
“Ke mana pak?” Aku bertanya penuh penasaran. Kena angin apa pria tampan ini mengajak jongosnya pergi? Ah jangan geer Chevani, mungkin majikanmu hanya mengajak kau pergi ke pasar untuk berbelanja sayur mayur.
“Kau tidak perlu tahu. Besok jangan terlambat lagi.”
Huft perkataan Pak Reno membuat alam ingatanku terpusat pada kejadian tadi pagi di rumah. Semoga saja besok nenek gerandong itu tidak menyuruhku yang aneh-aneh lagi agar aku bisa segera sampai ke rumah ini.
Aku meneruskan pekerjaanku dan setelah selesai aku langsung beranjak ke kamar untuk menemui Pricilia di sana. Anak mungil itu masih nyenyak tertidur di atas kasurnya. Sebenarnya Pricilia bukanlah anak yang tergolong memiliki penyakit vertego alias kurang gizi, walaupun aku seorang janda miskin namun kebutuhan anakku tetaplah yang nomor satu. Mungkin Tuhan mentakdirkan Pricilia menjadi seorang bayi tukang tidur agar ibunya yang berprofesi sebagai pembantu dan tukang cuci ini dapat dengan leluasa bekerja tanpa terusik oleh keribetan untuk mengurus seorang bayi. Syukurlah Tuhan sangat mengerti kondisiku.
Aku duduk di tepi ranjang kemudian menatap ke arah luar melalui jendela kamar. Pemandangan di luar sangatlah asri, pepohonan hijau anom berderet panjang seperti barisan angsa yang hendak menyeberang sungai. Aku termangu memikirkan bagaimana cara agar bisa sampai ke bar karena uang di sakuku benar-benar sudah tak bersisa. Namun sekelebat bayangan paras Ratna muncul dalam pikiranku. Ah mungkin dia bisa dijadikan solusi. Aku segera bangkit dan meninggalkan Pricil yang masih pulas di tempat ini kemudian beringsut menuju rumah sebelah, tempat di mana Ratna mengabdikan diri sebagai seorang babu sepertiku.
Ting nong ting nong.
Bel berbunyi dan aku sudah berdiri di depan sebuah rumah yang tak kalah megahnya dengan rumah majikanku.
Ceklek.
Pintu terbuka namun aku tak melihat sesiapapun di sini. Hei siapa yang sudah membukakan pintu? Apa ada makhluk lain di rumah ini? Batinku bertanya-tanya.
“Hayo tante ada apa?”
Oh Astaga!
Ternyata seorang anak kecil seusia Refa yang membukakan pintu, pantas saja tidak kelihatan batang hidungnya kecuali aku melihatnya dengan menunduk.
“Ada Bu Ratna sayang?” Tanyaku pada Cici yang masih setia tercegak di ambang pintu. Anak gelis itu pun kemudian berlari ke arah dapur dan tak lama kemudian muncul lah seseorang yang sedang kucari.
“Eh Che, ada apa?” Tanya Ratna. Mukanya tidak semerah tomat matang seperti tadi pagi.
“Emmm gini Rat.” Aku menarik lengan Ratna dan mengajaknya ke taman depan rumah. Seringkas dan sejelas mungkin aku menceritakan setiap detail dari kejadian yang kualami tadi pagi. Setelah itu aku menyampaikan niatku untuk meminjam sedikit uang darinya agar aku bisa pergi ke bar sekaligus pulang ke rumah setelah semua pekerjaan selesai nanti malam.
__ADS_1
Mendenegar seluruh penuturanku Ratna manarik kedua sudut bibirnya lalu berangsur ke dalam rumah. Tak butuh waktu lama ia kembali dengan sebuah benda persegi panjang tergenggam di tangan kanannya.
“Ini” Katanya seraya menyerahkan lima lembar kertas merah padaku.
What!
Apa-apaan ini!
Mataku membelalak takkala melihat uang lima ratus ribu yang ia berikan ke padaku. Dari mana jongos satu ini memiliki uang banyak? Bukannya kondisinya juga sama sepertiku, sama-sama menjadi seorang babu di rumah orang.
“Kau punya uang sebanyak ini dari mana?” Tanyaku pada akhirnya.
“Ehmm i- itu dari suamiku.” Ratna tampak berpikir sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaanku.
Benar juga. Ratna memang seorang pembantu namun dia memiliki suami yang juga bekerja seperti dirinya, bahkan mereka tidak memiliki anak. Jadi, bisa saja pengeluaran mereka saat ini masih sangat sedikit. Ya ampun Chevani kau harus banyak-banyak berhusnuzon pada orang lain.
“Tapi aku tidak membutuhkan uang sebanyak ini. Nah ambil lah lagi.” Kataku seraya memberikan empat lembar kertas merah pada Ratna. Aku hanya mengambilnya satu lembar saja.
Mataku sontak membulat sempurna berikut dengan mulutku yang ternganga lebar. Kenapa Ratna tiba-tiba memberi aku uang sebanyak ini? Apa dia sedang buang tabiat? Aku harus mengembalikan uang ini karena aku tak mau berhutang budi untuk yang ke sekian kali padanya.
“Maaf bukannya aku menolak tapi-“
“Eits1 Kau tahu? Pamali menolak rezeki. Ambil lah.”
Ratna menyodorkan lembaran-lembaran merah itu lagi ke padaku. Benar juga yang dia ucapkan bahwa pamali bagi kita untuk menolak rezeki. Ah yasudahlah, mungkin ini salah satu balasan Sang Ilahi atas kesabaranku menghadapi nenek gerandong itu tadi pagi.
Gusti.
Limpahkan lah kebaikan serta kesehatanmu pada sahabatku yang satu ini. Dulu suwaktu kami masih sama-sama bersekolah dia adalah satu-satunya orang yang selalu membantuku dalam kesusahan. Dan ketika kami telah dewasa pun dia juga orang yang selalu setia menolongku untuk menyambung hidup. Beruntung sekali rasanya aku memiliki seorang sahabat seperti Ratna. Semoga Tuhan segera mengkaruniakan dia dan suaminya seorang bayi mungil. Aamiin.
__ADS_1
Tanpa terasa air mataku menetes membasahi pipi. Aku memeluk tubuh Ratna erat-erat yang dibalas olehnya dengan rangkulan yang sama.
“Terimakasih Rat. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu.” Kataku lirih.
Aku melepas pelukan itu kemudian beringsut mundur untuk segera pergi dari sana. Hari sudah mulai jingga pertanda kami harus cepat pergi ke tempat pencucian bar untuk bekerja. Namun belum sempat aku menarik langkah untuk melenggang pergi, sepasang mataku tidak sengaja menangkap pemandangan sebuah gold card yang baisanya dimiliki oleh orang-orang kaya di dalam dompet Ratna yang masih ternganga lebar.
Setelah uang lima ratus ribu tadi kini otakku disesaki oleh kejanggalan baru yang kulihat dalam diri Ratna. Apa dia baru saja dapat Ilham dari atas langit? Aku menarik mulut tiga centi untuk bertanya kepastian mengenai gold card itu. Namun belum sempat aku membuka suara, pekikan Cici membuat Ratna lari dan mencelos dari pandanganku.
“Bu Latna cepetan kecini.”
...***...
Drama kemacetan mulai terjadi di Kota Batam. Biasanya kalau sudah sore begini penyebabnya itu hanya ada dua. Pertama pendendara yang baru saja pulang bekerja dan yang kedua adalah para jomblowan jomblowati yang beriringan menuju alun-alun untuk mejeng. Huh buat padat jalanan saja mereka. Kenapa tidak membantu ayah atau ibunya saja di rumah?
Aku berhasil lolos dan mendaratkan bokongku di angkutan umum ini setelah sebelumnya Refa kembali menangis saat aku hendak pulang. Acap kali dia meneteskan bulir-bulir bening itu dari pelupuk mata mana kala aku pergi bersama Pricil dari rumah itu. Terlebih jika ibunya sednag tidak di rumah begini, pasti ia merasa sangat kesepian.
Setelah 30 menit berkendara akhirnya sampai lah aku di sebuah gedung besar tempat biasa aku mencuci sprei putih dan teman-temannya.
Ada yang aneh.
Dari ujung jalan aku melihat kerumunan memadati kawasan bar dan sebuah garis polisi mengitari gedung tersebut.
Ada apa ini? Apa ada kecelakaan?
...***...
Bersambung
Comment, like & vote guys
__ADS_1
Dukungan kalian semangat buat aku:)
Sehat selalu yaa🤗