
“Maksud bapak apa?” Aku mengerjap-ngerjapkan mata tanda tak percaya. Apa ini yang dinamakan dengan alam khayal?
Pria itu tak memberi jawaban sepatah katapun, malah kali ini tangan kokohnya mulai menggenggam erat jari-jariku.
Astaga! Apa sawannya kembali kumat?
“Che.” Pak Reno mendaratkan tatapannya persis di hadapanku. “Sebenarnya sejak awal kita bertemu aku sudah mencintaimu.”
“Apa?”
“Ada yang salah?”
“Sangat!”
“Apa maksudmu?”
“Meskipun aku seorang janda namun tak pantas rasanya kau mempermainkanku dengan kata cinta. Sumpah! Aku tak akan tergoda.”
Apa-apaan si Reno gila ini! Dia kira aku bakal termakan oleh rayuan gombalnya. Huh! Mangkanya kalau punya istri itu jangan dibuang-buang, jadi ngehalu terakhirnya kan. Mungkin dia kira aku ini Bu Farah.
“Sumpah Che! Aku sedang tidak berbohong.”
“Ah sudahlah aku ingin bermain dengan Refa dulu.”
“Tunggu!” Sebuah tangan kokoh terasa melingkar di pergelangan tanganku. Aku menoleh ke belakang dan kudapati pria sawan itu memasang raut lusuh terhadapku yang sudah mulai beranjak dari tempat. “Duduklah di sini dulu.”
Aku manut.
“Aku sudah mencintaimu sejak awal kita bertemu.”
“Kau sedang berbohongkan?”
“Tidak! Sumpah demi apapun.”
Aku tercekat. Pria ini memandangku penuh penekanan. Apa dia memang serius? Ck! Mustahil.
“Tak ada seorang majikan yang mencintai jongosnya sendiri.”
“Ada.”
“Siapa?”
__ADS_1
“Aku.”
Aduh bagaimana ini ya? Apa si Reno ini sedang bicara serius? Kalau kutanggapi aku takut ini hanya sebuah lelucon belaka. Tapi kalau tidak diladeni bagaimana kalau dia memang serius? Aku tak biasa memberi kacang pada orang lain.
“Kau sudah memiliki istri.”
“Apa kau ingin tahu yang sebenarnya?”
“Apa?” Tanyaku mengernyitkan dahi. Dari sini aku dapat melihat tarikan napas Pak Reno yang hendak memulai kata.
“Jadi sebenarnya aku dan Farah itu dijodohkan oleh ayah kami yang kebetulan rekan bisnis. Farah mencintaiku namun sedikitpun aku tak pernah menaruh hati kepadanya. Bahkan kau tahu? Refa ada pun karena dipaksa oleh ayahku.”
“Maksudnya?”
“Waktu itu usia pernikahan kami sudah menginjak dua tahun dan aku tak pernah barang sedikitpun mencintai dia. Tiba-tiba suatu hari ayahku sakit parah dan permintaan terakhirnya adalah menginginkan seorang cucu dari aku dan juga istriku. Aku benci! Seakan situasi tak memihakku kala itu. Tapi mau bagaimana? Sebagai baktiku kepada ayah maka dengan berat hati aku menyentuh Farah dan akhirnya lahirlah Refa ke dunia ini. Namun setelah itu aku tak pernah lagi melakukan hubungan intim dengan perempuan itu.”
“Apa setelah pernikahan kalian tak tumbuh sedikitpun cinta?”
“Tidak! Dari dulu hingga sekarang aku tak pernah bisa mencintai wanita itu apalagi setelah aku tahu bahwa kerjaan si Farah hanyalah belanja belanja dan belanja. Aku tahu dia sangat mencintai suaminya ini, namun tidak dengan putranya.” Hembusan napas Pak Reno kian berat, wajahnya merah padam menaham emosi. “Bahkan sebelum kau bekerja di rumahku pun perempuan jahannam itu tak pernah mengurus Refa dengan baik. Pertengkaran juga kerap terjadi di antara kami.”
“Lalu di mana dia sekarang?”
“Waktu itu dia pergi ke luar negeri dan sekarang sudah berada di rumah kedua orangtuanya.”
“Tidak bisa Che! Sudah pernah kucoba namun tak mempan juga.”
Aku terdiam seribu bahasa. Apakah benar yang lelaki ini katakan? Ah rasa-rasanya tidak mungkin ada seorang majikan yang mencintai jongosnya sendiri. Sekalipun dia tidak mencintai Bu Farah tapi tak dapat dipungkiri juga bahwa wanita itu adalah istri sahnya sendiri.
“Terlepas dari benar atau tidak, tapi maaf aku tak bisa menjadi ibu sambung bagi anakmu. Cukuplah aku menjadi ibu asuhnya saja.” Kataku pada akhirnya.
“Kenapa?”
“Cinta atau tidaknya kau dengan istrimu yang jelas saat ini kalian masih sah dalam satu ikatan. Dan Refa, bocahmu itu sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu.”
“Tidak! Farah tak pernah menyayangi anaknya sendiri. Dan soal istri, aku akan menceraikannya dengan segera.”
“Apa? Kau gila ya!”
Ya Tuhan apa-apaan ini! Kenapa si bodoh satu ini semakin menjadi-jadi. Apa dia kira pernikahan itu tak ada bedanya dengan pacaran, mana bisa dipermainkan.
“Alasan apa lagi yang bisa mempertahankan hubungan kami? Aku tak mencintai Farah dan apabila dia kuceraikan pun pasti tak mengapa sebab ayahku telah meninggal dunia. Dan Refa? Sepertinya dia lebih terurus dan nyaman bersamamu.”
__ADS_1
“Tapi wanita itu mencintaimu astaga.”
“Di sisi lain aku juga tak mungkin hidup bersama dengan perempuan yang sama sekali tak kucinta.”
Aku membisu, tak bisa berkata apapun. Benar juga kata Pak Reno kalau cinta itu tak bisa dipaksakan. Aku kalau jadi dia juga takkan mau hidup satu atap dengan seseorang yang sama sekali tak menarik perhatianku. Tapi Refa? Ah! Aku terlalu memikirkan anak satu itu.
“Aku tak bisa berkata apapun.”
“Apa susahnya tinggal mengatakan iya atau tidak?”
“Bukan begitu Pak. Aku hanya tak ingin menjadi janda dua kali.”
“Oh jadi kau mengira bahwa aku sama dengan mantan suamimu itu?”
“Em bu- bukan begitu maksudku, tapi-“
“Sudahlah Che! Aku paling tak bisa jika dibanding-bandingkan begini.”
Srek srek srek.
Loh!
Aish! Aku malah ditinggal pergi.
Entah bagaimana jalan pikir Pak Reno. Kalau menurutku sih boleh-boleh saja kita marah pada seseorang terlebih jika orang yang dimaksud memang memiliki kesalahan. Namun apa salahnya jika kita mau memperbaiki hubungan? Apalagi bila di tengah-tengah kita sudah ada anak.
Pria itu tak lagi di sini, dia malah bermain istana pasir dengan putranya di ujung sana. Kurasa dia sedang marah, tapi ya sudahlah aku tak perduli. Paling-paling nanti baik sendiri, dia kan memang begitu.
...***...
“Pricilia anakku, di mana kamu hiks hiks.”
Sama seperti yang lalu-lalu, air mataku kembali luruh tanpa henti. Belum ada kejelasan juga sampai sekarang, aku tak tahu di mana putri kecil itu sedang berada. Kalau sudah menyangkut masalah Pricilia aku jadi teringat Aren. Dulu dia sangat menyayangi putri kecilku itu, entah kalau sekarang. Kira-kira dia tahu tidak musibah yang sedang menimpaku ini ya? Dan apakah ketika dia tahu dia akan membantuku seperti dulu? Atau malah sebenarnya dia sudah tahu tapi pura-pura tak tahu karena menjaga perasaan calon istrinya itu.
Jujur saja, sesekali aku juga masih terngiang-ngiang tingkah over perdulinya itu kepadaku. Aku selalu diantar pulang ke rumah sewaktu masih menjabat sebagai tukang cuci di bar, aku selalu diberi makanan yang menyebabkan perutku mendadak buncit bahkan tak jarang segala bentuk pengorbanan dia berikan untukku juga. Tidak! Aku bukannya sedang cemburu melainkan hanya masih terbawa heran sampai sekarang. Apa benar yang Neni katakan kalau sebenarnya si Aren itu punya rencana lain dibalik kedekatan kami selama ini? Kalau memang iya kira-kira apa alasannya ya? Ah entahlah kepalaku pusing memikirkan semua teka teki kehidupan.
...***...
Bersambung
LIKE & COMMENT
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu 🤗