SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
RUMAH POHON


__ADS_3

Waktu terus berlanjut, namun si gembul tak kunjung berbicara. Baik aku maupun istrinya sendiri, sama-sama menunggu sebuah nama yang menyesaki isi kepala.


“Sepertinya jarum jam akan terus berputar tanpa peduli bagaimana keadaan bumi,” kataku sarkas. Di sisi lain aku juga menggenggam erat tangan mungil Refa agar tak lolos ke pusat jalanan.


“Kalau begitu, berarti kau menyembunyikan sesuatu dariku juga ya?” Bagus! Kali ini istrinya itu yang ikut menimpali.


Kemarin Aren memang bisa menutupi semuanya dariku, ia bisa lari takkala aku memanggil-manggil namanya dari belakang. Tapi sekarang, lihatlah wajahnya yang pucat itu. Aku sukses membuatnya masuk dalam kandang kadal, ralat, maksudku kandang buaya.


“Apa lagi?”


“Cepat sayang. Kita masih banyak memiliki urusan,”


“Kasihanilah istrimu, wajahnya sudah merah terkena sinar matahari,”


“Arrrgh baiklah-baiklah,” Aren meremas rambutnya sendiri frustasi. “Tapi hanya namanya saja. Selebihnya aku tak ingin memberitahu,”


“Hm!” Aku langsung memasang telinga dan mendekatkan jarak dengan keduanya, tepat di depanku Aren menarik napas dalam. Maklumlah, orang seperti dia membutuhkan banyak oksigen untuk sekadar berbicara.


“Ratna lah yang menyuruhku untuk melakukan semuanya,”


Sebuah nama yang spontan membuat dadaku bergemuruh hebat. Seketika aku tersedak, warna merah kebiruan senantiasa menghiasi zona wajahku. Ya, aku dapat merasakannya. Sekarang, kedua tanganku mencengkram kuat.


“Bohong! Mustahil sahabatku sendiri yang menjadi dalang. Kau mengarang cerita agar tak menyebutkan kebenarannya kan?”


Aren berusaha menyembunyikan semuanya, ia tidak segan merajut kepalsuan di depan istrinya sendiri. Setidaknya dia berpikir, bagaimana kalau ternyata aku benar-benar membongkar apa yang telah kami lalui dahulu. Istrinya akan marah luar biasa, bukan?


“Terserah kalau kau tak percaya. Suatu saat kau akan mengetahui,” Aren membalikkan tubuh seraya menarik lengan sang istri. Ia sungguh tak perduli. Entah pura-pura sibuk atau memang ingin menghindar.


Bukan tanpa alasan aku bersikap seperti ini. Setahun lebih hidup dipenuhi dengan orang-orang aneh meninggalkan tanda tanya besar tersendiri dalam diriku. Pintu hatiku kian terbuka, menanti jawaban dari semua kejanggalan hidup.


“Panas Bu,” Refa mengibas-ngibaskan sebelah tangannya pada wajah. Kasihan, gara-gara aku anak ini terbakar oleh mentari siang.


Menatap langit-langit alam dengan kernyitan dahi. Aku merasa bingung dengan sikap Aren yang seolah menggambarkan keseriusan. Atau jangan-jangan memang benar kalau semua ini bukanlah settingan belaka. Selama kami berteman, dia memang belum pernah barang sekalipun berbohong padaku.


Aku menggigit bibir berusaha mencoba bersikap biasa, tapi bayangan Ratna kian bergelayut dalam kepala. Meski tidak mendapatkan informasi yang akurat, namun entah kenapa perasaanku jadi tidak enak begini.


Antara percaya dan tidak.

__ADS_1


Semoga suatu hari ada bukti yang lebih kuat.


...***...


“Psssst,”


Aku menoleh takkala desisan lirih terdengar di telinga. Saat ini aku tengah menuntun Pricilia yang mencoba untuk berjalan. Aku jadi tidak sabar memasukkan putri kecil satu ini ke sekolah play group.


“Apa yang sedang kau lakukan di situ?” seorang pria menunjukkan separuh wajahnya dari balik pohon. Seperti sedang bermain petak umpet, raut depresi terlihat takkala aku mengetahui keberadaannya.


“Pricilia sudah bisa berjalan?” Demian beranjak mendekatiku.


“Hampir,”


“Di sini banyak bebatuan. Aku tahu di mana lokasi yang pas agar anakmu dapat berjalan dengan bebas,”


“Di mana memang?”


“Ikut denganku,”


Tanpa izin terlebih dahulu, Demian langsung menutup pintuku rapat-rapat dan menguncinya. Kebetulan benda silver serta gemboknya itu memang tergantung di sana.


Demian tak menjawab, ia masih senantiasa menikmati suasana sore dengan pemandangan di luar sana. Sesekali netranya melirikku dan Pricilia secara bergantian. Persis seperti sosok suami. Ah andai saja.


Empat puluh lima menit berlalu. Setelah dua kali ganti angkot, akhirnya sampailah kami di sebuah lapangan luas yang ditumbuhi oleh pepohonan besar di dalamnya. Aku terkesiap, tempat ini seolah mengingatkanku pada hari-hari tiga tahun lalu.


Demian meraih jemariku dan mengambil alih Pricilia dari gendongan. Rasa hangat sontak menjalar di sekujur tubuh, aku memang tak pernah dapat menolak ketika pria satu ini menyentuh apapun dari bagian tubuhku. Ya Tuhan.


Kami terus berjalan menyusuri kawasan asri yang luasnya tak dapat dihitung dengan sekilas mata. Hingga dalam beberapa langkah berikutnya, aku melihat sebuah pohon yang menurutku paling besar dan rindang di tempat ini. Akarnya menjalar panjang hingga nyaris menempel pada pohon lain. Atmosfernya juga dingin luar biasa. Aku memperhatikan jajaran kayu-kayu kecil yang sengaja dipaku hingga ke atas, ternyata ada rumah pohon di sana.


Alisku saling tertaut, mataku juga terpejam selama beberapa detik.


Kemudian…


“Oh ya ampun. Aku baru ingat kalau ini adalah tempat bermainku dengan Hero dulu sewaktu SMA,” sebuah kalimat mencelos begitu saja dari bibirku.


Demian. Pria yang tengah menggenggam tanganku erat spontan menoleh sambil tersenyum lebar. Aku jadi malu, seharusnya aku lebih hati-hati dalam berbicara.

__ADS_1


Tapi sungguh, aku berani bersumpah demi apapun kalau ini adalah lokasi di mana aku dan sang mantan suami memadu kisah dahulu. Aku juga ingat betul, waktu itu Hero pernah mengobati luka di lututku yang terjatuh karena tak bisa menaiki anak tangga. Ck sial! Kenapa Demian juga bisa tahu tempat bersejarah ini?


“Kau suka?” Netranya beralih menatapku.


“Entahlah Dem. Aku merasa sedang mengulang kisah-kisah lalu,”


“Ya, kau memang sedang mengulangnya bersama diriku,”


“Andai saja kau lah pria itu,” Aku menarik napas dalam. Bayangan saat Hero ******* habis bibir si jalang berkelebat dalam kepala. Namun di sini, aku merasakan kenyamanan itu timbul kembali. Meskipun dengan sosok lelaki yang tak sama.


“Ayo kita duduk di bawahnya. Biarkan Pricilia bermain di hamparan luas ini,” Lelaki bertubuh bersih itu sepertinya memiliki jiwa keayah-ayahan. Ia berusaha sebisa mungkin memberikan kenyamanan pada seorang putri cilik yang sama sekali tak memiliki ikatan keluarga dengannya.


Aku menurut dan segera mendaratkan bokong di atas rerumputan tebal. Kalau hari biasa memang selalu sepi, weekend saja yang ramai.


“Dulu aku sering ke tempat ini bersama istri pertamaku,” Mata cokelat Demian menatapku lekat-lekat. Kenapa nasib kami seakan-akan sama begini?


“Ini juga tempat bermainku dengan Hero dulu,”


“Ohya?”


“Iya. Dulu dia sering mengejekku karena tak bisa naik ke atas rumah pohon,”


“Kalau aku sih, pernah menjitak kepalanya sewaktu ia tak mau makan,”


“Serius? Ah kurasa nasib kita sama. Hero pernah menoyor kepalaku gara-gara tumis udang buatannya sama sekali tak kusentuh,”


Hal ini semakin membuat daya tarik tersendiri untukku dan juga Demian. Lucu sekali, entah kenapa rotasi hidup kami memiliki banyak kesamaan. Setelahnya, kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku membiarkan Pricilia dengan girangnya berguling-guling di atas rumput. Sesekali tawanya mengisi lokasi hampa ini.


Tidak sulit ternyata menemukan kebahagiaan. Cukup duduk dengan Demian di bawah rumah pohon saja sudah berhasil mengisi kekosongan jiwaku selama ini. Ah, kenapa aku mendadak nyaman begini sih. Ingat Chevani! Lusa kau akan menikah dengan Pak Reno.


...***...


Bersambung


Kalian setujunya Chevani sama Reno atau Demian sih?


Cuman Chevani kayanya lebih nyaman sama Demian deh:(

__ADS_1


LIKE & COMMENT


Jangan jadi pembaca gelap, okeh:)


__ADS_2