
Part 20
"Mas, kalau aku ketemuan sama Milka, kamu mau ikut?" Tanyaku sambil membetulkan dasinya yang agak sedikit kurang rapih.
"Wah, kayanya asik nih, reunian.. sambil mengenang masa lalu." Timpalnya sambil matanya menerawang ke atas.
"Boleh, kenapa tidak!"
"Boleh?"
"Iya, Kenapa tidak. Aku ga cemburu lah sama Milka. Kamu kan sayangnya cuma sama aku, iyakan mas?" Aku sedikit mengencangkan dasi nya dan menekan intonasi ucapan ku.
"I.. iya, sayangku, cintaku, cantik ku." Mas. Erick ku lihat agak sedikit mengendorkan ikatan dasinya.
"Warning ini loh mas! Awas keganjenan sama Milka atau cewek lainnya!" Ku arah kan pandangan tajam ku ke matanya Mas Erick.
"Upss.. aku ga ganjen. Tapi, kalau Milka yang ganjen, aku ga bisa bertindak apa-apa loh. hehehe, bercanda sayang, mana mungkin kamu tergantikan di hati Mas mu ini. Sedangkan untuk dapatkan kamu saja sampai nunggu 10 purnama loh. Kalah, kan, film AADC!" Rayunya, mungkin supaya aku tidak was-was akan kedatangannya Milka.
"Assalamualaikum, Mas Erick.." ku lihat ada seorang wanita yang seingat ku, sama persis seperti wanita yang menggandeng tangan Mas Erick waktu itu.
"Waalaikumsalam. Eh Rindu, sini masuk!" Jawab Mas Erick dan menyuruh nya masuk.
"Mas Erick, nanti pulang kantor, gak kemana-mana kan?" Rindu bertanya seketika, dan langsung ber gelendot manja ke Mas Erick! What? Ga bisa dibiarin nih kalau gini caranya. Langsung ku pasang tampang cemberut saja, supaya Mas Erick tahu, bahwa ada aku loh...
"Mmm, seharusnya sih ada, Mas ada meeting dengan klien nanti jam tujuh malam, iya kan Put?" Balas Mas Erick, seraya melepaskan tubuh Rindu dari sisi nya.
"Oh, maaf Mas, Rindu masih terbawa suasana saat kita masih kecil, dulu tuh." Ekspresi Rindu pun berubah tegang, ketika dia tahu Mas Erick seakan risih dengan perilaku nya.
"Lama tidak? Kalau aku boleh ikut, ga apa-apa kan Mas? Sekalian belajar prakteknya langsung sama masternya. Hehe" Rindu, kulihat tak kehabisan akal.
"Oo iya, Rindu, ini perkenalkan Asisten Pribadi Mas, sekaligus calon kakak ipar mu, Puti." Seketika kulihat mimik mukanya langsung berubah tidak bersahabat kepada ku. Oke lah, aku yang duluan menghampirinya dan memperkenalkan diri. "Puti, senang bisa berkenalan dengan Rindu" ku jabat tangan dan tersenyum ramah kepada nya. "Rindu, ooh i.. ini, mm pacar nya Mas Erick?" Sambil memicingkan mata nya ke aku.
Entah apa yang ada dipikirannya, tetapi semakin lama, dia semakin ku lihat memperhatikan secara menyeluruh ke diri ku ini.
Mulai dari sepatu, rok yang aku pakai, kemeja, jam tangan, sampai tatanan rambut dan riasan wajah yang ku kenakan pun tak luput dari sorotannya.
"Rindu, mau ikut kami, nanti? Apa tidak kelamaan nantinya?" Tegas ku kembali kepadanya, bukan, bukan karena cemburu.. toh ku tahu Mas Erick hanya menganggap nya seorang Adik saja. Tidak lebih!
"Ga, kelamaan kok Put. Santai aja.. aku setia kok nunggu Mas Erick.... Rapat, maksud ku." Dia pun membalas perkataanku, sepertinya berusaha membuatku cemburu..
Akhirnya, aku, Mas Erick, Bu Cecil dan Rindu beranjak dari kantor menuju kantor rekanan untuk rapat para pemegang saham.
Setelah rapat berakhir, ku lihat Rindu memang masih duduk manis di ruang tunggu kantor tersebut.
"Mas, aku pamit. Duluan ya.." niatnya, aku ingin pamit pulang duluan. Tetapi oleh Mas Erick, aku dipaksa menemaninya.
"Mas, lama juga ya rapatnya, Rindu sampai ketiduran tadi."
"Rin, sekarang kamu mau kemana sih? Ini juga sudah malam. Ga sebaiknya kita pulang saja?"
"Aku mau nonton, temani ya Mas?"
__ADS_1
"Boleh, aku ajak Puti."
"Mas.."
"Apalagi, Rindu.."
"Mmm.. gak apa lah, ya udah Puti ikut!"
Aku lihat tampangnya Rindu berubah masam lagi, ada apa dengan ini perempuan? Atau jangan-jangan dia suka juga sama Mas Erick? Astaghfirullah.. buru-buru kutepis perasaan negatif tersebut.
"Mas.." Rindu pun memanggil Mas Erick yang sedari tadi menggandeng tangan ku.
"Iya Rin, ada apa lagi adik ku.." Mas Erick mengacak-acak rambutnya Rindu, mungkin antara kesal dan gemas.. melihat polah laku Adik angkatnya itu.
"Mas, Rindu pengen deh, seperti waktu itu, Mas nemenin Rindu ke toko buku lagi. Tapi.. sini aku bisikin.." Rindu pun mendekati telinganya Mas Erick dan mengucapkan kalimat yang masih terdengar olehku. "Kita berdua saja ya?"
Hmmm.. ini anak, rasanya ingin aku pites saja! Aku ada di samping Mas Erick loh! Geram deh.
"Kata Mima kan kalau butuh apa-apa, aku tinggal menghubungi Mas Erick." Lanjutnya lagi.
"Kamu, sebaiknya ditemani kak Puti saja ya.. kebetulan kak Puti tahu toko-toko buku di sekitar sini."
"Boleh, kalau Rindu mau aku temani. Dengan senang hati." Ku kembangkan senyumku ke arah Rindu.
"Oo.. iya, nanti kalau butuh." Balasnya dengan datar.
****
"Tyasss.. lagi ngapain kamu?" Tiba-tiba Pak Rangga muncul, masuk langsung ke ruang kerja Mas Erick.
"Wow.. itu gaya salto baru? Seperti nya raga mu sedang menatap layar komputer.. atau jangan-jangan kamu punya ilmu Kanuragan? Salto tak kasat mata?" Balasnya lagi.
"Ehmmm.. Puti aja yang di tegorr, ini ada calon imamnya disini. Tegor juga lah!" Timpal Mas Erick yang langsung membuat Pak Rangga semakin menggodanya.
"Oohh.. masa? Emangnya kamu mau di imami sama Erick, Put?" Goda Pak Rangga, yang semakin membuat Mas Erick salah tingkah dibuatnya.
Mas Erick pun langsung berjalan ke arah Pak Rangga dan menggiring dia untuk langsung ke meja kerjanya.
"Bro! Jangan gitu dong nanya nya, malu nih!" Ternyata ada sisi kekanak-kanakan juga dalam sifatnya lelaki ku ini.
Tringg.. notifikasi pesan WA masuk ke ponselku. Ternyata Milka, mengirimi aku sebuah pesan. "Put, kalau malam ini pukul 7 malam, di restauran Happy, kamu bisa?" Ternyata Milka ingin mengajakku reunian. Segera ku balas, "insyaAlloh bisa Mil. Aku datang." Tak lama kemudian Milka mengirimi aku sebuah pesan. " Put, kamu masih kontakan dengan Erick?" Aku lama mendiaminya, tak langsung aku balas pesan dari sahabat SMA ku itu.
Apakah ada rasa cemburu di hati ku ini ya? Tapi, aku harus balas apa ke Milka?! bahwa sekarang, aku lah pacarnya Mas Erick..
"Hei.. kok kamu ngelamun? Ngelamunin aku ya?" Canda Mas Erick sambil mengelus pipi ku.
"Tidak mas, ini loh.. Milka tanya sama aku, apa masih kontak-kontak an dengan kamu?"
"Bilang saja yang sebenarnya, memangnya kenapa? Kan aku sama Milka dari dulu hanya berteman. Sayang... " Mas Erick tersenyum sambil menarik kursi dan duduk di sebelahku.
"Baiknya, gimana kalimatnya ya mas.." aku pun masih gelisah, karena yang ku tahu, Milka sangat suka dengan Mas Erick. Sampai dia berat meninggalkan Jakarta untuk kuliah di USA.
__ADS_1
"Ya bilang saja, Aku sudah jadi pacar kamu. Jangan terlalu pusing apa yang belum terjadi sayang.. mungkin saja Milka minta nomer aku hanya sekedar bernostalgia sewaktu SMA saja. Dan barangkali dia sudah punya pacar.."
"Tapi... Aku kan cemburu, sedikit!" Ku tekan kan kalimat sedikit itu ke Mas Erick.
"Ya sudah, kamu temani aku ya Mas.. nanti ketemuan dengan Milka." Daripada aku yang pusing, lebih baik Mas Erick saja yang mengatakannya.. dan juga, aku ingin lihat seberapa kesungguhannya dia sama aku.
Kami berdua pun pergi ke restauran yang sudah disepakati bersama. Setelah sampai ke restoran tersebut dan menuju nomer meja yang terlebih dahulu sudah di pesan oleh Milka.
Milka ternyata sudah terlebih dahulu sampai dan duduk membelakangi arah kedatanganku dan Mas Erick. Dengan ragu-ragu aku menyapanya.
"Mil.. Milkaa.."
"Hei.. putiii (sambil dia berbalik menghadapku dan berdiri) ya ampun, aku pangling sama kamu loh Put, dari ujung kaki sampai kepala woww.. branded semua."
"Kamu apalagi.. tambah cantikk Mil." Kami berdua pun saling berpelukan dan Milka terheran melihat lelaki yang berada di samping ku.
"Sstt.. itu cowok mu, Put?"
"Eehh, iya Mil. Ini Mas Erick, teman SMA kita juga." Milka pun langsung terdiam menatap Mas Erick seakan tidak percaya, bahwa yang dihadapannya adalah Erick teman SMA dulu.
"Ini Erick teman SMA yang jago main basket?" Tanya nya dengan heran sambil melirik ke arah ku.
"Iya Mil." Jawabku.
"Hallo, Mil.. iya aku Erick teman SMA, sekaligus sebagai pacarnya Puti." Milka pun salah tingkah dan langsung meminta kami duduk.
"Ehh.. duduk, silahkan duduk dulu."
Awal-awal obrolan kami terlihat kaku dan canggung, apalagi kuperhatikan Milka selalu mencuri pandang ke arah Mas Erick. Kalau sampai Mas Erick membalasnya.. lihat saja nanti!
Seperti nya aku salah langkah nih, mengajak Mas Erick untuk bergabung dengan ku dan Milka.
Ternyata kepulangan Milka ke Jakarta, karena ingin meneruskan perusahaan keluarganya. Karena di keluarganya Milka dia anak pertama dan semua adik-adik nya juga perempuan. Terpaksa dia resign dari tempat dia bekerja di USA.
"Mmm.. sayang, aku boleh pamit duluan? Soalnya Mima pesan ke aku untuk segera ke rumah nya." Mas Erick berbisik ke arah ku, setelah aku tahu, Mas Erick pun berlalu dari kami berdua.
"Sayang, kamu pakai sopir aku saja! Kalau aku naik taxi online saja ya?" Mas Erick pun mengecup keningku dan tanganku, sementara dengan Milka dia hanya melambaikan tangan saja.
"Put, bagaimana bisa kamu sekarang pacarnya Erick? Yang aku tahu kamu kan nikah sama Andri?" Dengan wajah heran dan penuh selidik, Milka menanyai ku.
"Cerita nya panjang Mil.. pokoknya aku ga selingkuh loh.." pura-pura kumanyunkan bibirku, sehingga tampak kekonyolan di diri ku ini. Dan Milka seketika tertawa melihat kekocakkan yang aku buat.
Kami pun saling mengenang cerita SMA dulu yang penuh kenangan. Tertawa-tawa, sambil tersenyum sendiri.. kalau mengingat kejahilan Milka dan aku saat masih zamannya sekolah.
Milka juga menanyakan pekerjaan ku sekarang dan Mas Erick, yang membuat Milka seperti berpikir sesuatu.
****
"Put, boleh minta no handphone nya Erick? mmm.. untuk mm.. urusan kerjaan saja Put, siapa tahu bisa kerjasama perusahaan ku dan perusahaan dia." Milka pun sambil tersenyum penuh harap kepadaku.
Aduh.. bagaimana ini? Kasih atau tidak ya?
__ADS_1
Apa benar hanya untuk sekedar urusan perkerjaan saja?..
Bingung akuu... ?!