SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
PERGI


__ADS_3

Kekhawatiranku semakin bertambah takkala pria itu mulai menjauh dan enggan menoleh. Hatiku seolah merasakan sakit yang ia rasa, begitu sebah. Sebagai seseorang yang tak ingin kehilangan, aku langsung menarik lengan Demian dan kembali menyeretnya ke beranda ruko tempat semula. Beberapa pasang mata memperhatikan kami, selebihnya mulai pergi karena kilatan petir tengah beradu dengan gelapnya bumi.


“Berbahagialah karena kalian saling mencintai,” tampak Demian mengusap kedua sudut matanya. Aku jadi iba, dia benar-benar lemah kali ini.


“Kau ini kenapa? Tidak mungkin cinta bisa tumbuh hanya dalam waktu satu minggu,” tatapanku tak berkedip. Tak ada yang kucari selain titik kebohongan di depan sana.


Ah, sialnya netra sendu itu menunjukkan suatu kebenaran.


“Tak bisa kukatakan mengapa aku sangat mencintaimu. Dan rentang waktu? Aku hanya merasa bahwa aku pernah mengenalmu sejak dahulu kala,”


Aku bungkam, semakin tidak mengerti dengan perkataan Demian. Sepasang mata Pricilia bernyala terang ketika menyaksikan dua orang dewasa sedang beradu mulut di depannya. Kasihan anakku, lagi-lagi dia harus kembali terjerumus ke dalam permasalahan hidup ibunya sendiri.


“Tapi apapun yang kukatakan, sudah tiada berarti lagi bagimu. Kau akan menikah besok, dan biarkan aku mencari kediamanku sendiri,” pria yang sedari tadi kucengkram erat jemarinya kini mulai melangkah, melepas paksa peganganku.


Aku sendu bukan main, rasanya seperti kehilangan Hero dulu. Punggungnya mulai menjauh dan seketika itu pula pikiranku kian berkelebat ke mana-mana. Aku sudah terbiasa melihat wajahnya setip pagi, bahkan tak jarang juga dia bermain dengan anakku. Pak Reno selaku calon suamiku saja belum pernah barang sekalipun menimang-nimang Pricilia. Dan Demian? Ah, dadaku semakin nyeri mengingat semua bentuk perhatiannya.


“Demian tunggu! Aku akan membatalkan pernikahanku dan akan menerimamu menjadi suamiku,”


Tes.


Tes.


Tes.


Tiba-tiba saja hujan mengalir dari kaki langit menuju bumi dengan hebatnya. Secepat mungkin aku menyalakan payung, menenggelamkan anakku dalam gendongan.


Di kejauhan sana, seorang pria yang beruntungnya masih bisa mendengar launganku spontan menghentikan langkah. Kepalanya menoleh, menatapku lekat-lekat meskipun wajah itu kian samar.


Apa?


Apa yang baru kukatakan tadi?


Membatalkan pernikahanku dengan Pak Reno yang akan diselenggarakan esok hari?


Astagfirullah.


“Coba ulangi sekali lagi,” spot jantung kembali menyerang takkala seorang lelaki bertubuh jenjang mendaratkan kakinya persis di tempat aku berdiri.


Dunia seakan merasakan kegundahanku malam ini. Air itu semakin deras, percikannya membasahi sepasang kakiku yang hanya terbalut oleh sendal jepit.


“Aku akan membatalkan pernikahanku dengan Pak Reno dan memilihmu,” ucapku sekali lagi, dan di saat itu juga air mataku mendarat di pipi.

__ADS_1


Ya Tuhan.


Apa yang baru kulakukan?


Aku telah menumbuhkan semangat seorang pria dengan mematahkan cinta yang satunya lagi.


Apakah aku akan berdosa besar setelah ini?


Tapi sungguh, setelah Demian memutuskan untuk pergi jauh rasanya aku sangat tak ikhlas. Aku lebih baik kehilangan Pak Reno yang sudah kukenal selama beberapa bulan daripada Demian, seorang pria yang baru saja membersamaiku selama tujuh hari lamanya. Aku bingung, seakan-akan ada cinta yang mulai tumbuh di relung hati.


Maafkan aku Pak Reno, maafkan aku si tidak tahu terimakasih ini.


“Kalau begitu kita harus pergi sekarang,” Demian meraih pergelangan tanganku yang langsung terbalas dengan tangkisan,


“Mau ke mana?”


“Kita harus pergi jauh, karena Reno pasti akan mencarimu hingga dapat,”


Bergidik ngeri bulu kudukku ketika mendengar penuturan Demian barusan. Pergi katanya? Ya Rabb. Haruskah aku meninggalkan kota kelahiran demi seorang pria yang baru saja kukenal?


Aku menilik tangan kekar Demian yang senantiasa menggenggam jemari kecilku. Tangan sebelahnya lagi melambai-lambai kepada sebuah kendaraan berkelir putih yang kebetulan tengah melintas di depan kami.


“Kita mau ke mana?” Demian menoleh, raut pucatnya kian menambah kesan semakin putih pada wajah itu.


“Nanti kau juga tahu,”


“Lalu bagaimana dengan rumah kita? Pakaian?”


“Kita tidak memiliki tunggakan dengan yang punya kontrakan bukan? Dan untuk pakaian, aku akan membelikan yang baru untukmu,” jawab Demian dengan entengnya.


“Kalau orang-orang pada nyariin kita gimana? Atau mungkin Pak Reno,”


“Berikan padaku hpmu,” Demian menampung tangannya ke arahku, dan kuserahkan benda pipih itu kepadanya.


Kletek kletek kletek.


“Hei, kenapa kau buka casingnya?” pria itu terus saja mengkotak-katik barang berharga milikku. Dan setelah menunggu tak begitu lama, ia mengeluarkan kartu yang ada di dalam dan langsung dipatahkan.


“Oh astaga Demian! Kenapa kau patahkan?”


“Percayalah, besok akan ada ribuan pesan dan panggilan jika kau terus menggunakan nomor ini. Lagipula kau tak memiliki keluarga kan? Lalu apa pentingnya nomor ini?”

__ADS_1


“Dari mana kau tahu kalau aku tidak mempunyai keluarga?”


Deg!


Demian spontan terkesiap mendengar perkataan itu. Alisku saling tertaut menyaksikan sepasang matanya yang membulat kunci. Aku tak pernah memberitahu soal privasi, lalu dari mana dia bisa tahu?


“Hahaha, padahal awalnya aku hanya menebak,” lanjutnya dengan tawa yang dibuat-buat. Semakin hari Demian semakin aneh. Tapi ya sudahlah, ada benarnya juga yang dia katakan.


“Tapi bagaimana dengan sahabat-sahabatku?” entah kenapa tiba-tiba saja wajah Elin, Neni dan Ratna berlarian di dalam kepalaku. Ya meskipun Aren bilang kalau Ratna itu penghianat, tapi aku tidak akan pernah mau percaya begitu saja sebelum ada bukti yang kuat.


“Itu mudah. Nomornya tersimpan di dalam perangkat hp kan? Kau masih bisa menghubungi mereka semua dengan nomor baru. Tapi nanti, tidak sekarang,”


Aku diam tak menjawab. Benar kata orang-orang kalau kita akan melakukan apapun demi yang dicinta. Dan kurasa asumsiku tentang tak akan ada cinta yang tumbuh hanya dalam kurun waktu satu minggu kutarik kembali. Faktanya, aku benar-benar mencintai Demian kali ini.


Bodoh karena meninggalkan Pak Reno yang begitu kaya? Eum kurasa tidak juga. Pria itu memang memiliki segudang harta, namun jika dibandingkan dengan Demian, dia kalah jauh dari segi cinta. Aku tak butuh rumah mewah ataupun keberlimpahan. Kurasa perempuan mana pun akan lebih memilih dicintai dengan tulus daripada diberikan segunung kekayan namun surut akan kasih sayang. Untuk urusan keperdulian, Demian jagonya. Toh, selama ini Pak Reno juga selalu bersikap dingin.


Pikiranku terus bermain hingga akhirnya terhenti takkala mataku mendapati sebuah tempat yang berisikan bus-bus besar penuh warna.


Hei, ini terminal.


“Ayo turun,” Demian membimbingku setelah menyerahkan beberapa lembar rupiah pada supir taksi. Hujan mulai reda, hanya tersisa rintik-rintiknya saja yang menemani perjalan setiap manusia yang berada di tempat ini.


“Kita benar-benar akan meninggalkan Kota ini?”


“Apa ada sesuatu yang mewajibkanku untuk mengembalikanmu?”


“Aku kan hanya bertanya,” bibirku manyun beberapa centimeter yang dibalas dengan gelak tawa oleh Demian.


“Iya sayang. Kita akan pergi sejauh mungkin dari Kota ini, dan akan memulai kebahagiaan yang baru di sana,” tangannya mengelus lembut pucuk kepalaku.


Entah kenapa, panggilan itu mengingatkanku pada sosok Hero.


...***...


Bersambung


Hai hai hai


Gimana perasaan kalian setelah tahu kalo Chevani lebih memilih pergi bersama Demian?


COMMENT DI BAWAH

__ADS_1


__ADS_2