
Entah harus dengan kata apa lagi kulukiskan keadaan hati ini. Aku tak melafazkan namanya secara oral, hanya dalam pikiran saja. Ia pun begitu, menjabat tanganku seraya menyebut kata “Farah” di sana. Tidak, ini hanya akting belaka. Aku bisa menjamin jika wanita itu sama kagetnya dengan diriku.
“Chevani,” kuberikan senyum kecut yang tidak disadari oleh Bu Naumi maupun Bik Nah. Namun perempuan itu, dia paham kalau pada akhirnya aku juga mengikuti arah permainan.
“Ini ponakan saya dari Batam,” Bu Naumi melangkah maju. Menyisakan aku seorang diri di beranda rumah. Sedangkan Bik Nah, wanita tua itu sibuk berkutat dengan makan serta minumannya untuk sang tamu.
Memang benar, dunia sangat sempit. Sudah jauh-jauh aku melangkah meninggalkan kampung halaman demi menyelamatkan diri. Nahas sial masih berpihak. Kembali aku dipertemukan dengan salah satu bagian dari Kota Batam. Bu Farah. Siapa sangka kalau ternyata ia adalah keponakan dari majikanku sendiri. Entah bagaimana kondisi hubungannya dengan Pak Reno, aku yakin bahwa ia akan menyampaikan kabarku di tempat ini.
...***...
Lama aku berkutat dengan alam pikir di sebuah bangku panjang. Pricilia tidur, Ozon juga berlayar di alam mimpi dalam kamarnya. Empat menit setelah itu, aku disuguhkan oleh pemandangan Bu Naumi memboyong beberapa plastik yang isinya entah apa di ambang pintu dapur. Ia berpamitan pada ponakannya itu, ingin ke laundry katanya.
Siang ini menjadi waktu tersial bagi seorang Chevani Agra. Jatah makan sama sekali belum kusentuh. Entah kenapa, tiba-tiba saja hilang selera. Yang kuinginkan hanyalah memutar waktu. Ya, meskipun sejatinya akan tetap mustahil.
“Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi,”
Deg!
Adalah sebuah kalimat yang membuat peluh jagung menetes dari pelipis. Gemuruhku kembali kambuh. Bahkan lebih dahsyat ketimbang saat pertama kulihat wajahnya di ambang pintu tadi pagi. Bu Naumi telah pergi, kini saatnya aku diintrogasi.
“Tak perlu ada yang kau tutup-tutupi Chevani. Aku sudah tahu kalau kau telah menikah dengan seorang pria di kota ini dari Bibiku,”
Ya, bahkan aku sudah lebih dulu menduga sebelum ia memberitahu. Wanita yang berusia lima tahun di atasku itu pasti sudah mengajukan banyak pertanyaan pada Bu Naumi.
“A- aku,” ah, susah sekali rasanya hanya untuk sekadar mengucap kata.
“Apa kau tahu Reno sakit parah setelah kau kabur entah ke mana?” sepasang netraku membeliak tak percaya.
“Benarkah begitu?”
“Hah! Aku menyesal telah menitipkan mantan suamiku pada orang yang salah,” wanita itu kini duduk di sebelahku. Kami hanya terpaut beberapa centimeter saja di atas bangku panjang. Matanya menatap kosong ke arah depan, banyak pepohonan mini serta sebuah kolam kecil di tempat ini.
“Sakit apa?” rasa penasaranku mencuat. Jujur, aku memang ingin sekali tahu bagaimana keadaan mereka semua setelah aku pergi tanpa pamit. Ya, Sang pengabul do’a memang sudah benar-benar mengijabahnya saat ini juga.
__ADS_1
“Kau tak perlu tahu, tidak penting juga.” Bu Farah membenahi posisinya, menghadap ke arahku. “Lalu, seperti apa sosok pria yang mampu membuat seorang pembantu lepas dari genggaman majikannya sendiri?”
Aku sungguh-sungguh mati kata. Ingin lari, namun amat mustahil. Jika aku boleh memilih, aku tak akan mengambil pekerjaan ini dengan resiko akan bertemu orang-orang di masa lalu. Sayang, semuanya sudah terlambat.
“Susah bagiku untuk menikah dengan orang yang sama sekali tak kucinta Bu,” sebuah pembelaan terhadap diri sendiri kulayangkan.
“Susah katamu? Lalu apakah jauh lebih mudah mengikhlaskan sebuah resepsi tanpa pasangannya satu lagi?” wanita itu mulai tersulut emosi. Giginya menggeletuk.
“Aku bahagia dengan suamiku. Aku mohon, tolong jangan beritahu siapapun aku ada di sini,” setelahnya aku ngeloyor pergi. Tak ingin memperpanjang urusan. Namun, takkala langkahku masih separuh, perempuan itu kembali menyebut namaku. Aku menoleh.
“Apa kau masih berhubungan dengan sahabatmu itu?” ia tetap duduk di atas tempat yang sama.
“Siapa?”
“Ratna,”
“Aku bahkan tidak tahu dia entah di mana,” jawabku lesu. Entah sudah bulan ke berapa teman semasa putih abu-abuku itu tidak kunjung kembali.
“Baguslah,” bu Farah membuang pandangan. “jangan pernah berteman dengan dia lagi,” kemudian ia bergegas pergi mendahuluiku.
Kakiku kuajak berlari menyusul Bu Farah yang sudah lebih dulu jauh di depan. Sayangnya, aku mendapati sebuah kendaraan hitam melesat jauh dari gedung ini. Baru saja.
Ck! Lagi-lagi pertanyaan baru muncul.
...***...
Secangkir cokelat panas telah terhidang. Kemudian, tanpa ragu aku menyeduhnya perlahan-lahan.
“Kau suka?” Demian menyelipkan anak rambutku yang terjuntai di balik telinga. Aku mengangguk.
Malam ini, hujan kembali turun dengan hebatnya. Membuat putri mungilku merengkuh di atas kasur bersama sebuah kain tebal yang membungkus sekujur tubuh. Sedang ayah dan ibunya, tengah asyik bersua di ruang tengah.
“Ada yang ingin kukatakan,” suara Demian nyaris tertimbun dengan derasnya hujan.
__ADS_1
Aku menoleh, sesaat kemudian bertanya “apa?” Demian mulai berbicara.
“Izinkan aku pulang ke Batam satu minggu saja,” sebuah kalimat yang membuat alisku saling tertaut.
“Kenapa?”
“Ibuku sedang membutuhkan anaknya ini,” lamat-lamat Demian menatap wajahku. Aku tersenyum, lalu berkata “aku ikut,” Sayang, Demian langsung menggeleng.
“Bagaimana mungkin aku bisa hidup seorang diri di sini?” wajahku mulai masam. Segelintir pertanyaan bernaung di dalam otak.
“Ada Pricilia, sayang.”
“Apa salahnya kalau aku ikut?”
“Aku tidak ingin kau kelelahan,” pria itu menyuguhkan senyum termanis. Sebuah senyuman yang seminggu kemudian akan menghilang. Haruskah kubiarkan? Aku tidak terima jika lelah dijadikan alasannya.
Malam itu, di tengah guyuran hujan yang melanda Kota Jakarta. Aku menangis, merengek agar suamiku mengindahkan permintaan istrinya ini. Aku janji tak akan membuat repot, bahkan Pricilia akan kupastikan selalu berada dalam kenyamanan. Lama aku berdebat, dan pada akhirnya kekalahan itu tetap menjadi milikku.
“Kau egois!” teriakku di sela kucuran air dari kaki langit.
Demian meraih tubuhku, kemudian menenggelamkannya ke dalam pelukan. Aku terisak. Kuatkah aku nanti? Ya, katakan saja bahwa aku ini adalah lebay. Aku kuat menahan beban hidup beribu-ribu hari lamanya, namun hancur takkala hanya ditinggal satu minggu oleh pria yang kusayang. Namun bagaimana? Kuyakin di luaran sana, juga banyak wanita-wanita yang tak ikhlas ditinggal pergi.
“Baiklah. Seminggu tidak lebih,” aku mengalah pada akhirnya. Demian terlalu egois malam ini. Seharus itukah aku tetap berada di rumah lengang seperti ini?
“Aku berjanji,” pria itu mengacak-acak rambutku.
Hari ini benar-benar menyebalkan. Mulai pagi hingga malam aku dikejutkan terus dengan hal-hal tak terduga. Mulai dari pertemuanku dengan Bu Farah, hingga kepergian Demian yang secara mendadak. Oh ya, ngomong-ngomong soal istri dari mantan majikanku itu, aku tak memberitahukannya pada Demian. Biarlah aku saja yang tahu. Bahkan jika ke depannya jika Bu Farah akan mengadu sehingga membuat orang-orang akan mengetahui keberadaanku, aku akan tetap menyembunyikannya dari Demian. Kasihan pria itu kalau harus terlibat dengan para manusia masa lalu dari istrinya ini.
“Dingin sekali. Ayo,” Demian memboyong tubuhku naik ke atas ranjang.
...***...
Bersambung
__ADS_1
LIKE & COMMENT