SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
BINGKISAN UNTUK AREN


__ADS_3

“Ah sudah lah! Kau ini entah polos entah memang bodoh.”


Ck! Apasih maksudnya!


Kalau aku tidak salah sudah dua kali dia memberi kode seperti ini padaku. Sumpah aku tak tahu maksudnya apa. Apa susahnya tinggal bicara ke inti? Aku sangat tidak suka bahasa alien seperti itu.


“Apa abang yang memberitahu kalau ibu tidak tinggal di sini lagi?” Aku melayangkan pandangan ke arah bocah kecil yang tengah mengkunyah keripik singkong di balik pintu.


“Iya.”


“Jadi abang bilang kalau kita kemarin keluar ya?”


“Iya.”


Oh astaga anak satu ini!


Tuh kan bener. Padahal aku sudah sebisa mungkin merahasiakan ini dari Pak Reno, eum maksudku biar dia tahu dari mulutku saja dan bukan Refa. Tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi? Si kompor gas satu ini sudah lebih dulu meletup ketimbang aku.


Seperti biasanya, bangunan luas ini selalu disemaki oleh tumpukan mainan dan juga sisa-sisa plastik makanan yang tercecer di atas lantai. Aku memungutnya satu persatu kemudian mengembalikannya ke tempat semestinya. Kalau biasanya selalu ada Pricilia yang memperhatikan mamanya ini membersihkan rumah maka kali ini hanya Refa seoranglah yang menilikku dari kejauhan. Anak satu itu memang perhatian, namun bagiku tak ada yang lebih berharga dan mendatangkan kenyamanan selain dapat melihat anakku sendiri seperti yang lalu-lalu.


Oh iya ngomong-ngomong soal Pricilia entah kenapa otakku mendadak merekam wajah lisuh si nenek tua yang telah mengusirku kemarin. Apa kabarnya ya? Apa dia memang benar-benar bisa bertahan tanpa aku? Bagaimana jika ternyata wanita satu itu tiba-tiba mati karena kelaparan? Dan kalau sampai terjadi sesuatu intinya ini semua bukan salahku.


“Aku pergi dulu kau jaga anakku baik-baik.” Pak Reno beringsut turun dari lantai atas seraya memboyong tas petak hitam kebangsaannya.


Aku heran. Kenapa bisa ya pria itu sama sekali tak perduli dengan Bu Farah? Apa dia sudah tak menyayangi istrinya lagi? Tapi kalau dipikir-pikir beberapa hari lalu dia sudah menemui wanita itu namun tak juga membawanya pulang ke rumah. Seharusnya si bodoh itu bisa mengerti kalau putranya sangat merindukan sosok ibu. Lagipula bagaimana dia mau memuaskan kebutuhan biologisnya kalau tidak ada yang mau dihantam? Eh eh pikiranku kok jadi ke situ sih ya ampun.


Drrt drrt drrt drrt.


Tiba-tiba saja ponsel dalam sakuku bergetar panjang.


“Di mana rumah majikanmu? Aku ingin ke sana.” Suara cempreng seorang wanita mendadak menyela dari arah lain.


Itu Neni. Memang sudah menjadi kebiasaannya berbicara tanpa diminta. Aku menjauhkan benda pipih ini dari telinga, karena kalau aku terus menempelkannya bisa-bisa alat pendengaranku mati fungsi dan aku menjadi tuli.


Tanpa mau berpanjang-panjang ria lagi aku langsung memberitakan alamat rumah ini pada si Neni. Entah mau apa tapi semoga saja kehadirannya tak sampai mengganggu pekerjaanku.


“Ibu atu mau belajal.”


“Yaudah sayang belajarlah.”


“Tapi atu mauna ditemenin cama ibu.”


“Ibu lagi kerja sebentar ya.”


“Nda mau!”


Aish! Kenapa jadi begini? Bagaimana aku bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat kalau tiba-tiba saja si Refa minta ditemani belajar. Huh mengganggu saja pun!


“Abang mau belajar apa?”


“Tata papatu aku halus bisa itung.”

__ADS_1


“Oh jadi abang belum pandai ya?”


“Beyum.”


Kasihan anak satu ini. Sebenarnya dia sangat pintar, sungguh. Namun karena keterbatasan waktu bersama orangtua membuatnya harus menanggung lamban belajar termasuk berhitung seperti sekarang.


Bisa aja sih mamanya mengajari karena kebetulan perempuan itu juga tak memiliki kesibukan apapun. Namun di sisi lain kita juga sama-sama tahu bahwa si gerandong satu itu hanya sibuk dengan belanja belanja dan belanja. Terlebih lagi ketika dia sudah minggat dari rumah, tak ada yang bisa diandalkan untuk mengajari Refa kecuali papanya sendiri dan itu pun jarang. Mumpung aku adalah babu sekalian ibu asuhnya di rumah ini, maka sebisa mungkin aku meluangkan waktu guna mengajari anak seorang pria yang sudah banyak berperan dalam kehidupanku.


“Ini butuna.” Laungan suara Refa terdengar dari arah atas. Aku meninggalkan sapuanku yang belum beres dan segera menuju ke sana.


Tak butuh waktu lama akhirnya aku sampai di sebuah ruangan yang di dominasi oleh gambar robot serta mobil di seanteronya. Aku meraih buku hitung tersebut kemudian mulai membimbing Refa perlahan-perlahan.


“Sekarang ibu mau lihat dulu bagaimana kemampuan Bang Refa.”


“Atu yupa.”


“Gapapa sayang sebutin aja ya.”


“Tatu dua tiga empat yima deyapan sepuyuh holeeeeee.”


Gubrak!


Mau ketawa takut dosa kikikik.


Mana ada sejarahnya habis lima langsung delapan, ada-ada saja si kompor gas satu ini.


“Salah bang.” Kataku seraya menahan tawa. “Yang bener itu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh.”


“He em.”


“Tatu dua tiga empat yima enam tiga empat.”


“Eh eh salah lagi salah! Bukan gitu sayang.”


“Aduuuh payaku pucing.”


Aku tergelak hebat melihat tingkah Refa. Tangannya yang seperti roti buntel itu merengkuh kepala pertanda pusing, wajahnya juga ditekuk serta napasnya yang keluar sangat kasar.


“Yaudah yaudah kita ulangi lagi yaaa satu dua ti-“


Ting nong ting nong ting nong ting nong.


“Ih ada tamu buuu.”


Hei siapa itu? Lebay sekali memencet bel rumah sampai bejibun gitu.


“Abang di sini dulu biar ibu lihat.”


“Iya.”


Akhirnya aku pun kembali turun guna melihat tamu mana yang menekan-nekan bel rumah hingga sedemikian rupa. Kurasa masa kecilnya kurang puas makanya dia ingin menyambungnya kali ini.

__ADS_1


Ceklek.


“Lama sekali!”


“Oh astaga! Kau rupanya pantas saja.”


Aduh aduh si kanebo kering ini rupanya, ck! harusnya sudah kuduga dari tadi kalau itu dia.


“Apa kau sedang sibuk?”


“Bahkan kerjaanku pun baru saja kumulai.”


“Temani aku.”


“Ke?”


“Memangnya kau tak ingin memberi bingkisan untuk pernikahan Aren yang akan dilakukan dua hari lagi?”


“Ohya?”


“Kau tak tahu?”


“Tidak.”


“Astaga Che!” Neni mengeplak bahuku kuat, kurang ajar! “Teman macam apa kau ini? Bukannya dia selalu menolongmu?”


“Ceritanya panjang, sudah lah aku tak ingin membahasnya. Kalau kau ingin kutemani bisa-bisa saja tapi tunggulah kerjaanku selesai.”


“Kau juga ingin membeli bingkisan?”


“Aku tidak datang ke pestanya.”


“Sungguh? Kenapa?” Neni menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangan.


...***...


Bersambung


Halo semua


Jangan lupa mampir ke AKU KAU DAN ISLAM yaaa


Ceritanya seru bet 😍


Jangan lupa buat like, comment, rate 5, tap favoritnya + votenya juga yaa


Dukungan kalian semangat buat aku 🤗


Semoga kalian sehat selalu 🤗


Love love love love love

__ADS_1


❤️


__ADS_2