
Part 13
Sepertinya aku perlu refreshing akhir tahun dan kali ini, tidak akan aku sia-sia kan mengajak anak-anak, bunda dan ayah. "Mau kemana nih anak-anaknya ibu?.. mumpung ibu sudah mengajukan cuti akhir tahun dan.. ibu hanya dapat sisa cuti 3 hari saja.." kutatap Lia dan Fano, yang kulihat ingin merasakan berpetualangan bersama hewan-hewan laut. "Sekalian saja, kita menginap di hotel dekat Ancol ya sayang?"
Sebelumnya..
Aku telah mengajukan cuti akhir tahun dan aproval terakhir ada di tangan mas Erick. "Put.. kamu mau cuti akhir tahun? Mau kemana sama Lia dan Fano put?" Mau melupakan si punuk merindukan bulan ini pak, dalam hati ku.
"Belum tahu pak, tergantung permintaan anak-anak." Jawabku, "kok tiba-tiba? Kalau begini, nanti siapa yang akan mengurusi aku? Nanti aku kesepian put, kamu tega?"
"Biar saya saja pak, sebelum ada Puti, kan saya yang mengurusi jadwal kegiatan pak Ricky!" Tiba-tiba Bu Sesil masuk ke ruangan mas Erick.
"Terima kasih ya Bu Sesil, pak aku mohon di setujui ya pak?" Pinta ku. Ku lihat nampak mas Erick masih mempertimbangkan pengajuan cuti ku ini. "Pak, ini ada berkas-berkas yang belum bapak tanda tangani" Selak Bu Sesil yang Daritadi bicara, tapi belum dijawab oleh mas Erick.
"Pak..maaf" tegasnya lagi, " o.. o ..oke.. taruh saja di meja saya, kamu boleh lanjutkan pekerjaanmu sil!" Pinta mas Erick.
"Put.. kamu lagi suntuk ya? Atau masih ingin melepas kangen dengan 2 malaikatmu? Kok tiba-tiba, siapa saja yang ikut? Dan kamu mau liburan kemana?" Satu pertanyaan dari nya belum aku jawab, pertanyaan lainnya mengikuti.
"Aku jawab ya mas.. aku tidak suntuk mas, hanya ingin liburan bareng ayah, bundaku dan anak-anak mas.. " ku sunggingkan senyum supaya dia tidak banyak bertanya, aku juga sedang suntuk akibat ulahnya! "Liburanku seputar Jakarta saja mas, tepatnya di pantai Ancol.. maklum, lama di kampung, jadi norak.. kangen sama Ancol mas" sambil agak aku besarkan volume suaraku, sengaja agar Bu Sesil dengar.
"Puti.. ya sudah aku setujui pengajuan cuti mu, selamat bersenang senang put.. aku berharap sih" lanjutnya.. "maaf, kalau boleh aku tahu, berharap apa mas?" Ku kira dia berharap untuk ikut dengan kami, tapi... Perkiraan aku salah "Berharap.. kamu dan keluargamu bersenang-senang." Kembali mas Erick menatapku erat.
Sehari, dua hari aku, Lia, Fano dan kedua orangtuaku liburan di pantainya Jakarta, tidak ada telpon masuk ataupun pesan masuk ke ponselku dari mas Erick. "Mungkin sekarang, dia juga sedang berlibur, entah dengan siapa? Liburan kemana? Aku mencoba menata kembali hati ku, kubiarkan serpihan-serpihan hati ku ini yang mulai ku rekatkan kembali untuknya, untuk tidak aku lanjutkan.
🌷🌱🌷🌱🌷🌱🌷🌱🌷🌱
Dulu saat masa SMA, sebenarnya aku menyukai mas Erick, namun.. karena ku tahu sahabat ku Milka menyukainya, aku pun memilih diam. Bahkan Untuk meyakinkan Milka yang sempat curiga aku menyukai mas Erick, lama kelamaan aku terima saja cintanya mas Andri. Dan saat itu, seiringnya waktu aku mulai terbiasa dengan rajutan cinta mas Andri.
Entah bagaimana Tuhan akhirnya mempertemukan aku dan mas Erick lagi, aku pun tak tahu kenapa dia mengubah panggilannya dengan kata Ricky? Setahuku seseorang yang bernama Ricky, dulu sempat membuat dia ketakutan sampai terbirit-birit.
Entah, saat ini, rasa ku sedang singgah di kapal layarnya mas Erick. Apakah aku hanya penumpang gelap? Atau aku dipersilahkan masuk ke bilik kapalnya dan merasakan kehebatan kehidupan arus samuderanya.
__ADS_1
Tak terasa aku melamuni takdir ku ini, ku pasrahkan hanya kepada Tuhan takdir hidupku kepada-NYA.
"Put.. hei.. put, kok diam saja? Ini loh ada panggilan masuk dari nak Erick!" Bunda menyadarkan ku dari lamunan kisah di masa lalu. "Oo..iya Bun, maaf, Puti melamun." Aku pun menjawab panggilan tersebut " Hallo mas.." belum sempat ku lanjutkan, suara nya bukan mas Erick, melainkan Bu Clara! "Hei Puti, kamu jauhi Ricky ya! Mas Ricky sudah mau menikah dengan saya. Jangan coba-coba berurusan dengan saya atau.. tahu sendiri akibatnya!" Dan langsung terdengar nada putus.. Tut.. Tut.. Tut.
"Itu tadi Bu Clara kan? Kenapa dia menelpon di handphone nya mas Erick? Sudahlah, aku harus fokus, tiga hari lagi sidang perdana permohonan cerai ku dengan mas Andri. Semoga berjalan dengan lancar.. Aamiin" ku pasrahkan semua kepada Alloh sang penguasa.
Aku meminta ijin ke mas Erick karena akan menghadiri sidang perdana ku, aku pun datang ke ruang sidang, ku jalani sidang-sidang berikutnya, sampai akhirnya aku dan mas Andri menjalani mediasi.
Pada mediasi kali ini, aku didampingi oleh tim hukum, sedangkan mas Andri juga didampingi dengan seorang pengacara. Pada kesempatan ini, aku masih bersikukuh pada keinginan untuk berpisah dari mas Andri, sedangkan mas Andri nampak merayu ku untuk kembali kepadanya.
"Puti.. apa salah mas.. Put? pak mediator sebelumnya kami baik-baik saja! saya masih menjalani kewajiban sebagai suami pak. Saya sayangi istri saya ini, saya tidak tahu kenapa istri saya sikapnya seperti ini pak?! Walau bagaimanapun, saya tidak mau berpisah.. beri saya kesempatan put."
Kamu salah mas, aku bukan Puti yang dulu, yang p Lohanya diam saat kau beralasan. "Aku ingin pisah mas, itu saja. Maaf telah menjadi istri yang banyak kekurangan nya. Mungkin nanti.. Seruni jauh lebih baik dariku."
Karena satu dan lain hal, persidangan perceraian aku dan mas Andri terbilang alot, satu sisi yaitu mas Andri tidak mau pisah dan di pihak aku, menginginkan pisah.
Pada babak akhirnya, karena tidak bisa mendamaikan aku dan mas Andri, para Hakim pengadilan agama, memenangkan gugatan perceraian saya.
"Mas .. terima kasih atas kerjasama mu dalam persidangan kita ini, aku harap kamu berubah.. jadilah suami yang baik ke Seruni ya mas?" Sambil ku jabat tangan mas Andri.
"Put.. maafkan mas yang terlalu egois ya.. sebenarnya aku masih sayang sama kamu put, soal Seruni.. jangan bicara seperti itu, aku malu.. ternyata Seruni biang dari kerusuhan itu semua."
"Sudahlah mas.. aku tidak mau membicarakan nya lagi, dan kalau mas ingin mengunjungi anak-anak datang saja ke rumah orang tuaku, mas!"
Sekembalinya aku dari pengadilan agama, aku langsung kembali ke kantor, tapi.. tak nampak mas Erick di ruangannya.
"Put, nyari pak Ricky? Tadi sih jalan berdua sama Bu Clara." Bu Sesil ku lihat tak nampak aura kemarahannya. "Sudah lah, jangan dipikirkan lagi put, kalau ga percaya, telpon aja ke handphonenya?"
"Tidak, tidak usah Bu, aku tunggu saja di ruang tunggu saja Bu."
Sejak perbincangannya dengan Bu Clara beberapa bulan yang lalu, aku merasakan perubahan dalam dirinya, yang semula banyak bercerita, perhatian terhadap aku.. tapi saat ini menjadi pendiam, dan kurang fokus dalam pekerjaannya.
__ADS_1
Lama aku menunggu, akhirnya mas Erick menampakkan dirinya.
"Ma..s" beliau langsung masuk ke ruangannya. Ku coba mengetuk pintu ruang kerjanya.. ketukan pertama.. tak ada jawaban, ketukan kedua pun sama.. kemudian ketukan ketiga.. barulah mas Erick menyuruhku masuk ke ruang kerjanya.
"Put, besok saya ada meeting?" Tanpa basa basi sedikit pun. "Ada mas, meeting deng.." jawabku. "Batalkan saja, besok saya ada urusan" langsung ku jawab "saya, ikut mas?", "Maaf, aku sendiri saja put..." Terlihat keruwetan dan kesedihan melingkupi wajah mas Erick, ada apa dengannya?
"Mas, ada yang mau diceritakan? aku pasti akan menjadi pendengar yang baik mas."
"Aku yakin kamu pendengar yang baik.. tapi.. aku hanya bisa berkata, maafkan aku! Ga mau nambahin beban kamu put."
"Beban apa mas? Beban ku telah lenyap.."
"Kalau begitu, kalimatku salah, aku tidak mau memberi beban baru untukmu put. Aku tahu perasaanmu, o ya bagaimana sidang perceraian kamu dan dia, put?"
"Beban ku telah lenyap, sekarang posisi dia hanya mantan suami saja mas dan bapaknya anak-anak. Tidak lebih!"
"Seharusnya itu berita gembira untuk... Aku, tapi takdir berkata lain put.."
"Untuk mas? Tapi.. takdir apa mas?"
"Maafkan aku.. satu Minggu lagi.. aku akan menikahi Clara.."
"Huh.. i.. itu.. berita bagus dong mas." Tapi.. mataku tak bisa bohong, air mata langsung lancar turun ke bawah pipi ku.
"Kamu datang ya put. Aku butuh kamu.. maafkan aku."
"Aku cinta kamu put, dari pertama kali melihatmu sampai sekarang, perasaanku tak pernah berubah, bahkan lebih put, tapi maaf.. saat ini, kesabaranmu yang aku butuhkan put. Temani aku put di hari dimana aku menikahi Clara.."
"Mas.. kenapa mas bilang cinta kepadaku, sedangkan satu Minggu lagi kamu menikah dengan wanita lain.. terima kasih atas cinta mu kepadaku! memang aku tak pantas untuk mu mas.. berbahagialah dengan Bu Clara! insyaAlloh aku datang.. sebagai asisten pribadi mu mas."
Tega sekali kamu mas, berkata demikian kepadaku. Mencintaiku, tapi hanya kata-kata dan mencintai Bu Clara, tapi dengan hatinya?..
__ADS_1
Tuhan.. berilah jawaban atas semua ini..