SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
TERLAMBAT


__ADS_3

“Tidak bisa karena kau harus pergi bekerja.” Aku melenggang pergi meninggalkan nenek reot itu di sana. Siapa perduli. Waktuku hanya tinggal 15 menit lagi.


“Apa kau ingin menjadi menantu durhaka?”


“Semua permintaanmu sudah kupenuhi ma, dan kau sendirilah yang membuat kegaduhan ini.”


“Tidak! Sekarang pergilah dan beli bahan-bahannya!”


Bu Lastri menarik pergelangan tangannku secara paksa, aku menolak. Karena bagaimanapun tenaga orang muda sepertiku jauh lebih kuat dari pada tenaga manusia yang sudah berusia lebih dari setengah abad.


Ia terus menarik hingga terjadi percekokan di antara kami. Hal teruk itu terjadi selama beberapa menit hingga pada akhirnya Bu Lastri menyerah dan berangsur memegangi dadanya lalu meringis.


“Aduuuuh.”


Ya Tuhan.


Sakit jantungnya kambuh lagi.


Bagaimana ini?


Gejolak api di sekujur tubuhku memang belum pada. Namun mau tidak mau aku harus tetap menuntun nenek tua ini untuk masuk ke kamarnya dan menyuguhinya dengan obat dokter. Untung saja masih ada beberapa pasang lagi di rumah ini. Ya ampun ada-ada saja.


Memang sudah menjadi kebiasaan jantungnya kumat apabila keinginannya tiak terpenuhi. Sekarang aku harus apa? Suka tidak suka dan mau tidak mau aku memang harus memasakkan sup ayam untuk wanita ini.


Ah dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk belanja? Dan bagaimana dengan pekerjaanku sebagai seoramng jongos di rumah Pak Reno? Fix. Aku pasti akan terlambat.


...***...


Aku kembali berkeliling ria seperti setrika di jalanan setelah urusan dengan mertuaku selesai. Saat ini ia sedang terbaring lemah. Aku sudah memberinya obat tadi, biasanya dua jam kemudian kondisinya akan kembali normal.


Seorang pedagang keliling tertangkap oleh sepasang netraku sedang melayani beberapa pembeli di pojokan jalan. Mang Udin, langganan tempatku berbelanja. Aku menarik langkah ke ujung jalan menghampiri pria yang sedang menghitung belanjaan para ibu-ibu di sana.


“Eh neng Chevani.” Sapanya takkala kakiku telah berjejak di antara mereka.


“Mang, ayamnya setelah kilo sama sayuran ini dan ini.” Aku menunjuk wortel dan kol sebagai campurannya. Sudahlah tidak usah banyak-banyak, ini saja aku tidak tahu mau bayar pakai apa. Andai saja daun ubi dapat berubah menjadi uang.


“Oke semuanya Rp 45.000,- neng.”


Duh.

__ADS_1


Bagaimana cara ngomongnya ya?


Ah sudahlah.


“Ummm apa aku boleh menghutang dulu mang? Akan kubayar setelah aku berbelanja di sini lagi. Mungkin lusa.” Aku ketar ketir.


Mang Udin tampak setengah berpikir sebelum akhirnya ia mengiyakan perkataanku. Maaf mang, ini semua demi gerandong yang sedang mengamuk di rumahku.


“Setahuku kau bekerja dari pagi hingga malam, tapi kenapa masih hutang?” Seorang ibu berlipstik aduhai menyela dari sebelahku. Sudah kuduga dari awal bahwa hal ini akan terjadi.


“Iya, saya belum menerima gaji.”


“Memangnya uang mertuamu tidak ada?”


Bagaimana bisa ada dan dari mana datangnya sedangkan selama ini mertuaku itu hanya menumpang hidup saja pada menantunya ini, aku berkelit dalam hati.


“Lagipula apa yang kau lakukan hingga larut malam? Menjadi seekor kupu-kupu cantik?”


“Iya benar sekali.”


“Pasti uangnya sangat banyak.”


Astagfirullah.


Kenapa banyak sekali iblis-iblis jahat di sekelilingku?


Suara beberapa emak-emak rempong ini spontan memutuskan daun telingaku. Aku membisu, rasanya seperti ada yang ingin mencelos dari mataku. Sial! Bisa-bisanya mereka menghujat bahwa aku adalah seorang kupu-kupu malam? Tahu apa mereka tentangku? Jahannam!


“Meskipun aku seorang janda miskin, sungguh aku tak akan mungkin memberi bayiku makan dari hasil menjual diri. Didik saja mulut kalian agar tidak menggores hati orang lain, permisi.” Aku melangkahkan kaki lebar. Tanganku menyapu bagian wajahku yang sudah dipenuhi oleh titik-titik air. Tega sekali mereka. Jangan karena aku pergi pagi dan pulang larut malam mereka bisa beranggapan bahwa aku adalah perempuan nakal! Sebaiknya kuajak saja seluruh manusia yang beraa di kampungku ini ke tempat aku bekerja agar mereka tahu sumber halal mana yang memberikan penghidupan untukku.


Sabar Chevani, sabar.


...***...


Anakku sedang bermain dengan kuda poninya yang dibelikan oleh Pak Reno satu bulan lalu. Aku memang meninggalkannya tadi. Tapi kali ini aku meletakkannya di bawah karena aku tahu mertuaku tak akan mungkin menjaganya terlebih ia sedang terbaring lemah saat ini. Huh kenapa tidak mati saja sekalian?


Astaga.


Bicara apa aku ini?

__ADS_1


Aku membiarkan Pricilia bermain puas di sana. Bahan-bahan yang telah kubeli barusan langsung kubawa ke dapur untuk dieksekusi. Aku berharap semoga setelah sup ayam ini tak akan ada lagi permintaan aneh dari wanita setengah abad itu. Ah tapi mana mungkin, bukannya semakin hari permintaannya semakin banyak? Tapi yasudahlah, aku kan hanya berharap. Terkabul atau tidaknya biarlah itu menjadi urusan Tuhan.


Setelah masak, sup ini akan ditelan bulat-bulat oleh mertuaku. Ia tak akan menyisakannya untukku sebagai koki masak pribadinya. Lucu memang. Kisahku ini persis seperti serial film yang menampilkan logo Ikan Terbang. Tapi memang seperti itu faktanya, aku disiksa oleh mertuaku sendiri sepeninggal suamiku dari rumah ini. Astaga, sudah bisa dirilis menjadi film sepertinya kisah hidupku ini.


Daging ayam yang tebal membuat aku agak sedikit kesulitan memotongnya. Di rumah ini tidak ada pisau yang lebih baik selain cutter yang saat ini tengah kugunakan. Napasku terasa berat, aku membutuhkan tenaga ekstra agar badan ayam ini terbelah dua.


Krek krek krek.


“Awwwww arrrgh.” Mendadak sebuah cairan merah menyembul dari ujung telunjukku. Sial! Jariku tersayat. Sakit sekali. Aku harus cepat-cepat mengambil betadine sebelum cecair kental ini semakin membanjiri jari-jariku.


“Aduuuh.”


Kurasa belum ada 24 jam aku menginjakkan kaki di rumah ini namun segunung masalah telah tejadi pada diriku. Semalang inikah? Setelah ini apa lagi yang akan terjadi? Apakah akan ada hujan bom dari atas langit dan menimpa kepalaku hingga tewas? Huh semoga saja tidak.


Cecair kental dan non kental berpadu ketika aku menuang betadine di salah satu ruang jemariku. Goresannya cukup panjang dan lukanya lumayan dalam, sepertinya setelah ini aku akan sulit untuk beraktivitas.


Setelah urusan betadine sekaligus kapas luka ini selesai, aku melanjutkan kembali kegiatan potong memotongku yang sempat tertunda. Biarlah pelan-pelan saja, asalkan tidak ada sayatan untuk kedua kalinya. Daging, plis. Terpotonglah engkau.


...***...


Di sisi lain


Seorang bocah gembul menangis tersedu-sedu di pojokan kamar takkala mendengar penuturan papanya bahwa mamanya telah pergi dari rumah. Tidak, lelaki itu tidak menyebutkan bahwa orangtuanya ini sedang bertengkar, Ia hanya berucap bahwa Mama Farah berlibur ke rumah nenek sementara waktu.


Reno. Lelaki itu kalang kabut dibuat anaknya yang sedari tadi meronta ingin bertemu Farah. Bagimana mungkin? Sejujurnya lelaki itu juga tidak tahu di mana keberadaan istrinya. Sungguh, hatinya sangat engan untuk menghubungi nenek lampir itu. Biarlah! Biar tahu rasa perempuan itu.


Reno berjalan ke sana dan ke mari. Otaknya sumpek. Ada pekerjaan kantor yang harus segera ia selesaikan pagi ini. Kemana babunya? Kenapa sudah jam segini belum datang juga? Jika dihitung-hitung mungkin sudah puluhan kali ia menelpon wanita itu namun tidak kunjung dijawab.


Chevani, kemana dia?


...***...


Bersambung


Ikuti terus kisah Chevani ya:)


Like, vote & comment


Dukungan kalian semangat buat aku:)

__ADS_1


Sehat selalu readers 🤗


__ADS_2