SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
TERTANGKAP BASAH OLEH REFA


__ADS_3

Adabnya entah di mana, sementang dia pemilik rumah ini sesuka hatinya saja masuk tanpa permisi. Bagaimana kalau kondisinya saat ini aku sedang berhanduk-handuk ria sehabis mandi dan kebetulan tengah melintas di ruangan ini, apa tidak melotot sebesar biji korma matanya itu, ck!


“Assalamu’alaikum.” Salam kuucapkan, sekaligus menyindir.


“Jadi bagaimana?” Oh tidak peka juga rupanya, ya sudahlah.


“Apanya yang bagaimana?”


“Kau mau kan menjadi istriku?”


“Tidak!”


“Apa katamu?” Netra Pak Reno sontak membeliak, aku jadi seolah melihat orang yang sedang sakaratul maut. “Setelah sekian lama kau bertele-tele dan pada akhirnya kau menjawab tidak?”


“Kan sudah kukatakan dari kemarin-kemarin.”


“Ahhh!” Pria sinting itu tiba-tiba saja meninju dinding menggunakan tangannya sendiri dan membuat organ dalamku nyaris keluar dari tempat.


Bulu kudukku naik seketika, bulir-bulir jagung juga sudah basah di seluruh zona telapak tanganku. Mungkin kalau mentalku tak kuat pasti aku sudah pingsan kala ini. Orang yang tadi menghentak di tembok pun menampikkan wajah kecewanya dari pojokan sana, dada bidangnya langsung membentuk cekung lalu terduduk di atas sofa, napasnya naik turun.


Jadi aku harus apa? Kan sudah berulang kali kukatakan kalau aku tak ingin menjadi istrinya. Bukannya sombong, namun karena sadar diri lah makanya aku menolak tawaran itu.


“Aku sangat mencintaimu Chevani.” Sebuah suara parau terdengar kembali di telingaku. Aku ngacir ke toilet ujung untuk meletakkan kain pel dan segera kembali lagi guna menemui si pria aneh.


Hanya terpaut satu meter jarakku dengan Pak Reno sekarang. Aku berdiri di hadapannya dengan tubuh yang menggeletar hebat. Padahal kondisi di luar sangat terik, namun aku merasa seolah berada di kutub Selatan.


“A- aku hanya tak mau merusak kebahagiaan kalian.” Jawabku memberanikan diri.


“Justru semua itu akan pupus ketika kau menolak untuk menjadi bagian dari keluarga kami. Aku tidak sedang memikirkan kebahagiaanku saja Che, namun juga Refa. Kau sudah tahu bahwa anak itu tak pernah mendapat kasih sayang dari ibunya sendiri dan saat ini perempuan bodoh itu pun sudah pergi entah ke mana.”


“Lantas kau tak memikirkan diriku yang memang ingin bebas dari siapapun?” Entah kenapa setelah mendengar perkataannya barusan emosiku menjadi mencuat ke ubun-ubun. Kenapa semua terkesan egois? Lalu di mana letak kebahagiaan untukku?


“Jadi kau memang tak berniat sama sekali untuk menjadi ibu sambung bagi Refa?”


Hening.


“Jawab Che!”


Aku masih saja tak berkutik seperti patung.


“Oh aku tahu! Kau pasti masih menunggu pria yang sudah berstatus sebagai mantan suami itu kan? Mau berapa lama lagi kau menunggunya, hah! Sampai rambutmu itu memutih? Dan apa kau tahu di mana dia sekarang? Masih hidup atau mati saja pun kita tak ada yang tahu!”


Plak!


Darahku berdesir hebat menyambangi pucuk kepala. Gemuruh dahsyat bersarang di dalam dada, mataku juga sontak memanas hingga tak sengaja tangan kananku terayun dan mendarat di pipi Pak Reno sampai lebam membiru.

__ADS_1


Aku tak ikhlas! Aku tak suka siapapun menjatuhkan Hero apalagi sampai mengatakan kalau dia sudah meninggal. Heroku masih hidup, Heroku pasti akan kembali menemui istri dan juga anaknya di sini.


Aku percaya itu.


“Jaga ucapanmu!”


“Ou ternyata seperti ini seorang gadis yang pernah kutemui sedang tersedu-sedu di bibir jalan? Main fisik ternyata.”


“Kenapa? Kau tak suka? Aku bahkan lebih tak suka jika kau mengatakan bahwa pria yang kusayangi sudah meninggal dunia!”


“Oh.” Pria gila itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menahan tawa. “Jadi memang benar kau masih mencintai bahkan menunggunya hingga sekarang?”


“Iya!”


“Hahaha aku sungguh tak mengerti jalan pikirmu. Bisa-bisanya kau masih setia dengan laki-laki yang memang jelas sudah mengkhianati-“


Plak!


Plak!


Plak!


Lenganku kembali terayun ke wajahnya, kali ini lebih dahsyat.


Aku sudah tak tahan lagi! Air mataku luruh begitu saja menggenangi pipi. Aku benci! Kejadian sewaktu bersama Aren dulu kini terulang lagi dengan pria yang berbeda. Kenapa terlalu banyak orang yang sepele dengan janda? Bukannya mereka semua sudah melihat kalau selama ini aku masih bertahan hidup meski tanpa suami? Aaaaaa! Emosiku sudah tak terkontrol. Aku meraung sejadi-jadinya, tanganku mengepal seolah ingin meninju. Hingga dalam hitungan berikutnya mataku secara tak sengaja menangkap pemandangan seorang bocah gembul memperhatikan kami dari anak tangga. Wajahnya sendu.


Mampus aku!


Sejak kapan dia berdiri di situ? Apa dia melihat yang terjadi barusan?


Ya Tuhan tolong lindungi mental anak yang tak berdosa itu, kasihan dia.


“Refa.”


Gedebuk gedebuk gedebuk.


Pentofel Pak Reno menghentak di atas lantai, ia ngacir ke arah putra sematawayangnya itu tergesa-gesa. Secepat kilat kuusap kasar wajahku yang masih dipenuhi oleh rintikan air, bangkit dan langsung mengekori pria tersebut dari belakang.


“Nak, kamu di mana?”


Kakiku telah sukses berjejak di lantai atas, begitu pun dengan Pak Reno. Tertangkap basah oleh Refa membuat kami ketar ketir ga ketulungan, harapanku semoga bocah itu tak paham apa yang telah aku dan ayahnya ini bicarakan.


Ceklek.


Pintu penuh warna terbuka lebar.

__ADS_1


Aku langsung menyembulkan diri ke dalamnya bahkan sempat menubruk tubuh Pak Reno. Ruangan yang full color serta gambar mobil-mobilan ini kusapu bersih hingga tak bersisa.


Kosong.


Refa tak ada di kamarnya.


“Tidak ada.” Kataku seraya membidik mata Pak Reno, menurunkan sedikit egoku demi bocah cilik itu.


Yang diajak bicara pun tak menggubris. Kakinya sontak terayun keluar sehingga membuatku kembali mengikut dari belakang. Apa selama ini Reno mengajari anaknya itu cara bermain petak umpet yang baik? Ke mana dia? Hingga susah sekali untuk melihat batang hidungnya.


“Refa sayang. Di mana kamu nak?” Aku mengelilingi seantero bagian atas. Mulai dari sudut rumah, seluruh ruangan bahkan langit-langit gedung pun kubongkar habis demi mencari si bocah gembul. Yaa siapa tahu saja dia sedang tersangkut di atas sana.


Tapi nyatanya nihil.


Tiba-tiba saja sekelebat bayangan wajah Pricilia muncul di kepalaku. Aku jadi teringat kalau seperti ini lah kondisiku kala itu sewaktu mencari keberadaannya yang hilang diambil orang.


Napasku terpenggal-penggal, lelah sekali hanya untuk sekedar menemukan si Refa saja. Pria yang berstatus sebagai Papa dari ucul bulat itu pun tampaknya juga sudah kecapean. Terlihat sekali dari wajahnya yang merah padam berccampur peluh.


“Semua ini gara-gara kau!”


“Kenapa aku?”


Pria gila ini mulai menuduhku yang tidak-tidak. Dia duluan yang mencari masalah hingga membuatku menangis dan dia pula yang sekarang menodongku.


“Andai kau tak bersikap selebay tadi mungkin Refa tak akan mendengar percakapan kita.”


“Suruh siapa kau mengajakku bicara di rumahmu sendiri?”


“Hei! Apa kau mau kalau kiranya kubawa keluar? Kan tidak.”


“Ya setidaknya di ruangan lain seperti belakang rumah.”


“Jadi kau menyalahkanku?”


“Aku tidak menyalahkanmu tapi memang kau salah.”


“Jangan sembarang bica-“


“Hiks hiks hiks hiks huuuuu.”


“REFA?” Suaraku dan pak Reno melaung bersamaan.


...***...


Bersambung

__ADS_1


LIKE & COMMENT


__ADS_2