SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
ORANG BARU


__ADS_3

“Apa ibumu akan datang ke pernikahan kita nanti?” aku menoleh ke arah Demian yang tengah menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


Sepulang bekerja tadi aku langsung beranjak ke dapur Demian untuk memasak tumis cumi favoritnya. Hitung-hitung memberi hiburan atas dirinya yang belum menemukan job baru di hari ini.


“Ibuku tidak datang,” sebuah jawaban yang membuat diriku spontan bertanya-tanya.


“Kenapa?”


“Batam ke Jakarta sangat lah jauh Che, mana mungkin ibuku sanggup,” aku membenarkan dalam hati. Aku saja yang masih mudah dan sehat seperti kehilangan pinggang kemarin, apalagi wanita yang sudah lansia.


“Eum begitu. Oh ya, boleh aku melihat foto ibumu?” lama-lama aku jadi penasaran. Lucu sekali kalau seorang calon menantu tidak mengetahui bagaimana wajah mertuanya nanti.


“Oh sayangnya aku tak menyimpan fotonya di ponsel,”


“Huh! Kau ini anak macam apa? Dasar!” aku kesal. Bisa-bisanya Demian tak menyimpan wajah ibunya sendiri. Kalau begitu, pasti butuh waktu lama untukku bisa melihat mertuaku yang saat ini tinggal di Kota Batam. Aku belum berani ke sana, takut kalau tiba-tiba saja Pak Reno melihat lalu menghukumku atas kejadian kemarin.


“Mama mama mama,” Pricil tiba-tiba saja mengoceh, tangannya menunjuk entah apa di depan sana. Ya Tuhan, bahkan aku sampai tidak sadar kalau anakku itu merangkak nyaris sampai ke ambang pintu.


Aku sontak ngacir ke depan, mengikut ke mana arah bidikan jari telunjuk Pricil. Bukannya sesuatu yang penting, aku malah melihat remaja aneh itu lagi di depan sana. Ia memasang wajah berkerut.


“Ada apa?” tanyaku pada Ibil yang tercegak di depan beranda. Entah kenapa, sering sekali dia menganggu kehidupanku dan juga Demian.


“Mba bisa bantu aku buat cat rumah tidak?”


“APA?”


Gila! Dia kira aku ini super hero? Lagi pula apa tak ada tukang di sekitaran sini yang bisa dipakai jasanya untuk itu? Ck!


“Kau ini ada-ada saja, aku kan wanita,” gerutuku kesal, dan Ibil semakin membuat wajahnya kusut. Aku benci itu.


“Mas Demian ada kan? Suruh dia saja mba,” perkataan wanita ganjen satu ini membuat tensiku naik. Sudah kuduga kalau pada akhirnya dia akan meminta tolong ke pada calon suamiku sendiri.


“Kenapa tidak mencari tukang di sekitaran sini saja?”

__ADS_1


“Mas Demian kan tukang,”


“Tapi tidak tidak pandai mengecat rumah,” terlepas dari bisa tidaknya sebenarnya aku kurang tahu. Aku berkata seperti itu agar Ibil segera pergi dan tak mengharapkan Demian lagi. Namun tiba-tiba saja orang yang dicarinya muncul dari arah dalam.


“Ada apa lagi ini?” raut geram Demian selalu ia tunjukkan takkala bertemu dengan si wanita ganjen.


“Dia ingin mengecat rumah katanya dan minta bantuan kamu,” sebelum Ibil menjawab, aku lebih dahulu memberitahu Demian apa maksud tujuannya mendatangi kami di tempat ini.


“Maaf Bil, kaki saya sedang sakit. Tidak bisa manjat,” Demian bohong. Aku yakin sekali dia melakukan ini semua juga karena menghindari permintaan Ibil.


“Tapi rumah saya udah kusam banget mas. Saya malu kalau temen-temen datang ke sini,”


“Lebih baik cari orang lain saja, permisi,” pria yang tampaknya sudah tersulut emosi itu langsung menyembulkan diri ke dalam rumah. Aku mengekor, dan membiarkan Ibil berdiri di depan sana.


Lagi pula permintaannya aneh sekali. Apa dia tidak merasa bahwa tetangganya ini tak menyukainya? Kurasa mukanya itu muka tembok. Sebenarnya Demian pernah ingin mengajakku pindah dari sini karena kelakuan Ibil yang sering sekali meresahkan kami. Namun kalau pindah, maka kartu kependudukan kami harus diurus ulang, otomatis pernikahan kami juga akan tertunda. Jika Ibil masih senantiasa melakukan ini, maka mau tak mau jika aku sudah sah mnejadi istri Demian nanti, maka kami harus segera meninggalkan rumah ini. Entah kenapa hatiku berkata kalau dia bukan dari golongan perempuan baik-baik.


...***...


Huek!


Perkataan Ozon sontak membuat makanan yang berada di dalam lambungku ingin keluar semua. Ia menyodorkan sendok yang berisi potongan kentang di atasnya.


“Buat mas saja, aku sudah sangat kenyang,” lebih baik aku tidak usah makan sekalian dari pada harus disuapi olehnya.


“Yakin?”


“Iya,”


Ozon tak lagi bersuara. Ia melanjutkan kegiatan makan yang ditemani olehku dan juga Pricilia. Kasihan, begitu dalam rasa cintanya terhadap almarhumah sang istri. Sampai-sampai pakaian setiap harinya saja pun milik wanita yang sudah meninggal sejak lama itu.


“Kenapa harus pakai baju ini?” aku memperhatikan Ozon dari atas sampai bawah. Daster hunga-bunga dengan warna mencolok membungkus tubuh gembulnya.


Ozon spontan menampilkan wajah cemberut, lalu berkata “ini cantik,” dan aku tersenyum miris.

__ADS_1


Aku adalah pengasuhnya, setidaknya mulai sekarang aku harus memberikan pengertian agar ia tidak berkelakuan seperti ini lagi. Walaupun dia menjengkelkan dan banyak tingkah, namun di relung hatiku yang paling dalam sebenarnya aku menaruh rasa kasihan terhadapnya.


“Tapi ini kan buat perempuan,” lanjutku lagi yang masih tetap dibalas dengan wajah tidak suka oleh Ozon. Mulutnya manyun, matanya menatapku tajam.


“Ini punya Herlina. Jangan diganggu!”


Bugh!


Sebuah pukulan keras dengan kepala sendok mendarat tepat mengenai punggung tanganku. Agak sedikit sakit, namun tak apalah, toh dia juga sedang tidak dalam keadaan sehat mental. Herlina adalah almarhumah istrinya yang telah meninggal dua tahun lalu akibat kecelakaan. Kemarin Bik Nah sempat cerita kalau sebenarnya Ozon itu baru menikah, dan ketika istrinya hamil muda mereka malah mengalami kejadian tragis dan membuat mba Herlina sekaligus jabang bayi di dalam perutnya meninggal dunia.


Kasihan Ozon. Lama dia baru menikah, sekalinya sudah menikah eh malah istrinya meninggal.


Lama aku menunggu pria tua itu makan. Akhirnya setelah tiga puluh menit berlalu selesai lah ritual menghambur-hamburkan nasi itu. Ya, lebih tepatnya Ozon bukan memasukkan makanan ke dalam mulut, melainkan hanya menusuk-nusukkan sendok ke atas nasi hingga bosan, kemudian membuangnya di atas lantai. Kalau dia lapar beneran, baru lah ia minta diambilkan makanan yang baru.


Sudah menjadi tugasku untuk membereskan apa-apa yang sudah diciptakan Ozon di tempat ini. Mulai dari piring dan sendoknya yang terbang entah sampai mana, hingga nasi dan lauk pauk yang berceceran di permukaan lantai.


Lelah, sangat lelah. Makanya upah merawat Ozon lebih mahal ketimbang hanya membersihkan rumah dan seisinya, seperti Bik Nah.


Setelah semua selesai, aku langsung membawa Pricilia ke dalam gendongan dan menyuruh Ozon untuk istirahat siang. Kata Bu Naumi dia jangan pernah absen tidur tengah hari, kalau sampai itu terjadi maka kepalanya akan jadi pusing.


Aku tak lagi memiliki pekerjaan, kini tibalah waktunya untuk mengisi perut di belakang. Pricilia yang sedari tadi berada di gendonganku pun tak pernah berhenti mengoceh, mungkin anak ini juga bisa merasakan bahwa sebentar lagi perutnya yang kosong itu akan terisi dengan makanan.


“Chevani!” mendadak aku menoleh takkala suara familier memanggilku dari pintu depan. Aku melihat Bik Nah, wanita itu baru masuk dengan seorang gadis muda di sebelahnya.


“Perkenalkan ini Alya, ponakan bibik. Mulai sekarang dia akan tinggal di sini buat ikut bantu-bantu,”


...***...


Bersambung


LIKE & COMMENT


Semoga kalian sehat selalu :)

__ADS_1


__ADS_2