SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
ADA APA DENGAN DEMIAN


__ADS_3

“Oh lihatlah! Pricilia sudah dapat enam langkah,” Aku meneriaki anakku sendiri yang sedang terhuyung-huyung di atas rerumputan anom. Senang sekali rasanya.


Hap.


Demian meraih tubuh Pricilia yang nyaris tumbang, malaikat kecilku tertawa sejadi-jadinya. Mungkin dia juga dapat merasakan kebahagiaan ini.


“Huh dia sangat lasak seperti mamanya,” pria bertubuh jenjang itu memasang wajah masam. Tangannya mengusap-usap bagian celananya yang kotor terkena tanah.


“Hei siapa bilang aku lasak!”


“Bagaimana tidak lasak? Kakimu saja terbuka lebar sehingga membuat baju kembangmu tersingkap sampai atas malam itu,” Demian mengeluarkan sebuah kalimat yang sontak membuat sepasang netraku membeliak sempurna.


Jadi dia benar-benar…


Ah, mati.


Bugh! Bugh!


“Kau mengintipku? Sialan!”


Bugh!


“Aduh aduh hahahaha. Stop Chevani, kau bisa membunuhku kalau begini,” Demian menangkis lenganku yang sedari tadi mendaratkan tinjuan bertubi-tubi pada dada bidangnya. Bagaimana kalau dia memang benar-benar telah menggerayapi bagian sensitifku? Aaaaargh!


“Oh sungguh aku hanya bercanda hahahaha,”


“Tidak! Kau pasti sudah menodai kesucianku kan?”


“Memangnya janda sepertimu masih suci?”


“Demian! Kau benar-benar membuatku marah! Rasakan ini,”


Gedebuk!


“Aduuuuuuuh….”


Aku berteriak histerik takkala sebuah benturan keras terasa di ubun-ubun kepalaku. Aku meringis. Niatku untuk memukul Demian malah jadi boomerang tersendiri ketika ia berhasil mengelak dan membuat badanku terhuyung ke depan lalu menabrak pohon. Sakit sekali.


Pandanganku jadi buram. Di mana aku?


“Che! Chevani! Apa kau baik-baik saja?” kusadari sebuah lengan kokoh membawa tubuhku ke dalam rengkuhannya. Denyut hebat menjalar di pucuk kepala.


“Sayang bangun sayang. Ayo buka matamu,”


Bau tubuh khas pria menyeruak di indra penciumanku. Dan kata itu? Persis seperti saat Hero membangunkanku dari lelap panjang di setiap paginya. Aku tak dapat mencerna dengan jelas, wajahnya terlihat sangat buram. Pria itu terus mengguncang-guncang tubuhku dalam peluknya.


Aku terus memejamkan mata selama beberapa saat. Setelahnya, barulah bisa kulihat dengan jelas raut lelaki bermata cokelat yang sedari tadi menyebut namaku tiada henti.


“Jangan khawatir. Hanya benturan biasa,” Aku berseru seraya membangkitkan tubuh. Tampak Pricilia yang tiada bergeming melihat ibunya merasakan denyut yang luar biasa.


“Apa masih sakit?” Demian terus mengusap-usap puncak kepalau lembut. Sesekali hembusan angin keluar dari mulut mintnya.

__ADS_1


“Sedikit,”


Bugh! Bugh!


“Awwww,”


“Hei kau ini gila apa!” mataku terbuka lebar. Lenganku seketika terayun meraih kepala Demian yang kali ini malah dijedotkannya ke batang pohon. Persis di mana saat kepalaku tadi terbentur.


“Kau merasakan sakit karena pohon ini. Maka aku juga harus merasakan hal yang sama,”


“Kenapa?”


“Agar kau tak merasakan sakit itu sendirian,” suara Demian terdengar berat.


Aku terperangkap dalam dimensi aneh. Sebuah kalimat indah, sukses menerobos hatiku hingga ke dasar. Seolah rasa sakit ini, tidak aku sendiri yang menanggung.


“Berhenti melakukannya, karena sakitku juga sudah hilang,” terpaksa aku berbohong agar Demian tak melakukan hal bodoh itu kembali. Apa dia tidak tahu kalau itu sama saja dengan menyakiti diri dengan sengaja? Huh.


“Kau yakin?”


“Iya,”


“Baiklah,”


Kulihat bayangan wajah tampan itu tersenyum ke arahku. Sesekali tangannya memegangi pucuk kepala yang kutaksir pasti sedang nyeri. Lelaki yang sangat aneh. Bisa-bisanya melukai diri sendiri demi seorang wanita yang bukan siapa-siapanya.


Ah, aku bahkan hampir lupa kalau tadi dia sempat memanggilku dengan kata sayang. Ngga mungkin! Aku harus memastikan ulang agar tidak menjadi pd tingkat akut di kemudian hari.


“Iya,” Demian menarik kedua sudut bibirnya.


“Kenapa kau memanggilku seperti itu?”


“Ya, karena aku menyayangimu,”


Belum sempat nyeri kepalaku hilang, kini salah satu organ bagian dalamku harus bekerja lebih kencang lagi setelah mendengar penuturan Demian barusan. Dia memandangiku penuh arti. Apakah ini yang dinamakan dengan pubertas ke dua?


Ah astaga! Jangan gegabah Chevani. Pria yang begitu kau kenal saja bisa mengkhianatimu, apalagi hanya seorang lelaki yang baru kau kenal selama tiga minggu. Jangan mau terperangkap ke lubang yang sama.


Demian membiarkanku bisu lama-lama sebelum akhirnya ia menarik tubuhku dan juga Pricilia ke dalam pelukannya. Tak ada ubahnya seperti seorang suami. Dia mengasihiku dan juga anakku dengan penuh arti.


“Jangan karena istrimu sedang jauh, maka kau mencoba menggangguku ya!” Aku melirik Demian. Sudah saatnya aku tersadar dari alam angan.


“Chevani,”


“Hm,”


“Bagaimana kalau kita menikah saja?”


“Apa? Hei! Kurasa kau ini adalah pria yang baru saja kabur dari rumah sakit jiwa,” aku melepas paksa rengkuhan Demian, namun Pricil masih setia bernaung di sana. Kudengar dia lagi-lagi melayangkan kalimat yang membuat bulu kudukku naik. Aku bahkan sampai mengira bahwa Demian adalah lelaki yang terkena gangguan jiwa.


“Apa ada setitik kebohongan yang tersirat dari mataku?” kudengar Demian menghirup napas panjang.

__ADS_1


Aku tak bisa menyikapi semua ini secara singkat. Bahkan denyutan di dadaku juga tidak kunjung berhenti. Kakiku ingin beranjak, tak mau berlama-lama dalam kondisi menegangkan seperti ini.


“Mau ke mana?” tanya Demian seraya menarik pergelangan tanganku. Pasti akan ada banyak kalimat-kalimat aneh lagi kalau kami terus di sini. Kulihat sekeliling, seantero lapangan hijau ini mulai gelap tertutupi oleh awan hitam.


“Ayo pulang! Malam sudah beranjak,” kataku sambil menarik balik lengan Demian.


Pria itu tak bergeming. Mungkin ada benarnya juga kami harus segera pulang. Pricilia bisa masuk angin kalau terus-terusan terkena angin malam.


Besoknya kudapati pintu dan jendela rumah Demian masih tertutup rapat. Aneh. Biasanya kalau pagi-pagi begini pasti dia sudah heboh menggedor pintu rumahku atau bahkan hanya sekedar ngintip-ngintip dari balik pohon.


Apa belum bangun? Batinku.


Bukan Chevani Agra namanya kalau tidak menyelidiki hingga kandas. Aku beringsut ke rumah Demian dan langsung mengetuk pintunya dari arah luar.


Tok tok tok.


Satu, dua hingga tiga ketukan tiada kunjung ada jawaban.


“Demiaaaan!” teriakku, kemudian mencoba melihat dari jendelanya.


Ah sial! Ada gorden yang menutupi.


Mungkin masih tidur. Akhirnya aku pun kembali memasuki rumah guna memandikan peri kecil kesayanganku. Tidak terasa seminggu telah berlalu. Besok adalah hari di mana bagiku dan Pak Reno mengucap sebuah janji suci.


Ya Rabb.


Semoga akan ada kebahagiaan setelah ini.


Direktur salah satu perusahaan terkemuka di Kota Batam itu juga melarangku untuk ke rumahnya hari ini. Semua sudah dipersiapkan termasuk gaun pengantin. Kami akan melaksanakan resepsi di sebuah gedung yang sengaja di sewa untuk pesta selama tiga hari tiga malam. Huh lama sekali. Pasti badanku akan nyeri semua.


Dua puluh menit berlangsung. Jam membidik angka sembilan tepat. Aku kembali keluar rumah untuk memastikan Demian yang sedari tadi tiada menjawab panggilan dari tetangganya ini. Namun anehnya, keadaan gedung soft color itu masih sama seperti semula.


Kembali aku mengetuk pintunya, dan sahutan tiada kunjung kuterima. Hingga pada akhirnya aku memberanikan diri untuk menarik knocknya yang Alhamdulillah tidak terkunci.


Hah! Tahu begini pasti aku sudah masuk dari tadi.


“Dem,” wajahku langsung tersapu oleh dinginnya atmosfer ruangan. Kursi dan segala barang lainnya tertata rapi. Aku memindai satu per satu sudut ruang dari rumah itu, hingga dalam derap langkah berikutnya mataku menangkap sebuah pemandangan pintu yang ternganga lebar.


Aku memberanikan diri melangkah ke sana. Tempat ini sungguh tak berbeda dengan goa hantu yang pernah kumasuki sewaktu SMP dulu, seram. Perlahan-lahan, kemudian betapa bergemuruhnya dadaku ketika menyaksikan seorang pria terbujur kaku di atas ranjang dengan buih putih yang membanjiri pipi kanannya.


“Demian! Kau kenapa?”


“Toloooooooong…"


...***...


Bersambung


LIKE & COMMENT


Semoga kalian sehat selalu 🤗

__ADS_1


__ADS_2