
Lama mereka menatapku dengan senyum kuda, namun tersimpan makna tersirat di baliknya. Aku menghembuskan napas berat, memandangi si manusia bermuka dua.
“Ohya Pak. Hari ini Elra baru ditembak sama cowo loh.” Lani kembali bersuara seraya menarik kedua sudut bibirnya lebar.
Wanita yang bernama Elbra itu sedari tadi tak bergeming. Hanya tatapan picik saja yang ia arahkan padaku, sesekali netranya juga melirik ke Pak Reno.
“Lalu urusannya samaku apa?”
Blushhh!
Hahahaha, aku tertawa girang di dalam hati.
Sayangnya perkataan Lani sama sekali tidak digubris oleh calon suamiku itu. Wajah keduanya sontak memerah bak tomat matang, kemudian berlalu pergi setelah sebelumnya berpamitan.
Lucia menarik lenganku kemudian menempelkan sebuah benda panjang di sana. Aku tak menyangka bahwa akan memakai gaun pernikahan untuk kedua kalinya.
...***...
“Sabar ya sayang mama buatin susu kamu dulu.” Aku berkata pada Pricilia yang sedari tadi mengemut ibu jarinya. Malam ini merupakan malam kedua bagi seorang ibu dan anak bersatu kembali.
Aku melangkah, mendekatkan tubuh pada Pricilia seraya membawanya ke dalam kamar. Namun langkahku terhenti sesaat, takkala sebuah ketukan pintu tiba-tiba terdengar dari arah luar.
“Sebentar.” Kataku menyahut.
Ceklek.
“Oh hei.” Manik mataku spontan membesar setelah melihat sosok mana yang kini tercegak di hadapan. Demian. Pria itu membawa sebuah plastik polos di sebelah tangan.
“Papa datang…” Pria itu langsung mengambil alih Pricilia dari gendonganku sehingga membuat anak itu nyaris tersedak dengan dotnya sendiri.
Aku menjadi bingung. Kenapa dia tiba-tiba muncul dan berlagak seperti suamiku saja? Huh mungkin ini semua efek dari jauh dari istri.
“Ini aku bawakan untuk kalian.” Suara Demian kembali terdengar. Kali ini ia menyerahkan plastik yang setelah kubuka isinya adalah bubur ayam.
“Ini makanan favoritku. Kenapa kau tahu?” Mataku sontak berkilat-kilat. Aku bisa merasakan harum khas ayam menyeruak dari dalam sana. Lagipula kalau diingat-ingat mungkin sudah tiga bulan aku tak menyantap makanan lembik ini.
“Aku hanya menebak. Apa boleh aku yang menyuapi Pricilia?” Demian tersenyum kuda. Aku sudah memberitahu nama bayi mungil ini saat ngobrol dengan dia kemarin. Dan ketika bersama Demian, pria itu hanya memanggil dengan sebutan dede saja.
“Boleh.” Kubalas perkataannya dengan senyum balik. Setelah itu aku juga ikut duduk di beranda rumah sambil menyantap bubur ayam yang ia beli entah dari mana.
Aku tak bergeming takkala menyaksikan sebuah pemandangan hangat di depan mata. Demian terlihat sangat akrab dengan Pricilia, sesekali bayi itu juga tergelak kecil kepadanya.
“Kenapa kau tak berniat mencari istrimu?” Sebuah pertanyaan sensitif terlontar begitu saja dari mulutku. Demian spontan memberhentikan aktivitasnya lalu beralih menatapku lekat-lekat.
“Dia memang istriku. Namun aku menikah dengannya juga karena terpaska.”
“Maksudnya?” Alisku saling tertaut mendengar penuturan Demian. Pria itu kini menarik kursinya agar lebih dekat lagi denganku seraya tetap menyuapi Piricil dengan bubur ayam.
__ADS_1
“Sebenarnya wanita itu istri keduaku. Aku terpaksa meninggalkan yang pertama karena perempuan licik itu akan melakukan segala cara demi mendapatkanku termasuk melukai hati dan fisik orang yang kusayangi.” Jelas Demian yang semakin membuat alisku berkedut.
“Apa kau memiliki anak dengan wanita itu?”
“Tidak. Dia divonis positif mandul oleh dokter. Di sisi lain aku juga bersyukur karena jika aku meninggalkannya nanti, maka tak akan ada suatu rintangan apapun kecuali dari dirinya sendiri.” Demian mengutarakan kalimat yang sontak membuat tanganku mengeplak pahanya kuat.
Bugh!
“Heh kau ini! Biarpun begitu tapi dia istrimu sendiri.”
“Ya. Istri terpaksa.”
“Lalu di mana istri pertamamu? Apa kalian memiliki anak?”
“Syukurnya aku sudah menemukannya. Anakku seorang wanita yang kalau dihitung-hitung usianya sebaya dengan Pricilia.”
“Ohya? Baguslah kalau begitu.” Aku rasanya sontak kehilangan nafsu makan. Kukira Demian hanya memiliki satu istri yang tidak ia cintai. Entah kenapa, seolah ada rasa asing yang mendadak timbul.
Beruntung sekali wanita yang bisa memiliki pria sesetia Demian. Sudah menikah dengan orang lain pun ia tetap mencintai istri pertamanya seorang. Jauh berbeda seperti diriku, aku ditinggal suami karena sebuah perselingkuhan.
...***...
Dor dor dor.
Dor dor dor.
Aku terkesiap ketika sebuah gedoran banter datang dari arah luar. Cepat-cepat kubuka pintu guna memastikan makhluk usil mana yang sudah heboh pagi-pagi buta begini.
Pria itu juga balik menatapku namun penuh sorot memohon dan tergesa-gesa. Tangannya ia tangkupkan ke bagian tengah ************, membuat pikiranku melayang-layang ke udara.
“Boleh aku numpang toiletmu? Air di rumahku mati total.” Demian melontarkan sebuah kalimat yang membuat langsung membuat dadaku berdebar kencang.
Si jablai itu mendadak masuk ke dalam rumah sebelum aku mengizinkan. Kakinya melangkah cepat, mungkin ada sesuatu yang harus segera ia keluarkan dari dalam sana.
Aku tak merasa keberatan apalagi direpotkan. Siapa lagi yang bisa menolongnya kalau bukan tetangga sendiri? Lagipula pintu rumah terbuka lebar dan kami sedang tidak berdua-duaan. Rumah Bu Itah selaku tetangga Demian yang satu lagi juga masih tertutup dengan lampu teras menyala, pasti masih tidur.
Aku kembali berkutat dengan wajan di dapur. Aroma khas gulai ikan serta gempulan asap menyeruak dari sela-sela dagingnya yang terbelah.
Lima belas menit berlalu, akhirnya keluar lah si Demian dari dalam sana. Rambutnya yang basah kian menambah ketampanan dari pria itu.
“Kau mandi ya?” Tanyaku penuh selidik.
“Iya. Dan apa boleh aku siang nanti menumpang lagi?” Demian rasanya kehilangan malu. Bisa-bisanya ia berkata sedemikian rupa.
“Aku bekerja hingga sore. Lagi pula kenapa tidak kau panggil saja tukang air untuk memperbaiki?”
“Uangku hanya cukup untuk makan satu hari ini saja. Besok aku baru gajian.” Harum ikan gulai yang sudah terhidang di meja makan mendadak hilang begitu saja. Hatiku terenyuh, aku tahu persis bagaimana rasanya tidak memegang uang karena aku juga pernah mengalami.
__ADS_1
“Kalau begitu kau makan saja dulu di sini.” Aku menarik kursi, memberi kode agar Demian duduk dan segera menyantap masakanku.
“Memangnya aku boleh makan di rumahmu?”
“Kenapa tidak?” Jawaban Demian sontak membuat perutku terkekeh geli. Tidak mungkin aku enggan kalau saat ini aku memberinya sebuah penawaran.
Mendengar ucapanku pria yang baru satu minggu kukenal ini langsung duduk dan menyendokkan nasi ke piring yang telah kusiapkan. Ia terlihat sangat rakus menikmati masakanku, sesekali sendawa hebat keluar menghiasi keheningan area dapur.
Sungguh persis.
Dia tak ubahnya seperti lelaki yang kusayangi.
Hero.
Oh astaga! Jangan samakan priamu itu dengan orang lain Che!
Aku mengusap dada.
“Enak?” Tanyaku seraya menuangkan minum untuk Demian. Saking lahapnya ia sampai tersedak-sedak di tempat.
“Enak sekali. Masakan ini lah yang sudah kurindukan sejak satu tahun lalu.”
“Hah! Apa maksudmu?”
“Ehhhm emmm.” Demian kalang kabut. Ia mengusap kasar sudut bibirnya yang penuh akan kuah ikan. “Maksudku, masakanku ini sengat persis dengan masakan ibuku yang tak pernah lagi kuicip satu tahun lalu.”
“Loh bukannya kau baru mengunjungi ibumu dengan membawa Pricilia kemarin?”
“Hah! Dari mana kau tahu?” Demian semakin disibukkan dengan tarikan napasnya yang tidak teratur. Kurasa dia sudah gila, sikapnya memang sangat aneh sejak awal pertemuan kami.
“Dari Bu Itah.”
“Oh emm iya. Itu mertuaku, bukan ibu kandung.”
“Ouuu.” Dirasa cukup puas dengan jawaban Demian, maka aku hanya menanggapinya dengan ber oh ria saja. Tak sedikit ikan yang ia habiskan, kurasa sisanya hanya cukup untuk makanku pagi ini alias tinggal sepotong. Tapi tak apalah, asal jangan tinggal kepala dan tulangnya saja.
“Ohiya apa boleh aku bertanya sesuatu?” Netra Demian fokus menatapku.
“Apa?”
“Siapa laki-laki yang menjemputmu dengan mobil kemarin?”
“Oh. Itu calon suamiku.”
“APA! Uhuk-uhuk!”
...***...
__ADS_1
Bersambung
Like & Comment