SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
TANPA SEHELAI KAIN PUN


__ADS_3

Di tengah kesakitan yang aku rasa, seorang bocah bertubuh balon mendadak muncul dam melayangkan sebuah krikil yang ukurannya menyamai genggaman tangan tepat pada kepala Elbra.


Bugh!


Tanpa meleset, batu mendarat sukses.


Refa menaik turunkan dadanya yang terasa sesak, dapat kutaksir bahwa ia sangat emosi takkala mendapati ibu asuhnya ini dihajar oleh orang asing.


“Pelgi talian cemua!” Teriaknya bersama tendangan-tendangan kecil.


Ringisan perih terdengar saat Elbra si rambut pirang memegangi bagian belakang kepalanya. Wanita yang sempat menyiksaku habis-habisan tadi kini beranjak pergi dengan sejuta kekesalan yang belum sepenuhnya terealisasi. Matanya memicing, seolah memberi kode bahwa urusan ini belum selesai.


“Ibu nda papa?” desis Refa dingin sebelum akhirnya kurengkuh tubuh bulatnya itu erat-erat.


“Ibu baik-baik aja kok,”


Sebenarnya sakit.


Sangat sakit.


Meskipun dicaci maki, dipukul dan dijambak-jambak sudah menjadi makananku sehari-hari, namun rasanya tak akan pernah berkurang takkala hal itu terjadi lagi. Entah dari mana ide Refa muncul, tapi saat ini aku sangat berterimakasih atas pertolongan yang diberikan oleh anak dari calon suamiku ini. Kalau dia hanya menyaksikan peristiwa kekerasan tadi dari ambang pintu, pasti lah rambut serta kulit kepalaku sudah terkelupas dari tempatnya.


Napasku kembali terbuang kasar ketika mengingat rentetan perjalan hidup yang penuh dengan derita. Kenangan indah di masa lalu telah berganti menjadi nerakanya kehidupan. Dari berjuta-juta orang yang kukenal, mungkin hanya dua puluh persennya saja yang menyayangi.


Semoga semuanya lekas berlalu, Aamiin.


...***...


Kembali membersihkan hamparan luas di dalam sebuah gedung berkelir putih. Tanganku membuka tas besar yang biasa dijadikan tempat untuk semua mainan Refa. Anak itu sedang asyik menyesap es krim cokelat favoritnya hingga tak sadar kalau ada Pricilia yang terkena lelehannya.


“Bang. Dek Pricilnya di bawah loh itu, kamu turun gih!” Perintahku pada sang bocah yang tengah duduk di atas sofa. Sedang anakku di bawahnya.


Setelah menghela napas panjang, aku langsung membersihkan tetesan-tetesan cecair gelap yang sukses mendarat di pipi kanan Pricilia.


“Besok-besok kalau mau makan es krim jangan sampai kena adeknya ya!” Seruku seraya tetap mengusap-usap lelehan cokelat itu.


Ceklek.


“Papa pulaaaang,”


Seketika pandangan kami menoleh ke arah pintu yang di pusatnya sudah tercegak seorang pria berkemeja kantor. Senyum mengembang terbit di wajahnya, sebuah paperbag hitam yang tercantel di tangan menjadi fokus mataku saat ini.

__ADS_1


“Papa. Tadi Ibu dijambak-jambak cama olang,” Refa ngacir ke arah Papanya. Es krim yang tinggal setengah itu ia campakkan begitu saja di atas lantai. Lagi-lagi menambah kekesalan tersendiri bagiku karena harus membersihkan ulang bagian yang baru saja selesai dibersihkan.


Aku juga kaget dan mengumpat di dalam hati ketika si Tabung gas mengadu ke papanya tentang persoalan pagi tadi. Aku menghembuskan desahan jengkel. Akan ada seribu pertanyaan yang sebentar lagi ditujukan untukku.


Sepasang netra pria itu membulat sempurna. Bak sedang menumpaki buraq, tiba-tiba saja ia sudah tercegak tepat di hadapanku. Kalau saja mulut si Refa tidak remes, pasti aku bisa langsung pulang ke rumah sekarang.


“Punya masalah apa kau dengan orang lain? Dan siapa dia?” sayangnya Pak Reno tipe orang yang dingin namun sangat overprotektif. Ia tak akan pernah merasa puas kalau belum mendapat jawaban yang menurutnya pas di hati.


“Aku tak mengenalnya, tapi sepertinya mereka sangat mengenal bapak,” percuma saja kalau aku mengarang cerita. Ada Refa si bocor yang akan membeberkan cerita yang sesungguhnya.


“To the point!”


Meskipun Pak Reno sebentar lagi akan menjadi suamiku, namun sikap es baloknya tak pernah hilang. Salah satu alasan yang membuat aku percaya bahwa ia tak memiliki hubungan akrab dengan wanita manapun, termasuk Elbra si rambut buntut tupai itu.


“Apa bapak ingat dengan dua perempuan yang bertemu dengan kita di butik kemarin? Mereka tadi pagi datang ke sini dan langsung menjambak-jambak rambutku. Katanya babu sepertiku tak pantas menikah dengan pria kaya seperti Pak Reno,” dengan dibantu ingatan yang masih segar, aku menjelaskan kejadian sesungguhnya ke pada pria berkemeja biru muda ini.


Belum sempat gemetar tubuhku hilang, Pak Reno langsung mengepal kedua tangannya erat. Deretan giginya merapat, rahangnya mengeras menahan amarah.


“Ini pasti ulah si Elbra wanita kobra itu!”


Wuow!


Sepertinya memang sedang terjadi sesuatu di antara mereka.


Pak Reno segera mendudukkan dirinya di atas sofa, tak menjawab pertanyaanku. Refa si pengadu kelas kakap juga mengikuti gerak Papanya guna mendekatkan jarak. Es krim yang sudah mencair bagai kubangan lumpur di atas lantai itu segera kubersihkan, kemudian ikut duduk juga di atas sofa bersama mereka.


“Besok kau harus ikut denganku ke kantor!”


“Hah? Buat apa?”


Sebuah interupsi yang membuat jantungku terpompa lebih kencang. Untuk apa seorang jongos menginjakkan kaki ke tempat terpelajar itu? Bahkan cara bersosial dengan orang-orang berpendidikan aku pun tak pernah tahu.


“Besok kau juga tahu,”


Ya Rabb! Aku ingin sekali menjerit dan mengatakan bahwa aku tak ingin lagi menjadi bahan ejekan semua teman-teman Pak Reno. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tak memiliki kuasa apapun untuk membantahnya.


“Ah iya ini untukmu,” katanya lagi lalu menyerahkan sebuah paperbag hitam ke padaku.


Aku tercengang. Apa ini? Baru kali ini rasanya seorang Reno membeli sesuatu tanpa didampingi langsung olehku. Aku meraih benda berbahan kertas itu, namun secepat kilat tanganku dihentak oleh Pak Reno.


“Bukanya di rumahmu saja!”

__ADS_1


Oke fix! Aku tak akan membantah.


...***...


Aku sontak ngeloyor takkala mendapati pintu rumah yang ternganga lebar. Hawa panas seketika menyeruak dari dada. Membuat aku semakin mempercepat langkah untuk segera masuk ke dalam sana.


Ekor mataku menyapu seisi ruang yang terlihat begitu sepi tiada penghuni. Suara sendalku kian kentara, aku menarik langkah ke arah toilet yang kutaksir sedang tidak beres.


“Apa ada hantu yang sedang mandi di dalam sana?” Derap langkahku kian mendekat. Aku melototi seisi dapur sambil meraih gagang sapu untuk jaga-jaga.


Jantungku kian berpacu penuh kewaspadaan. Perlahan-lahan.


Ceklek….


Bugh!


Bugh!


Bugh!


“Oh astaga! Aaaaaaaaaaaa,”


Sepasang kakiku sontak berlari keluar setelah menutup paksa pintunya kembali rapat-rapat. Tubuh kusandarkan pada tembok luar, kedua tanganku menutup mata yang baru saja menyaksikan pemandangan pria tanpa busana di dalam toilet.


“Aduh Gusti. Aku lupa kalau sudah memberikan pria itu kunci rumah untuk dia menumpang mandi,” kakiku semakin menggelinjang disertai deru napas yang begitu dahsyat.


Demian.


Lelaki bertubuh jenjang itu sedang asyik bermain buih sambil menggosok-gosok tubuhnya yang sempurna tanpa sehelai kain pun.


Kedua matanya juga sontak membeliak ketika tiba-tiba saja pintu terbuka dan aku menyembul ke dalamnya. Rekaman pada saat ia berusaha untuk menutupi bagian tengah ************ dengan kedua tangan semakin membayang dan tak mau hilang dari pikiranku.


Aku beranjak pergi setelah meletakkan kembali sapu yang sukses kudaratkan di atas kepala Demian. Namun belum sempat aku mengambil langkah, tiba-tiba saja pintu kembali terbuka dan menampakkan sesosok pria yang sudah menodai mataku dengan kebugilannya.


“Dem- Demian?”


...***...


Bersambung


Ada yang pernah ngalamin kaya Chevani ga? wkwkwk

__ADS_1


LIKE & COMMENT


Supaya aku semakin rajin updatenya;)


__ADS_2