SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
SELAMAT


__ADS_3

Huft, akhirnya selesai juga pertempuranku dengan benda dan bahan-bahan dapur ini. Sup ayam permintaan tuan puteri telah tersaji di meja makan.


Aku beringsut ke depan untuk memandikan Pricilia. Dan dalam waktu yang bersamaan mataku tak sengaja menangkap jam dinding yang telah membidik angka delapan. Oh Tuhan! Aku sudah terlambat satu jam. Bagaimana ini?


Sepertinya ini bukan waktu yang pas untuk bersiap-siap. Sudahlah tidak usah ada yang mandi baik aku maupun Pricil. Toh aku juga hanya seorang jongos, jadi wajar-wajar saja apabila penampilan gembel dan aroma nikmat ketiakku tampil memukau di hari ini. Emmm maksudku memukai bagi para lalat sampah.


Pricil sudah berada dalam gendonganku bersama kuda poni yang masih tergenggam erat di tangan mungilnya. Aku menutup pintu kamar kemudian beranjak ke kamar sebelah untuk memastikan kondisi putri duyung yang sedang tidur manja di atas ranjang. Syukurlah. Nenek ini terlelap pulas pertanda jantungnya sudah kembali normal.


...***...


Seperti biasa, ruas jalan selalu dipenuhi oleh drama kemacetan. Andai saja Tuhan menciptakan sepasang sayap seperti peri-peri kayangan untuk manusia, mungkin aku tak akan menggunakan lajur jalan ini sebagai alternatif untuk sampai ke rumah majikanku. Melintasi udara sepertinya adalah cara terbaik.


Tin tin tin.


Sahut-sahutan kelakson kendaraan kian memadati jalan raya Kota Batam takkala lampu jalan telah menampilkan warna hijau. Berisik sekali, gendang telingaku rasanya ingin keluar dari tempat. Ohiya sudah jam berapa sekarang?


Aku menekan tombol power pada sebuah benda pipih yang terselip dalam saku celana. Sontak mataku membelalak saat mendapati banyak panggilan tak terjawab dari Pak Reno. Oh No! Aku tak berani membayangkan apa yang akan terjadi di sana nanti. Pasti Bu Farah akan menelanku hidup-hidup. Ya Tuhan, bagaimana putri kecilku bila aku mati hari ini?


...***...


Dag dig dug.


Dag dig dug.


Organ tubuh yang tersemat rapi di dalam dadaku terasa terpompa seribu kali lebih cepat. Bagaimana tidak? Saat ini aku telah menjejakkan kaki di sebuah rumah megah yang bagian depannya dipenuhi oleh serakan sampah plastik dan mainan-mainan anak kecil. Sudah pasti pelakunya adalah Refa. Aduh bagaimana ini? Tubuhku bergemetar.


Aku mengendap memasuki ruangan yang ukurannya tiga kali lebih luas dari rumahku. Hening. Aku tak menemukan tanda-tanda nenek lampir di kawasan ini. Apa mungkin dia sedang berada di atas?


Astaga!


Itu kan-

__ADS_1


Seorang lelaki bertubuh jenjang dengan balutan jas kantor berdiri tegak dan tepat menghadap ke arahku. Pak Reno, sejak kapan lelaki itu ada di sini. Aku ketar ketir. Lalu entah apa yang tiba-tiba mendorong pikiranku untuk berlari mendatanginya lalu bersimpuh memohon maaf.


Aku takut.


Sangat takut.


Aku sungguh tak ingin dipecat sebagai seorang babu di rumah ini.


Aku masih membutuhkan uang untuk melanjutkan hidup.


“Ma- maafkan atas keterlambatan saya pak. Saya mohon jangan pecat saya dan tolong selamatkan saya dari amukan Bu Farah.” Tanpa terasa air mataku telah banjir dan tetesannya jatuh membasahi lantai. “Saya sadar saya salah, tapi saya mohon pak. Saya butuh uang untuk hidup, kasihan putri saya kalau tidak makan.” Aku terus bersimpuh seraya memberanikan diri untuk menatap sosok tegap yang masih kukuh berdiri di hadapanku.


“Kau ini kenapa?”


Loh.


Kok tidak marah?


Hal yang tak terduga pun terjadi. Seorang pria menarik kedua tanganku dan membantuku untuk berdiri. Dia menatapku penuh tanda tanya lalu dalam detik berikutnya senyumnya mengembang menghiasi wajah. Sungguh, lelaki beristri ini tampan sekali. Ya ampun Chevani jaga matamu!


Hah!


Yang benar saja?


Dugaanku benar. Pasti akan ada hal yang lebih mengerihkan setelah pertengkaran kemarin. Kemana istri dari seorang pria yang rendah hati itu?


Tapi jika dipikir-pikir kepergian Bu Farah merupakan suatu anugerah tersendiri bagiku. Siapa sangka bahwa aku akan selamat dari kesalahan yang kuperbuat? Jika ada nenek lampir itu, jangankan karena murni kesalahan, bahkan tidak salah pun aku memang setiap hari selalu digilas oleh mulut remesnya. Ah yasudahlah, lebih baik aku ke atas menemui Refa.


Setelah menaiki barisan anak tangga akhirnya sampai lah aku di depan pintu yang permukaannya di bubuhi oleh gambar bola-bola kecil. Apalagi kalau bukan kamar Refa. Aku menarik kenopnya dari arah luar lalu kudapati seorang bocah gendut sedang tersedu-sedu di pojokan kamar.


Hiks hiks hiks.

__ADS_1


“Loh bang Refa kenapa?” Tanyaku membuka percakapan kemudian membuat jarak di antara kami.


Hiks hiks hiks sruuut.


Serutan cairan kental berwarna hijau keluar masuk dari dua lubang yang berada tepat di atas bibir bocah itu. Teskturnya persis seperti cendol yang acapkali ku minum suwaktu jam istirahat di sekolah dasar. Refa masih membeku di tempat. Entah sesuatu apa yang membuat wajahnya mendung dan menitiskan air hujan di pagi ini.


Bocah itu beringsut mendekatiku lalu memeluk tubuhku dengan sangat erat. Aku merenggangkan tangannya kemudian meletakkan Pricilia ke atas ranjang berukuran tiga kaki milik Refa. Bisa mati terhimpit anakku oleh badan tabung gas ini.


“Mamatu pelgi.”


Ou ternyata si tengil ini menangisi mak lampir itu.


Ups.


Sorry kelepasan.


“Loh siapa yang bilang mamanya bang Refa pergi?” Aku bertanya seolah tidak tahu. Siapa lagi kalau bukan papanya sendiri yang memberitahu.


“Tata papatu mamatu tempat nenek. Huaaaa huaaaa.” Tangisnya kembali pecah memadati seisi ruangan ini. Di atas ranjang sana Pricilia juga tampak membeliakkan mata dengan wajah tegang, kasihan. Mungkin dia mengira ada perang badar susulan sehabis kemarin.


“Mama Farah pergi cuma sebentar kok sayang. Mungkin mama Farah ada urusan.” Kataku mencoba menenangkan.


“Tapi atu pengen uga tempat nenek. Di cana ada mobin-mobinan gede bu huuuhuuhu hiks.”


Refa memang pernah dibelikan mobil-mobilan besar oleh opa dan omanya suwaktu mereka liburan ke sana beberapa bulan lalu. Namun mainan itu tidak dibawa ke rumah ini karena Bu Farah melarang dengan alasan ribet membawa benda besar tersebut dalam perjalanan jauh. Tidak ada hal yang lebih menarik selain bermain mobil-mobilan bersama opanya di sana, maka dari itu hatinya sangat terpukul saat mengetahui bahwa mamanya tengah berada di kampung kelahirannya. Yaaa meskipun sebenarnya masih fifti-fifti bila Bu Farah sedang berada di sana. Bisa jadi saat ini dia di rumah temannya, atau mungkin pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Atau bahkan pergi ke Rahmatullah kikikikik, aku tergelak kecil.


...***...


Bersambung


Comment, like & vote guys

__ADS_1


Dukungan kalian semangat buat aku


Sehat selalu yaaa🤗


__ADS_2