
Aku berpikir sejenak kemudian beringsut menuju kamar. Terpaksa aku mengambil beberapa lembar uang seratusan untuk diberikan kepada wanita galak tersebut. Ya Tuhan, setelah ini dari mana lagi aku akan mendapatkan uang untuk biaya hidup? Gajiku akan keluar sekitar dua minggu lagi.
“Ini bu.” Kataku seraya menyerahkan uang tersebut setelah keluar dari dalam kamar. Bu Sumi secepat kilat merampas benda merah itu dari tanganku lalu tanpa mengucap terimakasih ia menghilang dari pandangan.
Aku melayangkan pandangan ke arah mertua ku yang terlihat tiada beban. Bagaimana tidak? Semua kebutuhan hidupnya mulai dari makan sampai pakaian dalam pun menantunya ini yang membiayai. Ia membuka mulut pertanda ingin menghaturkan deretan kata.
“Sekarang kamu masakin mama sup ayam!”
Astaga.
Ya Tuhan.
Apa wanita tua ini tidak melihat aku baru saja membuang duit banyak pagi-pagi begini? Lagi pula aku sudah menyiapkan nasi beserta lauknya di meja makan.
“Sudah tersedia di meja makan ma.”
“Sup ayamnya?”
“Tempe goreng dan tumis kangkung.”
“Apa kau tak mendengar mamamu ini maunya apa?”
“Aku sangat mendengarnya ma. Tapi mau bagaimana lagi? Uang di rumah ini sudah ludes untuk bu Sumi tadi.”
“Aku tidak perduli!”
Pagi yang menjijikkan. Bila tidak mengingat bahwa seseorang yang sedang berdiri di hadapanku ini adalah ibu mertuaku mungkin sudah kujadikan sate tusuk wanita tua ini. Saban hari permintaannya semakin banyak. Tidak hanya berjenis makanan, acap kali ia juga meminta pakaian dan benda-benda mahal yang sangat sulit untuk dijangkau dengan janda beranak satu sepertiku.
Ibu mertuaku ini memiliki riwayat penyakit jantung sejak dua tahun yang lalu. Pernah suatu hari penyakitnya kambuh hanya karena 24 jam tidak berhenti marah atas permintaannya yang tidak dituruti. Waktu itu masih ada Hero di rumah ini dan anaknya sendiri itu lah yang tidak mengabulkan permintaan hatinya. Hingga pada malam hari menjelang pagi aku mendengar jeritan dari kamar depan dan mendapati mertuaku sedang memegang dadanya dengan perih. Cukup kewalahan dan kehabisan materi kami setelah menginapkan ia selama lima hari di rumah sakit. Semenjak kejadian tersebut, apapun permintaanya selalu aku dan Hero turuti meskipun tidak makan akan menjadi taruhannya.
“Tapi bagaimana dengan susu Pricil nanti ma? Kasihan dia.” Aku memasang raut memelas, semoga dengan melihat wajahku yang kusut bak kain kotor ini hatinya akan menjadi luluh dan mau memakan masakan yang telah terhidang di atas meja.
“Kau seorang ibu. Seharusnya kau lah yang memberi anakmu susu dan bukan bubuk-bubuk putih yang berada di dalam kotak!”
Plak!
__ADS_1
Hatiku serasa ditampar setelah mendengar deretan huruf yang keluar dari bibir nenek tua itu. Harapanku untuk mendapat belas kasihan darinya berangsur sirna begitu saja. Entah setan berjenis apa yang bersarang di dalam tubuhnya sehingga kebutuhan untuk cucunya sendiri pun ia enggan mengalah. Egois!
Bukannya aku tidak ingin menyusui anakku. Namun setelah dua bulan aku melahirkan Pricil air susuku sudah tidak keluar lagi sampai sekarang. Aku juga telah mencoba berbagai cara agar air putih tersebut menyembur dengan lancar dari sumbernya. Namun nihil, semua tidak membuahkan hasil.
“Udah sana pergi beli ayam dan sayurannya!”
Gedebuk.
“Awww.” Aku sontak terjungkang sesaat setelah aku merasa ada benda kasat mata yang mendorong tubuhku dengan kasar. Aku melayangkan pandangan ke arah atas lalu kudapati mertuaku berdiri dengan lengan tercegak di pinggang. Fix, pasti gerandong itu pelakunya.
Sakit sekali.
Punggungku serasa mencelos dari tempat.
Khawatir akan perlakuannya yang lebih kasar, aku segera berlari dan meninggalkan perempuan setengah abad itu di depan beranda. Entah bagaimana caranya agar permintaanya kali ini dapat terpenuhi, semoga saja ada Ilham dari langit menghampiriku.
...***...
Srek srek srek.
Hero.
Andai saja kau ada di sini. Pasti hidupku tak akan sekelit ini. Kau sangat menyayangiku dan aku yakin tak akan kau biarkan tali jiwamu ini tertekan lahir dan batin. Pasti kau akan berusaha sekeras tenaga demi kebahagiaan kita bersama. Atau bahkan kau akan memarahi ibumu bila kau tahu bagaimana kejamnya perlakuan singa betina itu terhadapku.
Tapi.
Tunggu dulu.
Kau menyayangiku? Benarkah?
Ah tidak-tidak. Mungkin benar kau sangat mengasihi wanitamu ini, tapi itu dulu. Jauh sebelum aku memergokimu sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita yang aku sendiri pun tidak tahu entah siapa. Andai saja aku dapat melihat wajah perempuan keparat itu, pasti sudah kucari dan kujambak-jambak rambutnya hingga menjadi botak. Namun sayang, posisi wanita perusak rumah tangga itu membelakangiku sehingga aku tidak dapat mengjangkau iblis mana yang saat itu menyerobot bibirmu liar. Bodohnya aku! Mengapa aku langsung lari dan kabur dari rumah malam itu? Seharusnya kutemui dua manusia celaka itu lalu kupotong-potong mereka menjadi beberapa bagian.
“Permisi nona. Kau memakan seluruh jalan.” Suara besar khas lelaki membuyarkan lamunanku seketika. Ya Tuhan. Sudah sampai mana aku beranjak ke alam masa lalu tadi? Sampai-sampai aku pun tidak sadar jika posisi tubuhku berada tepat di tengah jalan. Kasian bapak ini. Mungkin ia sudah menunggu lama di belakang sebab akses jalannya terpalang oleh badanku yang melintang di pusat jalan setapak ini.
“Ah iya- maafkan saya pak.” Aku beringsut mundur dan memberikan lapak luas untuk bapak bertopi bundar dan sebuah karung besar berisi botol-botol bekas yang tercantel di punggung belakangnya.
__ADS_1
Aku jadi ingat suwaktu kecil aku juga pernah berada di posisi bapak tersebut. Mengais barang-barang bekas bersama almarhum ayah dan ibuku dari satu tempat ke tempat yang lain. Letih sekali. Kala itu satu karung besar dihargai sebesar Rp 10.000,-.
Hei.
Apa tadi?
Rp 10.000,-?
Ah iya aku baru ingat kalau di saku bajuku saat ini ada uang sebesar Rp 10.000,-. Lebih baik aku membeli sup ayam yang sudah jadi dari pada harus membeli sayur dan daging ayamnya lagi karena itu akan membutuhkan lebih banyak biaya.
Terimakasih Gusti.
Kau telah menolong Hamba-Mu yang sedang gundah ini.
...***...
Aku menyebulkan diri ke dalam bangunan berwarna biru seraya menenteng plastik hitam berisi sup ayam. Syukurlah, akhirnya permintaan mertuaku dapat terpenuhi. Sup seharga tujuh ribu dan menyisakan tiga ribu sebagai kembalian dari uang yang kuberi tadi. Lumayan, sisa tiga lembar uang seribuannya dapat kugunakan untuk pergi ke rumah Pak Reno pagi ini. Masih jam setengah tujuh pagi, ada 30 menit lagi untukku agar sampai ke rumah majikanku.
Aku menghela napas panjang kemudian meletakkan plastik hitam tersebut di atas meja makan. Aku harus memandikan Pricilia terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja pagi ini. Ah bahkan aku sampai lupa dengan anakku sendiri hanya karena mencari sup ayam untuk Bu Lastri, mertuaku.
Ceklek.
Kenop pintu terbuka. Aku memperhatikan seantero kamar tempat di mana bayi mungilku terlelap dalam tidur malamnya.
Hei, kemana dia?
Kenapa kamar ini sepi tanpa penghuni?
...***...
Bersambung
Comment & vote guys
Dukungan kalian semangat buat aku
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu yaa 🤗