SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
DINNER


__ADS_3

“Kan sudah kubilang tidak usah mengambil rencana ceroboh seperti ini, ck!”


“…”


“Terserah kau saja,”


“…”


“Aku tidak mau tahu, yang terpenting saat ini aku sudah bahagia dengan Chevani!”


Dahiku berkerut seperti jeruk purut melihat Demian yang tengah naik tensi sendiri dengan ponsel menempel di telinga. Entah sedang berbicara apa dan dengan siapa, kelihatannya dia sedang tidak baik saat ini.


“Hei,” aku menyapa setelah obrolannya berakhir dengan orang di seberang sana. Demian menoleh, matanya mendadak jadi uang logam.


“Sejak kapan kau berdiri di sini?”


“Baru saja,”


Suamiku itu tak lagi menjawab. Ia malah memelukku posesif tanpa perduli dengan para pengguna jalan yang sesekali melihat ke arah kami. Setelahnya, ia mengatakan “Tetaplah bersamaku apapun yang terjadi,” lalu mengecup dahiku hingga beberapa detik lamanya.


“Kau kenapa?” aku yang kebingungan sontak menjauhkan tubuh darinya. Aneh, memangnya aku punya rencana untuk pergi apa?


“Tidak ada, aku hanya lelah,” napas Demian terdengar kasar, sudah bolak balik kuperhatiakn kalau sedari tadi kerjaannya hanyalah memijat-mijat pelipis.


“Siapa yang menelpon? Kenapa ada kata istri?” aku yang model orangnya memang suka penasaran lantas tak membiarkan begitu saja terhadap sesuatu yang baru kutangkap barusan. Demian terdiam barang sejenak, setelah itu kedua sudut bibirnya tersimpul kecil.


“Hanya teman lama yang berusaha untuk menganggu,”


“Mengganggu?” kedua bola mataku menatapnya lekat, berharap akan ada jawaban yang memuaskan hati dari Demian.


“Iya, dia selalu saja ingin bertemu. Lalu kukatakan kalau aku sedang berbulan madu dengan istriku,” pria yang tengah berdiri di hadapanku ini tercengir kuda.


...***...


“Oh kau berusaha menjauhkan aku dari istriku ya? NO WAY!” aku mendengus kesal takkala Ozon berhasil merampas satu stel kaos beserta bawahannya dari tanganku dan membuangnya ke sembarang arah. Kira-kira sudah lima menit berlalu aku memberikan pengertian kepada pria setengah abad itu, namun sepertinya ia lebih memilih dress marun itu ketimbang pakaian yang memang semestinya dia gunakan.


“Nanti pakaian istri mas kita simpan saja di lemari biar tidak rusak,” kembali kubujuk lelaki si uban putih, namun tetap saja rautnya tak berubah dari ekspresi semula.


“Tidak tidak tidak!”


Pyuuuur!


Lah, dia malah kabur.

__ADS_1


Ah, ya sudahlah. Namanya juga usaha, mana bisa sekali coba langsung berhasil.


Aku kembali mengutip sepasang kain yang berserakan di permukaan lantai. Meskipun Ozon belum mau mengindahkan semua perkataanku, namun aku tak akan menyerah. Aku yakin perlahan demi perlahan, lelaki tua itu pasti akan kembali seperti keadaan semula. Ozon yang disegani oleh siapapun.


“Bibik aja deh! Aku cape,”


“Kan kamu dibolehi tinggal di sini juga karena harus bantu-bantu bibik,”


“Udah ah, jangan bawa-bawa masalah rumah,”


“Kepala bibik lagi pusing sekali nak,”


“….”


Dari ruangan tengah ini aku dapat mendengar perdebatan dua manusia yang tengah bersemayam di dalam dapur. Aku sedikit memajukan langkah lalu menoleh ke bagian buntut rumah. Tampak Alya sedang menyantap makanan dengan Bik Nah yang menggosok-gosok piring di atas wastafle.


Begitu lah Alya setiap harinya. Wanita asal Pekan Baru itu selalu saja menolak permintaan bibiknya sendiri untuk mengurus sebagian pekerjaan rumah. Denger-denger sih, dia memang diizinkan untuk pindah sekolah ke Jakarta dengan syarat ikut bantuin bik Nah di rumah ini. Namun tampaknya ia mulai mengingkari janjinya sendiri terhadap kedua orang tua.


Tiga menit berlalu, kemudian kulihat Alya beranjak dari dapur dan masuk ke dalam kamarnya.


“Ga bantu-bantu bik Nah dulu Al?” aku membuka suara, berpura-pura tidak tahu kalau sebenarnya bik Nah sudah menyuruhnya lebih dulu sewaktu di dapur.


“Aku lagi banyak PR mba,” remaja berbadan kurus itu lantas ngeloyor tanpa harus menatap wajah lawan bicara. Aku jadi kesal sendiri, sudah ditolong tapi tidak tahu ditolong.


“Eh,” bik Nah kaget. “Engga Che engga,” jawabnya di akhir.


“Gapapa jangan sungkang,” aku lantas segera merampas piring tersebut dari bik Nah, namun di saat itu juga ia secepat kilat menariknya kembali.


“Liat tuh Pricilia di kamar, nanti dia nangis lagi ditinggal ibunya lama-lama,” bik Nah berdalih. Aku tahu dia segan karena membebankan pekerjaan yang seharusnya memang bukan bagianku. Tapi di sisi lain aku juga tidak tega, sepantasanya si Alya yang melakukan ini semua.


“Bibik yakin?” tanyaku memastikan sekali lagi.


“Yakin,” seulas senyum terbit menghiasi wajah keriput wanita tua tersebut. Aku bisa apa jika memang dia berikeras menolak? Semoga bik Nah selalu diberi kekuatan oleh Sang Maha Kuasa.


...***...


“Makan malam di café bu?” dari depan sini aku dapat melihat kedua bola mata Alya berbinar tanda bahagia. Bu Naumi baru saja pulang dari landry dan mengajak kami untuk dinner di luar malam ini.


Lumayan, hihihi.


Lantas aku dan bik Nah juga tersenyum sumringai. Seingatku, terakhir kali aku pergi ke tempat khusus makanan dan minuman itu sewaktu bersama Aren di Batam dulu, itu pun berakhir dengan air mata.


Aku akan menelpon Demian untuk izin pulang malam, bu Naumi juga bilang kalau nanti dia akan sekalian mengantarku balik ke rumah.

__ADS_1


“Chevani,” sang empunya rumah mengeluarkan sebuah kata yang spontan membuat tatapanku beralih pada wajah glowingnya, “Persiapkan Ozon ya,”


“Siap bu,” jawabku ala-ala prajurit perang.


Pukul tujuh tepat.


Saat ini kami sudah berada di sebuah gedung mewah berlantai dua. Pijar-pijar lampu membuat sepasang netra anakku berkelana ke mana-mana. Tempatnya juga sangat ramai, seluruh kalangan pada menghabiskan waktu malamnya di café ini.


“Kita di ujung sana ya,” kami mengekori bu Naumi yang memili meja lebar paling pojok. Baguslah, dalam kondisi membawa Pricilia dan juga Ozon, deretan lapak buntut memang sangat cocok untuk kami tempati.


Sepanjang perjalan kami melintasi meje-meja pengunjung lain, banyak sekali pasang mata yang menilik ke arah sini dengan nanar. Aku tahu, mereka semua memperhatikan gamis cokelat muda yang membungkus tubuh Ozon. Dapat dipastikan bahwa orang-orang di tempat ini tengah menahan tawa di dalam hati.


“Chevani,”


“Iya?” aku mencari seumber suara yang ternyata tepat di depanku.


“Kamu tidak keberatan sembari menjaga dua bayi kan?”


“Dua bayi?”


“Iya, Pricilia dan …” bu Naumi menjeda kalimatnya lalu melirik seseorang yang berada di sebelahku.


“Ah, ini juga sudah menjadi tugas saya bu,” aku memberikan senyum terindah.


“Biar aku saja yang menjaganya,” tiba-tiba saja Alya membangkitkan tubunya lalu duduk persis di samping Ozon.


Aku terkejut, begitu pun dengan bik Nah yang sepertinya menyimpan heran.


...***...


Bersambung


Halo, terimakasih atas respon kalian yaa :)


Btw benang merahnya emang sengaja aku simpen buat akhir ceritanya


So, kalo kalian pada mau tahu gimana pada akhirnya, tetap ikuti cerita ini yaa :)


But


Jangan lupa like & commentnya


Biar aku semakin semangat nulis

__ADS_1


:)


__ADS_2