
“Uhuk-uhuk sreeesh.” Cendol hijau mengental di dalam rongga hidung. Dada sebah, napasku juga terasa panas.
Berbadai-badai ria tadi malam membuat tubuhku tumbang tak berdaya. Aku agak menyesal karena telah memilih jalan kaki ketimbang naik angkutan yang pada akhirnya menyebabkan aku terkena hujan.
Drrrt drrrt.
Getaran panjang dari sebuah benda pipih membuat badanku beringsut ke bagian pojok ranjang.
Pak Reno.
Huh dia lagi dia lagi, pasti mau bertanya kenapa aku belum datang sampai sekarang.
“Halo.” Sapaku sesaat setelah menekam tombol hijau pada layar ponsel.
“Jangan kira kau bisa lari ya! Seenaknya kau membuat janji dengan putraku lalu mencoba kabur lagi. Kau kira aku tak tahu, ke ujung dunia pun kau akan kukejar Chevani.”
Sial! Satu kataku dibalas dengan satu paragraf oleh orang bodoh itu. Jadi dia mengira kalau aku ingkar lalu kabur? Asal dia tahu saja, aku di sini sudah hampir kehabisan napas. Liciknya lagi selalu Refa yang ia jadikan tumbal, padahal memang dasar dianya saja yang tak ingin kehilangan aku.
“Aku sedang sakit.” Jawabku singkat dengan serak yang begitu kentara.
“Apa? Sakit? Kenapa bisa? Kau di rumah kan? Aku ke sana sekarang!”
Tuuuut.
Panggilan terputus sepihak.
Aku berdecak sebal melihat kelakukan si Reno yang semakin menjadi-jadi. Ia terlalu memperlakukanku seperti ratu di hidupnya, bahkan dengan Bu Farah saja pun dia tak pernah berbuat demikian.
Rasa lelahku kian menusuk, mataku sangat sulit untuk terbuka. Hingga entah bagaimana caranya tiba-tiba saja aku telah berlayar ke alam entah berantah.
...***...
Tok tok tok.
“Chevani! Che!”
Aku keukeuh pada posisi telentang menghadap langit-langit kamar. Semuanya terasa berat, dan tiba-tiba saja telingaku mendengar suara ketukan pintu dan orang memanggil dari arah luar.
“Iya sebentar.” Jawabku yang entah kedengaran atau tidak.
Dengan terseok-seok aku berjalan menuju pintu depan.
Ceklek.
__ADS_1
“Kau kenapa? Apanya yang sakit?” Tiba-tiba saja dahiku terasa panas, ada benda kasat mata yang menempel di atasnya.
Tak ada hal khusus yang mendasari pria beranak satu ini untuk datang selain memastikan keadaanku. Aku menjadi risih, terlebih dia membawa banyak buah serta bocah cilik dengan ransel kura-kura yang tercantel di pundaknya.
“Hanya pusing saja.” Jawabku sekenanya. Sebisa mungkin aku harus terlihat baik-baik saja agar Pak Reno tak sampai membawaku ke rumah sakit.
Pria ini terdiam cukup lama, memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Kau sungguh hanya pusing saja kan?”
“Iya.”
“Kalau begitu makanlah ini, aku akan menjemput Refa setelah pulang bekerja.”
Pak Reno sempat membuatku berpikir. Apakah dia tak menghiraukan keadaanku yang tengah sakit? Berada bersama Refa akan membuat kondisi tubuhku semakin buruk. Bukannya istirahat, aku malah sibuk menjaga agar si tabung gas ini tidak menghambur-hamburkan isi rumah.
Pak Reno tersimpul manis sebelum benar-benar pergi meninggalkan kami. Katanya aku tak boleh ke mana-mana apalagi sampai bekerja. Aku harus banyak makan sayur dan buah, juga istirahat yang cukup.
Aku memperhatikan Refa yang tengah melambai pada sang Papa. Beruntung, dia sama sekali tak protes dengan kehadiranku di keluarga mereka. Entah karena sayang atau memang bocah itu saja yang belum tahu menahu arti dari sebuah perceraian. Tapi kuharap bila suatu saat nanti ia mengerti, maka tak ada alasan baginya untuk menghujatku sebagai perusak rumah tangga orang karena memang ayah dan ibunya lah yang menginginkan semua ini.
Aku lalu memerintahkan Refa untuk segera masuk karena tidak baik kalau dia dibiarkan sendirian di kampung orang, bisa mampus aku kalau sampai dia lepas.
“Atu bawa bubun ayam buattu cama buat Ibu.” Katanya seraya membuka resleting tas kura-kura.
“Ohya? Mana?”
Melihat Refa mengeluarkan dua box putih membuat cacingku semakin berdemo di dalam sana. Aku beringsut ke dapur untuk mengambil minum dan kembali lagi setelah urusanku di belakang selesai.
“Eum nyam nyam.”
...***...
Langit yang kukenal dengan warna-warna aestetic telah tampak di ambang mata. Kilatan sore yang kerap membius netra makhluk yang memandangnya dari penjuru arah.
“Pokoknya kau harus membelikan aku baju baru!”
“Hei! Ini belum bersih, sapu lagi!"
“Kau ini bisa mengurus anak tidak sih?”
Hatiku ngilu, perlakuan ibu mertua membuatku nyaris mati. Aku jadi ingat waktu itu Bu Lastri kerap menghardikku dengan berbagai cara. Kadang dicaci maki, disuruh-suruh bahkan tak jarang juga si gerandong itu memukul tubuhku hingga memar.
Ah! Kenapa di hari yang indah aku malah memikirkan wajah seram itu ya? Sudah lah Che, jangan ingat-ingat lagi mertuamu itu! Anggap saja dia sudah lenyap ditelan bumi.
__ADS_1
Aku meraih mainan-mainan Refa yang berserakan di atas lantai kemudian memasukkannya kembali ke dalam tas kura-kura. Tidak terasa waktu telah beranjak petang, sebentar lagi papanya pasti akan menjemput.
Gedebuk gedebuk gedebuk!
“Ibuuuuuu! Ibuuuuu!”
Astaga!
Jantungku berdebar-debar.
Itu suara Refa, kenapa dia?
Aku langsung ngacir ke halaman guna memastikan keadaan bocah gembul itu. Sempat kukatakan padanya jangan bermain di luar, tapi dia tetap bandel dan sama sekali tak menggubris laranganku.
“Kenapa bang?” Aku terdiam bingung. Tak ada memar apalagi darah yang keluar dari tubuhnya, tapi wajahnya panik.
Refa berlari ke arah depan dan membuat pinggulnya bergeol ke kanan dan ke kiri. Jari telunjuknya melayang-layang, entah sedang membidik apa. Aku mengikut dari belakang saar mendengar suara Refa kian menjauh.
“Ibuuuu! Ituuuu…!” Teriaknya keras bukan main.
“Apa? Kau melihat apa nak?”
Melihat wajah Refa yang semakin menegang kaya anu, eh maaf kuralat.
Melihat wajah Refa yang kian menegang, aku menghampirinya dengan sisa napas yang masih ada. Aneh, belum pernah ia bersikap seperti ini.
“Atu liat Dek Plicil macuk ke cana.”
HAH?
Sepasang mataku sontak membulat namun kembali normal di saat itu juga. Sempat kuikuti gerakan tangan Refa menunjuk ke arah gang yang ternyata ada dua anak seusianya sedang bermain sepeda di sana. Jantungku luruh, rupanya si Refa hanya menghalu.
“Ayok bang apa lagi?” Aku berteriak takkala mendapati si bocah imaginer itu masih tercegak di tempat semula. Ia tampak diam kaku dan enggan memandang apapun selain gang pojokan sana. Sesekali lehernya memanjang seperti orang yang sedang mengintai.
Aku tak sabar, kerjaanku mengumpulkan mainannya saja pun belum selesai. Dengan gerakan sigap aku menghampiri kembali dan langsung menggendongnya ala bridal style.
"Besok-besok jangan main di luar lagi yaaa."
...***...
Bersambung
LIKE & COMMENT
__ADS_1