
“Jangan begitu bu!”
“Sudah kau diam saja lah di situ.”
Ya Tuhan.
“Mulai minggu depan Bu Chevani bakal tinggal di rumah kita sayang. Tapi kamu jangan sedih ya karena Mama jarang di rumah.”
“Yaaaah tenapa?”
“Kan Mama mau kerja buat beliin mobil-mobilan kamu sayang.”
“Ohiya atu yupaaa hihi.”
“Jadi kamu beneran mau kalau Bu Chevani tinggal di sini kan?”
“Iya atu mauuu.”
“Ya sudah mama keluar dulu ya, kamu lanjut main aja dulu oke.”
“Nanti mama tetini lagi tan?”
“Iya sayang.”
Bugh!
Bu Farah kembali menarik lengan dan membawaku turun ke lantai bawah. Tak ada raut marah, tak ada bentakan apalagi pukulan dan tak ada juga segala macam bentuk hinaan. Semuanya tertib, Bu Farah berubah menjadi peri baik hati secara tiba-tiba.
“Kau dengar sendiri kan? Bahkan anakku sendiripun tak mempermasalahkan kehadiranku yang akan sangat jarang di rumah ini.”
“Hanya karena kau menjanjikan sesuatu untuknya makanya bocah itu percaya dan tak merasa keberatan. Andai saja dia tahu apa yang sebenarnya terjadi pastilah jiwanya sangat terpukul.”
Hatiku kembat kembut, aku tak menyangka mengapa bisa seorang Chevani Agra memasuki dunia sepelik ini.
“Ahiya satu lagi.” Sambung wanita tersebut yang tiba-tiba memegang punggung tanganku lembut. “Maafkan semua kesalahanku ya. Entah hukuman apa yang Tuhan berikan untukku kelak tapi yang terpenting bagiku adalah mendapat maaf darimu.”
“Sebelum kau meminta maaf aku sudah memaafkannya.” Jawabku hangat dan jangan lupakan kebingungan yang masih menyelimuti isi otakku.
Aku memang masih ingat betul apa-apa saja yang sudah wanita ini lakukan. Mulai dari hinaan hingga ke fisik pun masih terekam jelas dalam memoriku. Tapi jujur di lubuk hatiku yang paling dalam aku memang tak pernah memendam rasa benci pada Bu Farah. Mungkin semua itu hanya sebatas kesal karena aku juga sadar dari merekalah aku bisa hidup selama ini.
Tapi kenapa dia jadi begini ya? Apa lagi buat tabiat?
Aduuuh!
“Jaga Reno dan Refa baik-baik ya dan tetap izinkan aku mengunjungi mereka di rumah barumu ini, permisi.”
__ADS_1
“Tunggu!”
Aku menarik lengan wanita yang mulai menjauh dan meninggalkan aku yang masih dipenuhi oleh tanda tanya. Bagaimana mungkin aku bisa bersatu di atas penderitaan orang lain? Aku tak ingin, sungguh! Karena aku tahu sekali bagaimana mencintai namun terkhianati.
“Apa lagi Che? Sudah ya aku ingin pulang.” Bu Farah melepaskan begitu saja genggamanku yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. “Ohiya aku hampir lupa. Hati-hati dengan Ratna.”
Srek srek srek.
Langkah kakinya nyaring terdengar.
Apa?
Apa tadi?
Hati-hati dengan Ratna?
Ratna siapa? Sahabatku?
Ada apa?
“Bu Farah tunggu!”
Bremmmm.
Bu Farah malah menstater mobilnya dan melesat pergi.
Sumpah aku jadi semakin bingung dengan jalan hidupku sendiri. Kenapa setiap orang yang kutemui menyimpan rahasia tersendiri dan membuat kepalaku pusing bila mengingatnya. Aku seolah berada di awang-awang bumi, tak berpijak. Terlalu banyak teka teki yang entah sampai kapan bisa terjawab dan menghapus rasa penasaranku.
...***...
Siang berlalu menuntut malam untuk segera menyelesaikan kewajibannya kepada bumi. Aku melipat satu persatu pakaian yang sudah sedari siang tadi kering namun baru kuangkat malam ini. Agak sedikit bingung dan kecarian karena tak kutemukan suara tangisan bayi maupun rayuan ayahnya dari sebelah sana. Ke mana mereka ya? Tidak mungkin baru jam tujuh tapi sudah tidur.
Punggungku sudah lama tak merasakan nyeri lagi semenjak memegang satu pekerjaan saja. Kalau dulu aku bekerja sebagai tukang cuci maupun penjaga roko roti maka saat ini aku hanya menjabat sebagai babu di rumah Pak Reno. Syukurlah, tapi ya begitu pemasukanku agak sedikit berkurang.
Oh iya ngomong-ngomong soal Pak Reno, sekarang dia sedang apa ya? Apa dia tahu kalau istrinya tadi memaraniku? Kalau menurutku sih iya karena pasti Refa si mulut remes itu akan menceritakan semuanya. Ah entahlah aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Semoga saja lika liku hidupku segera normal.
Eh anak itu beneran ga bersuara ya? Kemana sih? Aku rindu sekali.
Apa sebaiknya kulihat saja ke rumahnya?
Sepertinya memang harus!
Aku mengambil langkah dan meninggalkan beberapa helai pakaian yang masih tercecer di atas lantai. Batinku sangat rindu mendengar suara bocah gemas itu.
Tok tok tok.
__ADS_1
Aduh gerogi sekali rasanya mengetuk pintu rumah orang yang belum dikenal. Telapak tanganku nyaris basah.
Tok tok tok.
Hening.
“Eum ke mana ya?” Gemingku di dalam hati seraya menabur pandangan ke segala arah.
Aku terus mengetuk pintu hingga beberapa kali namun tak kutemui siapapun di tempat ini. Hingga dalam detik berikutnya seorang wanita paruh baya menyembul dari rumah sebelah dan mendekatiku yang masih tercegak di ambang pintu.
“Mau cari Demian ya nak?”
Hah? Demian?
Ouu jadi pemilik rumah ini namanya Demian.
“Iya Bu. Ke mana ya orangnya?”
“Dia menjenguk ibunya, katanya sih satu minggu.”
“Wah di mana rumah ibunya?”
“Kurang tahu nak.”
“Oh ya sudah terimakasih banyak ya Bu.”
Aku kembali beringsut menuju rumah kemudian langsung merebahkan tubuh di atas ranjang. Kira-kira di mana rumah ibu si Demian itu ya? Dan sepertinya dia memang tidak memiliki istri. Ya bisa jadi dia bernasib sama sepertiku, bedanya kalau aku janda dan dia adalah duda. Kasihan, pasti sangat lelah dan susah bagi seorang lelaki mengurus anaknya sendiri. Tapi semoga dia termasuk pria yang telaten dalam mengurus bayi.
Kalau begitu malam-malamku pasti akan terasa sepi tanpa suara tangisan bocah cilik itu. Aku sedikit heran karena entah kenapa aku seolah memiliki keinginan besar untuk melihat lalu menggendong anak kecil yang saban hari kudengar suaranya dari balik tembok.
Membayangkan bagaimana wajah anak itu aku jadi ingat Pricilia. Apa kabarnya ya? Kenapa sampai sekarang belum ada satu kabarpun kudengar mengenai dia? Aku sedih bahkan sangat terpukul. Entah dia berada di tangan orang yang tepat atau malah saat ini dia sedang terluntang lantung di jalanan. Aku hanya tak ingin putri manisku itu berada di tangan orang yang salah apalagi kalau sampai dia dijadikan pengemis cilik ataupun umpan untuk menarik perhatian orang-orang agar simpati. Aku setiap hari was-was, takut kalau anak itu sakit dan tidak ada yang merawat. Aku rindu sekali dengan Pricilia. Semoga Sang Ilahi segera mempertemukan kami.
Sesekali aku juga kadang teringat dengan nenek anakku, Bu Lastri. Banyak pertanyaan yang bergelayut dalam kepala mengenai gerandong satu itu. Sebenarnya aku juga penasaran karena dahulu dia pernah berkata kalau aku ini baik namun dia tidak suka dengan ibuku. Aku sungguh melihat dan mendengarnya menangis di dalam kamar malam itu namun tak kunjung kutemui jawabannya hingga sekarang. Pernah tersebit olehku untuk memastikan keadaannya karena walaubagaimanapun dia adalah seorang wanita yang melahirkan pria yang sangat kusayangi. Namun niatku terurung mengingat kalau aku ke sana pasti dia bakal marah besar seperti yang lalu-lalu.
Ah entahlah! Satu persatu keluargaku menghilang.
...***...
Bersambung
LIKE & COMMENT
Dukungan kalian semangat buat aku :)
Sehat selalu ya 🤗
__ADS_1