SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
IBU KOTA


__ADS_3

Aku membeliakkan mata takjub. Gedung-gedung menjulang nyaris mencakar langit, rumah kaca, jalanan nan luas yang dipenuhi berbagai jenis kendaraan serta jajaran toko-toko beragam barang membuat nertraku menyala terang. Begitu pula dengan Pricilia, ocehan-ocehan tidak jelas menyemburat begitu saja dari mulutnya.


“Kita di mana Dem?” tanyaku pada Demian yang sedari tadi masih senantiasa memegang jemariku erat.


“Jakarta,”


APA? JAKARTA? Selama itu kah aku tertidur di dalam bus sampai-sampai tidak mengetahui kalau kami telah tiba di ibu kota? Luar biasa!


“Kenapa kau membawaku ke sini?”


“Tempat ini sangat luas dan ramai. Lagipula kau juga tak memiliki teman ataupun saudara di sini kan? Jadi aman,” lagi-lagi Demian menebak dengan benar. Kalau aku bertanya, pasti jawabannya akan tetap sama bahwa dia hanya berusaha untuk menerka. Ah, kurasa pria satu ini seorang cenayang handal.


“Lalu kita akan ke mana setelah ini?”


“Kau akan kujual!” wajah Demian berubah menjadi garang, namun setelah itu gelak tawa menghiasi tempat peristirahatan kami saat ini.


“Huh kau ini! Jual saja kalau kau tega,” bibirku terangkat dua centimeter, yang langsung dibalas dengan pelukan hangat dari Demian.


“Ayo kita naik itu,” Demian menunjuk sebuah kendaraan yang baru kali ini kulihat secara langsung, tapi aku tahu apa namanya.


“Hahaha lucu,” tawaku pecah takkala benda berwarna merah ini melaju dengan kencang. Rasanya perutku terguncang ke atas dan ke bawah. Bajai. Aku seperti sedang berada di dalam wahana baling-baling.


“Anak papa juga ketawa seperti mamanya ya,” Demian menjawil pipi gembil Pricilia yang sedari tadi tiada henti-hentinya mengembang. Baru kali ini aku melihat anakku tertawa bersama seorang lelaki, biasanya kami hanya menjalani segala cerita berdua saja.


“Hei! Memangnya kau papa anakku!” ketusku mencoba membuat Demian kesal. Namun nihil, justru Demian lah yang pada akhirnya menaikkan tensiku secara mendadak.


“Lihatlah! Tawanya saja lebih riang ketika bersamaku. Atau jangan-jangan kau yang tidak pandai mengasuh anak ya hahahaha,”


“Jaga mulutmu ya Demian!”


“Bukti yang berbicara nona manis,”


Bugh!


“Awwwww,”


Sebuah tinjuan keras mendarat tepat di dada bidang Demian. Aku puas, saat ini dia meringis kesakitan.


“Syukurin! Jangan coba-coba melawan seorang Chevani Agra” lanjutku sambil memasukkan Pricilia dalam gendongan. Biarkan saja dia tak dapat bermain lagi dengan anakku.


Kota ini begitu luas, sampai-sampai bajai yang kami tumpangi sering berhenti karena macet. Dentuman klakson juga bertaburan di mana-mana, para pengendara kesal sebab waktu berharganya banyak tersita hanya kerena menunggu antrean. Entah ingin ke mana aku dibawa, semoga hidupku akan lebih baik setelah memilih Demian sebagai pasangan hidup.


Oh astaga! Aku bahkan hampir lupa dengan Pak Reno.


Bagaimana keadaan di sana ya? Pasti sangat ricuh. Aku yakin sekali kalau dia dan keluarganya pontang panting mencari keberadaan sang pengantin wanita. Untungnya Demian punya ide cemerlang untuk mematahkan kartu hpku, sehingga membuat mereka yang berada di kampung halaman tak akan bisa menghubungi. Maafkan aku ya Pak Reno, karena aku merasa lebih bahagia dengan Demian dari pada kamu. Dan untuk anak yang sudah seperti putra kandungku sendiri, maafkan ibu ya. Semoga suatu saat nanti kau menemukan seorang ibu sambung yang akan mengasihimu melebihi aku.

__ADS_1


Selamat tinggal kota Batam.


Selamat tinggal kenangan.


Selamat tinggal kasihku, Hero.


Bersama dia, aku merasa ada sosokmu di sini.


“Ayo turun!” tiba-tiba saja lamunanku buyar setelah mendengar suara Demian. Aku tidak melihat ada tanda-tanda rumah warga di tempat ini. Lalu kenapa turun?


“Mau ngapain?” tanyaku memastikan.


“Bapak ini akan menunggu kita untuk berbelanja baju, ayo!”


Ah, ternyata Demian memang benar-benar menepati janjinya. Kukira dia akan menyuruhku membeli pakaian sendiri dan menggunakan uang pribadi. Dengan senang hati aku langsung turun dan menggandeng pergelangan tangan pria itu kuat-kuat. Ups! Aku bahkan sudah berani melakukannya duluan.


Kami terus berjalan melewati lorong-lorong pasar yang di dalamnya terdapat banyak toko pakaian. Hingga pada akhirnya langkah kakiku dan Demian terhenti di sebuah lapak penjual kacamata raksasa. Wow warna warni!


“Punyamu nomor berapa?” tanya Demian seraya melihat satu-satu barang pelindung sedotan bayi tersebut.


Sontak mataku membeliak sempurna. Napasku tercekat, bahkan aku sampai menutup mulutku sendiri dengan kedua tangan. Pertanyaan bodoh semacam apa itu? Lagipula ini kan urusan wanita, kenapa dia yang jadi heboh!


Di depan sana, sang penjaga toko juga mesem-mesem sendiri. Demian polosnya kebangetan, membuat orang yang memandang jadi geli.


“Biarkan aku yang memilih sendiri. Kau pergilah sana bersama Pricilia,” kataku kemudian menyerahkan Pricil kepada Demian. Semoga setelah ini fokusnya akan berganti kepada anak manis itu.


...***...


“Alhamdulillah semuanya selesai. Kalau cape, istirahat saja di sini,” Demian memukul-mukul pahanya sendiri.


“Aku ingin tidur di sebelah anakku saja. Kau pulanglah ke rumahmu,”


Lelah sekali, pinggangku rasanya ingin copot. Saat ini kami sudah berhasil mendaratkan bokong di sebuah rumah kontrakan berjejer tiga. Persis seperti tempat tinggalku yang lama, hanya saja ini lebih sedikit gedungnya dan lumayan besar. Aku tidak tahu Demian entah mendapatkan uang dari mana, kurasa habis gajian.


Sama seperti di Batam, rumah Demian juga berada di sebelah rumahku. Setelah ini kami akan mengurus kartu tanda penduduk yang baru dan surat-surat untuk pernikahan. Tak sangka, secepat ini aku bisa menjatuhkan hati pada pria yang baru saja kukenal. Tapi tak apalah, aku bahagia kok.


Semuanya sudah beres, mulai dari menata barang-barang, melipat pakaian dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tempat tinggal kami berdua. Kini saatnya mengistirahatkan diri guna mengumpulkan energi baru.


Namun tampaknya Demian tak ingin beranjak. Posisi yang tadinya duduk, kini malah menjadi telentang. Aku membangkitkan tubuh untuk segera masuk ke dalam kamar, sebuah aliran listrik menjalar di tubuhku kalau aku terus melihat posisi tidur Demian yang menampikkan sebuah benjolan besar di depan sana.


“Hei! Mau ke mana?” suaranya terdengar berat.


“Aku mau tidur, lelah,”


“Jangan pergi! Temani aku dulu di sini,”

__ADS_1


“Lihatlah! Bahkan suaramu saja sudah seperti orang tidak tidur tiga hari, matamu juga,” ketusku seraya menatap netra sayu itu.


“Aku ikut,”


“Ke?”


“Tidur bersamamu dan Pricilia,”


Oh astaga! Jantungku spontan berdentam dentum mendengar penuturan pria aneh itu. Kurasa efek jauh dari istri membuat onderdilnya meronta-ronta ingin keluar.


Hei! Apa tadi kubilang? Istri?


Ya Tuhan, saking asyiknya bahkan aku lupa kalau Demian masih memiliki seorang istri.


Lalu aku?


“Demian! Aku ingin pulang dan menikah dengan Pak Reno,”


...***...


Bersambung


PENULIS ADALAH TUHAN BAGI KARYANYA SENDIRI


-


Jadi, kalau beberapa di antara kalian ada yang ga setuju bahkan sampe gamau baca cerita aku lagi karena ternyata Chevani lebih pilih Demian dari pada Pak Reno, gapapakok eheheh.


Temen-temen yang lain Alhamdulillah nya masih banyak yang terus dukung cerita aku :)


Lagian kan ya


Ini ceritanya belum habis.


Apakah mereka beneran jadi nikah? apakah suatu saat dia dan Pak Reno akan ditemukan dan lain sebagainya, kan kita belum sama-sama tahu.


Makanya jangan langsung vonis kecewa dong ehehe.


Untuk tahu kelanjutannya


Ikuti terus cerita ini ya:)


Thank u so much for ur support


Sehat selalu readers

__ADS_1


LIKE & COMMENT


__ADS_2