Put" pintanya sambil ku lepaskan eratan tangannya. "Baik mas, ku lakukan karena permintaan mas".. "Terima kasih put".
Setelah acara selesai, aku pun masih tetap di acara akad nikahnya, sesaat kemudian aku mohon pamit kepada mereka berdua.. " Put, nanti malam hadir kembali ya, aku mohon" pinta mas Erick kepadaku. "Baik mas, aku pasti akan datang." Ku Salami tangan mas Eryck dan Bu Clara.
Malam hari nya, ku hadiri pesta pernikahan nya, ku tepati janji ku mas... Walau aku menangis melihat kamu dan bu Clara di atas singgasana bak raja dan ratu semalam.
Karena mas Erick sedang berbulan madu dengan Bu Clara, aku pun diperbolehkan untuk ijin tidak kerja selama satu Minggu. Aku pun larut dengan bermain, mengurus anak-anak ku yang memang telah bersekolah, Lia telah duduk di bangku kelas 2 dan Fano duduk di bangku kelas 1. Biarlah ku lupakan mas Erick dengan kedua malaikatku ini.
Keesokan harinya, adalah dimana satu Minggu cuti ku pun telah berakhir, ku langkahkan kaki ini menuju ruangan mas Erick. "Pagi pak" kuucapkan salam sebagai penghormatan ku kepada mas Erick yang merupakan atasanku juga. "Pagi Put, Put.. kenapa semalam kamu tidak membalas pesanku?" Masih perlu kau tanyakan itu mas? Gumamku dalam hati. "Maaf pak, aku ketiduran semalam" kemudian ku lanjutkan deng membacakan jadwal kegiatannya hari ini. "Pak, nanti ada meeting dengan PT Saritaga Indomakmur pukul siang, sedangkan pagi ini pukul 8.30 ada meeting dengan kepala direksi untuk laporan bulanan pak. Terima kasih" ku lihat mas Erick tersenyum ke arah ku.
"Terima kasih Put, aku tahu jawabanmu Put, meski kamu tidak menerangkannya.. percayalah Put, aku belum melakukan apa-apa dengan Clara!" Terangnya dan membuatku merasa heran. "Pak.. " heran, ku dibuatnya. "Mas" balasnya. Kemudian aku pun tersenyum "nah gitu dong, senyum." Mas Erick pun juga tersenyum dan kami berdua pun tertawa seketika, seolah-olah tidak ada kesedihan di antara kami.
Ketika kami saling menertawakan diri sendiri, sebuah panggilan masuk ke ponsel mas Erick berbunyi "apa? Bu Clara masuk rumah sakit mba? Oke rumah sakitnya dimana? Saya segera kesana!" Kemudian mas Erick meminta saya untuk menunda meeting dengan kepala direksi.
"Put.. ikut aku ya, sekalian kita jalan dari rumah sakit ke tempat meeting nanti siang!" Titahnya.
"Sesil, kalau ada yang ingin menemui saya dan menanyakan saya, bilang saja saya ada urusan penting!"
Setibanya kami di ruangan president suite tempat Bu Clara di rawat, ku lihat beliau masih tertidur, dengan infus yang telah terpasang, aku melihat tubuhnya yang semakin kurus dan walaupun wajahnya terlihat pucat, kecantikannya masih melekat.
__ADS_1
Dokter pun meminta mas Erick untuk datang ke ruangannya. Setelah selesai dari ruangan dokter, ku lihat mas Erick berubah air mukanya. Di terlihat sedih dan langsung duduk di sebelah ku, "kata dokter, kanker yang di derita Clara, sudah memasuki stadium akhir Put. Dan kemungkinan besar sisa hidupnya tidak sampai beberapa bulan lagi." Aku pun mencoba menguatkannya. "Sabar mas, pasrahkan kepada yang maha kuasa." Itu saja yang hanya bisa aku sampaikan ke dirinya.
Aku lihat, mas Erick menelpon seseorang, dan tak lama kemudian ternyata yang mas Erick telephone adalah papah dan mamahnya Bu Clara. "Bagaimana bisa, kamu menutup-nutupi kesehatan anak kami, Clara, kepada kami Rick!" Selidik pak Joshua. "Maaf pah, ini semua permintaan Clara, tapi.. saat ini saya tak mampu lagi untuk tidak bilang ke papah dan mamah tentang kesehatannya." Balasnya. Sebelum percakapan pribadi mereka berlanjut, aku meminta ijin untuk keluar dari ruangan.
Setelah beberapa puluh menit aku duduk di bangku tunggu. Mas Erick keluar dari ruangan tersebut dan duduk di sampingku dengan tertunduk lemas. Saat ini aku harus menguatkannya, sebagai seorang sahabat.
Tak lama.. ayah dan Mima nya mas Erick datang, dan mereka bertiga pun masuk kembali ke ruangan Bu Clara. Ku dengar dari dalam kamar, suara tangisan bersahut-sahutan. Tak terasa air mata ku pun menetes, merasakan perasaan seorang ibu yang menangis karena mengetahui sakit ganas yang di derita anaknya.
Karena ku rasakan dahaga, aku akhirnya turun ke sebuah cafe Rumah sakit. Ku duduk di sana, sambil aku video call an dengan Lia dan Fano, aku rindu mereka, saat ini di rumah nenek dan kakeknya lah tempat tinggal terbaik untuk mereka.
'Put.. kamu disini? Maaf ya, aku.. " sebelum dilanjutkannya aku berkata "sstt.. sudah mas.. aku tidak apa-apa, mas kenapa turun?" Tanya ku. " Ohh, tadi aku mengantarkan Mima dan ayah ku ke parkiran Put. dan ku lihat dari pintu masuk, kamu sedang ada disini, sekalian aku mau makan dulu Put, dari pagi.. aku belum makan. Aku perlu tenaga untuk meeting siang nanti." Jawabnya sambil melihat-lihat menu makanan yang mau dipesan.
Kemudian mas Erick naik ke atas dimana Bu Clara dirawat untuk meminta ijin ke mertua nya dan turun kembali dengan mengenakan jas lengkapnya.
Setelah meeting, mas Erick mendapatkan panggilan dari pak Joshua, dan memintaku untuk langsung balik pulang dan mas Erick pun langsung ke Rumah sakit.
"Ya Alloh.. aku mohon angkatlah penyakit nya Bu Clara." Walau ku tahu, aku pun mencintai mas Erick, bagaimanapun aku hanyalah seorang wanita, yang merasakan bagaimana rasanya perasaan Bu Clara yang sangat mencintai mas Erick.
Cinta bukan saja hanya memiliki dan dimiliki, tapi.. kedewasaan Cinta itu sendiri lah yang perlu kita pahami.
Bersambung
Terima kasih untuk admin yang meloloskan cerita fiksi eMak berdaster ini.🙏
Teruntuk pembaca setia, khususnya emak emak kece badai.. Terus tularkan kesabaran kalian untuk Puti ya.. terima kasih🙏
__ADS_1