SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
LUPA


__ADS_3

“Ibu sudah lama tinggal di sini?” Tanyaku pada seorang wanita paruh baya berkulit kuning langsat.


Sebelumnya aku duduk di depan rumah dan entah kenapa tiba-tiba saja si ibu ini mendatangiku dan mulai mengajakku ngobrol, ingin lebih mengenal tetangga barunya mungkin.


“Sudah sepuluh tahun.”


“Wah lumayan lama ya Bu.”


“Ya begitulah. Sebelumnya kau tinggal di mana nak?”


“Awalnya aku tinggal di rumah mertua setelah itu di rumah majikan dan sekarang ngontrak di sini Bu.”


“Loh kenapa bolak balik pindah begitu?” Si ibu memajang raut bingung.


“Saya diusir sama mertua dan tinggal bersama majikan, namun waktu itu saya merasa sangat sungkan makanya memutuskan untuk pindah ke tempat ini.”


“Hah? Kenapa?”


Oh Tuhan maafkan aku kalau harus membuka aib karena akupun butuh tempat untuk bercerita.


“Sebenarnya mantan mertuaku Bu namun aku kerap menganggapnya masih seperti mertua sendiri karena aku sangat menyayangi putranya yang saat ini sudah menjadi mantan suamiku. Waktu itu ada kejadian yang membuat mertuaku marah dan akhirnya aku diusir dari rumah.” Aku kembali mengingat kejadian di mana beberapa helai pakaianku dicampakkan begitu saja oleh Bu Lastri.


“Apa kalian bercerai secara baik-baik?”


“Tidak. Dia menyelingkuhiku.”


“Oh Tuhan!” Wanita setengah abad itu sontak menutup mulutnya yang ternganga. “Sudah tahu begitu kenapa kau masih ingin tinggal bersama mantan mertuamu?”


“Aku merasa sayang meninggalkan kenangan di rumah itu karena aku masih sangat mencintai mantan suamiku. Sekalipun mertuaku jahatnya seperti jin ifrit namun aku mencoba bertahan, entah kenapa hatiku mengatakan bahwa pria itu akan kembali.”


“Oh nona cerita hidupmu persis seperti kisahku. Hanya saja aku enggan menunggu si hidung belang itu untuk kembali.”


“Apa Ibu diselingkuhi juga?”


“Iya. Namun lima bulan setelah itu aku langsung menikah dengan pria lain dan si buaya darat itu sesal mendalam berbuat keji padaku.”


Aku terpaku. Bagaimana mungkin wanita itu bisa melupakan seseorang yang pernah hidup satu atap dengannya secepat kilat? Atau mungkin memang aku yang terlalu bodoh untuk terus berharap pada Hero? Oh Tuhan entahlah.


“Jadi saat ini kau janda? Kau punya anak?”


“Aku janda dan punya seorang putri kecil. Tapi sayang anakku diculik dan sudah hampir tiga minggu tidak kembali.”

__ADS_1


“Hah? Kenapa bisa?” Sepertinya ceritaku kali ini sangat menarik perhatian perempuan ini. Sampai-sampai suaminya sudah mengintai kami dari kejauhan pun ia tak tahu.


“Waktu itu aku sedang melayani pembeli di sebuah toko roti namun setelah pembeli itu pergi anakku tiba-tiba saja sudah tidak berada di tempat.”


“Apa kau sudah lapor polisi?”


“Sudah namun belum ada kabar sampai sekarang.” Aku mendengus napas kasar. Kesal, marah, benci dan kehilangan semua menjadi satu.


“Kalau begitu kau bernasib sama dengan tetanggamu ini.” Sang Ibu menunjuk rumah yang berada persis di sebelahku. Tempat di mana bayi mungil itu sering menangis.


“Ohya? Memangnya kenapa dia?”


“Dia seorang duda yang katanya istrinya pergi entah ke mana. Dan dia juga memiliki seorang bayi wanita.”


Ou jadi suara yang sering kudengar itu adalah suara tangisan dari seorang bocil wanita. Ah pasti wajahnya manis sekali.


“Apa dia sudah lama tinggal di sini?”


“Dua hari sebelum kau masuk.”


“Ouu.” Aku ber oh ria menanggapi perkataan wanita berambut sebahu ini. Benar dugaanku kalau tetanggaku tidak memiliki seorang istri. Kasihan sekali dia kalau harus merawat bayi itu seorang diri, belum lagi bekerja.


Malam kian larut membawa kami pada rasa kantuk masing-masing. Wanita paruh baya yang mengajakku mengobrol panjang ini beranjak untuk pulang, semoga saja ia tak dimarah oleh suaminya di rumah sana.


“Chevani Bu.”


“Panggil saja saya Bu Itah ya.”


“Baik Bu Itah.” Aku tersenyum sumringai seraya memandangi bokong wanita ramah itu hingga menghilang dari mataku.


Semoga saja aku bisa akrab dengan semua orang yang berada di lingkungan kontrakan dempet ini.


...***...


“Emmmmph eghh.” Aku mengkucek-kucek mata seraya mencoba membidik angka yang terdapat di dalam benda bulat berwarna putih di atas dinding.


Pukul lima tepat.


Bersamaan dengan rasa agak malas aku membangkitkan tubuh dan mulai menuju toilet terseok-seok. Aku masih ngantuk sekali karena bergadang dengan Bu Itah tadi malam. Namun mau bagaimana? Ada pekerjaan yang tak boleh untuk kutinggalkan.


Tak butuh waktu lama akhirnya ritual bersih-bersihku selesai dan aku langsung menuju ke penggorengan di pojokan dapur. Hanya ada tempe dan kacang panjang yang tersisa sebab aku belum sempat untuk ke pasar.

__ADS_1


Aku mulai mengoseng-oseng sang tempe di dalam minyak panas dan mengangkatnya dari kuali setelah dirasa cukup matang. Kemudian cabe, bawang merah putih dan rempah lainnya ku goreng hingga layu dan diberi sedikit air di atasnya. Setelah dirasa pas aku langsung memasukkan potongan kacang tadi lalu sedikit garam di sana. Heum aromanya sudah tercium. Hingga dalam lima menit berikutnya tumis kacang panjang tempe goreng telah siap untuk disajikan.


Sepi sekali hari-hariku tanpa Pricilia. Biasanya selalu ada anak satu itu yang menemani aku memasak di dapur hingga selesai. Aku tak berharap banyak, cukup dia dititipkan di tangan orang yang baik saja sudah syukur.


Waktu terus berjalan dan saat ini tak ada yang kulakukan selain berganti pakaian untuk segera pergi ke rumah Pak Reno. Entah akan ada kekacauan apa lagi di sana, yang penting aku harus menyiapkan telinga dan mental saja.


Bugh!


Pintu terkunci rapat.


Rumah sebelah masih kosong dan entah kapan sang empunya gedung akan pulang. Padahal aku sudah rindu sekali dengan suara si bayi mungil itu. Aku janji kalau mereka pulang aku pasti akan memasakkan ayah anak itu makanan dalam jumlah banter.


Srek srek srek.


Telapak sendalku mulai menyentuh tanah, dan …


“Astaga! Aku lupa!”


Oh ya Tuhan! Betapa bodohnya aku.


Untuk apa aku beraktivitas seperti biasanya? Untuk apa aku sudah rapi? Dan untuk apa aku membawa slinbag ini di tangan?


Aku lupa.


Sangat lupa.


Aku lupa kalau aku sudah tidak bekerja lagi di rumah Pak Reno.


Huh!


Aku menepuk jidat banyak-banyak lalu beringsut ke beranda untuk duduk sejenak. Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Pasti ini semua karena membabu di sana adalah rutinitas yang tak pernah kutinggalkan. Makanya di kala seperti ini pun aku sampai tak ingat kalau kemarin aku sudah membuat keputusan untuk resign menjadi babu di rumah lelaki beranak satu itu.


Ah Chevani betapa bodohnya kau!


...***...


Bersambung


Gimana puasanya, lancar? Ehehe


LIKE, COMMENT & TAP FAVORIT

__ADS_1


DUKUNGAN KALIAN SEMANGAT BUAT AKU :)


Sehat selalu yaaa 🤗


__ADS_2