
Seolah tengah berada di sapuan Gurun Sahara aku mengilap peluh yang sudah banjir di hamparan dahi, menetes deras dan besar seperti jagung. Sebenarnya ini masih pagi namun matahari seakan tak ingin diajak berkompromi. Huft! Bagaimana jika tengah hari nanti? Bisa jadi gosong terpanggang kami semua.
Aku menyisir rambut Refa yang hitam nan lebat ini. Memandikannya saban pagi sudah menjadi aktivitasku sedari dulu. Pak Reno juga ada di sini, pria itu memakai sepatu pentofel gelapnya hendak berangkat kerja.
Ia tak lagi menggiringku ke dalam kamar seperti kemarin bahkan tak juga mau bercakap panjang lebar di hari ini. Kalau kutaksir sih mungkin memang dianya saja yang sedang malas untuk mengobrol dengan jongosnya ini atau mungkin dia malu karena kejadian kemarin pagi.
“Papa temalam Mama puyang loh!”
Aduh!
Si tabung gas ini malah nyari perkara. Sumpah aku gamau banget kalau sampai Pak Reno bertanya yang aneh-aneh padaku lagi. Refa memang tak bisa menjaga mulut, apapun yang terjadi pasti ia ceritakan pada Papanya.
“Iya Papa sudah tahu.” Pria tegap itu menyela dari arah depan.
Loh! Jadi dia memang sudah tahu kian?
Fix! Berarti Bu Farah sudah menceritakannya.
Aduh kira-kira mereka membicarakan apa ya? Kenapa aku yang jadi jedag jedug begini. Apa Bu Farah mengatakan bahwa aku menerima lamaran Pak Reno atau bahkan dia akan semakin mempercepat resepsi pernikahan kami? Ah semoga saja tidak karena memang aku belum menerima ataupun menolak ajakan pria bertubuh jenjang itu.
“Atu mau dibeyikan mobil lagi cama Mama.”
“Ohya?”
“Iya Pa. Atu mau naik mobin cama Dek Plicil kalna tata Mama cebental lagi Bu Tevani tinggan di lumah tita.”
Omegooooot!
Wajahku sontak merah padam.
Bisa-bisanya si buntelan kapas satu ini berbicara seperti itu! Kan aku jadi malu. Lagipula kenapa dia harus bawa-bawa nama Pricil sih, aku mendadak sedih.
“Iya bahkan nanti Papa juga bakal belikan Dek Pricil mobil juga biar kalian bisa sama-sama main.”
Deg!
__ADS_1
“Benelan Pa?”
“Iya.”
“Dek Plicil tan pelempuan dadi dia beyitan boneta aja yaaa.”
“Oh ya sudah kalau begitu sayang.”
Aku beku seolah ada bongkahan es yang berselimut pada permukaan tubuh kecilku. Bagaimana mungkin Pak Reno bisa berbicara seyakin itu seakan aku memang benar-benar mau menikah dengannya. Dan anehnya lagi dia sama sekali tak ada menatap wajahku, aku jadi semakin kesal. Pasti dia sedang menyindirku saat ini.
Apa memang sudah tak ada niatan lagi bagi kedua insan itu untuk memperbaiki hubungan? Apa memang sudah tak ada lagi rasa iba terhadap Refa selaku anak mereka berdua? Dan apa memang seorang Chevani Agra yang akan meneruskan estafet dari istri seorang direktur kaya? Ya Tuhan aku seperti berada di dunia lain.
Mereka terlalu menganggap enteng sebuah pernikahan dan menjadikan perceraian adalah hal yang lumrah. Lagipula Pak Reno itu adalah orang terpandang, lantas bagaimana mungkin kalau seluruh rekan-rekannya tahu ia menikahi pembantunya sendiri? Pasti akan menjadi bahan olokan dan sakit hati tersendiri bagi diriku.
Aha! Aku punya ide.
...***...
Sore ini tak lagi ada pekerjaan. Aku hanya duduk diam sembari menunggu jam pulang tiba. Refa juga sudah mandi dan makan, saat ini anak itu tengah asyik menyusun puzzle hewan di atas sofa.
Aku memiliki sebuah ide gila yang kemungkinan akan membuatku kehilangan segalanya. Tapi sungguh demi apapun aku melakukan ini semata-mata agar anak gendut itu tak kehilangan kedua orangtuanya dan Pak Reno maupun Bu Farah kembali bersatu sedia kala.
Entah apa yang akan jadi resikonya nanti yang penting aku usaha saja dulu. Jika kelak aku dibenci karena telah menyebabkan kerusuhan ini maka sebisa mungkin aku mencoba untuk ikhlas karena aku yakin suatu saat mereka pasti akan mengerti.
Bukannya aku sok oke sampai-sampai bisa menolak ajakan seorang direktur kaya untuk menikah dengannya. Namun aku hanya tak ingin berbahagia di atas penderitaan orang lain. Aku pernah berada di posisi Bu Farah dan rasanya kala itu lebih baik aku mati ketimbang mengetahui bahwa pria yang sangat kusayangi lebih memilih perempuan lain ketimbang istrinya sendiri.
Maafkan aku Pak Reno. Terimakasih atas semua kebaikan yang telah engkau berikan padaku. Mungkin kalau tak ada kau maka aku sudah diculik dan dieksekusi di semak-semak lalu dibunuh bahkan mayatku pun dihanyutkan ke aliran sungai. Aku berjanji suatu saat nanti akan kubalas semua jasa-jasamu tapi tidak dengan cara menjadi ibu sambung bagi Refa. Terlepas dari betulan cinta ataupun hanya sebagai pelarian yang jelas aku memang tidak bisa menikah dengan suami dari nyonyaku sendiri.
Tanpa terasa bulir-bulir bening kristal berhasil lolos dari pelupuk mata. Aku mendekatkan jarak pada Refa kemudian langsung menciumi anak itu di setiap inci. Semoga suatu saat bocah cilik ini dapat benar-benar merasakan sentuhan hangat dari seorang ibu. Semoga bakat debater yang sudah ada dalam dirinya sejak dini menjadi terealisasi di masa depan. Meskipun tak ada hubungan darah namun aku sudah menganggap Refa sebagai anak kandungku sendiri.
“Ibu tenapa tium-tium atu?” Yang dibatinkan pun menatapku keheranan.
“Memangnya ga boleh?”
“Boyeh.”
__ADS_1
“Ibu peluk ya!”
“Iya.”
Bugh!
Emphh empuk sekali badan anak satu ini. Aku semakin haru, sendu bahkan kelabu. Aku terpaksa melaksanakan ide gila bin bodoh ini demi keutuhan keluarga mereka.
“Besok kalau Ibu belum datang abang mandi sendiri dulu ya. Bisa kan?”
“Ibu telat ya?”
“Iya karna Ibu banyak urusan.”
“Iya atu bica kok mandi cendili.”
“Anak pintar.” Kataku seraya tetap memeluk Refa.
Bermenit-menit kami dalam posisi seperti itu hingga jam membidik angka lima tepat. Aku berisngut ke dalam kamar dan mengkemas barang-barangku di sana. Baju yang pernah dibelikan oleh Pak Reno untukku dan juga Pricilia masih awet di dalam lemari bahkan bungkusnya pun belum tersentuh. Dan boneka beruang gendut yang kerap disapa Refa dengan Sukinem itu kumasukkan juga ke dalam lemari agar tubuhnya tak kena debu tembok.
Lima belas menit lagi pasti Pak Reno sampai dan aku bisa segera pulang.
Oh Tuhan maafkan hamba-Mu yang tidak tahu balas budi terhadap orang yang telah menolongku ya.
Aku janji suatu saat pasti kembali.
...***...
Bersambung
LIKE & COMMENT
Dukungan kalian semangat buat aku :)
Sehat selalu yaaa 🤗
__ADS_1